Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Januari 2018

Kenapa Menyekolahkan Anak di Boarding School?

Minggu lalu mengantar anakku kembali ke As Syifa.  Seperti biasa,  tiap semester ada kajian parenting untuk orangtua.  Kali ini topiknya tentang "Sinergi Orangtua dan Sekolah dalam Menyukseskan Program-program Siswa" dengan pemateri Dr.  Budi Handrianto.  Beliau dosen yang menekuni bidang pendidikan,  sekaligus orangtua dengan pengalaman menyekolahkan anak di BS. 
Saya tulis rangkumannya.
Semoga bermanfaat khususnya untuk orangtua yang anaknya di pesantren/BS.

Ketika kita memasukkan anak-anak ke pesantren atau boarding school, salah satunya karena keinginan agar mereka menjadi anak-anak yang kuat. Kuat keimanannya, pemahaman Islam-nya sehingga mampu menghadapi tantangan zaman.
"..  Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar. "(An-Nisa’: 9) 

Dalam Islam,  bapak adalah pemimpin dan bertanggung jawab pada pendidikan anak. Sehingga jika anak belum melakukan apa yang diperintahkan Allah, berilah contoh. Bangun pagi, sholat berjamaah di mesjid, baca Al Qur’an.
 Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah, terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim:6)

Di dalam buku berjudul, “Tragedy & Hope”, orang-orang Barat menyadari bahwa mereka hebat dalam menciptakan anak yang pintar tetapi mereka menyadari belum tahu bagaimana menjadikan anak mandiri dan bertanggungjawab.
Pendidikan dalam Islam, salah satunya mengajarkan anak untuk mandiri dan bertanggungjawab.
Pendidikan menurut UU Sisdiknas No 20/2003.
Menurut UU, tujuan pendidikan nasional:
Mengembangkan peserta didik yang beriman,  bertakwa,  berakhlak mulia,  sehat,  berilmu,  kreatif,  mandiri,  dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab. 
Beriman berada di urutan pertama, sehingga seharusnya, pendidikan haruslah melahirkan anak-anak yang beriman dan berakhlak. Sayangnya, masih banyak diantara orangtua yang masih lebih mementingkan nilai dibandingkan akhlak anak.
Sehingga...
Luruskan niat.  Memasukkan anak ke BS (dalam hal ini As Syifa) bukan supaya mudah masuk PT negeri seperti Unpad tetapi meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Tujuan pendidikan menurut pakar:
- Menanamkan sikap adab kepada anak didik disebut dengan ta'dib.
- To be a good man not to be a good citizen. Menjadi orang baik lebih tinggi tingkatannya lebih tinggi. 
Di Barat, boleh minum minuman keras asal tidak mabuk.  Sementara dalam Islam,  minum minuman keras,  mau dimanapun,  ganggu atau tidak ganggu orang lain,  tetap haram. Karena tujuannya adalah membentuk pribadi yang baik bukan sekadar warga negara yang baik.   

Proses Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran,  pendidik memberikan keteladanan.
Stakeholder pendidikan:
- Orangtua
- Sekolah
- Masyarakat
Ketika di sebuah masyarakat, misalnya, ada anak SMP merokok atau sering kumpul-kumpul hingga larut malam, masyarakat sekitar harus ikut mengingatkan.
Terkait dengan eljibiti, jika KUHP hanya menilai bahwa korban perkosaan hanya wanita, bagaimana dengan laki-laki yang disodomi. Menurut data, 37% korban perkosaan adalah laki-laki. Untuk itu, jagalah anak-anak, jangan sampai menjadi korban. Mereka yang pernah menjadi korban, disodomi, dibully lalu dibantu, cenderung bisa terjadi SSA (same sex attraction).  

Sinergi Orangtua dan Sekolah
- Bunda asrama juga harus tahu bagaimana perilaku tiap anak. 
- Membuat kesepakatan dan komitmen kedisiplinan antara sekolah dan rumah.  Sehingga tidak terjadi,  di asrama rajin sholat,  di rumah sholat Subuhnya telat. 
- Sekolah sudah membuat aturan, maka orangtua perlu mematuhinya.

