Rabu, 22 Oktober 2014

Masih Perlukah Nilai KKM di Sekolah?

Sebagai orangtua yang memahami bahwa tiap anak memiliki potensi di bidang tertentu dan tidak memaksa mereka untuk bagus di semua mata pelajaran, sebetulnya kami mempertanyakan seberapa penting nilai KKM (kriteria ketuntasan minima) untuk siswa.

Meski saya menyadari bahwa penentuan nilai KKM ini dilakukan dengan hitungan yang tidak sembarangan tapi apakah kita akan memukul rata kemampuan anak?

Jika ada seorang anak yang sangat bagus untuk pelajaran sosial, seni dan bahasa, namun kurang di pelajaran hitungan-menghitung, apakah kita akan memaksa agar anak mencapai nilai tersebut? Ambil contoh, jika KKM matpel Matematika 75, lalu anak tersebut “hanya” mencapai 73 dan harus remedial, apakah siswa ini tidak akan stres? Menurut saya, angka “73” untuk anak yang memang jago di bahasa dan sosial, sudah baik.

Terlebih, kemampuan anak dalam memahami pelajaran ditentukan oleh banyak faktor. Jika nilai kurang memuaskan, tidak selalu dikarenakan siswa yang sulit untuk memahami pelajaran, kan? Bisa jadi, kemampuan guru dalam mengajar yang kurang mampu menjelaskan materi. 

Harapan saya untuk menteri pendidikan yang baru agar sekolah menjadi tempat yang aman, nyaman, tidak hanya untuk fisiknya tapi juga batinnya. Anak-anak sebaiknya tidak melulu diarahkan untuk mendapat nilai tinggi. Untuk apa semua nilai tinggi tapi kurang berempati, sopan santun, dan mampu menjaga lingkungannya? 

Bukankah lebih menenangkan jika orangtua dan sekolah mampu menggali potensi yang dimiliki anak agar mereka paham kelebihan yang dimilikinya? 


Senin, 06 Oktober 2014

KKJD: Misteri Delman Merah Jambu


Kepala Desa Progowati membuat peraturan baru. Anak-anak harus sudah ada di rumah paling lambat pukul 7 malam. Wah, ada apa ya? Pak Kepala Sekolah yang mengumumkan pengumuman itu juga tidak bisa memberikan alasannya.

Hmm, apakah ada hubungannya dengan desas-desus yang santer terdengar, bahwa ada delman merah jambu yang berkeliaran di desa itu? Kabarnya, delman itu dikendarai seorang puteri cantik yang akan mengitari desa pada malam hari dan  mereka yang bertemu dengan delman itu akan sakit!

Ah, masa sih di zaman yang serba canggih seperti sekarang, masih ada yang seperti itu.

Alva, siswa pindahan dari Jogja, tidak percaya hal itu. Tapi, kenapa Mbak Rara, yang secara tidak sengaja bertemu dengan delman itu, benar-benar sakit?

Alva betul-betul penasaran! Bersama Dania, Randu dan Ilham, mereka akan menyelidikanya!

Menurut adik-adik, betul nggak ya kalau delman merah jambu dikendarai seorang puteri cantik dan mereka yang melihat akan sakit? Kenapa tiba-tiba  Desa Progowati kedatangan delman merah jambu? 

Siapa sebetulnya pengendara delman itu dan apa tujuannya?

Yuk, baca kisah serunya!

Judul                     : Misteri Delman Merah Jambu (Kecil-kecil Jadi Detektif)
Penulis                  : Aprilina Prastari
Penerbit                : DAR! Mizan



Rabu, 24 September 2014

Wandi S. Brata: “Jangan Remehkan Karya yang Sudah Kita Tulis”

(Oleh-oleh dari Writers Gathering BIP)

