Senin, 25 Agustus 2014

Meninggalkan Anak dengan Pengasuh Baru

Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, Sabtu, 23 Agustus 2014.

Semoga bermanfaat.

Perbincangan yang sedang jadi trending topic saat ini, baik di kantor, warung sayur, maupun sekolah, hampir sama: asisten rumah tangga (ART) atau pengasuh belum atau tidak lagi kembali bekerja! 

Bagi ibu bekerja, masalah ini memang memusingkan kepala. Apalagi kalau di rumah anak hanya tinggal dengan pengasuh tanpa ada orang tua atau keluarga lain yang mengawasi. Mau tidak mau, orang tua harus ekstracepat supaya dapat bekerja kembali dengan tenang. Sayangnya, meski pengasuh baru sudah ada, persoalan tidak selesai sampai di sini. Ada tantangan yang (jauh lebih) besar yang harus dihadapi orang tua. 

Apalagi jika orang tua terpaksa merekrut meski sebenarnya kurang sreg di hati sehingga mengabaikan syarat-syarat yang sudah orang tua buat dalam merekrut pengasuh baru. “Ya, daripada lama nggak dapat pengasuh, terpaksa deh aku ambil.” “Sebetulnya sih aku cari yang sudah berpengalaman tapi karena nggak ada, ya mau bagaimana lagi. Masa aku mau tambah cuti sih.” Namun, jangan sampai, karena ingin cepat memiliki pengasuh, hak anak jadi terabaikan. 

Di dalam buku yang saya tulis, Berdamai dengan Asisten di Rumah (2010), masa-masa penyesuaian antara ibu, anak dan pengasuh biasanya terjadi dalam tiga bulan pertama. Selama waktu tersebut, ibu dapat melihat dan pada akhirnya memutuskan apakah dapat melanjutkan menggunakan jasa pengasuh tersebut atau terpaksa mengganti. Apa saja yang akan ibu dan pengasuh lakukan selama waktu pengenalan tersebut? 

Adaptasi Anak dan Pengasuh 

Pada saat awal, tidak hanya anak yang perlu menyesuaikan diri dengan pengasuh barunya. Orang tua, khususnya ibu yang palingseringberinteraksidengan pengasuh, dan pengasuh itu sendiri pun perlu penyesuaian. Untuk anak, tidak semua dari mereka mudah menerima seseorang yang baru ia kenal. Apalagi jika anak terlalu dekat dengan pengasuh sebelumnya. Atau, pengasuh baru kurang menunjukkan sikap yang bersahabat. 

Misalnya, tidak berusaha mengajak anak bermain atau tidak menunjukkan wajah yang ramah atau sikap yang bersahabat. Hal ini menyebabkan anak merasa kurang nyaman. Nah, jika anak sudah dapat memahami perkataan orang tua, sebaiknya, ketika proses mencari pengasuh baru, anak sudah diberi tahu bahwa akan ada mbak baru yang akan menjaganya selama ibu bekerja. 

Jika memungkinkan dan diizinkan oleh divisi HRD tempat ibu bekerja, mintalah tambahan cuti (tanpa dibayar atau mengambil cuti tahun berikutnya) agar ibu dapat menemani anak dengan pengasuh barunya selama beberapa hari. Solusi lain, mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah dan mengirimnya via email. Dulu, ketika masih bekerja di advertising agency, saya pernah melakukan cara ini. Tentu, ibu yang paling mengerti bagaimana kondisi kantor dan kebijakan yang ada. 

Maka, sebaiknya, rencana-rencana seperti ini sudah dipikirkan jauh-jauh hari. Namun jika ibu benar-benar tidak dapat meninggalkan pekerjaan, setidaknya ada keluarga yang mengawasi anak dengan pengasuh barunya. Untuk pengasuh, meski berpengalaman dalam mengurus anak, tentu perlu waktu untuk mengenal anak yang akan dijaganya. 

Idealnya, sebelum mengundurkan diri, pengasuh lama sebaiknya masih ada di rumah ketika pengasuh baru datang sehingga ia dapat belajar langsung dan melihat dulu bagaimana kebiasaan di rumah, terutama yang menyangkut kebiasaan anak. Namun jika tidak dapat dilakukan, ibu juga perlu memberi waktu agar pengasuh baru dapat mengenal anak dengan baik. Jika ibu diizinkan mendapat cuti tambahan, pada hari pertama biarkan pengasuh hanya melihat dulu kebiasaan yang dilakukan anak. 

