Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2015

Menerapkan Aturan untuk Anak

Minggu, 7 Juni 2015 lalu, saya diundang menjadi pembicara di acara “Smart Parents, Smart Kids”. Acara yang  digagas oleh Duta Indonesia Pintar--yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Universitas Mercu Buana-- ini berlangsung di Mal Cipinang Indah, Jakarta Timur. Pada kesempatan tersebut, saya berbagai tentang prinsip menerapkan aturan untuk anak.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, mereka perlu diajarkan mengenai aturan. Hal ini penting sehingga anak memahami bahwa ada kewajiban yang perlu ia lakukan dan tidak semaunya sendiri. Aturan yang diajarkan tentu perlu disesuaikan dengan kemampuan anak; dari hal-hal sepele seperti menjemur handur setiap kali habis mandi, meletakkan kembali barang-barang yang sudah dipakai ke tempat semula, dan sebagainya.

Namun tak jarang, banyak orangtua yang mengeluh karena anak tidak mau menuruti aturan yang sudah diberikan. Nah, bagaimana ya agar anak mau diajak bekerjasama?

Pertama, aturan akan lebih mudah dipatuhi jika antara orangtua dan anak sama-sama menyepakatinya. Agar anak mau menyepakatinya, sebagai orangtua kita perlu menyampaikan apa yang kita inginkan atau harapkan dari anak. Seringkali, aturan sulit dilakukan karena masing-masing memiliki pemikirannya sendiri-sendiri dan tidak diungkapkan. Misal, soal waktu main. Ada orangtua yang membuat jadwal bermain anak karena khawatir anaknya terlalu kelelahan dan jika sudah begitu akan memengaruhi kesehatannya. Sedangkan, bagi anak, bermain sangat menyenangkan. Ia tidak mengetahui kekhawatiran orangtua. Bisa jadi yang ada di pikirannya, kenapa sih Mama punya banyak aturan? Kenapa aku nggak boleh bermain? Sehingga, supaya anak memahami, orangtua perlu menyampaikan.

“Kak, Bunda seneng kalo Kakak main bola sama temen-temen. Kakak boleh main bola. Tapi dokter bilang kan Kakak nggak boleh terlalu capek dulu. Gimana kalau kita sepakatin waktu mainnya?”

Kedua, konsisten dengan aturan yang sudah kita buat. Misal, waktu menonton TV.  Kalau kita sudah menyepakati menonton TV hanya satu jam per hari, jalani. Seringkali kita mudah tergoda dengan rengekan atau tatapan sedih anak. Saat awal aturan dibuat, sangat mungkin terjadi, anak masih belum terbiasa sehingga lupa melakukannya. Itu hal yang wajar. Tugas kita adalah terus menyemangati dan mengingatkan dengan berbagai cara.  

Ketiga, beri solusi. Banyak orangtua menahan agar anaknya tidak jajan, tidak menonton TV namun tidak memberikan solusi. Anak jajan bisa jadi karena ia mudah lapar, sehingga solusinya, siapkan camilan yang cukup di rumah. Anak menonton karena dia merasa tidak ada yang dikerjakannya, solusinya, berikan buku, peralatan yang menunjang hobinya, atau kegiatan lain.  

Keempat, jadi contoh. Mengharapkan anak tidak menonton sinetron tapi kita pun menontonnya saat anak ada di rumah? Saya yakin anak akan mudah menjawab, “Mama sendiri nonton sinetron,” :D

Kelima, satu suara antara Ayah dan Bunda. Jangan sampai, ibu tidak membolehkan, tapi ayah membolehkan. Kata bunda, pokoknya nggak boleh naik motor sampai kamu punya SIM.” Kata ayah, “Boleh naik motor, tapi jangan jauh-jauh, ya.” Anak jadi bingung, boleh apa nggak sih sebetulnya?
Satu suara juga perlu dilakukan oleh pengasuh dan keluarga yang ada di dalam rumah.


