Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2016

Boarding School/Pesantren di Jawa Barat



Assalamu’alaikum Wr Wb, 

Ayah dan Bunda, 
Adakah yang puterinya tertarik untuk melanjutkan pendidikan menengah pertamanya di pesantren/boarding school?
Ketika puteri pertama saya akan lulus SD (itu sekitar tahun 2012/2013) dan tertarik untuk sekolah di BS, saya mulai survey sejak dia kelas 5 SD. Beberapa BS yang saya survey berdasarkan hasil obrolan dengan guru dan sesama ortu murid di SDIT Iqro’ yang anak-anaknya sudah pernah sekolah di sana.
Ini hasil beberapa BS yang kami kunjungi. Berhubung surveynya tahun 2013 (iih kenapa juga baru ditulis sekarang hihihi) jadi maaf ya, kalau ada info yang lupa. Foto-fotonya juga masih harus dicari lagi nih. Nggak apa-apa ya, minimal tahu gambarannya. Memang bagusnya langsung survey ke sana.   
1. As Syifa Boarding School

Terletak di Jl. Raya Subang, Bandung. Kalau dari arah Bekasi, lewat Cipali, dapat ditempuh sekitar 3-4 jam perjalanan (lalin lancar). Di Asbosch, ada SMPIT dan SMAIT untuk putera dan puteri. Tempatnya masih dalam satu area namun batasnya cukup jauh dan dijaga satpam.

Di area putri, ada beberapa gedung asrama, sekolah (dengan lab dan perpustakaan terpisah), mini market, kantin, dua mesjid, klinik, dapur dan ruang makan. Ada juga guest house untuk orangtua meningap tapi jumlah kamarnya tidak banyak.  Tiap kamar asrama terdiri dari 10-12 anak. Untuk gelanggang olahraga, adanya di asrama putera. 

Tempatnya nyaman karena dekat dengan perbukitan dan luas sehingga anak-anak bisa leluasa kesana-kemari. 
Menggunakan kurikulum nasional 2013, kepesantrenan (tahfidz, aqidah ahlak, fiqih, siroh, tafsir, hadist) dan pengembangan diri. 
Program sekolahnya banyak, diantaranya, tahfidzul qur’an, halaqoh, pembinaan olimpiade, program sukses UN/SNMPTN.  Ada juga event-event khusus sepert, AsSyifa Festival, Achievement Motivation Training, Homestay, language camp, Pekan Al-Qur’an, Pekan Bahasa.

Jadwal menjenguk, boleh tiap minggu tapi untuk puteri, hanya minggu pertama, anak boleh diajak menginap dan jalan-jalan (istilahnya pesiar). Minggu selanjutnya hanya dikunjungi saja. 

Biaya masuk, tahun 2014, seingat saya sekitar 14 juta. Kalau tahun 2016, info dari sesama ortu murid, sekitar Rp17,7 juta (untuk putera, untuk puteri kurang lebih hampir sama). 
Pendaftaran biasanya dimulai sejak bulan November. 
Untuk info lebih lanjut, silakan lihat websitenya: pmb.assyifa-boardingschool.sch.id. 

2. Nurul Fikri Anyer

Untuk BS-nya, setahu saya ada di Anyer dan Lembang. Kabarnya yang di Lembang, lebih mahal. Nah, waktu itu kami survey yang di Anyer. Buat saya yang tinggal di Bekasi, waktu tempuhnya lumayan jauh karena di Jakarta saja sudah macet. Mungkin untuk yang tinggal di Tangerang lebih dekat. Letaknya, tidak jauh dari Sol Elite Marbella.

Di NF, juga ada untuk putera dan puteri, dari SMPIT dan SMAIT. Masih satu area tapi terpisah cukup jauh. Kalau di AsSyifa, asramanya berbentuk gedung dua lantai. Kalau di NF, dibuat rumah-rumah. Masing-masing rumah ada beberapa kamar yang isinya sekitar 6-8 anak. Kamar mandinya di dalam kamar. 

Tempatnya juga nyaman, banyak pohon. Ada kantin, mini market (waktu saya ke sana mini marketnya ada 1 jadi harinya bergantian untuk putera/i). Selain itu ada juga gelanggang olahraga. 

