Tampilkan postingan dengan label Slices of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slices of Life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2014

Patah Hati? No, Thanks!

Kita sebetulnya memahami bahwa Allah Swt adalah penentu terbaik hidup kita. Tapi, apakah kita benar-benar meyakini dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan kita?

Ambil contoh, dalam hal jodoh. Berapa banyak perempuan yang patah hati karena laki-laki yang ia kagumi ternyata menikah dengan perempuan lain? Berapa banyak perempuan yang sulit move on ketika tak dapat menikah dengan seseorang yang ia sukai?

“Dia cinta pertamaku. Kayanya aku nggak bisa ngelupain dia ...”
"Aku merasa dia terbaik untukku. Aku cuma mau nikah sama dia ..."

Nah, lhoh!

Di buku “Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya” (teteuup ada promosi :D), saya menceritakan kisah saya sebelum menikah. Meski saya merasa sudah menemukan laki-laki yang baik dan tepat, saya tidak memaksa Allah menjadikan dia jodoh saya. Saya tetap berdoa, jika menurut-Mu, dia terbaik untukku, persatukan dalam pernikahan. Jika tidak, jauhkan dia, dan kuatkanlah hatiku.

Saya sungguh percaya, ketika kita melibatkan Allah dalam urusan apapun, dan di tengah jalan menemui masalah, kita yakin, Allah Maha Berkehendak.

Adik-adikku yang saat ini sedang patah hati atau sedang mencari cinta sejati, ...

Kalau saat ini kamu merasa menemukan seseorang yang menurutmu baik namun karena sesuatu hal 
ada hambatan, percayalah, Allah sedang berencana memberikan jodoh terbaik untukmu. Bisa juga, Allah sedang menguji keimananmu.

Terlalu banyak kegiatan yang jauh lebih bermanfaat daripada menangis, meratapi diri dan merasa masalahmu terlalu berat (Hello, nanti kalau kamu sudah menikah, punya anak, kamu baru merasakan bahwa masalah ketika sebelum menikah itu jauh lebih ringaaan).

Apalagi kalau sekarang kamu masih kuliah dan usia masih muda. Duuuh, masih banyak bangeeeet yang bisa kamu lakukan untuk menjadi pribadi yang hebat!

Menangis, boleh. Saya kasih waktu seminggu, ya (berasa lagi kasih tugas ke mahasiswa :D). Tapi habis itu, harus bangkit. Buktikan kepada dunia, kamu berhak mendapat jodoh terbaik yang akan memberimu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Khusus adik-adik yang perempuan, peluk hangat dari jauh J

Kamis, 17 Juli 2014

Kuliah Nggak Sesuai Cita-cita?

(Tulisan ini, meski tidak seutuhnya sama, pernah saya tulis untuk salah satu buku antologi “Mengejar Mimpi)

Sejak kecil sampai SMA, cita-cita saya sama. Nggak pernah berubah. Pengin jadi dokter. Waktu SD, ada seorang teman yang jatuh dari sepeda mini dan luka di dengkulnya. Dengan sok tahunya, saya mengambil mangkuk berisi air, lalu saya masukkan beberapa helai daun dan saya oleskan ke lukanya. Esok harinya, teman saya bilang, “Pril, lukanya cepet kering, lho.” Waduh, kalau teman saya sekarang tahu kalau itu asal-asalan pasti saya udah dicubitin.

Ok, kembali ke cita-cita saya jadi dokter. Kelas 3 SMA. Saya mendapat kesempatan untuk masuk universitas negeri lewat jalur PMDK. Beberapa guru (khususnya guru BP) menawarkan saya untuk memilih jurusan lain.

“Kedokteran saingannya berat. Apalagi nilai matematikamu yang biasa saja, meski kimia dan biologi bagus,” begitu nasihatnya.

Cuma karena saya kekeuuh pengin jadi dokter saya tetap memilih jurusan itu. Saya memilih Kedokteran Undip saat itu. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat surat dari Undip yang menyatakan bahwa saya tidak lolos. Sediiiiiih banget! Tapi saya nggak putus asa. Saya coba lagi lewat UMPTN. Jurusan yang saya ambil sama: Kedokteran. Lagi-lagi, saya gagal masuk kedokteran.