Kegiatan makan, mandi, sebaiknya tetap dilakukan oleh ibu. Hari kedua, ibu sudah bisa memintanya mengajak bermain dengan anak. Hari ketiga, lihat bagaimana reaksi anak. Jika ia terlihat mau berinteraksi dengan pengasuh, ibu dapat meminta pengasuh untuk bergantian menyuapi atau menemaninya makan. Begitu juga dengan mandi. Lalu, bagaimana dengan aturan? 

Melihat pendidikan dan usia pengasuh, kita juga perlu pertimbangkan apakah pengasuh dapat cepat menerima pesan dari ibu atau tidak. Jika aturan langsung diterapkan, pengasuh dikhawatirkan akan merasa takut atau kaget. “Duh, aturannya kok banyak, ya? Aku bisa nggak ya mengerjakannya? Kalau anaknya nggak mau nurut gimana?” 

Kira-kira seperti itulah perasaan yang dialami pengasuh jika ibu langsung memberi komando dalam jangka waktu cepat. Biarkan pengasuh merasa nyaman mengurus anak lalu pelanpelan beri tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam mengurus anak. 

Hindari Melakukan Hal yang Ditakutkan Anak 

Menurut ibu, apa yang biasanya ditakutkan anak? Bisa minum obat. Atau, mainan yang bentuknya tidak disukai anak. Maka jangan sampai pengasuh melakukan sesuatu yang tidak disukai anak, apalagi yang dapat membuatnya trauma. 

Hal sepele misalnya saat mengeramasi anak. Ada anak yang tidak mau langsung diguyur dengan gayung tapi menggunakan shower. Jika pengasuh mengabaikan, bisa jadi, anak menjadi kesal dan merasa pengasuh tidak mengerti apa yang ia inginkan. 

Menjaga Kedekatan Orang Tua dan Anak 

Terkait dengan terlalu dekatnya anak dengan pengasuh lama, ini memang harus diantisipasi sejak ibu memilih menjadi ibu bekerja. Ada b a n y a k cara yang dapat ibu lakukan sehingga anak dekat dengan pengasuh namun tidak tergantung. Bukankah pengasuh pada akhirnya akan menikah, punya anak dan belum tentu dapat bekerja kembali? Apa jadinya jika anak mengalami demam, tidak mau makan kalau tidak dengan pengasuhnya? 

Apakah ibu tidak nelangsa melihatnya? Untuk itu, tak dapat ditawar lagi, menjaga kedekatan antara orang tua dan anak adalah keharusan. Caranya? Pertama, terapkan bahwa pengasuh hanya membantu ibu ketika ibu tidak ada di rumah untuk bekerja. Artinya, ketika di rumah, ibu dan bapak yang harus mengurus sendiri anak. Kedua, luangkan waktu hanya untuk anak. 

Waktu itu bisa digunakan untuk mendongeng, bermain, atau melakukan kegiatan lain yang hanya dilakukan oleh anak dan orang tua tanpa pengasuh. Jadi sebaiknya, saat liburan dan pergi bersama, usahakan tak perlu membawa pengasuh. ibu dan bapak juga bisa menentukan kegiatan apa yang hanya boleh dilakukan oleh ibu dan bapak setiap hari. Misal, setiap pagi, harus ibu yang memandikan anak. Atau, tiap malam sebelum tidur, harus bapak yang mendongeng. 

Ketiga, perbanyaklah memegang, mengelus, memeluk dan menyentuhnya. Dr. William Sears dalam bukunya The SuccessfulChild (2006) mengatakan, anak yang sering dipeluk akan memiliki kedekatan dengan orang tuanya. Yang paling penting dari semuanya, banyaklah berdoa agar anak tetap dekat dengan orang tuanya. 

Haruskah Dilanjutkan? 

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, karena beberapa alasan, tidak semua orang tua pada akhirnya merekrut pengasuh sesuai dengan kriteria. Apa yang sudah dilakukan pengasuh tentu dapat menjadi pertimbangan bagi orang tua apakah akan melanjutkan atau mengganti. Memang, perlu waktu lagi untuk mengganti. Maka kita pun perlu menganalisisnya dengan bijaksana dan kepala dingin. 