Pola komunikasi
- Terkait penggunaan media sosial oleh anak,  tidak boleh ada password yang tidak diketahui orangtua
- Jika diketahui anak melanggar,  misalnya membuka situs porno, berikan punishment. 

Jika terjadi penurunan kualitas ibadah,  apa yang perlu dilakukan?
- Komunikasikan dengan pihak asrama dan sekolah.  Jelaskan bahwa sebelum masuk BS sering shaum sunnah tapi setelah masuk BS, kurang. 
- Orangtua yang 'bawel'  justru baik untuk sekolah,  asal tidak berlebihan.

Catatan:

Ada beberapa yang menggunakan bahasa saya sendiri. Jika terjadi kesalahan, kemungkinan besar sayalah yang salah dalam menuliskannya kembali.

Senin, 16 November 2015

Mengajarkan Anak Mendongeng

Ayah-Bunda, saat ini banyak ya, lomba-lomba yang berkaitan dengan bercerita, baik dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Kedua puteri saya pun ikut. Menurut saya, lomba bercerita atau mendongeng dapat mengasah kemampuan public speaking mereka, lho. Nah, untuk Ayah-Bunda mau mengajarkan putera/i-nya ikut lomba ini, izinkan saya berbagi apa yang biasa saya lakukan kepada mereka. Tentu, saya bukanlah pendongeng profesional, jadi cara-cara ini masih harus banyak dikembangkan lagi.

Melatih artikulasi

Salah satu aspek penting dalam bercerita/mendongeng adalah artikulasi. Untuk mengasahnya, kita dapat membiasakan membacakan cerita untuk anak dengan pengucapan yang benar. Dengan mendengarkan pengucapan yang benar, diharapkan anak juga termotivasi untuk membacanya dengan benar.

Cara berikutnya, berlatih membaca keras. Ketika dulu saya menjadi penyiar radio, kami dibiasakan untuk membaca keras. Berbicara dengan lepas dan mengucapkan huruf-huruf vocal (a,I,u,e,o) dengan mulut terbuka  sehingga huruf-huruf tersebut dapat terdengar dengan sangat jelas.

Dulu, puteri saya cenderung cadel “s”. Ketika ada kata dengan huruf “s”, ia akan mengucapkannya seperti huruf “tsa”. Untuk menguranginya, saya sering memintanya untuk mengucapkan kata-kata yang memiliki banyak huruf “s”, seperti, susu Sasa . Jika ia mengucapkannya masih belum jelas (masih terdengar seperti mengucap “tsa), saya akan memintanya mengulang kata-kata tersebut dengan huruf yang jelas.

Intonasi

Ketika membaca keras, ajarkan anak untuk membaca tanda baca dan menyesuaikan dengan nadanya.

Membedakan Suara

Ketika menceritakan sebuah cerita, akan ada beberapa suara yang perlu dibedakan; narrator dan beberapa tokoh. Nah, untuk suara tokoh, biasakan untuk membedakannya. Kalau tokohnya adalah nenek belajarlah untuk menjadi seorang nenek. Tidak hanya suaranya tapi juga gayanya. Atau, jika tokohnya adalah binatang, coba amati seperti apa sih binatang yang sedang kita perankan. Misal, monyet yang jahil. Selain menyisipkan suara ‘uu .. aa.. uu.. aa’, tingkah laku monyet yang senang garuk-garuk kepala dan ketiak, perhatikan juga mimik wajah. Coba deh lihat di cermin, apakah wajah kita sudah terlihat jahil?   

Alat Peraga

Kak Heru, seorang pendongeng nasional, kasih tips bagaimana memaksimalkan alat peraga untuk bercerita/mendongeng.
“Kalau mau pakai alat peraga, jangan tanggung-tanggung. Buat yang besar dan gunakan secara maksimal. Alat peraga juga jangan sampai merepotkan ketika mendongeng,” katanya ketika menjadi juri lomba mendongeng di Grand Indonesia, Oktober 2015 lalu.
Yang perlu diperhatikan jika kita membuat cerita sendiri, kata Kak Heru, tokoh tidak perlu banyak. Cukup 2-3 tokoh, yang penting dapat dibawakan dengan berbeda dan maksimal.