Akhirnya kakak saya menawarkan untuk masuk D3 Komunikasi (Broadcasting) UGM. Waktu itu jurusan komunikasi masih belum menjamur seperti sekarang. Cuma karena waktu itu saya suka mendengarkan radio, jadi saya pikir, sepertinya jurusan Broadcasting itu seru.

Setelah lulus, saya melamar sebagai wartawan. Lalu sebagai penyiar di Radio Ramako (sekarang namanya Lite FM). Kemudian merambah ke dunia komunikasi lain: advertising dan terakhir public relations. Dan, saya merasakan betapa serunya bekerja di dunia komunikasi. Meski kadang kalau berkunjung ke dokter, saya masih suka mengingat cita-cita saya itu.  Saya pun terus melanjutkan kuliah S1 hingga S2. Semuanya linear, di jurusan komunikasi. (Doakan semoga bisa meraih beasiswa S3 Komunikasi ya).

Dari pengalaman saya itu, saya cuma mau bilang, nggak semua hal yang kita mau di dunia ini bisa terwujud. Kalau melenceng, ya dinikmati, dijalani dan mencoba mencari tahu, mengapa Allah menempatkan saya di sini. Terus perkaya diri dengan ilmu. Jalani sungguh-sungguh dan percayalah kita masih bisa terus berkarya meski jurusan yang kita ambil nggak sesuai dengan cita-cita awal. Namanya juga cita-cita, masih bisa belok, kok. Siapa tahu, jurusan yang kamu ambil sekarang lebih asyik dan tepat buat kamu.

O iya, biarpun saya nggak jadi dokter, tapi saya sering lho dimintai pendapat soal bagaimana berkomunikasi yang baik dengan pasangan, anak, atau rekan kerja. Jadi, anggap saja, jadi dokter komunikasi hehehe ...
Tetap semangat dan optimis ya!


Sabtu, 12 Juli 2014

Jika Pasangan Bekerja di Media

Ada beberapa karakter  yang harus dimiliki seorang isteri atau suami jika pasangannya bekerja di media:

1.       Sabar. Yang paling terasa adalah ketika menjelang liburan lebaran. Kalau karyawan lain gembira ria menyambut libur lebaran, maka yang bekerja di media sedang menyiapkan diri menghadapi liputan mudik. Bukan cuma reporternya, Pemrednya pun harus turun tangan. Kalau sudah begitu, jangan pernah bertanya, “kapan pulang kampung?” itu kalimat menyakitkan untuk mereka.
2.       Tahan banting. Tetap tenang kalau pasangan Anda mendadak bilang, “Sayang, besok aku harus liputan ke daerah konflik.”
3.       Jangan terlalu saklek dengan jadwal. Sudah janjian makan malam di restoran X, sudah rapi pakai pakain terbaik, sudah pasang status di BBM dan FB, tiba-tiba, ada BBM: “Hmm, makan malemnya bisa kita tuker besok nggak? ” Dan esok harinya, “Sayang, maaf ya, ternyata hari ini harus meeting Pemred-pemred mendadak”. Untuk mereka yang biasa mengatur jadwal dengan rapi, mungkin harus sedikit dilonggarkan ...
4.       Pandai memilah informasi. Nggak jarang, hampir setiap hari, pasangan akan dijejali dengan setumpuk informasi yang mungkin tidak bisa keluar di media (apalagi pada peristiwa yang khusus seperti Pemilu). Istilahnya off the record. Jadi hati2, nggak semua yang diketahui dan didengar bisa dibagikan ke orang lain apalagi media sosial. Mau nggak mau, harus tetap tenang saat ada teman di FB atau Twitter yang berbagi satu informasi yang sebenarnya nggak begitu.
5.       Lebih kreatif untuk berpenghasilan sendiri (khususnya untuk isteri). Daripada memaksa pasangan untuk punya gaji lebih besar karena itu berbahaya! Wartawan kalau sudah dipaksa punya penghasilan lebih tinggi dari yang diterimanya, khawatir ujung-ujungnya minta uang ke narasumber atau menghalalkan cara lain yang jauh dari kode etik wartawan.