         Alhamdulillah, kemarin (24/9), saya diundang lagi untuk menghadiri writers gathering yang diadakan penerbit BIP Gramedia. Dalam sambutannya, Direktur Gramedia, Wandi S. Brata, menjelaskan bahwa seorang penulis adalah kreator. UU Hak Cipta melindungi karya penulis seumur hidup ditambah 70 tahun sesudahnya. Untuk naskah yang bersifat beli putus, hak tersebut tetap akan kembali kepada penulis setelah 25 tahun sesudah kontrak ditandatangani.
         Begitu pentingnya sebuah karya sehingga sebagai penulis kita pun harus menghargai karya penulis lain.
         “Kalau menulis dan mengambil kata-kata orang lain ya harus ditulis. Itu namanya menghargai hasil karya orang lain. Pembaca juga tahu kalau si penulis juga banyak membaca.”
         Bp Wandi juga menyarankan kami, para penulis dan ilustrator yang hadir, untuk mempromosikan buku sendiri dengan membawanya jika berpergian.
         “Jangan meremehkan karya yang sudah kita tulis. Dan jangan lupa stok buku di rumah” begitu kata beliau.
         Nah, selain beberapa sambutan dari Bp Wandi, Ibu Yola dari divisi marketing dan Mbak Noni, ada yang berbeda dari writers gathering kali ini.
         Ada Ibu Monica Kumalasari, seorang coach yang menjelaskan bagaimana persepsi dapat memengaruhi pikiran lalu perilaku kemudian kebiasaan akan membentuk karakter dan karakter akan menentukan nasib kita.
         “Maka, yang diperlukan adalah belief dan rasa percaya diri. Kalau mau sukses, level of confidence (LoC)-nya harus 10 dan level of inconfidence (LoI) harus 0.”
         Ibu Monica menekankan jika dalam diri  seseorang ada sedikit rasa tidak percaya, lambat lain rasa tidak percaya ini bisa menggerogoti sehingga akan mengganggu.
         Sesi berikutnya di acara ini, adalah pengumuman buku best seller. Alhamdulillah, buku yang kami tulis “Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya” belum terpilih sebagai buku best seller kategori nonfiksi :D. Pemenangnya Deddy Corbuzier dengan buku OCD-nya.
         Deddy bercerita kalau awalnya naskah itu diberikan gratis di website-nya. Ternyata, banyak sekali yang download. Nah, melihat antusiasme masyarakat akhirnya naskah tersebut dibukukan.
         O iya, ada satu yang saya suka dari acara ini. Kami dibuatkan kartu nama dengan cover buku kami masing-masing. Kelihatannya sepele, ya. Ah, cuma dibuatin kartu nama. Tapi buat saya, meski saya juga punya kartu nama dari kantor, pemberian itu bentuk perhatian penerbit untuk penulis.

         Terima kasih ya Penerbit Bhuana Ilmu Populer. Semoga saya makin semangat menulis. Dan, Selamat Ulang Tahun! Semoga sukses dan melahirkan buku-buku yang baik, sehat dan berkualitas. 



Senin, 22 September 2014

Nilai PR Jelek, Anak Minder

Kisah berikut adalah kisah nyata. Nama anak, orangtua dan sekolah dirahasiakan.

X adalah anak yang ceria. Dia senang belajar dan selalu mengerjakan tugas. Suatu hari, dia mendapat PR matematika, soal cerita. Dengan bimbingan ibunya, X menyelesaikan PR tersebut.
Esok harinya, X pulang sekolah dengan wajah sedih. Padahal biasanya ia selalu pulang dengan gembira.

"PR matematikanya salah semua...” kata X.
“Lho, kok salah?” Ibu X mengamati PR-nya.
“Aku nggak pinter matematika ya, Bun,” X menangis.
“Siapa yang bilang?”
“Tu, PR matematikanya jelek”

Ibu X mencoba menenangkan anaknya dan menjelaskan bahwa jawabannya seharusnya benar.
Esok harinya Ibu X lalu ke sekolah menemui guru yang mengajar pelajaran tersebut. Ibu X lalu berdiskusi dengan guru tersebut. Sebelumnya, Ibu X, memang sudah mencari tahu dari orangtua lain. PR yang sama memang diberikan ke kelas 2 lain, dengan guru yang berbeda. Di kelas lain tersebut, jawaban guru sama dengan jawaban PR yang dibuat X.

Setelah diskusi, akhirnya diputuskan jawaban  PR X, benar semua. Ibu guru memang meminta maaf tetapi itu tak dapat menghilangkan perasaan sedih X. Angka “0” telanjur sudah dibubuhkan di lembar jawaban.

Perlu waktu cukup lama Ibu X membangkitkan semangat anaknya dan menanamkan kembali bahwa ia bisa matematika.

Para guru yang baik,

Dari kasus di atas, berhati-hatilah dalam memberi soal. Jika harus memberi soal cerita, buatlah kata-kata yang mudah dipahami anak. Dan paling penting, berhati-hatilah dalam memberi nilai jelek. Jika memang salah, sebaiknya sampaikan, “X sholihah, besok kita belajar lagi tentang perkalian ya.”