Tentu, setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tinggal kita lihat sejauh mana kekurangannya. Apakah masih dapat ditolerir dan diperbaiki? Contohnya, jika pengasuh sering lupa melakukan sesuatu yang ibu inginkan, mungkin ini kekurangan yang dapat ditoleransi. Namun, perlu dipertimbangkan diganti, jika pengasuh kedapatan memarahi anak, menggunakan kata-kata kasar hingga memukul. 

Hal itu dapat terlihat dari perubahan perilaku anak, anak menunjukkan ketakutan yang berlebihan jika ditinggal atau mengigau sesuatu yang kurang baik tentang pengasuh. Ibu dan bapak tentu memiliki kriteria sendiri dan paling memahami bagaimana pengasuh yang tepat untuk anakanak di rumah. 

Yang penting, sebagai ibu bekerja, kita sepatutnya memiliki prioritas dan alasan yang kuat mengapa harus bekerja dan tidak mengorbankan anak-anak demi karier. 

Kamis, 17 Juli 2014

Kuliah Nggak Sesuai Cita-cita?

(Tulisan ini, meski tidak seutuhnya sama, pernah saya tulis untuk salah satu buku antologi “Mengejar Mimpi)

Sejak kecil sampai SMA, cita-cita saya sama. Nggak pernah berubah. Pengin jadi dokter. Waktu SD, ada seorang teman yang jatuh dari sepeda mini dan luka di dengkulnya. Dengan sok tahunya, saya mengambil mangkuk berisi air, lalu saya masukkan beberapa helai daun dan saya oleskan ke lukanya. Esok harinya, teman saya bilang, “Pril, lukanya cepet kering, lho.” Waduh, kalau teman saya sekarang tahu kalau itu asal-asalan pasti saya udah dicubitin.

Ok, kembali ke cita-cita saya jadi dokter. Kelas 3 SMA. Saya mendapat kesempatan untuk masuk universitas negeri lewat jalur PMDK. Beberapa guru (khususnya guru BP) menawarkan saya untuk memilih jurusan lain.

“Kedokteran saingannya berat. Apalagi nilai matematikamu yang biasa saja, meski kimia dan biologi bagus,” begitu nasihatnya.

Cuma karena saya kekeuuh pengin jadi dokter saya tetap memilih jurusan itu. Saya memilih Kedokteran Undip saat itu. Beberapa waktu kemudian, saya mendapat surat dari Undip yang menyatakan bahwa saya tidak lolos. Sediiiiiih banget! Tapi saya nggak putus asa. Saya coba lagi lewat UMPTN. Jurusan yang saya ambil sama: Kedokteran. Lagi-lagi, saya gagal masuk kedokteran.

Akhirnya kakak saya menawarkan untuk masuk D3 Komunikasi (Broadcasting) UGM. Waktu itu jurusan komunikasi masih belum menjamur seperti sekarang. Cuma karena waktu itu saya suka mendengarkan radio, jadi saya pikir, sepertinya jurusan Broadcasting itu seru.

Setelah lulus, saya melamar sebagai wartawan. Lalu sebagai penyiar di Radio Ramako (sekarang namanya Lite FM). Kemudian merambah ke dunia komunikasi lain: advertising dan terakhir public relations. Dan, saya merasakan betapa serunya bekerja di dunia komunikasi. Meski kadang kalau berkunjung ke dokter, saya masih suka mengingat cita-cita saya itu.  Saya pun terus melanjutkan kuliah S1 hingga S2. Semuanya linear, di jurusan komunikasi. (Doakan semoga bisa meraih beasiswa S3 Komunikasi ya).

Dari pengalaman saya itu, saya cuma mau bilang, nggak semua hal yang kita mau di dunia ini bisa terwujud. Kalau melenceng, ya dinikmati, dijalani dan mencoba mencari tahu, mengapa Allah menempatkan saya di sini. Terus perkaya diri dengan ilmu. Jalani sungguh-sungguh dan percayalah kita masih bisa terus berkarya meski jurusan yang kita ambil nggak sesuai dengan cita-cita awal. Namanya juga cita-cita, masih bisa belok, kok. Siapa tahu, jurusan yang kamu ambil sekarang lebih asyik dan tepat buat kamu.