Ada yang mau menambahkan lagi? :D

Selasa, 13 Mei 2014

Berdakwah dengan Indah Lewat Jilbab

Alhamdulillah. Jika Allah Swt mengizinkan, beberapa bulan lagi pernikahan saya dan suami akan berusia 13 tahun. Itu artinya, hampir 13 tahun pula saya berjilbab. Dulu, selepas lulus SMP,  saya pernah mengikuti pesantren kilat dan berniat ingin terus berjilbab. Sayang, karena sesuatu hal, niat itu belum bisa dilakukan.

Beberapa bulan sebelum pernikahan, Alhamdulillah, niat itu muncul kembali. Tentu akan menjadi momen yang sangat indah, ketika kami menikah, saya sudah berjilbab. Dan kali ini, niat itu benar-benar bisa dilaksanakan hingga sekarang dan insyaa Allah sampai saya kembali pada-Nya.

Pertama berjilbab,  jilbab saya masih imut. Meski tidak memperlihatkan leher dan rambut, tapi ujung kanan dan kirinya sering saya ikat ke belakang. Saya juga masih mengenakan celana dengan baju yang tidak terlalu panjang.

Saya bersyukur suami saya bukanlah suami yang senang memaksa seseorang, apalagi istrinya, melakukan sesuatu yang belum siap dilakukan. Dia paham bagaimana saya dulu berpakaian; jeans dan T-shirt atau kemeja. Pun selepas lulus kuliah dan bekerja sebagai wartawan dan penyiar, pakaian kebesaran itu paling sering saya pakai. Saya hanya memakai pakaian rapi atau rok, ketika harus mewawancarai orang penting. Bukan dia tidak menasehati saya. Sebagai suami, imam, yang bertanggungjawab terhadap apa yang saya lakukan, dan memiliki pemahaman yang baik bagaimana seorang perempuan harus berjilbab, dia memiliki hak untuk memaksa saya memakai rok, jilbab lebar, tapi ia tidak memaksa saya melakukan itu.  Dia hanya berpesan, pelan-pelan saya harus bisa mengubah cara saya berjilbab.

Meski keinginan berjilbab datang dari saya sendiri, tapi saya merasa, mengubahnya dengan cara drastis mungkin akan membuat saya tidak percaya diri dan berat (semoga Allah Swt mengampuni saya). Tentu saya mencintai Allah Swt dengan segala yang Dia perintahkan dan berusaha berhijab dengan sebaik-baiknya, tapi izinkan saya melakukan itu semua karena keyakinan dan kesiapan kenapa saya harus begini dan begitu.

Mungkin pernyataan saya tersebut akan mengundang beda pendapat. Bahkan mungkin kecaman. Tidak apa-apa. Saya siap menerimanya J.

Syukur saya berikutnya, ketika di usia dua tahun pernikahan, kami tinggal di rumah sendiri dan bertetangga dengan para ibu yang berjilbab lebar dan mengenakan gamis. Dan mereka, tidak pernah mengucilkan atau memandang sebelah mata. Mereka tetap hangat menerima kekurangan saya. Tidak ada sindiran, tatapan mata sinis, atau kata-kata yang menyinggung. Di antara mereka bahkan guru Al Qur’an tapi ketika berdiskusi agama, mereka tetap terbuka dan tidak menganggap diri mereka paling tahu.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “kecintaan seseorang pada Allah Swt tidak dapat dilihat hanya dari lebar atau tidaknya jilbab yang ia pakai.” 

Alhamdulillah, kalau dulu saya masih melilit jilbab, pakai atasan masih sepaha, sekarang sudah lebih panjang. Sesekali sudah memakai rok dan gamis. Semoga kedepannya akan jauh lebih baik. Aamiin.