Bukankah tujuan mengerjakan PR agar anak belajar, mau mengulang pelajaran dan melihat sejauh mana materi yang diajarkan guru sudah diterima dengan baik oleh murid?


Kamis, 18 September 2014

WM Vs SHM: Apapun Pilihannya, Lakukan dengan Bahagia!


Tak jarang saya mendengar kalimat ini dari beberapa ibu (stay-at-home mom/SHM):

 “Enak ya, Bu, bisa kerja, punya penghasilan sendiri...”
“Saya bosen di rumah. Yang didenger cuma anak nangis,”
“Udah kuliah capek-capek, ujungnya ngurusin anak juga”

              Di sisi lain, saya mendengar beberapa kalimat ini dari ibu bekerja:
“Enak ya yang di rumah. Nggak pusing kalo ART pulang, bisa ngurusin dari pagi sampe malem kalo anak sakit”
“Pusing nih gue. Di kantor bete sama bos di rumah anak gue rewel. Capeeeek”

              Selalu. Selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan.

Kenapa saya di rumah?

Untuk Bunda yang memutuskan menjadi SHM, pernahkah bertanya pada diri sendiri kenapa saya di rumah? Apakah dari hati yang paling dalam? Bukan karena paksaan dari suami? Kalau memang permintaan suami, apakah ikhlas melakukannya?
Sebagai seorang isteri, tentu meminta izin suami adalah keharusan. Tapi, sudahkah kita memahami hal-hal hebat apa yang akan kita lakukan dan hasilkan jika di rumah? Sudahkah merencanakan apa yang akan kita lakukan di rumah agar tidak melulu jenuh?

Saya paham bagaimana sibuknya seorang ibu di rumah. Sebelum Subuh, Bunda sudah harus bangun, menyiapkan sarapan dan bekal sekolah anak-anak. Sore hari, Bunda masih punya waktu untuk bermain, mengajarkan PR, mengantar les musik atau keterampilan lain, hingga bakatnya bisa tersalurkan dengan baik.

Bukankah suatu kebahagiaan ketika anak mengatakan, “aku suka masakan Bunda,” atau dengan bangga dia cerita ke teman-temannya, “aku jago main piano karena diajarin mamaku, lho.”

Kenapa Saya Bekerja?

Untuk bunda bekerja, pernahkah kita merenung, kenapa saya bekerja?
Apakah karena hanya sayang ijazah dan tak mau hanya di rumah?
Atau keinginan membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga? Mencicil rumah, misalnya?

Saya paham betapa beratnya menjadi ibu bekerja. Sebelum Subuh, sudah harus bangun lalu memberikan instruksi kepada ART apa yang harus dimasak, lalu menyempatkan untuk bermain dan menyiapkan keperluan anak (mandi, mengecek keperluan sekolah).
Siang hari, di sela-sela meeting dengan klien, Bunda harus menjawab telpon dari anak, menanyakan kabar mereka, bagaimana di sekolah. Dan malam hari, Bunda masih harus menyempatkan diri membacakan buku cerita untuk mereka sebelum tidur. Padahal, sebelumnya Bunda harus berjuang melewati kemacetan Jakarta. Belum lagi kalau anak sakit atau (yang paling seru) selesai libur lebaran, ART atau pengasuh belum kembali.
Namun, segala kelelahan Bunda, In syaa Allah akan diingat oleh suami, sebagai rasa sayang, rasa peduli, untuk bersama-sama mencapai harapan. Memulai rumah tangga dari nol hingga ada saatnya nanti Bunda akan kembali penuh di rumah. Begitu juga dengan anak-anak. Mereka akan melihat Bunda sebagai ibu yang pandai mengatur waktu, tetap dekat dengan keluarga.

 Apapun yang kemudian kita jalani sesudah menikah, lakukan dengan tujuan dan rencana. Kedua hal itu yang akan membuat kita nyaman dan bersemangat. 
Untuk SHM, memiliki tujuan dan rencana akan menjauhkan kita dari rasa jenuh, rasa tidak diakui, merasa diri tidak berarti. Untuk WM, mengurangi perasaan bersalah, dan bahagia meski bekerja. 
“Saya mau bekerja hingga cicilan rumah lunas, setelah itu mau usaha dari rumah.”
“Meski saya di rumah tapi saya akan tetap mengembangkan kemampuan saya berbahasa Inggris dengan mengajar di rumah, dan akan tetap berorganisasi, sambil menulis.”