Untuk biaya masuk, tahun 2014, sekitar Rp 19,5 juta.
Jenis tes: akademik, psikotes, wawancara dan kesehatan. 

Kalau mau suvery langsung, alamatnya: Kampung Cihideung, Desa Bantar Waru, Kec. Cinangka-Serang.  
Pendaftaran via online bisa kunjungi: http://psb.nfbs.or.id. 

3. Al Kahfi

Berhubung brosurnya hilang (hiks), jadi seingat saya saja, ya :D

Kalau untuk kita yang berada di Jakarta atau Bekasi, lokasi Al Kahfi tidak terlalu jauh. Lokasinya ada di Lido, Sukabumi, dekat BNN. 
Hampir sama dengan Asbosch dan NF, di Al Kahfi juga ada asrama untuk putera dan puteri yang masih satu area namun dibatasi dan dijaga oleh satpam. 
Selain mata pelajaran umum, ada juga program tahfidz. 

4. YAPIDH

Berbeda dengan BS di atas, YAPIDH ada yang fullday dan menginap, dari SMP hingga SMA. Asrama untuk putera dan puteri masih dalam satu area namun dipisah. 
Untuk asrama puteri, saya lupa ada berapa kamar, tapi dalam satu kamar dihuni oleh beberapa belas siswi (tahun 2013). 
Tes masuknya meliputi tes tulis untuk matpel Agama Islam, Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, wawancara siswa (akhlak dan kemampuan baca Al Qur’an) dan wawancara orangtua.  


Info lebih lanjut bisa lihat di www.yapidh.org atau telp. (021) 8241 0887.

5. Pesantren Al Qur’an Ma’rifatussalaam

Menitikberatkan pada pendidikan tahfizh Qur’an sehingga target hapalannya pun cukup tinggi. Meski begitu, di sini tetap diajarkan mata pelajaran umum, khususnya matpel yang diujikan dalam UN. 
Pesantren ini masih tergolong baru. Saat saya survey ke sana (2016) sepenglihatan saya belum ada kantin dan mini market, hanya ada ruang makan untuk santri. 
Di Ma’rifatussalam saat ini hanya ada jenjang SMP untuk putera dan puteri. Asrama puteri dan putera dipisah namun masih berdekatan. 

Yang mau survey langsung, bisa datang ke Jl. Manyeti No. 6, RT 05 RW 01, Kp Cikadu, Desa Manyeti, Kec. Dawuan, Kab. Subang, Jawa Barat. Jadi dari tol Cipali, keluar Kalijati. Ikuti jalan, selebihnya gunakan TPS (Tanya Penduduk Setempat) :D. 

Atau kunjungi websitenya http://psb.marifatussalam.or.id

6. Al Hasan

Saya survey ke Al Hasan karena dekat dengan rumah. BS ini masih baru. Kalau saya tidak salah 2016 baru angkatan pertama. Karena keterbatasan lahan, dalam satu angkatan menerima sekitar 60 siswa. Saat saya ke sana September 2016 lalu, mesjid lantai atas masih dalam pengerjaan begitu juga dengan beberapa fasilitas lain. 

Untuk kamar, dihuni oleh beberapa belas anak. Sebulan sekali siswi boleh diajak keluar tapi tidak menginap. Waktunya pekan kedua atau keempat. Untuk libur, hanya saat libur semester. 

Sepenglihatan saya, tidak (belum) ada kantin atau minimarket atau klinik, sehingga orangtua yang ingin menyekolahkan anaknya ke Al Hasan harus menyiapkan kebutuhan puterinya dengan lengkap. Jika sakit, anak akan dibawa ke klinik sekitar. 

Alamat Al Hasan: Jl. Jambu RT 03/011 Jatimakmur (Belakang Kantor Pos Jatimakmur)

7. Husnul Khotimah

Lokasinya di Kuningan, Jawa Barat. Kalau lewat tol Cipali, keluar Palimanan, masuk tol lagi ke arah Ciperna. Ambil ke arah Kuningan (Kota). Terus saja mengikuti jalan. Alamatnya di Jalan Jalaksana. Kalau sudah melewati Jalan Linggar Jati, berarti sudah dekat. 