Tulisan saya ini tentu bukan untuk dijadikan pembenaran bahwa saat pertama kali berjilbab, boleh seadanya. Adalah sesuatu yang hebat jika seseorang baru berjilbab dan sudah bisa mengenakan jilbab yang benar-benar menutup aurat. Saya sangat salut. 

Namun, sebaiknya, kita dapat lebih bijak dalam menyikapi seseorang yang baru berjilbab namun belum dapat sempurna. Mungkin saja ia dulu senang memakai rok pendek sehingga memakai jilbab, meski masih seadanya, merupakan suatu kemajuan dalam kehidupannya.

Ketika kita melihat ada seseorang berjilbab dan masih mengenakan ‘seadanya’, jika kita mengenalnya dengan baik, tentu tak ada salahnya untuk memberi tahu dengan santun. Jika tidak kenal, semoga kita berbesar hati untuk mendoakan agar ia dapat berhijab yang syar'i. 


Semoga kita bisa saling mendoakan, saling menasehati dengan cara yang indah seperti yang sudah dicontohkan Baginda Rasulullah Muhammad Saw. 

Kamis, 06 Februari 2014

Ketidakjujuran Bernama Titip Absen

“Eh, gue titip absen, ya.”

Kalimat ini biasa kita dengar dari mahasiswa, terutama di kampus-kampus yang masih memberlakukan absen manual; tandatangan di daftar hadir.   

Entahlah. Mungkin buat orang lain, titip absen adalah sesuatu yang lumrah, biasa. Tapi buat saya, titip absen tetap merupakan sebuah ketidakjujuran.

Mungkin, ada teman yang berpendapat, “gue kan kerja. Wajar dong kalau gue nggak masuk dan titip absen. Kalau keseringan nggak masuk, nanti nilai nggak keluar.”

Well, tidak masuk kuliah karena ada pekerjaan tentu wajar. Tapi solusinya bukan titip absen. Buat saya, kuliah sambil bekerja memiliki konsekuensi yang sudah harus dicari solusinya sejak awal. Kalau memang pekerjaan kita benar-benar banyak ke luar kota atau sampai malam, bukankah ada kampus yang menyelenggarakan kelas Sabtu dan Minggu?

Kalaupun sesekali tidak masuk, langsung saja izin ke dosen.  Segala sesuatunya tentu bisa dibicarakan, asal dilakukan di muka. Jangan kebanyakan bolos, tidak memberi tahu, tapi ketika menjelang UAS, memohon pada dosen agar memberi keringanan.

Mungkin ini terdengar sepele. Titip absen doang. Nggak merugikan siapapun. Tapi rasanya, jika dari hal yang kecil, apalagi dilakukan di tempat kita menuntut ilmu, kita sudah melakukan hal yang tidak jujur, saya khawatir hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan untuk berlaku tidak jujur.


Semoga kita bisa terus saling memperbaiki diri. Khusus untuk soal absen, sebaiknya kampus saat ini sudah difasilitasi dengan absen online, bukan manual yang bisa dipalsukan oleh orang lain. 

Rabu, 01 Januari 2014

Allah yang Membayarkan SPP-mu

Mau kuliah tapi uang kurang? Saya pernah mengalaminya.

Tahun 2010. Saya ingin sekali kuliah lagi. Tapi, sebagai ibu dari dua puteri dan sedang merintis usaha sendiri, jujur, berat.  Apalagi kalau saya kuliah di UI, yang SPP per semesternya, lumayan. Saya bimbang dan lama menimbang-nimbang, apakah uang yang kami miliki akan digunakan untuk mengembangkan usaha atau kuliah lagi. Keduanya sama penting. Digunakan untuk mengembangkan usaha, bermanfaat. Kuliah lagi juga bermanfaat untuk masa depan saya. Apalagi saat itu saya sudah menjadi dosen. Rasanya lebih mantap jika menjadi dosen tidak hanya berbekal pengalaman kerja tapi juga memiliki ilmu yang didapat dari jalur formal.

Saat itu, saya berpikir, apakah dengan uang sekian, lebih baik mengembangkan usaha dulu, atau kuliah dulu? Akhirnya, saya putuskan untuk tetap mengikuti tes di UI. Saya bilang sama Allah, “kalau baik untuk saya kuliah lagi saat ini, terimalah di UI. Kalau nggak, nggak usah diterima.”