O iya, biarpun saya nggak jadi dokter, tapi saya sering lho dimintai pendapat soal bagaimana berkomunikasi yang baik dengan pasangan, anak, atau rekan kerja. Jadi, anggap saja, jadi dokter komunikasi hehehe ...
Tetap semangat dan optimis ya!


Sabtu, 12 Juli 2014

Jika Pasangan Bekerja di Media

Ada beberapa karakter  yang harus dimiliki seorang isteri atau suami jika pasangannya bekerja di media:

1.       Sabar. Yang paling terasa adalah ketika menjelang liburan lebaran. Kalau karyawan lain gembira ria menyambut libur lebaran, maka yang bekerja di media sedang menyiapkan diri menghadapi liputan mudik. Bukan cuma reporternya, Pemrednya pun harus turun tangan. Kalau sudah begitu, jangan pernah bertanya, “kapan pulang kampung?” itu kalimat menyakitkan untuk mereka.
2.       Tahan banting. Tetap tenang kalau pasangan Anda mendadak bilang, “Sayang, besok aku harus liputan ke daerah konflik.”
3.       Jangan terlalu saklek dengan jadwal. Sudah janjian makan malam di restoran X, sudah rapi pakai pakain terbaik, sudah pasang status di BBM dan FB, tiba-tiba, ada BBM: “Hmm, makan malemnya bisa kita tuker besok nggak? ” Dan esok harinya, “Sayang, maaf ya, ternyata hari ini harus meeting Pemred-pemred mendadak”. Untuk mereka yang biasa mengatur jadwal dengan rapi, mungkin harus sedikit dilonggarkan ...
4.       Pandai memilah informasi. Nggak jarang, hampir setiap hari, pasangan akan dijejali dengan setumpuk informasi yang mungkin tidak bisa keluar di media (apalagi pada peristiwa yang khusus seperti Pemilu). Istilahnya off the record. Jadi hati2, nggak semua yang diketahui dan didengar bisa dibagikan ke orang lain apalagi media sosial. Mau nggak mau, harus tetap tenang saat ada teman di FB atau Twitter yang berbagi satu informasi yang sebenarnya nggak begitu.
5.       Lebih kreatif untuk berpenghasilan sendiri (khususnya untuk isteri). Daripada memaksa pasangan untuk punya gaji lebih besar karena itu berbahaya! Wartawan kalau sudah dipaksa punya penghasilan lebih tinggi dari yang diterimanya, khawatir ujung-ujungnya minta uang ke narasumber atau menghalalkan cara lain yang jauh dari kode etik wartawan.


Ada yang mau menambahkan lagi? :D

Jumat, 13 Juni 2014

Waspada SMS Sok Akrab dari Nomor Tak Dikenal

Beberapa waktu lalu saya mendapat SMS dari nomor tidak dikenal. Isinya, meminta biodata singkat saya untuk kenang-kenangan. Tadinya, mau saya balas. Mau tahu apa perbincangan selanjutnya jika saya merespon. Tapi tidak jadi saya lakukan.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan SMS lagi dari nomor itu. Saya memang sengaja tidak membuang SMSnya. Isinya hanya, “sore”.

Untuk saya yang paham bahwa ini adalah orang iseng atau mungkin bermaksud tidak baik, tentu akan saya abaikan. Tapi, bagaimana jika yang mendapat SMS tersebut adalah remaja yang belum paham. Boleh jadi, kepolosannya menganggap bahwa itu adalah SMS dari temannya yang nomornya belum disimpan.

Dan, ini terjadi dengan salah seorang teman. Putrinya mendapat SMS yang kurang lebih sama dengan yang saya terima. Menganggap kalau itu dari temannya, anak ini kemudian menjawab. Percakapan terjadi. Dan puteri  teman kami ini diajak untuk bertemu di sebuah mal. Ketika akan berangkat, teman kami bertanya mau apa di mal. Untung, anaknya berterus terang. Alhamdulillah.

Ternyata, memberikan anak handphone tanpa akses media sosial pun, masih ada potensi membahayakan anak. Apalagi dengan kemudahan membeli nomor baru tanpa harus mendaftar terlebih dulu.

