2019 menjadi salah satu tahun yang penuh pelajaran buat saya. Salah
satunya, diuji Allah dengan haid berkepanjangan atau istilah kedokterannya menorrhagia. Jadi kalau umumnya saya haid
selama kurang lebih satu minggu, selama masa perdarahan ini, saya mengalami
haid hingga 3 minggu. Bukan sekadar (maaf) keluar darah haid tapi gumpalan jeli
dan sangat banyak. Bahkan pada awal-awal saya mengalami ini, saya harus mengganti pembalut tiap jam padahal itu pembalut yang panjangnya 42 CM. Kebayang ya banyaknya darah yang keluar.
Sebetulnya sih, dibilang sakit, saya enggak merasakan sakit. Hanya keluar darah tanpa rasa nyeri. Pun, alhamdulillah enggak pusing atau lemas. Biasa saja. Saya masih bisa melakukan pekerjaan rumah, kerjaan kantor dengan baik. Paling mengganggu hubungan suami-istri ya hehehe…
Sebetulnya sih, dibilang sakit, saya enggak merasakan sakit. Hanya keluar darah tanpa rasa nyeri. Pun, alhamdulillah enggak pusing atau lemas. Biasa saja. Saya masih bisa melakukan pekerjaan rumah, kerjaan kantor dengan baik. Paling mengganggu hubungan suami-istri ya hehehe…
Selain itu, salat dengan kondisi seperti itu, kurang nyaman.
Berasa enggak bersih. Atau, kalau meeting kelamaan, saya harus izin ke toilet untuk ganti pembalut. Selebihnya, enggak ada masalah. Cuma memang, setelah
beberapa bulan, HB saya terjun bebas dan harus mengalami transfusi darah hingga
5 kantong!
Kondisi ini berawal pada Januari 2019, saya mengalami haid
selama kurang lebih 2 minggu. Awalnya cuek. Mungkin kelelahan. Cuma karena
sudah 2 minggu lebih enggak berhenti, akhirnya saya konsultasi ke dokter
kandungan di rumah sakit di daerah Jakarta Timur. Waktu itu dokternya
hanya bilang, ada penebalan dinding rahim. Saya disarankan untuk enggak makan
banyak gorengan, banyak makan buah dan sayur, selain olah raga.
“Penebalan dinding rahim itu karena apa ya, Dok?” tanya saya
waktu itu.
Dokternya pun enggak bisa jawab. Cuma
menduga mungkin saya kurang olah raga. Terlebih karena selama ini, saya tidak pernah bermasalah saat haid. Alhamdulillah, setiap kali haid, selalu normal, tanpa nyeri dan teratur.
Pulang dari dokter, dikasih obat penghenti perdarahan. Minum
beberapa kali, berhenti, tapi beberapa hari kemudian (saya lupa berapa lama)
perdarahan lagi.
Setelah diskusi sama suami, akhirnya saya pindah dokter dan
rumah sakit. Terlebih karena saya melihat dokternya masih muda dan belum
berpengalaman (maaf ya, Dok).
Saya lalu pindah berobat ke rumah sakit di kawasan Cibubur. Awalnya saya mau
konsultasi ke Dr Ovy, dokter kandungan saya dulu, cuma karena harus menunggu
sebulan (karena saya pasien nonhamil) akhirnya cari dokter lain yang sama-sama
sudah doktor.
Oleh beliau, jawabannya ternyata sama. Setelah USG, info
yang saya dapat hanya penebalan dinding rahim dan ada polip di rahim. Saya juga
enggak dikasih obat cuma disarankan banyak olah raga, banyak makanan berserat
dan kurangi gorengan. Saya juga disarankan melakukan pap smear (HPV) jika dalam
kondisi bersih. Masalahnya, darahnya belum berhenti-henti. Sekalipun keluar sedikit kan enggak bisa tes ya.
Kondisi ini bikin saya bertanya-tanya. Kenapa enggak ada
dokter yang bisa saklek kasih jawaban ada apa dengan saya. Jujur ya waktu itu
saya sudah mulai malas ke dokter. Ditambah “penyakit” ini nggak dibayar
asuransi kantor karena dinilai masuk ke dalam kategori penyakit hormonal.