Pemandangan sekitar nyaman karena dekat gunung. Untuk SMPIT dan SMAIT, baik untuk akhwat dan ikhwan berada di satu lokasi, namun terpisah dan dibatasi oleh pos satpam. 

Menurut info dari panitia PMB, di HK, murid-murid libur pada hari Jumat, sedangkan Sabtu dan Ahad sekolah. Di HK tidak mengenal pesiar seperti di As Syifa. Jadi boleh dijenguk, dengan izin boleh dibawa keluar untuk makan namun hanya pada minggu-minggu tertentu saja. Keluar pun hanya untuk makan tetapi tidak boleh menginap. Kepulangan murid hanya pada liburan semester, kenaikan kelas dan lebaran. 

Untuk kamar, satu ruangan terdiri dari 20 anak, dengan ranjang tingkat dan disediakan lemari kecil.  

Lebih lanjut bisa kunjungi website: http://husnulkhotimah.sch.id/

Sementara itu dulu, ya. Nanti kalau ada yang baru, saya update lagi. Biasanya bulan November-Desember, BS/pesantren sudah mulai buka pendaftaran. Silakan survey langsung atau kunjungi website-nya. Kalaua Bapak/Ibu mau menambahkan info, silakan di kolom komentar. In syaa Allah infonya diperlukan bagi orangtua yang sedang mencari BS/pesantren untuk puteri-puterinya.  

Semoga bermanfaat.        

Sabtu, 23 Juli 2016

Ini Tantangan Anak Masuk Pesantren

Sejak kelas V SD puteri pertama kami mulai menunjukkan keinginannya untuk melanjutkan ke pesantren/boarding school. Dengan anak hanya dua, sebetulnya berat bagi kami, terutama saya untuk melepas Wafa ke pesantren. Begitu banyak kekhawatiran yang saya pikirkan. Bagaimana kalau dia sakit, ada pelajaran yang tidak dimengerti, dan sebagainya. Kami pun berkali-kali mengajak Wafa ngobrol. Kami ingin tahu apa yang menyebabkan ia ingin masuk pesantren, bukan sekadar ikut teman. Kami juga paparkan seperti apa kehidupan di asrama nanti.

“Kak, nanti di asrama Kakak nggak bisa request sarapan kaya di rumah. Semua harus dikerjain sendiri. Bangunnya rata-rata jam 3 pagi.”
“Iya, Nun. Nggak apa-apa…”
“Kalo Kakak sakit? Unun khawatir, Kak”
“In syaa Allah aku sehat, Nun”
“Kalo alasan Kakak karena mau hapal Qur’an, kan bisa lanjut LTQ (Lembaga Tahfidz Qur’an dekat rumah) …”
“Nanti banyak godaannya, Nun. Lagian aku mau tambah pengalaman. Kayanya seru tinggal di asrama.”
“Trus nanti nulisnya gimana? Belum tentu pesantren yang Kakak masukin  kasih izin bawa laptop?”
“Emang nggak boleh ya, Nun?”
“Ya tergantung pesantrennya. Kalo nggak boleh?”
“Ya aku nulisnya pas liburan atau tulis tangan di buku,”

Itulah sekilas obrolan saya dengannya saat itu. Semua pahit-pahitnya masuk asrama sudah saya sampaikan dan Wafa sampai saat itu masih tetap pada pendiriannya.

Melihat keinginannya yang kuat, saya terus membiasakannya mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyetrika, dan yang berkaitan dengan dirinya sebagai perempuan, terutama persiapan kalau nanti dia menstruasi.

Kami pun mulai survey ke beberapa pesantren/boarding school yang masih bisa ditempuh bolak balik dalam satu kali perjalanan; As Syifa Boarding School di Subang, Al Kahfi di Sukabumi, Nurul Fikri Anyer, Ibnu Abbas, Yapidh di Jatiasih, dan beberapa sekolah lain. Kami ikutsertakan Wafa setiap kali survey supaya dia lihat sendiri calon sekolahnya.
Alhamdulillah, Wafa diterima di BS pilihannya. Tentu ada beberapa pertimbangan yang kami lihat memasukkan Wafa ke sana. (In syaa Allah nanti saya tulis di tulisan terpisah, ya).