Waktu pengumuman tiba. Saya takut-takut mau cek di situs UI. Tapi akhirnya saya lihat juga. Saya masukkan username dan password tapi belum ada pengumuman. Sampai menjelang siang masih begitu. Saya pikir, ya sudahlah, mungkin memang nggak diterima. Siang harinya, tiba-tiba suami dan anak-anak menyiram saya pakai air.

“Selamat ya, mahasiswi UI ...”

Tahun 2011. Saya menjadi mahasiswi Pascasarjana UI. Saya dan suami mulai membagi uang yang dialokasikan untuk pendidikan dan usaha itu, menjadi dua bagian. Otomatis, biaya untuk kuliah semakin berkurang. Kalau saya tidak salah ingat, dengan asumsi saya kuliah 4 semester (2 tahun) biaya kuliah yang perlu disiapkan, masih kurang 1 semester. FYI, kuliah di UI waktu itu, per semesternya sekitar 13 juta.

“Bismillah,” kata suami saya.

Saya pun menikmati masa-masa menjadi mahasiswi. Sebagai orang yang tadinya karyawati, per bulan dapat gaji, kemudian bekerja mandiri, menjadi konsultan komunikasi lepas, hal ini tentu bukan hal mudah. Saya harus giat membangun jaringan, mencari project sendiri, dan harus bisa memilah keuangan dengan cermat. Mana untuk pengeluaran harian, tabungan anak-anak, pendidikan saya dan sebagainya. Apalagi, harga buku-buku yang diperlukan saat kuliah juga lumayan.

Namun, kami meyakini, selalu ada Allah yang akan membantu. Bukankah Allah senang dengan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam berusaha?

Alhamdulillah, saya bisa membayar biaya kuliah dengan lancar dan lulus tepat 4 semester. Soalnya kalau molor, uangnya nggak ada hehehe... (ternyata cepat tidaknya lulus seorang mahasiswa, salah satunya, dikarenakan faktor mahalnya bayaran SPP ... hehehe)

Jadi, kalau saat ini, ada yang mau nikah, kuliah lagi, tabungan masih sedikit, jangan khawatir. Ada Allah. Allah yang akan membantu. Asal sungguh-sungguh, yakin, berdoa dan berusaha. Tapi, perencanaan tetap harus ada.


Selamat berjuang J

Jumat, 21 Juni 2013

HRD Seharusnya Menjembatani

Ada seorang janda yang bekerja keras untuk menghidupi 3 anaknya yang masih sekolah. Sebut saja namanya Ibu Lani. Suaminya meninggal 3 bulan lalu. Sang suami adalah seorang driver yang bekerja di sebuah pabrik. Setelah meninggal, hak-haknya sebagai karyawan belum dibayarkan, jamsostek dan pesangon tidak diberikan.

Ibu Lani berinisiatif telpon ke perusahaan bekas suaminya bekerja untuk bertanya soal hak jamsostek dan pesangon. Namun hasilnya dilempar-lempar dan tidak ada yang bertanggungjawab. Perusahaan bilang jamsostek belum dibayarkan karena tidak ada uang akibat dari klien mereka belum membayar ke perusahaan.

Ibu Lani sebenarnya sudah mengurus jamsostek suaminya sendiri, namun pihak Jamsostek mengatakan kalau pembayaran belum bisa dilakukan karena perusahaan tempat suaminya bekerja belum membayar iuran sejak Januari 2013.

Karena kebutuhan yang semakin mendesak, gaji sebagai administrasi keuangan tidak cukup untuk menghidupi 3 anak sementara hutang cicilan suaminya juga harus dibayar. Maka dia memberanikan diri mendatangi perusahaan suaminya untuk menagih dan mendapat keadilan. Apalagi sudah tiga bulan perusahaan belum juga membayarkan hak almarhum suaminya.