Belajar dari kejadian itu, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita sebagai orangtua memutuskan untuk memberikan anak handphone. Ada sebagian orangtua yang memutuskan membelikan anaknya handphone karena tidak memiliki telpon rumah, atau supaya anak mudah dihubungi di tempat les. 

Namun, tetap ada catatan yang perlu diberitahukan pada anak agar mereka mengerti mana SMS yang perlu dibalas, harus diberitahukan orangtua, perlu diwaspadai.  

Ciri-ciri SMS yang TIDAK PERLU DIBALAS alias diabaikan:
  • Dari nomor yang tidak dikenal, tidak menyebutkan nama pengirim, dan tidak menyapa dengan nama. Meskipun kata-kata yang digunakan sopan. Contoh, “hai, apa kabar?”
  • Pesan yang memberitahu bahwa pemilik nomor mendapat undian

Ciri-ciri SMS yang HARUS DIBERITAHUKAN ORANGTUA dan TIDAK MEMBALAS SEBELUM MEMBERITAHU ORANGTUA:
  • Memberitahukan dari nomor tidak dikenal kalau orangtua atau keluarga mengalami musibah dan saat ini sedang berada di rumah sakit.  
  • SMS dari nomor tidak dikenal yang meminta data hingga ke tingkat yang lebih serius: mengajak bertemu
  • SMS dari lawan jenis yang meskipun dikenal anak namun mengajak bertemu
  • SMS dari nomor tidak dikenal namun mengabarkan sesuatu yang penting dan sesuai dengan kita. Misal, “Assalamu’alaykum. Pengumuman kelulusan akan diumumkan besok. Siswa harap berkumpul di sekolah.”
Jika kita memang tidak bisa benar-benar menghilangkan handphone dari kehidupan anak-anak, setidaknya kita sebagai orangtua, memiliki rambu-rambu dan mengajarkan anak untuk lebih waspada. 

Selasa, 13 Mei 2014

Berdakwah dengan Indah Lewat Jilbab

Alhamdulillah. Jika Allah Swt mengizinkan, beberapa bulan lagi pernikahan saya dan suami akan berusia 13 tahun. Itu artinya, hampir 13 tahun pula saya berjilbab. Dulu, selepas lulus SMP,  saya pernah mengikuti pesantren kilat dan berniat ingin terus berjilbab. Sayang, karena sesuatu hal, niat itu belum bisa dilakukan.

Beberapa bulan sebelum pernikahan, Alhamdulillah, niat itu muncul kembali. Tentu akan menjadi momen yang sangat indah, ketika kami menikah, saya sudah berjilbab. Dan kali ini, niat itu benar-benar bisa dilaksanakan hingga sekarang dan insyaa Allah sampai saya kembali pada-Nya.

Pertama berjilbab,  jilbab saya masih imut. Meski tidak memperlihatkan leher dan rambut, tapi ujung kanan dan kirinya sering saya ikat ke belakang. Saya juga masih mengenakan celana dengan baju yang tidak terlalu panjang.

Saya bersyukur suami saya bukanlah suami yang senang memaksa seseorang, apalagi istrinya, melakukan sesuatu yang belum siap dilakukan. Dia paham bagaimana saya dulu berpakaian; jeans dan T-shirt atau kemeja. Pun selepas lulus kuliah dan bekerja sebagai wartawan dan penyiar, pakaian kebesaran itu paling sering saya pakai. Saya hanya memakai pakaian rapi atau rok, ketika harus mewawancarai orang penting. Bukan dia tidak menasehati saya. Sebagai suami, imam, yang bertanggungjawab terhadap apa yang saya lakukan, dan memiliki pemahaman yang baik bagaimana seorang perempuan harus berjilbab, dia memiliki hak untuk memaksa saya memakai rok, jilbab lebar, tapi ia tidak memaksa saya melakukan itu.  Dia hanya berpesan, pelan-pelan saya harus bisa mengubah cara saya berjilbab.

Meski keinginan berjilbab datang dari saya sendiri, tapi saya merasa, mengubahnya dengan cara drastis mungkin akan membuat saya tidak percaya diri dan berat (semoga Allah Swt mengampuni saya). Tentu saya mencintai Allah Swt dengan segala yang Dia perintahkan dan berusaha berhijab dengan sebaik-baiknya, tapi izinkan saya melakukan itu semua karena keyakinan dan kesiapan kenapa saya harus begini dan begitu.