Berhentilah mengasihani diri sendiri. Berhentilah merasa bahwa menjadi ibu bekerja lebih enak dari ibu penuh waktu dan begitu juga sebaliknya. Dan berhentilah menyindir atau bersikap nyiyir terhadap pilihan ibu lain.

Apapun yang kita pilih, jalani dengan bahagia.


Salam
Aprilina Prastari

Penulis buku “Happy Working Mom” dan “Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya”



(In syaa Allah, tulisan saya berikutnya: “Sudah Saatnyakah Saya Berhenti Kerja Kantoran?”)

Kamis, 04 September 2014

Patah Hati? No, Thanks!

Kita sebetulnya memahami bahwa Allah Swt adalah penentu terbaik hidup kita. Tapi, apakah kita benar-benar meyakini dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan kita?

Ambil contoh, dalam hal jodoh. Berapa banyak perempuan yang patah hati karena laki-laki yang ia kagumi ternyata menikah dengan perempuan lain? Berapa banyak perempuan yang sulit move on ketika tak dapat menikah dengan seseorang yang ia sukai?

“Dia cinta pertamaku. Kayanya aku nggak bisa ngelupain dia ...”
"Aku merasa dia terbaik untukku. Aku cuma mau nikah sama dia ..."

Nah, lhoh!

Di buku “Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya” (teteuup ada promosi :D), saya menceritakan kisah saya sebelum menikah. Meski saya merasa sudah menemukan laki-laki yang baik dan tepat, saya tidak memaksa Allah menjadikan dia jodoh saya. Saya tetap berdoa, jika menurut-Mu, dia terbaik untukku, persatukan dalam pernikahan. Jika tidak, jauhkan dia, dan kuatkanlah hatiku.

Saya sungguh percaya, ketika kita melibatkan Allah dalam urusan apapun, dan di tengah jalan menemui masalah, kita yakin, Allah Maha Berkehendak.

Adik-adikku yang saat ini sedang patah hati atau sedang mencari cinta sejati, ...

Kalau saat ini kamu merasa menemukan seseorang yang menurutmu baik namun karena sesuatu hal 
ada hambatan, percayalah, Allah sedang berencana memberikan jodoh terbaik untukmu. Bisa juga, Allah sedang menguji keimananmu.

Terlalu banyak kegiatan yang jauh lebih bermanfaat daripada menangis, meratapi diri dan merasa masalahmu terlalu berat (Hello, nanti kalau kamu sudah menikah, punya anak, kamu baru merasakan bahwa masalah ketika sebelum menikah itu jauh lebih ringaaan).

Apalagi kalau sekarang kamu masih kuliah dan usia masih muda. Duuuh, masih banyak bangeeeet yang bisa kamu lakukan untuk menjadi pribadi yang hebat!

Menangis, boleh. Saya kasih waktu seminggu, ya (berasa lagi kasih tugas ke mahasiswa :D). Tapi habis itu, harus bangkit. Buktikan kepada dunia, kamu berhak mendapat jodoh terbaik yang akan memberimu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Khusus adik-adik yang perempuan, peluk hangat dari jauh J

Senin, 25 Agustus 2014

Meninggalkan Anak dengan Pengasuh Baru

Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, Sabtu, 23 Agustus 2014.

Semoga bermanfaat.

Perbincangan yang sedang jadi trending topic saat ini, baik di kantor, warung sayur, maupun sekolah, hampir sama: asisten rumah tangga (ART) atau pengasuh belum atau tidak lagi kembali bekerja! 

Bagi ibu bekerja, masalah ini memang memusingkan kepala. Apalagi kalau di rumah anak hanya tinggal dengan pengasuh tanpa ada orang tua atau keluarga lain yang mengawasi. Mau tidak mau, orang tua harus ekstracepat supaya dapat bekerja kembali dengan tenang. Sayangnya, meski pengasuh baru sudah ada, persoalan tidak selesai sampai di sini. Ada tantangan yang (jauh lebih) besar yang harus dihadapi orang tua. 