Mau tahu lebih banyak tentang komunikasi dalam pengasuhan anak? Tunggu buku solo saya ya :D

Salam hangat, 
Aprilina Prastari

Rabu, 25 Maret 2015

Berhentilah Menambah Stres Ibu Muda

"Ya ampuuun .. ASI kamu belum keluar. Kasian banget anaknya. Nanti kekurangan nutrisi lho. Biasanya nih kalo anak nggak dikasih ASI, anaknya nggak pinter. Kamu gimana sih. Emang waktu hamil nggak perawatan ... "
Atau ...
"Hah? Kamu cesar? Kalo cesar anaknya gampang sakit lho. Kamu juga nggak bisa ngapa2in. Bisanya cuma tiduraaan ajah. Seharusnya kamu normal. Paksa dokternya minta normal"
Sementara ibu muda yang mengalami kesulitan memberi ASI pun sebetulnya ingin sekali memberi anaknya  ASI. Ia pun sadar betul ASI baik bagi bayinya tapi kenyataannya ia masih kesulitan memberi ASI dengan benar sehingga mungkin ASI belum keluar lancar. 
Dan ibu yang terpaksa melahirkan melalui operasi cesar, sebetulnya juga ingiiin sekali melahirkan normal. Tapi ada kondisi2 tertentu yang akhirnya membuatnya terpaksa harus cesar.

Memang boleh jadi, ibu yang belum mampu memberikan ASI tersebut kurang maksimal melakukan perawatan selama kehamilan. Tapi apakah dengan berkata seperti itu akan membantu memperbanyak ASI-nya? Jangan-jangan malah membuatnya bertambah stres dan ASI makin sulit keluar. 

Alangkah baik jika memotivasi dengan kata-kata yang menenangkan.

"Ooh, kalau ASI belum keluar coba deh kompres pakai air hangat, diurut, dan harus tetap diminumin ke bayinya. Karena semakin banyak diminum, produksinya juga semakin banyak. Coba deh makan ini... In syaa Allah bisa keluar"
Atau
"Memang sih, kalau melahirkan normal, pulihnya lebih cepet. Tapi nggak apa2. Yang penting anaknya sehat. Melahirkan cesar juga bisa ngurus anak kok. Asal jangan angkat yang berat2, ya."

Komunikasi itu penting.

Jangan sampai kata-kata kita melemahkan semangat ibu yang baru memiliki anak dan merasa dirinya lemah sebagai ibu.

Kamis, 17 Juli 2014

Kuliah Nggak Sesuai Cita-cita?

(Tulisan ini, meski tidak seutuhnya sama, pernah saya tulis untuk salah satu buku antologi “Mengejar Mimpi)

Sejak kecil sampai SMA, cita-cita saya sama. Nggak pernah berubah. Pengin jadi dokter. Waktu SD, ada seorang teman yang jatuh dari sepeda mini dan luka di dengkulnya. Dengan sok tahunya, saya mengambil mangkuk berisi air, lalu saya masukkan beberapa helai daun dan saya oleskan ke lukanya. Esok harinya, teman saya bilang, “Pril, lukanya cepet kering, lho.” Waduh, kalau teman saya sekarang tahu kalau itu asal-asalan pasti saya udah dicubitin.

Ok, kembali ke cita-cita saya jadi dokter. Kelas 3 SMA. Saya mendapat kesempatan untuk masuk universitas negeri lewat jalur PMDK. Beberapa guru (khususnya guru BP) menawarkan saya untuk memilih jurusan lain.

“Kedokteran saingannya berat. Apalagi nilai matematikamu yang biasa saja, meski kimia dan biologi bagus,” begitu nasihatnya.

Cuma karena saya kekeuuh pengin jadi dokter saya tetap memilih jurusan itu. Saya memilih Kedokteran Undip saat itu. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat surat dari Undip yang menyatakan bahwa saya tidak lolos. Sediiiiiih banget! Tapi saya nggak putus asa. Saya coba lagi lewat UMPTN. Jurusan yang saya ambil sama: Kedokteran. Lagi-lagi, saya gagal masuk kedokteran.

Akhirnya kakak saya menawarkan untuk masuk D3 Komunikasi (Broadcasting) UGM. Waktu itu jurusan komunikasi masih belum menjamur seperti sekarang. Cuma karena waktu itu saya suka mendengarkan radio, jadi saya pikir, sepertinya jurusan Broadcasting itu seru.

Setelah lulus, saya melamar sebagai wartawan. Lalu sebagai penyiar di Radio Ramako (sekarang namanya Lite FM). Kemudian merambah ke dunia komunikasi lain: advertising dan terakhir public relations. Dan, saya merasakan betapa serunya bekerja di dunia komunikasi. Meski kadang kalau berkunjung ke dokter, saya masih suka mengingat cita-cita saya itu.  Saya pun terus melanjutkan kuliah S1 hingga S2. Semuanya linear, di jurusan komunikasi. (Doakan semoga bisa meraih beasiswa S3 Komunikasi ya).