Dan yang pasti, harus sering-sering berlatih, ya. (apr)

  

Minggu, 14 Juni 2015

Menerapkan Aturan untuk Anak

Minggu, 7 Juni 2015 lalu, saya diundang menjadi pembicara di acara “Smart Parents, Smart Kids”. Acara yang  digagas oleh Duta Indonesia Pintar--yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Universitas Mercu Buana-- ini berlangsung di Mal Cipinang Indah, Jakarta Timur. Pada kesempatan tersebut, saya berbagai tentang prinsip menerapkan aturan untuk anak.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, mereka perlu diajarkan mengenai aturan. Hal ini penting sehingga anak memahami bahwa ada kewajiban yang perlu ia lakukan dan tidak semaunya sendiri. Aturan yang diajarkan tentu perlu disesuaikan dengan kemampuan anak; dari hal-hal sepele seperti menjemur handur setiap kali habis mandi, meletakkan kembali barang-barang yang sudah dipakai ke tempat semula, dan sebagainya.

Namun tak jarang, banyak orangtua yang mengeluh karena anak tidak mau menuruti aturan yang sudah diberikan. Nah, bagaimana ya agar anak mau diajak bekerjasama?

Pertama, aturan akan lebih mudah dipatuhi jika antara orangtua dan anak sama-sama menyepakatinya. Agar anak mau menyepakatinya, sebagai orangtua kita perlu menyampaikan apa yang kita inginkan atau harapkan dari anak. Seringkali, aturan sulit dilakukan karena masing-masing memiliki pemikirannya sendiri-sendiri dan tidak diungkapkan. Misal, soal waktu main. Ada orangtua yang membuat jadwal bermain anak karena khawatir anaknya terlalu kelelahan dan jika sudah begitu akan memengaruhi kesehatannya. Sedangkan, bagi anak, bermain sangat menyenangkan. Ia tidak mengetahui kekhawatiran orangtua. Bisa jadi yang ada di pikirannya, kenapa sih Mama punya banyak aturan? Kenapa aku nggak boleh bermain? Sehingga, supaya anak memahami, orangtua perlu menyampaikan.

“Kak, Bunda seneng kalo Kakak main bola sama temen-temen. Kakak boleh main bola. Tapi dokter bilang kan Kakak nggak boleh terlalu capek dulu. Gimana kalau kita sepakatin waktu mainnya?”

Kedua, konsisten dengan aturan yang sudah kita buat. Misal, waktu menonton TV.  Kalau kita sudah menyepakati menonton TV hanya satu jam per hari, jalani. Seringkali kita mudah tergoda dengan rengekan atau tatapan sedih anak. Saat awal aturan dibuat, sangat mungkin terjadi, anak masih belum terbiasa sehingga lupa melakukannya. Itu hal yang wajar. Tugas kita adalah terus menyemangati dan mengingatkan dengan berbagai cara.  

Ketiga, beri solusi. Banyak orangtua menahan agar anaknya tidak jajan, tidak menonton TV namun tidak memberikan solusi. Anak jajan bisa jadi karena ia mudah lapar, sehingga solusinya, siapkan camilan yang cukup di rumah. Anak menonton karena dia merasa tidak ada yang dikerjakannya, solusinya, berikan buku, peralatan yang menunjang hobinya, atau kegiatan lain.  

Keempat, jadi contoh. Mengharapkan anak tidak menonton sinetron tapi kita pun menontonnya saat anak ada di rumah? Saya yakin anak akan mudah menjawab, “Mama sendiri nonton sinetron,” :D

Kelima, satu suara antara Ayah dan Bunda. Jangan sampai, ibu tidak membolehkan, tapi ayah membolehkan. Kata bunda, pokoknya nggak boleh naik motor sampai kamu punya SIM.” Kata ayah, “Boleh naik motor, tapi jangan jauh-jauh, ya.” Anak jadi bingung, boleh apa nggak sih sebetulnya?
Satu suara juga perlu dilakukan oleh pengasuh dan keluarga yang ada di dalam rumah.