Apalagi jika orang tua terpaksa merekrut meski sebenarnya kurang sreg di hati sehingga mengabaikan syarat-syarat yang sudah orang tua buat dalam merekrut pengasuh baru. “Ya, daripada lama nggak dapat pengasuh, terpaksa deh aku ambil.” “Sebetulnya sih aku cari yang sudah berpengalaman tapi karena nggak ada, ya mau bagaimana lagi. Masa aku mau tambah cuti sih.” Namun, jangan sampai, karena ingin cepat memiliki pengasuh, hak anak jadi terabaikan. 

Di dalam buku yang saya tulis, Berdamai dengan Asisten di Rumah (2010), masa-masa penyesuaian antara ibu, anak dan pengasuh biasanya terjadi dalam tiga bulan pertama. Selama waktu tersebut, ibu dapat melihat dan pada akhirnya memutuskan apakah dapat melanjutkan menggunakan jasa pengasuh tersebut atau terpaksa mengganti. Apa saja yang akan ibu dan pengasuh lakukan selama waktu pengenalan tersebut? 

Adaptasi Anak dan Pengasuh 

Pada saat awal, tidak hanya anak yang perlu menyesuaikan diri dengan pengasuh barunya. Orang tua, khususnya ibu yang palingseringberinteraksidengan pengasuh, dan pengasuh itu sendiri pun perlu penyesuaian. Untuk anak, tidak semua dari mereka mudah menerima seseorang yang baru ia kenal. Apalagi jika anak terlalu dekat dengan pengasuh sebelumnya. Atau, pengasuh baru kurang menunjukkan sikap yang bersahabat. 

Misalnya, tidak berusaha mengajak anak bermain atau tidak menunjukkan wajah yang ramah atau sikap yang bersahabat. Hal ini menyebabkan anak merasa kurang nyaman. Nah, jika anak sudah dapat memahami perkataan orang tua, sebaiknya, ketika proses mencari pengasuh baru, anak sudah diberi tahu bahwa akan ada mbak baru yang akan menjaganya selama ibu bekerja. 

Jika memungkinkan dan diizinkan oleh divisi HRD tempat ibu bekerja, mintalah tambahan cuti (tanpa dibayar atau mengambil cuti tahun berikutnya) agar ibu dapat menemani anak dengan pengasuh barunya selama beberapa hari. Solusi lain, mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah dan mengirimnya via email. Dulu, ketika masih bekerja di advertising agency, saya pernah melakukan cara ini. Tentu, ibu yang paling mengerti bagaimana kondisi kantor dan kebijakan yang ada. 

Maka, sebaiknya, rencana-rencana seperti ini sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Namun jika ibu benar-benar tidak dapat meninggalkan pekerjaan, setidaknya ada keluarga yang mengawasi anak dengan pengasuh barunya. Untuk pengasuh, meski berpengalaman dalam mengurus anak, tentu perlu waktu untuk mengenal anak yang akan dijaganya. 

Idealnya, sebelum mengundurkan diri, pengasuh lama sebaiknya masih ada di rumah ketika pengasuh baru datang sehingga ia dapat belajar langsung dan melihat dulu bagaimana kebiasaan di rumah, terutama yang menyangkut kebiasaan anak. Namun jika tidak dapat dilakukan, ibu juga perlu memberi waktu agar pengasuh baru dapat mengenal anak dengan baik. Jika ibu diizinkan mendapat cuti tambahan, pada hari pertama biarkan pengasuh hanya melihat dulu kebiasaan yang dilakukan anak. 

Kegiatan makan, mandi, sebaiknya tetap dilakukan oleh ibu. Hari kedua, ibu sudah bisa memintanya mengajak bermain dengan anak. Hari ketiga, lihat bagaimana reaksi anak. Jika ia terlihat mau berinteraksi dengan pengasuh, ibu dapat meminta pengasuh untuk bergantian menyuapi atau menemaninya makan. Begitu juga dengan mandi. Lalu, bagaimana dengan aturan? 

Melihat pendidikan dan usia pengasuh, kita juga perlu pertimbangkan apakah pengasuh dapat cepat menerima pesan dari ibu atau tidak. Jika aturan langsung diterapkan, pengasuh dikhawatirkan akan merasa takut atau kaget. “Duh, aturannya kok banyak, ya? Aku bisa nggak ya mengerjakannya? Kalau anaknya nggak mau nurut gimana?” 

Kira-kira seperti itulah perasaan yang dialami pengasuh jika ibu langsung memberi komando dalam jangka waktu cepat. Biarkan pengasuh merasa nyaman mengurus anak lalu pelanpelan beri tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam mengurus anak. 