Mungkin pernyataan saya tersebut akan mengundang beda pendapat. Bahkan mungkin kecaman. Tidak apa-apa. Saya siap menerimanya J.

Syukur saya berikutnya, ketika di usia dua tahun pernikahan, kami tinggal di rumah sendiri dan bertetangga dengan para ibu yang berjilbab lebar dan mengenakan gamis. Dan mereka, tidak pernah mengucilkan atau memandang sebelah mata. Mereka tetap hangat menerima kekurangan saya. Tidak ada sindiran, tatapan mata sinis, atau kata-kata yang menyinggung. Di antara mereka bahkan guru Al Qur’an tapi ketika berdiskusi agama, mereka tetap terbuka dan tidak menganggap diri mereka paling tahu.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “kecintaan seseorang pada Allah Swt tidak dapat dilihat hanya dari lebar atau tidaknya jilbab yang ia pakai.” 

Alhamdulillah, kalau dulu saya masih melilit jilbab, pakai atasan masih sepaha, sekarang sudah lebih panjang. Sesekali sudah memakai rok dan gamis. Semoga kedepannya akan jauh lebih baik. Aamiin.

Tulisan saya ini tentu bukan untuk dijadikan pembenaran bahwa saat pertama kali berjilbab, boleh seadanya. Adalah sesuatu yang hebat jika seseorang baru berjilbab dan sudah bisa mengenakan jilbab yang benar-benar menutup aurat. Saya sangat salut. 

Namun, sebaiknya, kita dapat lebih bijak dalam menyikapi seseorang yang baru berjilbab namun belum dapat sempurna. Mungkin saja ia dulu senang memakai rok pendek sehingga memakai jilbab, meski masih seadanya, merupakan suatu kemajuan dalam kehidupannya.

Ketika kita melihat ada seseorang berjilbab dan masih mengenakan ‘seadanya’, jika kita mengenalnya dengan baik, tentu tak ada salahnya untuk memberi tahu dengan santun. Jika tidak kenal, semoga kita berbesar hati untuk mendoakan agar ia dapat berhijab yang syar'i. 


Semoga kita bisa saling mendoakan, saling menasehati dengan cara yang indah seperti yang sudah dicontohkan Baginda Rasulullah Muhammad Saw. 

Selasa, 22 April 2014

Jangan Mau "Kalah" Sama Smart Phone

Banyak orang tua mengecam smart phone.

“Gara-gara pakai hape pinter, kerjaannya main game terus!”

Begitu komentar salah seorang ibu.

Memang, jika tidak berhati-hati dan memberi aturan yang jelas, smart phone dapat membahayakan anak. Entah jadi kecanduan game, bermedia sosial tanpa kenal waktu, dan sebagainya.

Hanya saja, kita memang tidak bisa begitu saja menjauhkan hape pintar ini dari kehidupan kita. Nah, bagaimana kalau kita coba lihat dari sisi positifnya. 
Saya mau berbagi bagaimana games atau kecanggihan smart phone dapat mengakrabkan orangtua dan anak.

Di hape saya, putri saya mengunduh permainan “Pou”. Itu lho, peliharaan yang harus dikasih makan, diajak main, dan diobati kalau sakit. Jujur saja, saya ini nggak terlalu suka main game. Lah mau gimana lagi. Jadi ibu bekerja, nggak punya ART, eh kok ya masih harus mengurusi Pou.

Sering anak-anak menggoda saya.
“Nun, Pou udah dikasih makan, belum?” atau 
“Cieee, Nun lagi mandiin Pou, tuuh”

Nah, kemarin, Pou sakit. Berisik sekali dia. Sudah saya kasih obat kok masih sedih begitu ya. Saat itu saya sedang di kantor. 
Akhirnya saya BBM deh anak-anak. Dan mereka senang sekali melihat saya main Pou.

Selain games, kami juga sering berkirim icon lucu-lucu atau ledek-ledekan via BBM atau mengirim voice mail. Putri saya yang kedua, yang sedang suka baca puisi mengirim puisi ke ayahnya dan sebaliknya. Ayahnya mengirim video suasana kerja untuk menjawab pertanyaannya, "Ayah di kantor ngapain aja, sih?"