Dari pengalaman saya itu, saya cuma mau bilang, nggak semua hal yang kita mau di dunia ini bisa terwujud. Kalau melenceng, ya dinikmati, dijalani dan mencoba mencari tahu, mengapa Allah menempatkan saya di sini. Terus perkaya diri dengan ilmu. Jalani sungguh-sungguh dan percayalah kita masih bisa terus berkarya meski jurusan yang kita ambil nggak sesuai dengan cita-cita awal. Namanya juga cita-cita, masih bisa belok, kok. Siapa tahu, jurusan yang kamu ambil sekarang lebih asyik dan tepat buat kamu.

O iya, biarpun saya nggak jadi dokter, tapi saya sering lho dimintai pendapat soal bagaimana berkomunikasi yang baik dengan pasangan, anak, atau rekan kerja. Jadi, anggap saja, jadi dokter komunikasi hehehe ...
Tetap semangat dan optimis ya!


Sabtu, 12 Juli 2014

Jika Pasangan Bekerja di Media

Ada beberapa karakter  yang harus dimiliki seorang isteri atau suami jika pasangannya bekerja di media:

1.       Sabar. Yang paling terasa adalah ketika menjelang liburan lebaran. Kalau karyawan lain gembira ria menyambut libur lebaran, maka yang bekerja di media sedang menyiapkan diri menghadapi liputan mudik. Bukan cuma reporternya, Pemrednya pun harus turun tangan. Kalau sudah begitu, jangan pernah bertanya, “kapan pulang kampung?” itu kalimat menyakitkan untuk mereka.
2.       Tahan banting. Tetap tenang kalau pasangan Anda mendadak bilang, “Sayang, besok aku harus liputan ke daerah konflik.”
3.       Jangan terlalu saklek dengan jadwal. Sudah janjian makan malam di restoran X, sudah rapi pakai pakain terbaik, sudah pasang status di BBM dan FB, tiba-tiba, ada BBM: “Hmm, makan malemnya bisa kita tuker besok nggak? ” Dan esok harinya, “Sayang, maaf ya, ternyata hari ini harus meeting Pemred-pemred mendadak”. Untuk mereka yang biasa mengatur jadwal dengan rapi, mungkin harus sedikit dilonggarkan ...
4.       Pandai memilah informasi. Nggak jarang, hampir setiap hari, pasangan akan dijejali dengan setumpuk informasi yang mungkin tidak bisa keluar di media (apalagi pada peristiwa yang khusus seperti Pemilu). Istilahnya off the record. Jadi hati2, nggak semua yang diketahui dan didengar bisa dibagikan ke orang lain apalagi media sosial. Mau nggak mau, harus tetap tenang saat ada teman di FB atau Twitter yang berbagi satu informasi yang sebenarnya nggak begitu.
5.       Lebih kreatif untuk berpenghasilan sendiri (khususnya untuk isteri). Daripada memaksa pasangan untuk punya gaji lebih besar karena itu berbahaya! Wartawan kalau sudah dipaksa punya penghasilan lebih tinggi dari yang diterimanya, khawatir ujung-ujungnya minta uang ke narasumber atau menghalalkan cara lain yang jauh dari kode etik wartawan.


Ada yang mau menambahkan lagi? :D

Jumat, 13 Juni 2014

Waspada SMS Sok Akrab dari Nomor Tak Dikenal

Beberapa waktu lalu saya mendapat SMS dari nomor tidak dikenal. Isinya, meminta biodata singkat saya untuk kenang-kenangan. Tadinya, mau saya balas. Mau tahu apa perbincangan selanjutnya jika saya merespon. Tapi tidak jadi saya lakukan.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan SMS lagi dari nomor itu. Saya memang sengaja tidak membuang SMSnya. Isinya hanya, “sore”.

Untuk saya yang paham bahwa ini adalah orang iseng atau mungkin bermaksud tidak baik, tentu akan saya abaikan. Tapi, bagaimana jika yang mendapat SMS tersebut adalah remaja yang belum paham. Boleh jadi, kepolosannya menganggap bahwa itu adalah SMS dari temannya yang nomornya belum disimpan.

Dan, ini terjadi dengan salah seorang teman. Putrinya mendapat SMS yang kurang lebih sama dengan yang saya terima. Menganggap kalau itu dari temannya, anak ini kemudian menjawab. Percakapan terjadi. Dan puteri  teman kami ini diajak untuk bertemu di sebuah mal. Ketika akan berangkat, teman kami bertanya mau apa di mal. Untung, anaknya berterus terang. Alhamdulillah.