Sampai di lokasi, ia bertemu dengan Manager HRD (sebut saja Sonya). Dengan nada ketus dan marah-marah, ia bilang bahwa perusahaan tidak punya uang. Ibu 3 anak ini disuruh menunggu.
Ibu Lani kembali memohon untuk disegerakan atau minimal pihak kantor menalangi dulu karena cicilan hutang mendiang suaminya juga harus dibayar. Tapi ditolak oleh manager HRD ini. Dengan tegas ia mengatakan bahwa sebenarnya urusan Jamsostek bukan otoritasnya melainkan atasannya (dia menyebut nama seseorang). Padahal sebelumnya, seseorang yang disebut namanya oleh Ibu Sonya sudah mengirim SMS ke Ibu Lani bahwa urusan jamsostek ini pun bukan otoritasnya. Lalu, tanggung jawab siapa?


Pertemuan berakhir tanpa kejelasan, pencarian keadilan ibu Lani blm selesai. Pihak perusahaan berkelit pada ketiadaan uang karena tertundanya pembayaran oleh klien mereka. Sementara kebutuhan dan cicilan ibu Lani tidak bisa kompromi, anak-anaknya harus sekolah. Gajinya yang kecil tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari...

***
Ada dua hal yang bisa kita petik dari kejadian di atas. Pertama, fungsi seorang Manajer HRD. Dengan jabatan yang kita miliki, kita bisa melakukan dua hal: memudahkan atau menyusahkan urusan orang. Dalam pemahaman saya, Manajer HRD seharusnya dapat membantu karyawan yang membutuhkan bantuan. Yang tidak habis pikir, bukankah setiap bulan, gaji karyawan sudah dipotong untuk Jamsostek? Jika perusahaan tidak mendapat uang dari klien, itu adalah masalah perusahaan dengan klien, jangan dibebankan pada keluarga karyawan yang sudah meninggal. 

Kasus perusahaan yang belum bisa membayarkan Jamsostek pernah terjadi dengan salah seorang kawan saya. Bedanya, atasan langsung tempat ia bekerja, mau bersusah payah mengurusnya. Minimal, kalaupun tidak bisa langsung mengurusnya ke Jamsostek, perusahaan bisa menalangi terlebih dulu. Jadi, sebenarnya, ini masalah ada kemauan atau tidak. Semoga bukan karena dia driver lantas diabaikan hak-haknya. 

Kedua, untuk para suami. Jika di tempat kerja Anda ada Jamsostek, dana pensiun atau hak-hak lain yang bisa diterima keluarga, beri tahu isteri sehingga mereka paham apa hak-hak yang bisa ia dapatkan. 

Untuk sahabat-sahabatku yang bekerja di divisi HRD, keuangan atau divisi yang mengurusi karyawan, percayalah, jika kita memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusan kita juga. Just be nice to other employees. 


Senin, 21 Januari 2013

Dapat Air Bersih, Sudah Cukup untuk Buat Kita Bersyukur :)


Matahari masih menunjukkan sinar gagahnya ketika saya, teman-teman dari Forum Lingkar Pena Bekasi (Sudi, Vira, Haden, Pendi, Adi, Ilham, Ina), Sanggar Anak Matahari (Andi, Nadiah, dan beberapa teman sanggar yang lain), Mas Eko dan Mas Sahid, bersiap menuju Babelan, Bekasi. Siang itu, Minggu, 20 Januari 2013, kami akan menengok korban banjir untuk membagikan 200 paket nasi bungkus, makananan kering, susu, dan pakaian layak pakai (terima kasih untuk para donatur yang sudah menitipkan sebagian rejekinya kepada kami).  Tak hanya makanan dan pakaian, RS Zainuttaqwa juga membantu menyediakan ambulance beserta seorang dokter, dua perawat, dan obat-obatan. Alhamdulillah. Terima kasih banyak untuk RS Zainuttaqwa. Semoga semakin berkah.