Mau tahu lebih banyak tentang komunikasi dalam pengasuhan anak? Tunggu buku solo saya ya :D

Salam hangat, 
Aprilina Prastari

Rabu, 22 April 2015

Mengajak Anak Senang Membaca

Agar Buku Nggak Kalah dengan TV dan HP

Munculnya gadget, maraknya media sosial, banyak berpengaruh pada kebiasaan anak untuk membaca. Seringkali mereka lebih asyik bermain games atau sibuk menjawab komen-komen di Facebook.

Padahal membaca sangat penting untuk menambah pengetahuan, membantu memperbanyak kosa kata, memudahkan mereka berkomunikasi.

Mendidik memang bukan pekerjaan yang instan. Sejak mereka bayi sebaiknya sudah ditanamkan hal-hal baik sehingga ketika besar, mereka terbiasa melakukannya.

Untuk membiasakan anak membaca, bisa dimulai sejak mereka berusia satu tahun. Awali dengan membacakannya buku cerita. Sesuaikan jenis buku dengan usianya. Tentu anak seusia itu lebih senang dengan buku yang bergambar (dan berwarna) banyak.

Agar lebih menarik, ceritakan seperti seorang pendongeng bercerita dengan membedakan suara tiap tokoh dan nada bicaranya.

Jadikan membeli buku sebagai salah satu kegiatan jalan-jalan. Tidak harus membeli buku baru, hunting buku-buku cerita bekas yang masih bagus juga menyenangkan, lho.

Jika masih membolehkan anak untuk menonton TV/DVD, batasi waktunya. Berlaku juga untuk bermain games/berkegiatan dengan alat-alat elektronik. Misalkan, menonton dan bermain games hanya boleh selama satu jam (sesuaikan dengan usianya). Di luar waktu itu, anak harus melakukan kegiatan lain, salah satunya membaca.  

Buat kegiatan seru lain yang berkaitan dengan buku. Bisa dilakukan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Misal, tebak isi buku berhadiah.


In syaa Allah kalau dari kecil dibiasakan senang buku, akan mudah mengajaknya senang membaca.   

Senin, 05 Januari 2015

Mencetak Generasi Rabbani

Seminar Parenting Nabawiyah

“Mencetak Generasi Rabbani”

(Disarikan dari ceramah Ust. Arifin Nugroho)

Bismillahirrohmaniirrohiim.

Ahad kemarin, 4 Agustus 2014, saya mengikuti seminar parenting nabawiyah di SMPIT As Syifa Boarding School, dengan pembicara, Ust. Arifin Nugroho. Temanya tentang mencetak generasi rabbani.

Sebagai orangtua, siapa yang tak mau memiliki anak-anak yang berakhlak baik, mencintai Allah Swt, dan melaksanakan perintah-Nya? Apalagi, anak merupakan investasi akhirat. Anak bisa membuat orangtua masuk syurga atau neraka. Kita tentu pernah mendengar nasihat bahwa orangtua (meski di dunia rajin sholat dan beramal baik) bisa tertahan masuk syurga karena anak-anaknya tidak ridho. Sebaliknya, orangtua yang amalan baik selama di dunia kurang, dapat sedikit demi sedikit naik derajatnya dan dikurangi siksa kuburnya karena doa dari anak.

Bagaimana doa seorang anak dapat menyelamatkan orangtua di akhirat?
Ust. Arifin bercerita. Suatu hari beliau membaca sebuah buku. Di dalam buku tersebut disebutkan, seorang anak yang mendoakan orangtuanya lima kali dalam sehari termasuk anak “durhaka”.
Wah, kok bisa ya?
Beliau lalu menanyakan maksud dari kalimat tersebut kepada seorang syekh.
Syekh: “Silakan Anda ucapkan doa untuk orangtua”
Ust. Arifin membaca doa pendek tersebut. Syekh memintanya mengulang hingga lima kali.
Syekh: “Apakah Anda lelah mengucapkannya?”
Ust. Arifin: “Tidak”
Syekh: “Apakah perlu usaha keras untuk mengucapkannya?”
UA : “Tidak”
Syekh: “Apakah perlu membayar mahal?”
UA: “Tidak”

Artinya, mendoakan orangtua lima kali sehari tidak cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan dan dilakukan oleh orangtua kita. Pengorbanan, kasih sayang yang mereka curahkan tidak cukup dengan mendoakannya lima kali dalam sehari.