Ternyata, memberikan anak handphone tanpa akses media sosial pun, masih ada potensi membahayakan anak. Apalagi dengan kemudahan membeli nomor baru tanpa harus mendaftar terlebih dulu.

Belajar dari kejadian itu, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita sebagai orangtua memutuskan untuk memberikan anak handphone. Ada sebagian orangtua yang memutuskan membelikan anaknya handphone karena tidak memiliki telpon rumah, atau supaya anak mudah dihubungi di tempat les. 

Namun, tetap ada catatan yang perlu diberitahukan pada anak agar mereka mengerti mana SMS yang perlu dibalas, harus diberitahukan orangtua, perlu diwaspadai.  

Ciri-ciri SMS yang TIDAK PERLU DIBALAS alias diabaikan:
  • Dari nomor yang tidak dikenal, tidak menyebutkan nama pengirim, dan tidak menyapa dengan nama. Meskipun kata-kata yang digunakan sopan. Contoh, “hai, apa kabar?”
  • Pesan yang memberitahu bahwa pemilik nomor mendapat undian

Ciri-ciri SMS yang HARUS DIBERITAHUKAN ORANGTUA dan TIDAK MEMBALAS SEBELUM MEMBERITAHU ORANGTUA:
  • Memberitahukan dari nomor tidak dikenal kalau orangtua atau keluarga mengalami musibah dan saat ini sedang berada di rumah sakit.  
  • SMS dari nomor tidak dikenal yang meminta data hingga ke tingkat yang lebih serius: mengajak bertemu
  • SMS dari lawan jenis yang meskipun dikenal anak namun mengajak bertemu
  • SMS dari nomor tidak dikenal namun mengabarkan sesuatu yang penting dan sesuai dengan kita. Misal, “Assalamu’alaykum. Pengumuman kelulusan akan diumumkan besok. Siswa harap berkumpul di sekolah.”
Jika kita memang tidak bisa benar-benar menghilangkan handphone dari kehidupan anak-anak, setidaknya kita sebagai orangtua, memiliki rambu-rambu dan mengajarkan anak untuk lebih waspada. 

Sabtu, 21 Desember 2013

Komunikasi dalam Pengasuhan Anak

Beberapa waktu lalu, saya diundang menjadi pembicara di sebuah TK, di Bekasi. Mencoba menggabungkan antara ilmu komunikasi yang selama ini saya pelajari dan pengasuhan anak, saya membahas tentang "Komunikasi dalam Pengasuhan Anak". Ada beberapa prinsip dasar yang bisa kita terapkan agar komunikasi antara orangtua dan anak, bisa berjalan dengan baik.

Prinsip pertama

Anak akan percaya pada orangtua jika orangtua bisa menjadikan dirinya sebagai orangtua yang bisa dipercaya.
Contoh: ketika seorang ayah berjanji ingin pulang sore, harus ditepati. Kalau ia sering melanggar bisa jadi anak akan kehilangan kepercayaan.

Prinsip kedua

Ketika kita mengajak anak bicara, pesan yang harus disampaikan sebaiknya tunggal. Jangan kebanyakan sehingga anak tidak bingung.
Ini juga bisa diaplikasikan untuk program-program untuk anak. Misal, program buang sampah pada tempatnya. Fokus di program itu jika sudah berjalan baik lalu melangkah ke program berikutnya.

Prinsip ketiga
Konsisten dan diulang
Sesuatu yang kerap dilakukan akan diingat oleh anak.

Contoh :
Soal jajan. Terkait dengan jajan, akan saya bahas di postingan selanjutnya :) 

Prinsip keempat
Pesan yang disampaikan orang tua bisa sampai ke anak ketika mereka dalam keadaan rileks. Terlebih jika kita melakukannya dengan sentuhan. 

Prinsip kelima
Peka dan melihat bahasa tubuh yang disampaikan anak. Komunikasi tidak hanya dilakukan oleh kata-kata tetapi bisa dengan bahasa tubuh seperti tatapan mata, ekspresi wajah dan sebagainya.  

Prinsip keenam
Komunikasi harus berjalan dua arah. Tidak hanya dari orangtua ke anak, tapi juga anak ke orangtua. Biarkan mereka mengekspresikan kekesalannya, unek-uneknya, tentang kita.
Bagaimanapun, orangtua adalah juga manusia, yang tak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Ibu. Semoga Allah memberikan kita kesabaran dalam mengasuh anak-anak kita.