Hindari Melakukan Hal yang Ditakutkan Anak 

Menurut ibu, apa yang biasanya ditakutkan anak? Bisa minum obat. Atau, mainan yang bentuknya tidak disukai anak. Maka jangan sampai pengasuh melakukan sesuatu yang tidak disukai anak, apalagi yang dapat membuatnya trauma. 

Hal sepele misalnya saat mengeramasi anak. Ada anak yang tidak mau langsung diguyur dengan gayung tapi menggunakan shower. Jika pengasuh mengabaikan, bisa jadi, anak menjadi kesal dan merasa pengasuh tidak mengerti apa yang ia inginkan. 

Menjaga Kedekatan Orang Tua dan Anak 

Terkait dengan terlalu dekatnya anak dengan pengasuh lama, ini memang harus diantisipasi sejak ibu memilih menjadi ibu bekerja. Ada b a n y a k cara yang dapat ibu lakukan sehingga anak dekat dengan pengasuh namun tidak tergantung. Bukankah pengasuh pada akhirnya akan menikah, punya anak dan belum tentu dapat bekerja kembali? Apa jadinya jika anak mengalami demam, tidak mau makan kalau tidak dengan pengasuhnya? 

Apakah ibu tidak nelangsa melihatnya? Untuk itu, tak dapat ditawar lagi, menjaga kedekatan antara orang tua dan anak adalah keharusan. Caranya? Pertama, terapkan bahwa pengasuh hanya membantu ibu ketika ibu tidak ada di rumah untuk bekerja. Artinya, ketika di rumah, ibu dan bapak yang harus mengurus sendiri anak. Kedua, luangkan waktu hanya untuk anak. 

Waktu itu bisa digunakan untuk mendongeng, bermain, atau melakukan kegiatan lain yang hanya dilakukan oleh anak dan orang tua tanpa pengasuh. Jadi sebaiknya, saat liburan dan pergi bersama, usahakan tak perlu membawa pengasuh. ibu dan bapak juga bisa menentukan kegiatan apa yang hanya boleh dilakukan oleh ibu dan bapak setiap hari. Misal, setiap pagi, harus ibu yang memandikan anak. Atau, tiap malam sebelum tidur, harus bapak yang mendongeng. 

Ketiga, perbanyaklah memegang, mengelus, memeluk dan menyentuhnya. Dr. William Sears dalam bukunya The SuccessfulChild (2006) mengatakan, anak yang sering dipeluk akan memiliki kedekatan dengan orang tuanya. Yang paling penting dari semuanya, banyaklah berdoa agar anak tetap dekat dengan orang tuanya. 

Haruskah Dilanjutkan? 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, karena beberapa alasan, tidak semua orang tua pada akhirnya merekrut pengasuh sesuai dengan kriteria. Apa yang sudah dilakukan pengasuh tentu dapat menjadi pertimbangan bagi orang tua apakah akan melanjutkan atau mengganti. Memang, perlu waktu lagi untuk mengganti. Maka kita pun perlu menganalisisnya dengan bijaksana dan kepala dingin. 

Tentu, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tinggal kita lihat sejauh mana kekurangannya. Apakah masih dapat ditolerir dan diperbaiki? Contohnya, jika pengasuh sering lupa melakukan sesuatu yang ibu inginkan, mungkin ini kekurangan yang dapat ditoleransi. Namun, perlu dipertimbangkan diganti, jika pengasuh kedapatan memarahi anak, menggunakan kata-kata kasar hingga memukul. 

Hal itu dapat terlihat dari perubahan perilaku anak, anak menunjukkan ketakutan yang berlebihan jika ditinggal atau mengigau sesuatu yang kurang baik tentang pengasuh. Ibu dan bapak tentu memiliki kriteria sendiri dan paling memahami bagaimana pengasuh yang tepat untuk anakanak di rumah. 

Yang penting, sebagai ibu bekerja, kita sepatutnya memiliki prioritas dan alasan yang kuat mengapa harus bekerja dan tidak mengorbankan anak-anak demi karier. 

Kamis, 17 Juli 2014

Kuliah Nggak Sesuai Cita-cita?