Namun, bagaimana jika ada anak yang tidak terbiasa mendoakan orangtuanya? Bagaimana jika mereka tak paham membimbing orangtuanya yang sedang menghadapi sakaratul maut? Bagaimana jika anak-anak lebih dekat dengan dunia dan melalaikan tugasnya sebagai hamba Allah?

Inilah pentingnya orangtua menanamkan kecintaan anak pada Allah Swt. Porsi terbesar membangun karakter dan pondasi keimanan ada pada orangtua. Sekalipun sudah menyekolahkan anak di sekolah Islam bahkan pesantren sekalipun, orangtua tetap yang memiliki andil paling besar.

Lalu, bagaimana menjadikan anak-anak kita sebagai generasi rabbani?

Pertama, niat. Orangtua perlu meniatkan dalam hati, mau seperti apa anak kita nanti. Kalau tujuannya hanya bagus di dunia, itulah yang akan didapat.
Ust. Arifin menggambarkan, ada orangtua yang mengikutkan anaknya dengan berbagai les; piano, bahasa asing, balet, tapi lupa mengajarkan anaknya untuk membaca Al Qur’an dengan baik. Tentu tidak salah untuk mengajarkan anak bahasa atau seni, namun jangan lupa memberikan bekal akhirat untuk mereka.
Kalau orangtua meniatkan anak-anaknya menjadi pejuang Islam, pengusaha muslim yang sukses dan bermanfaat, atau dokter yang peduli pada masyarakat miskin, in syaa Allah bisa menjadi kenyataan.

Kedua, memberi contoh.
Ust. Arifin memberi gambaran bagaimana Rasululloh Saw secara nyata memberi contoh dalam beribadah kepada Allah, begitu juga ketika beliau mencontohkan menjadi pempimpin yang sederhana.
“Jangan sampai kita meminta anak sholat subuh tepat waktu, tapi orangtuanya sholat selalu kesiangan.” :D

Ketiga, kawal dengan doa.
Ada sebuah kisah yang diceritakan kembali oleh Ust. Arifin yang membuat saya makin percaya dan yakin bahwa rizqi dari Allah seringkali tidak bisa dipikir dengan logika.
Beliau bercerita tentang seorang ibu penjual jamu yang memiliki 7 anak dan semuanya menjadi doktor. Empat diantaranya lulusan luar negeri. Masya Allah. Dan, lucunya, ibu ini tidak tahu kalau anaknya menjadi doktor. Yang ia tahu, anak-anaknya tidak selesai-selesai sekolah :D
Ibu penjual jamu ini sempat ditanya, apakah beliau kehabisan harta sepeninggal suaminya (suaminya meninggal ketika ia mengandung anak terakhir), sehingga harus berjualan jamu.
Ibu itu menjawab, “suami saya hanya meninggalkan bakul jamu dan botol-botolnya.”
Kalau dihitung dengan matematika manusia, bagaimana mungkin seorang penjual jamu gendong di pasar bisa memiliki 7 anak dan semuanya doktor. Tapi itulah kuasa Allah.

Doa dan ikhtiar orangtua. Doa yang ikhlas dari orangtua yang tidak habis untuk anak-anaknya ...


(Catatan: berhubung saya tidak mencatat dan merekam perkataan Ust. Arifin, maka sebagian tulisan di atas, ada yang menggunakan kata-kata saya sendiri. Masih banyak cerita dari Ust. Arifin tapi karena keterbatasan daya ingat saya, hanya catatan ini yang dapat saya tulis. Semoga bermanfaat). 

Sabtu, 21 Desember 2013

Komunikasi dalam Pengasuhan Anak

Beberapa waktu lalu, saya diundang menjadi pembicara di sebuah TK, di Bekasi. Mencoba menggabungkan antara ilmu komunikasi yang selama ini saya pelajari dan pengasuhan anak, saya membahas tentang "Komunikasi dalam Pengasuhan Anak". Ada beberapa prinsip dasar yang bisa kita terapkan agar komunikasi antara orangtua dan anak, bisa berjalan dengan baik.