Saya tidak hapal jalan apa saja yang kami lewati. Maklum, gagap Bekasi hehe. Yang jelas, kami melewati sawah, sungai, dan ah iya, ada satu tempat yang saya ingat: Pasar Babelan! Dari situ, kami masih harus terus berkendara menuju sumur minyak Pertamina. Desa Hurip Jaya, Babelan—tempat kami akan mengadakan bakti sosial ini- terletak tak jauh dari sana.

Tapi, biarpun letaknya dekat dengan sumur minyak , saya masih melihat rumah-rumah tak layak huni karena masih beralas tanah! Iya, tanah! Jadi bisa dibayangkan kalau banjir dan airnya masuk ke dalam rumah!

Menurut warga, saat hujan lebat beberapa hari lalu, daerah ini terendam banjir setinggi kurang lebih satu meter. Meskipun pada saat kami datang, banjir sudah mulai surut tapi masih menggenangi rumah warga setinggi kurang lebih 20 Cm. Makanya, penyakit yang hampir diderita warga di sana adalah kutu air dari yang tingkatnya sedang sampai parah! Ya iyalah, gimana kakinya mau kering, lah wong airnya masuk ke dalam rumah dan mereka harus tinggal di sana! Bahkan ada seorang ibu yang badannya dipenuhi bintil-bintil seperti cacar.

“Ya mau gimana lagi! Nggak ada air bersih ya saya mandinya pake air banjir,” katanya.  

Mandi dengan air banjir ini juga bukan dialami ibu itu saja, lho. Warga di desa ini terpaksa mandi dengan air banjir karena kesulitan air bersih. Sementara untuk makan dan minum, mereka harus membeli air bersih di tempat lain yang tidak terkena banjir. Selain penyakit kulit, warga di desa ini juga mengeluhkan penyakit lain, seperti mata gatal, demam, flu, pusing, diare dan ulu hati sakit.   

Kami pun segera membuka posko pelayanan kesehatan selama kurang lebih satu setengah sejam. Ada sekitar tujuh puluh warga  (terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak) yang kami layani. Ada juga beberapa ibu yang belum sempat ditangani karena kami kehabisan salep kulit. Maaf ya, Bu L

Memang, agak sulit penyakit sulit ini bisa sembuh kalau air bersih belum bisa mereka peroleh dan air masih menggenangi rumah mereka.






Selain Desa Hurip Jaya, daerah-daerah lain yang terkena banjir juga banyak yang belum memperoleh air bersih, lho. Setidaknya, itu yang saya lihat sendiri, ketika sehari sebelumnya, Sabtu, 19 Januari 2013, saya dan suami melihat kondisi di Perumahan Pondok Gede Permai. Jumat lalu, sungai yang terletak di belakang perumahan ini meluap dan tanggulnya jebol. Alhasil, perumahan ini terendam banjir hingga kurang lebih 3 meter!

Saat kami ke sana, Alhamdulillah banjir sudah surut tapi meyisakan lumpur setinggi 10-20 Cm. Di sini pun, tidak ada air bersih dan listrik mati. Saya sempat ngobrol dengan salah satu warga yang sedang membersihkan tokonya.

"Udah kayak tsunami pokoknya. Nggak ada yang sempet nyelamatin barang. Barang-barang di toko saya aja rusak semua," katanya sambil senyum. Masih sempat senyum, lho. Hebat, ya. Dan ada satu lagi kata-kata Bapak ini yang bikin saya salut.

"Yah, kita nggak bisa melawan kehendak Allah. Dijalani aja. InsyaAllah nanti diganti lagi sama yang lebih bagus sama Allah."

Subhanallah. Padahal, kalau saya lihat tokonya yang rusak dan barang dagangan yang sudah tidak bisa dijual lagi (Bapak ini berjualan baju-baju muslim), mungkin kerugiannya mencapai puluhan juta! Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik ya, Pak.




 Pulang dari Pondok Gede Permai, kami sengaja tidak membersihkan kaki yang penuh lumpur. Buat oleh-oleh untuk diceritakan ke anak-anak kami, Wafa dan Taman Hati, bahwa tak jauh dari tempat tinggal mereka, ada orang-orang yang kesulitan air bersih.

Bersyukurlah, kita masih bisa menikmati air bersih :)