(Tulisan ini, meski tidak seutuhnya sama, pernah saya tulis untuk salah satu buku antologi “Mengejar Mimpi)

Sejak kecil sampai SMA, cita-cita saya sama. Nggak pernah berubah. Pengin jadi dokter. Waktu SD, ada seorang teman yang jatuh dari sepeda mini dan luka di dengkulnya. Dengan sok tahunya, saya mengambil mangkuk berisi air, lalu saya masukkan beberapa helai daun dan saya oleskan ke lukanya. Esok harinya, teman saya bilang, “Pril, lukanya cepet kering, lho.” Waduh, kalau teman saya sekarang tahu kalau itu asal-asalan pasti saya udah dicubitin.

Ok, kembali ke cita-cita saya jadi dokter. Kelas 3 SMA. Saya mendapat kesempatan untuk masuk universitas negeri lewat jalur PMDK. Beberapa guru (khususnya guru BP) menawarkan saya untuk memilih jurusan lain.

“Kedokteran saingannya berat. Apalagi nilai matematikamu yang biasa saja, meski kimia dan biologi bagus,” begitu nasihatnya.

Cuma karena saya kekeuuh pengin jadi dokter saya tetap memilih jurusan itu. Saya memilih Kedokteran Undip saat itu. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat surat dari Undip yang menyatakan bahwa saya tidak lolos. Sediiiiiih banget! Tapi saya nggak putus asa. Saya coba lagi lewat UMPTN. Jurusan yang saya ambil sama: Kedokteran. Lagi-lagi, saya gagal masuk kedokteran.

Akhirnya kakak saya menawarkan untuk masuk D3 Komunikasi (Broadcasting) UGM. Waktu itu jurusan komunikasi masih belum menjamur seperti sekarang. Cuma karena waktu itu saya suka mendengarkan radio, jadi saya pikir, sepertinya jurusan Broadcasting itu seru.

Setelah lulus, saya melamar sebagai wartawan. Lalu sebagai penyiar di Radio Ramako (sekarang namanya Lite FM). Kemudian merambah ke dunia komunikasi lain: advertising dan terakhir public relations. Dan, saya merasakan betapa serunya bekerja di dunia komunikasi. Meski kadang kalau berkunjung ke dokter, saya masih suka mengingat cita-cita saya itu.  Saya pun terus melanjutkan kuliah S1 hingga S2. Semuanya linear, di jurusan komunikasi. (Doakan semoga bisa meraih beasiswa S3 Komunikasi ya).

Dari pengalaman saya itu, saya cuma mau bilang, nggak semua hal yang kita mau di dunia ini bisa terwujud. Kalau melenceng, ya dinikmati, dijalani dan mencoba mencari tahu, mengapa Allah menempatkan saya di sini. Terus perkaya diri dengan ilmu. Jalani sungguh-sungguh dan percayalah kita masih bisa terus berkarya meski jurusan yang kita ambil nggak sesuai dengan cita-cita awal. Namanya juga cita-cita, masih bisa belok, kok. Siapa tahu, jurusan yang kamu ambil sekarang lebih asyik dan tepat buat kamu.

O iya, biarpun saya nggak jadi dokter, tapi saya sering lho dimintai pendapat soal bagaimana berkomunikasi yang baik dengan pasangan, anak, atau rekan kerja. Jadi, anggap saja, jadi dokter komunikasi hehehe ...
Tetap semangat dan optimis ya!


Sabtu, 12 Juli 2014

Jika Pasangan Bekerja di Media

Ada beberapa karakter  yang harus dimiliki seorang isteri atau suami jika pasangannya bekerja di media:

1.       Sabar. Yang paling terasa adalah ketika menjelang liburan lebaran. Kalau karyawan lain gembira ria menyambut libur lebaran, maka yang bekerja di media sedang menyiapkan diri menghadapi liputan mudik. Bukan cuma reporternya, Pemrednya pun harus turun tangan. Kalau sudah begitu, jangan pernah bertanya, “kapan pulang kampung?” itu kalimat menyakitkan untuk mereka.
2.       Tahan banting. Tetap tenang kalau pasangan Anda mendadak bilang, “Sayang, besok aku harus liputan ke daerah konflik.”
3.       Jangan terlalu saklek dengan jadwal. Sudah janjian makan malam di restoran X, sudah rapi pakai pakain terbaik, sudah pasang status di BBM dan FB, tiba-tiba, ada BBM: “Hmm, makan malemnya bisa kita tuker besok nggak? ” Dan esok harinya, “Sayang, maaf ya, ternyata hari ini harus meeting Pemred-pemred mendadak”. Untuk mereka yang biasa mengatur jadwal dengan rapi, mungkin harus sedikit dilonggarkan ...
4.       Pandai memilah informasi. Nggak jarang, hampir setiap hari, pasangan akan dijejali dengan setumpuk informasi yang mungkin tidak bisa keluar di media (apalagi pada peristiwa yang khusus seperti Pemilu). Istilahnya off the record. Jadi hati2, nggak semua yang diketahui dan didengar bisa dibagikan ke orang lain apalagi media sosial. Mau nggak mau, harus tetap tenang saat ada teman di FB atau Twitter yang berbagi satu informasi yang sebenarnya nggak begitu.
5.       Lebih kreatif untuk berpenghasilan sendiri (khususnya untuk isteri). Daripada memaksa pasangan untuk punya gaji lebih besar karena itu berbahaya! Wartawan kalau sudah dipaksa punya penghasilan lebih tinggi dari yang diterimanya, khawatir ujung-ujungnya minta uang ke narasumber atau menghalalkan cara lain yang jauh dari kode etik wartawan.