Prinsip pertama

Anak akan percaya pada orangtua jika orangtua bisa menjadikan dirinya sebagai orangtua yang bisa dipercaya.
Contoh: ketika seorang ayah berjanji ingin pulang sore, harus ditepati. Kalau ia sering melanggar bisa jadi anak akan kehilangan kepercayaan.

Prinsip kedua

Ketika kita mengajak anak bicara, pesan yang harus disampaikan sebaiknya tunggal. Jangan kebanyakan sehingga anak tidak bingung.
Ini juga bisa diaplikasikan untuk program-program untuk anak. Misal, program buang sampah pada tempatnya. Fokus di program itu jika sudah berjalan baik lalu melangkah ke program berikutnya.

Prinsip ketiga
Konsisten dan diulang
Sesuatu yang kerap dilakukan akan diingat oleh anak.

Contoh :
Soal jajan. Terkait dengan jajan, akan saya bahas di postingan selanjutnya :) 

Prinsip keempat
Pesan yang disampaikan orang tua bisa sampai ke anak ketika mereka dalam keadaan rileks. Terlebih jika kita melakukannya dengan sentuhan. 

Prinsip kelima
Peka dan melihat bahasa tubuh yang disampaikan anak. Komunikasi tidak hanya dilakukan oleh kata-kata tetapi bisa dengan bahasa tubuh seperti tatapan mata, ekspresi wajah dan sebagainya.  

Prinsip keenam
Komunikasi harus berjalan dua arah. Tidak hanya dari orangtua ke anak, tapi juga anak ke orangtua. Biarkan mereka mengekspresikan kekesalannya, unek-uneknya, tentang kita.
Bagaimanapun, orangtua adalah juga manusia, yang tak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Ibu. Semoga Allah memberikan kita kesabaran dalam mengasuh anak-anak kita.

Salam hangat,
Aprilina Prastari
Penulis buku keluarga dan komunikasi

Selasa, 17 Desember 2013

77 Kesalahan Orangtua yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Anak

Ada kesalahan-- yang kelihatannya sepele tapi bisa berakibat fatal-- yang saya lakukan ketika puteri saya Wafa masih berusia 3 hari. Hari itu, sepulang dari rumah sakit, mertua saya menjenguk ke rumah. Beliau lalu berinsiatif ingin memandikan Wafa. Saya tentu sangat antusias membantu. Saya siapkan alas untuk mandi, sabun, dan tak lupa air panas dalam bak mandinya. Tadinya, saya mau langsung menambahkan air dingin ke dalam baknya, tapi urung. Saya pikir, ah nanti saja kalau mau dibilas, supaya tetap hangat.

Saya pun melihat mertua saya memandikan Wafa sambil mengamati wajah mungilnya. Dan ketika hendak dibilas. "Lho kok airnya masih panas" kata mertua saya, hampir saja ingin mencelupkan badan Wafa ke dalam air.

"Astaghfirulloh!" saya berteriak kaget. Segera saya tuang air dingin dan ... lemas! Tak bisa dibayangkan bagaimana jika mertua langsung memasukkan Wafa ke dalam bak mandi. Alhamdulillah, Allah Maha Melindungi. Sejak itu, saya tak pernah menunda memasukkan air dingin ke air panas, hanya mengatur suhunya agar saat dibilas, airnya tetap hangat.

Itu, hanya satu kesalahan kecil yang bisa membahayakan orangtua. Tentu masih banyak kesalahan-kesalahan kecil lain, yang tak hanya dilakukan saya, namun juga orangtua lain terhadap anaknya. Kesalahan, yang kelihatannya sepele tapi bisa berakibat fatal.

Apa saja, 76 kesalahan yang lain?
Selengkapnya dapat dibaca di buku terbaru saya: "Sepele tapi Penting" -- 77 Kesalahan Orangtua yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Anak". Selain cerita pengalaman dari orangtua, saya pun mewawancarai dokter, apoteker (soal obat) agar buku ini lebih kaya.