Awal Masuk Asrama

Meskipun kami sudah mengajarkan Wafa banyak hal namun tentu kehidupan di rumah tak sama dengan di asrama. Di rumah, kami memang masih kesulitan membiasakan Wafa bangun jam 3. Sementara di asrama, dia sudah harus bangun, mandi, sholat, persiapan tahfidz sebelum Subuh. Tak jarang Wafa tertidur di kelas. Alhamdulillah, para guru tidak marah dan memahami betul bahwa anak-anak masih dalam masa adaptasi.

Seminggu sekali kami masih menjenguk Wafa, lalu berkurang menjadi dua minggu sekali. Dua bulan pertama semua berjalan cukup baik. Komunikasi via telpon sesuai jadwal seminggu sekali juga kami lakukan. Begitu juga komunikasi dengan Bunda asrama. Alhamdulillah, waktu kelas 7, Wafa dapat bunda asrama yang baik sekali, saya pun tenang.

Tantangan kami hadapi ketika masa ulangan harian dimulai. Terlebih ketika matpel Fisika harus remedial. Wafa begitu khawatir. Wafa juga masih harus membiasakan diri untuk menghapal beberapa baris Qur’an setiap harinya. Ia belum terbiasa.

“Nun, aku bisa nggak ya … Aku khawatir … “

Sore itu, saat kami datang menjenguk, Wafa menumpahkan semua kekhawatirannya.

Saya berusaha untuk tidak ikut menangis. Meski dalam hati pun saya khawatir dan tidak tega melihat dia begitu sedih.

Meskipun dari sejak SD Wafa paham bahwa kami tidak pernah marah kalau Wafa dapat nilai kurang baik terutama untuk matpel yang banyak hitung-hitungan karena dari dulu ia memang lebih kuat di matpel bahasa, seni dan sosial. Apalagi untuk pelajaran yang tergolong baru seperti Fisika dan cukup banyak siswa yang remedial.

Cukup panjang kami mengobrol. Yang jelas, kami meminta Wafa untuk membuang segala kekhawatiran dan berpikir positif.

“Kakak mau pulang?” tanya saya.
Wafa menggeleng.
“Aku seneng di sini, Nun,”
“Kalo gitu kita lihat satu semester ini ya. Tapi Unun yakin Kakak bisa sepanjang Kakak yakin dan mau berusaha.”

Alhamdulillah, dalam satu semester, nilai-nilai akademiknya memuaskan dan mulai terbiasa dengan kehidupan asrama. Bahkan ia mulai aktif organisasi BEM (Badan Eksekutif Murid seperti OSIS) dan mulai mewakili sekolahnya untuk ikut lomba storytelling.

Kalau awal-awal masuk sekolah, Wafa yang meminta kami untuk sering jenguk, sejak dia ikut organisasi kami yang menyesuaikan jadwalnya.  Bahkan pernah, kami tidak bisa menengok dia selama 1,5 bulan karena hampir tiap pekan dia ada kegiatan. Hahaha …

Syukurlah Wafa sudah senang dengan kehidupan asrama. Katanya, sih, sudah jarang nangis kangen rumah hehehe … Beda sama ibunya, yang sampai sekarang, iya sampai sekarang anaknya sudah kelas 9, masih suka nangis. Terlebih sesudah libur panjang seperti saat ini. Tapi sekarang sudah agak lumayan sih. Dulu, awal-awal masuk BS, masak makanan kesukaan Wafa, nangis. Lihat anak SMP berjilbab di jalan, nangis. Tiap habis jenguk, nangis. Lebay lah pokoknya.

Sekarang, melihat perkembangan Wafa, in syaa Allah ini yang terbaik untuk Wafa karena dalam diterimanya Wafa di BS pilihannya, tentu tidak terlepas dari izin Allah Swt. Apalagi ketika saya lihat, di Qur’annya, ada foto kami sekeluarga plus tulisan tangannya “Target utama: bawa mereka ke surga.” Ya Robb, nyess banget bacanya …

Maka setiap kali saya kangen, saya selalu ingat bahwa Wafa sedang berjuang agar kelak menjadi seorang muslimah yang membanggakan, generasi penerus berakhlak baik.
   

Selamat berjuang, Anakku. Kita akan selalu bertemu dalam doa …