Salam hangat,
Aprilina Prastari
Penulis buku keluarga dan komunikasi

Minggu, 12 Mei 2013

"Nggak Penting IPK Tinggi Kalau ..."

Sebuah Catatan untuk Teman-teman Mahasiswa
Aprilina Prastari


Banyak yang bilang, saya termasuk orang yang senang belajar. Lulus D3 Broadcasting Universitas Gadjah Mada, saya bekerja sebagai wartawan dan penyiar di radio Ramako (sekarang namanya Lite FM). Meskipun sudah bekerja, tapi keinginan untuk melanjutkan S1, tetap ada. Saya merasa, tidak ada yang sia-sia dengan belajar, mencari ilmu, karena semua akan bermanfaat untuk kita. Pendapat itu masih saya pegang sampai sekarang. Terbukti, meski sudah memiliki dua anak dan salah satunya akan beranjak remaja, saya masih tetap semangat melanjutkan S2 (tapi jangan tanya tesis saya sudah sampai mana ya ... :D)

Namun, setelah bertahun-tahun bekerja di dunia komunikasi, saya menyadari satu kesalahan (tentu dari sekian banyak kesalahan yang saya lakukan) ketika saya kuliah di UGM dulu. Saya terlalu fokus belajar!

Lho, kok, fokus belajar memang salah?

Nggak, sih.

Alhamdulillah, saat saya lulus, saya termasuk lulusan terbaik untuk jurusan Broadcasting pada saat itu. Buat saya, itu membahagiakan. Namun, saya juga merasa gemas karena hanya ikut unit kegiatan mahasiswa BPPM (Badan Penerbitan Pers Mahasiswa) UGM. Itu pun nggak terlalu aktif. Pernah sih mengajar di Kopma UGM, tapi menurut saya, itu kurang banyak!

Menurut saya, mahasiswa itu harus aktif berkegiatan, banyak cari teman, bergaul. Networking! Itu yang penting. Makanya, saya sering bilang sama mahasiswa saya, kuliah itu jangan cuma mengandalkan IPK. Kalau buat saya, IPK cukup 3,00 tapi banyak kegiatan, aktif di komunitas-komunitas, dan bermanfaat buat orang lain.

Apalagi kalau masih muda dan bisa punya usaha sendiri. Duuuuh, keren banget! Jujur saya ngiri sama temen-temen yang masih muda dan sudah berbisnis atau berkarya dan menghasilkan uang. Keren!

Nah, untuk teman-teman yang masih mahasiswa (khususnya mahasiswa D3 atau S1), jangan cuma mengejar IPK tinggi, ya. Gunakan social media untuk berkenalan dengan orang-orang hebat dan melakukan hal-hal bermanfaat. Ketika lulus, kondisi yang bisa membuat teman-teman bertahan adalah keterampilan, kreativitas, dan jaringan.

Selamat belajar, berkarya dan berjaringan :)




Sabtu, 16 Maret 2013

Kejar Target Boleh, Tapi ...

Sebuah catatan untuk para agen ...


Saya memahami kondisi teman-teman yang bekerja di dunia marketing: dikejar target. Entah itu jadi agen asuransi, agen properti, member sebuah MLM, dan profesi sejenis. Tentu, sebagai teman, saya salut dengan kegigihan mereka dalam mencari nasabah atau anggota baru. Namun, jangan sampai, target yang harus dicapai justru mengorbankan pertemanan.

Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang sudah lama tidak menghubungi tiba-tiba mengirim SMS.
Apriiiil ... gue kangen nih. Apa kabar? Ketemuan doong
Haaaii ... Gue baik. Lo gimana? Iyaa, gue juga kangen nih. Yuk yuk ketemuan. 

Kami pun berbalas SMS dan sesuai hari dan jam yang sudah disepakati, kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah kami duduk, tanpa basa-basi, teman saya langsung menyampaikan maksud pertemuan kami itu.

Pril, gue sekarang jadi agen asuransi nih. Ni, udah gue buatin hitung-hitungannya buat elo. 

Jujur, seketika wajah ceria saya sedikit berubah. Sebelum berangkat, bahkan saat kami menentukan waktu bertemu, saya sangat senang karena akan bertemu dengan teman lama yang dulu cukup akrab. Saya begitu bahagia ketika dia SMS dan itu menandakan ia masih mengingat saya. Bukankah itu kebahagiaan dari sebuah pertemanan? Tetap diingat, dirindukan, meski sudah tak lama bertemu? Atau, saya yang terlalu melankolis?