Itulah cara kami memanfaatkan smart phone untuk berkomunikasi. 

Semoga hal kecil itu bisa mereka ingat ketika mereka dewasa nanti. 

Rabu, 26 Februari 2014

Tantangan Membuat Iklan untuk Kementerian (Bag.1 )

Mengerjakan iklan layanan masyarakat atau kegiatan komunikasi lain untuk kementerian atau yang berkaitan dengan kementerian memang ada tantangan sendiri.

Pertama, masalah waktu. Seringkali kami dihadapkan pada deadline yang sangat ketat, sementara untuk mendapatkan approval kami harus melewati banyak pintu, karena pada akhirnya, harus mendapatkan approval dari menteri. Pernah, suatu waktu, kami sudah harus mengirimkan materi iklan ke sebuah stasiun TV, sementara masih belum mendapat approval.

Sungguh tidak mudah menjadi orang yang berada di tengah; antara klien dan media. Akhirnya, dengan meminta izin kepada Kabiro Humas kementerian yang bersangkutan, saya memberanikan diri untuk berbicara langsung kepada sesmen agar segera mengambil keputusan; apakah sudah boleh ditayangkan atau tidak.

Soalnya, setiap media memiliki kebijakan sendiri, kapan materi harus mereka peroleh agar sesuai dengan jadwal tayang yang kita pinta. Jika materi terlambat diterima tentu akan berpengaruh pada waktu tayangnya.
Syukurlah, dengan nego pihak sana, nego pihak sini, akhirnya urusan tersebut bisa diselesaikan.


Bagian kedua dan seterusnya, .... Dilanjutkan nanti ya. 

Kamis, 06 Februari 2014

Ketidakjujuran Bernama Titip Absen

“Eh, gue titip absen, ya.”

Kalimat ini biasa kita dengar dari mahasiswa, terutama di kampus-kampus yang masih memberlakukan absen manual; tandatangan di daftar hadir.   

Entahlah. Mungkin buat orang lain, titip absen adalah sesuatu yang lumrah, biasa. Tapi buat saya, titip absen tetap merupakan sebuah ketidakjujuran.

Mungkin, ada teman yang berpendapat, “gue kan kerja. Wajar dong kalau gue nggak masuk dan titip absen. Kalau keseringan nggak masuk, nanti nilai nggak keluar.”

Well, tidak masuk kuliah karena ada pekerjaan tentu wajar. Tapi solusinya bukan titip absen. Buat saya, kuliah sambil bekerja memiliki konsekuensi yang sudah harus dicari solusinya sejak awal. Kalau memang pekerjaan kita benar-benar banyak ke luar kota atau sampai malam, bukankah ada kampus yang menyelenggarakan kelas Sabtu dan Minggu?

Kalaupun sesekali tidak masuk, langsung saja izin ke dosen.  Segala sesuatunya tentu bisa dibicarakan, asal dilakukan di muka. Jangan kebanyakan bolos, tidak memberi tahu, tapi ketika menjelang UAS, memohon pada dosen agar memberi keringanan.

Mungkin ini terdengar sepele. Titip absen doang. Nggak merugikan siapapun. Tapi rasanya, jika dari hal yang kecil, apalagi dilakukan di tempat kita menuntut ilmu, kita sudah melakukan hal yang tidak jujur, saya khawatir hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan untuk berlaku tidak jujur.


Semoga kita bisa terus saling memperbaiki diri. Khusus untuk soal absen, sebaiknya kampus saat ini sudah difasilitasi dengan absen online, bukan manual yang bisa dipalsukan oleh orang lain. 

Senin, 06 Januari 2014

Special Zuppa Soup

Siapa yang suka Zuppa Soup? Pasti banyak deh yang bilang, "akuuuu!"
Zuppa soup memang enak, ya. Cara buatnya juga mudah. Bunda sering membuatnya untuk Wafa dan Taman Hati. Nah, mungkin, ini yang membuat Wafa terinspirasi untuk menulis cerita tentang zuppa soup. 

Ceritanya, ada seorang Chef yang diminta oleh sebuah restoran terkenal untuk membuat zuppa soup unik. Namanya juga unik, jadi rasanya harus beda dari biasanya. Waduh, gimana ya caranya, agar Chef itu berhasil membuat zuppa soup dengan rasa yang beda?