Ada yang mau menambahkan lagi? :D

Jumat, 13 Juni 2014

Waspada SMS Sok Akrab dari Nomor Tak Dikenal

Beberapa waktu lalu saya mendapat SMS dari nomor tidak dikenal. Isinya, meminta biodata singkat saya untuk kenang-kenangan. Tadinya, mau saya balas. Mau tahu apa perbincangan selanjutnya jika saya merespon. Tapi tidak jadi saya lakukan.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan SMS lagi dari nomor itu. Saya memang sengaja tidak membuang SMSnya. Isinya hanya, “sore”.

Untuk saya yang paham bahwa ini adalah orang iseng atau mungkin bermaksud tidak baik, tentu akan saya abaikan. Tapi, bagaimana jika yang mendapat SMS tersebut adalah remaja yang belum paham. Boleh jadi, kepolosannya menganggap bahwa itu adalah SMS dari temannya yang nomornya belum disimpan.

Dan, ini terjadi dengan salah seorang teman. Putrinya mendapat SMS yang kurang lebih sama dengan yang saya terima. Menganggap kalau itu dari temannya, anak ini kemudian menjawab. Percakapan terjadi. Dan puteri  teman kami ini diajak untuk bertemu di sebuah mal. Ketika akan berangkat, teman kami bertanya mau apa di mal. Untung, anaknya berterus terang. Alhamdulillah.

Ternyata, memberikan anak handphone tanpa akses media sosial pun, masih ada potensi membahayakan anak. Apalagi dengan kemudahan membeli nomor baru tanpa harus mendaftar terlebih dulu.

Belajar dari kejadian itu, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita sebagai orangtua memutuskan untuk memberikan anak handphone. Ada sebagian orangtua yang memutuskan membelikan anaknya handphone karena tidak memiliki telpon rumah, atau supaya anak mudah dihubungi di tempat les. 

Namun, tetap ada catatan yang perlu diberitahukan pada anak agar mereka mengerti mana SMS yang perlu dibalas, harus diberitahukan orangtua, perlu diwaspadai.  

Ciri-ciri SMS yang TIDAK PERLU DIBALAS alias diabaikan:
  • Dari nomor yang tidak dikenal, tidak menyebutkan nama pengirim, dan tidak menyapa dengan nama. Meskipun kata-kata yang digunakan sopan. Contoh, “hai, apa kabar?”
  • Pesan yang memberitahu bahwa pemilik nomor mendapat undian

Ciri-ciri SMS yang HARUS DIBERITAHUKAN ORANGTUA dan TIDAK MEMBALAS SEBELUM MEMBERITAHU ORANGTUA:
  • Memberitahukan dari nomor tidak dikenal kalau orangtua atau keluarga mengalami musibah dan saat ini sedang berada di rumah sakit.  
  • SMS dari nomor tidak dikenal yang meminta data hingga ke tingkat yang lebih serius: mengajak bertemu
  • SMS dari lawan jenis yang meskipun dikenal anak namun mengajak bertemu
  • SMS dari nomor tidak dikenal namun mengabarkan sesuatu yang penting dan sesuai dengan kita. Misal, “Assalamu’alaykum. Pengumuman kelulusan akan diumumkan besok. Siswa harap berkumpul di sekolah.”
Jika kita memang tidak bisa benar-benar menghilangkan handphone dari kehidupan anak-anak, setidaknya kita sebagai orangtua, memiliki rambu-rambu dan mengajarkan anak untuk lebih waspada.