Sebetulnya, saya tidak alergi agen asuransi atau MLM yang ingin menawarkan produknya. Banyak agen asuransi yang menghubungi dan saya akan menolak dengan sopan. Saya paham itu adalah pekerjaan mereka! Tapi, yang tidak saya sukai adalah ketika seseorang mengatasnamakan kangen hanya untuk jualan. Buat saya, itu kebohongan dan menganggap teman hanya sekadar target! Apalagi, dulu kami berteman cukup dekat.

Bukankah lebih baik, dia bercerita terus terang bahwa saat ini dia seorang agen asuransi dan berniat untuk menawarkan produknya untuk saya? Bukankah sebagai teman kita akan saling menghargai kebutuhan masing-masing?

Untuk teman-temanku, para agen asuransi, properti, MLM, atau profesi sejenis,
Kejujuran dan keterbukaan adalah hal penting dalam menjaga sebuah hubungan. Andaikan teman saya jujur, saya pasti akan menerimanya dengan antusias dan terbuka. Bahkan mungkin, jika memang membutuhkan, saya akan mengambil produk yang ia tawarkan. Tapi karena saya sudah tak enak hati, saya justru mendengarkannya setengah hati. Sudah pasti, saya tidak mengambilnya.

Teman tentu boleh dijadikan prospek nasabah, tapi di dalamnya ada rasa yang harus dijaga. Jangan sampai, mengejar target, kehangatan sebuah pertemanan akan hilang.

Selamat berjuang mengejar target dengan cara yang elegan.



Minggu, 16 September 2012

Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter



Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter

Oleh Aprilina Prastari

Kapan sih terakhir kali kamu membaca buku tentang periklanan? Well, bisa dibayangkan pasti deh buku yang dibaca kebanyakan teori.

Berbeda dengan buku-buku ttg dunia periklanan lainnya, buku Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter menyajikan suka duka manusia kreatif bernama Copywriter dengan bahasa yang sangat personal dan santai. 

Membaca buku ini kita tidak hanya menjadi tahu apa saja tugas seorang Copywriter tapi juga memahami kegalauan yang sering dihadapi seorang Copywriter.

Wah, Copywriter bisa galau juga? Eits, jangan dikira tugas Copywriter cuma menulis naskah iklan, hangout di café bareng orang-orang beken dan terima gaji besar. Justru selain nuansa kerja yg ajaib jg banyak hal tak terduga disana. Mulai dari adu kekuatan dengan Art Director (AD) sampai menghadapi Creative Director yang nyebelin.

Buku ini membuka pandangan baru pada pembaca akan permasalahan yang dihadapi seorang Copywriter dan turut memberikan solusinya. Buku ini bisa menjadi buku penyelamat para Copywriter muda supaya tahan banting menghadapi kerasnya dunia periklanan.

Buku ini dijamin berisi dan berimbang dengan hadirnya tulisan dari tokoh-tokoh dunia periklanan Indonesia dan kisah-kisah dari para Creative Director (CD),Art Director (AD), Account Executive (AE) dan juga Media.

Dengan membaca buku ini diharapkan pembaca memiliki gambaran mengenai seluk-beluk industri periklanan. Khususnya mahasiswa periklanan atau siapa pun, akan sangat membantu bagi mereka yg memang ingin terjun ke dunia periklanan, khususnya sebagai copywriter.

***

“Aprilina meretas profesi copywriter dengan kupasan yang anggun dan mengulasnya dari berbagai sudut dengan gaya penyajian yang bernas. Hasil akhirnya: sebuah iklan yang sangat jujur tentang profesi copywriter.”


Joko Santoso HP, Mantan Creative Director Leo Burnett Kreasindo &; Backerspielvogel Bates


“Buku ini bergaya etno, memotret copywriter lengkap dengan latar belakang lingkungan kehidupannya. Sosok copywriter tergambar begitu utuh. Suka, duka, obsesi, ekspektasi, tuntutan, bahkan suasana kerja pun tergambar dengan kompak.”


Djito Kasilo, Strategic Planning Consultant


“Buku ini akan sangat membantu para kawula muda untuk lebih mengenal seluk-beluk dunia periklanan–khususnya tim kreatif–serta layak menjadi referensi bagi para mahasiswa dan akademisi bidang Periklanan dan Ilmu Komunikasi.”


Fredy B. L. Tobing, Dekan FISIP UPN “Veteran” Jakarta