Selain cerita itu, ada juga cerita tentang misteri bekal sekolah yang hilang, warung bakso misterius, dan pengalaman Wafa ketika ikut ayah ke stasiun radio, tempat ayah bekerja. Seperti apa ya serunya bekerja di radio? Apalagi kalau ada peristiwa penting?

Kumpulan cerita itu, ada di buku terbaru Wafa: Special Zuppa Soup, diterbitkan oleh Pastel Books, Mizan. 

Nah, kalau Ibu-ibu, Bapak-bapak, atau adik-adik ada yang ke Gramedia lalu lihat cover buku ini, jangan lupa beli yaa. 

Makasiiih :) 










Rabu, 01 Januari 2014

Allah yang Membayarkan SPP-mu

Mau kuliah tapi uang kurang? Saya pernah mengalaminya.

Tahun 2010. Saya ingin sekali kuliah lagi. Tapi, sebagai ibu dari dua puteri dan sedang merintis usaha sendiri, jujur, berat.  Apalagi kalau saya kuliah di UI, yang SPP per semesternya, lumayan. Saya bimbang dan lama menimbang-nimbang, apakah uang yang kami miliki akan digunakan untuk mengembangkan usaha atau kuliah lagi. Keduanya sama penting. Digunakan untuk mengembangkan usaha, bermanfaat. Kuliah lagi juga bermanfaat untuk masa depan saya. Apalagi saat itu saya sudah menjadi dosen. Rasanya lebih mantap jika menjadi dosen tidak hanya berbekal pengalaman kerja tapi juga memiliki ilmu yang didapat dari jalur formal.

Saat itu, saya berpikir, apakah dengan uang sekian, lebih baik mengembangkan usaha dulu, atau kuliah dulu? Akhirnya, saya putuskan untuk tetap mengikuti tes di UI. Saya bilang sama Allah, “kalau baik untuk saya kuliah lagi saat ini, terimalah di UI. Kalau nggak, nggak usah diterima.”

Waktu pengumuman tiba. Saya takut-takut mau cek di situs UI. Tapi akhirnya saya lihat juga. Saya masukkan username dan password tapi belum ada pengumuman. Sampai menjelang siang masih begitu. Saya pikir, ya sudahlah, mungkin memang nggak diterima. Siang harinya, tiba-tiba suami dan anak-anak menyiram saya pakai air.

“Selamat ya, mahasiswi UI ...”

Tahun 2011. Saya menjadi mahasiswi Pascasarjana UI. Saya dan suami mulai membagi uang yang dialokasikan untuk pendidikan dan usaha itu, menjadi dua bagian. Otomatis, biaya untuk kuliah semakin berkurang. Kalau saya tidak salah ingat, dengan asumsi saya kuliah 4 semester (2 tahun) biaya kuliah yang perlu disiapkan, masih kurang 1 semester. FYI, kuliah di UI waktu itu, per semesternya sekitar 13 juta.

“Bismillah,” kata suami saya.

Saya pun menikmati masa-masa menjadi mahasiswi. Sebagai orang yang tadinya karyawati, per bulan dapat gaji, kemudian bekerja mandiri, menjadi konsultan komunikasi lepas, hal ini tentu bukan hal mudah. Saya harus giat membangun jaringan, mencari project sendiri, dan harus bisa memilah keuangan dengan cermat. Mana untuk pengeluaran harian, tabungan anak-anak, pendidikan saya dan sebagainya. Apalagi, harga buku-buku yang diperlukan saat kuliah juga lumayan.

Namun, kami meyakini, selalu ada Allah yang akan membantu. Bukankah Allah senang dengan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam berusaha?

Alhamdulillah, saya bisa membayar biaya kuliah dengan lancar dan lulus tepat 4 semester. Soalnya kalau molor, uangnya nggak ada hehehe... (ternyata cepat tidaknya lulus seorang mahasiswa, salah satunya, dikarenakan faktor mahalnya bayaran SPP ... hehehe)

Jadi, kalau saat ini, ada yang mau nikah, kuliah lagi, tabungan masih sedikit, jangan khawatir. Ada Allah. Allah yang akan membantu. Asal sungguh-sungguh, yakin, berdoa dan berusaha. Tapi, perencanaan tetap harus ada.


Selamat berjuang J