Semoga kita, bisa menjadi orangtua yang senang belajar, salah satunya dengan membaca

Salam
Aprilina Prastari
Penulis buku Keluarga dan Komunikasi


Rabu, 12 September 2012

Let's Enjoy the School

Let's Enjoy the School (Zikrul Hakim)

Judul         : Let's Enjoy The School
Penulis:     : Naqiyyah Syam, Shinta Handini, Aprilina Prastari dkk.
Terbit         : I, Oktober 2011
Penerbit    : Gurita, imprint Zikrul Hakim


          Buku ini berisi kisah menarik seputar pengalaman orang tua mengawali anak masuk sekolah. Kita akan diajak mengenal berbagai kebiasaan anak saat pertama kali mengenal sekolah. Dalam buku ini, penulis bergabi tips cara-cara bersosialisasi, adaptasi psikologis, cara berkomunikasi dengan guru, menyiasati anak mogok sekolah, serta memilih sekolah yang tepat untuk sang buah hati. Buku ini juga dilengkapi dengan resep bekal sehat yang dapat dipraktikkan Bunda di rumah. Buku ini baik dimiliki oleh orang tua yang mempersiapkan anaknya masuk ke sekolah PAUD, TK, maupun SD.

Berjuanglah, Bunda Tidak Sendiri




Berjuanglah, Bunda Tidak Sendiri

Oleh Naqiyyah Syam,Aprilina Prastari dkk

SINOPSIS

Melahirkan di mana saja; di desa, di kota, bahkan di luar negeri, dengan bidan atau dengan dokter spesialis, selalu mendatangkan rasa yang sama. Meski sedikit, rasa sakit itu pasti ada.

Yang kelihatan mudah pun, melahirkan dengan teknik epidural misalnya, akan membawa rasa sakit ketika menyuntikkannya pada tulang belakang walau kadarnya hanya setitik. Faktanya, dengan berbagai teknik yang dilakukan oleh paramedis atau ibu hamil itu sendiri, rasa sakit bisa diminimalisasi. Nah, Bunda bisa segera menemukan jawaban dengan membaca curhat para Bunda di buku ini.

Dalam buku ini, Bunda akan menemui beragam fakta yang akan membantu Bunda untuk sigap mengenali dan mempersiapkan kelahiran yang terbaik. Bunda bisa segera mengonsultasikan segala kekhawatiran Bunda dengan bidan atau dokter yang menangani kehamilan Bunda.

Cara melahirkan apapun yang Bunda pilih, semua istimewa! Buku ini terbagi atas empat ruang bersalin. Masing-masing ruang merepresentasikan kelahiran anak yang keberapa. Belum tentu melahirkan anak yang pertama lebih sakit daripada kelahiran anak yang kedua, dan seterusnya.

Spesial, pada kelahiran anak pertama, kami mengumpulkan banyak cerita karena pada umumnya, seorang Bunda akan mengalami kecemasan yang lebih tinggi pada kehamilannya yang pertama. Bunda bisa mengambil manfaat dari cerita-cerita yang dituliskan. Plus dilengkapi dengan tip-tip seputar melahirkan.


Sumber : www.gramedia.com

Kisah Kasih Ibu



Kisah Kasih Ibu 
Oleh: Atika Luthfiyyah, Amaltia Gunawan,Ifa Aviaty, Aprilina Prastari dkk
Penerbit          :       Qanita (Mizan Group)
Tgl Penerbitan :       2011-03-25

Sinopsis Buku:

Ibu, sebuah kata yang tak lekang oleh waktu.
Ibu, sebuah kata yang mencerminkan kisah abadi.
Ibum sebuah kata yang merengkuh segala.

Ada pepatah mengatakan, kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.
Makna dari pepatah tersebutlah yang ingin ditonjolkan dalam buku ini. Bahwa kasih ibu memang melintasi ruang dan waktu.

Dari kisah kasih yang ditampilkan di buku ini, kami akan belajar bahwa sebenarnya banyak pelajaran kasih sayang yang bisa kita dapat dari interaksi sehari hari dengan ibu. Dengan senyumnya, kasihnya, bahkan hingga kemarahannya dan kesalahannya, sosok ibu tetaplah menjadi guru yang paling berharga.

Kisah kisah ini adalah kisah nyata, pilihan dari lomba kisah kasih ibu Milis word smart center dan Mizan. Kisah kisah yang seakan menegaskan bahwa ibu adalah sosok sentral di kehidupan kita.


Sumber : www.bukabuku.com