Jumat, 13 Juni 2014

Waspada SMS Sok Akrab dari Nomor Tak Dikenal

Beberapa waktu lalu saya mendapat SMS dari nomor tidak dikenal. Isinya, meminta biodata singkat saya untuk kenang-kenangan. Tadinya, mau saya balas. Mau tahu apa perbincangan selanjutnya jika saya merespon. Tapi tidak jadi saya lakukan.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan SMS lagi dari nomor itu. Saya memang sengaja tidak membuang SMSnya. Isinya hanya, “sore”.

Untuk saya yang paham bahwa ini adalah orang iseng atau mungkin bermaksud tidak baik, tentu akan saya abaikan. Tapi, bagaimana jika yang mendapat SMS tersebut adalah remaja yang belum paham. Boleh jadi, kepolosannya menganggap bahwa itu adalah SMS dari temannya yang nomornya belum disimpan.

Dan, ini terjadi dengan salah seorang teman. Putrinya mendapat SMS yang kurang lebih sama dengan yang saya terima. Menganggap kalau itu dari temannya, anak ini kemudian menjawab. Percakapan terjadi. Dan puteri  teman kami ini diajak untuk bertemu di sebuah mal. Ketika akan berangkat, teman kami bertanya mau apa di mal. Untung, anaknya berterus terang. Alhamdulillah.

Ternyata, memberikan anak handphone tanpa akses media sosial pun, masih ada potensi membahayakan anak. Apalagi dengan kemudahan membeli nomor baru tanpa harus mendaftar terlebih dulu.

Belajar dari kejadian itu, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita sebagai orangtua memutuskan untuk memberikan anak handphone. Ada sebagian orangtua yang memutuskan membelikan anaknya handphone karena tidak memiliki telpon rumah, atau supaya anak mudah dihubungi di tempat les. 

Namun, tetap ada catatan yang perlu diberitahukan pada anak agar mereka mengerti mana SMS yang perlu dibalas, harus diberitahukan orangtua, perlu diwaspadai.  

Ciri-ciri SMS yang TIDAK PERLU DIBALAS alias diabaikan:
  • Dari nomor yang tidak dikenal, tidak menyebutkan nama pengirim, dan tidak menyapa dengan nama. Meskipun kata-kata yang digunakan sopan. Contoh, “hai, apa kabar?”
  • Pesan yang memberitahu bahwa pemilik nomor mendapat undian

Ciri-ciri SMS yang HARUS DIBERITAHUKAN ORANGTUA dan TIDAK MEMBALAS SEBELUM MEMBERITAHU ORANGTUA:
  • Memberitahukan dari nomor tidak dikenal kalau orangtua atau keluarga mengalami musibah dan saat ini sedang berada di rumah sakit.  
  • SMS dari nomor tidak dikenal yang meminta data hingga ke tingkat yang lebih serius: mengajak bertemu
  • SMS dari lawan jenis yang meskipun dikenal anak namun mengajak bertemu
  • SMS dari nomor tidak dikenal namun mengabarkan sesuatu yang penting dan sesuai dengan kita. Misal, “Assalamu’alaykum. Pengumuman kelulusan akan diumumkan besok. Siswa harap berkumpul di sekolah.”
Jika kita memang tidak bisa benar-benar menghilangkan handphone dari kehidupan anak-anak, setidaknya kita sebagai orangtua, memiliki rambu-rambu dan mengajarkan anak untuk lebih waspada. 

Selasa, 13 Mei 2014

Berdakwah dengan Indah Lewat Jilbab

Alhamdulillah. Jika Allah Swt mengizinkan, beberapa bulan lagi pernikahan saya dan suami akan berusia 13 tahun. Itu artinya, hampir 13 tahun pula saya berjilbab. Dulu, selepas lulus SMP,  saya pernah mengikuti pesantren kilat dan berniat ingin terus berjilbab. Sayang, karena sesuatu hal, niat itu belum bisa dilakukan.

Beberapa bulan sebelum pernikahan, Alhamdulillah, niat itu muncul kembali. Tentu akan menjadi momen yang sangat indah, ketika kami menikah, saya sudah berjilbab. Dan kali ini, niat itu benar-benar bisa dilaksanakan hingga sekarang dan insyaa Allah sampai saya kembali pada-Nya.

Pertama berjilbab,  jilbab saya masih imut. Meski tidak memperlihatkan leher dan rambut, tapi ujung kanan dan kirinya sering saya ikat ke belakang. Saya juga masih mengenakan celana dengan baju yang tidak terlalu panjang.

Saya bersyukur suami saya bukanlah suami yang senang memaksa seseorang, apalagi istrinya, melakukan sesuatu yang belum siap dilakukan. Dia paham bagaimana saya dulu berpakaian; jeans dan T-shirt atau kemeja. Pun selepas lulus kuliah dan bekerja sebagai wartawan dan penyiar, pakaian kebesaran itu paling sering saya pakai. Saya hanya memakai pakaian rapi atau rok, ketika harus mewawancarai orang penting. Bukan dia tidak menasehati saya. Sebagai suami, imam, yang bertanggungjawab terhadap apa yang saya lakukan, dan memiliki pemahaman yang baik bagaimana seorang perempuan harus berjilbab, dia memiliki hak untuk memaksa saya memakai rok, jilbab lebar, tapi ia tidak memaksa saya melakukan itu.  Dia hanya berpesan, pelan-pelan saya harus bisa mengubah cara saya berjilbab.

Meski keinginan berjilbab datang dari saya sendiri, tapi saya merasa, mengubahnya dengan cara drastis mungkin akan membuat saya tidak percaya diri dan berat (semoga Allah Swt mengampuni saya). Tentu saya mencintai Allah Swt dengan segala yang Dia perintahkan dan berusaha berhijab dengan sebaik-baiknya, tapi izinkan saya melakukan itu semua karena keyakinan dan kesiapan kenapa saya harus begini dan begitu.

Mungkin pernyataan saya tersebut akan mengundang beda pendapat. Bahkan mungkin kecaman. Tidak apa-apa. Saya siap menerimanya J.

Syukur saya berikutnya, ketika di usia dua tahun pernikahan, kami tinggal di rumah sendiri dan bertetangga dengan para ibu yang berjilbab lebar dan mengenakan gamis. Dan mereka, tidak pernah mengucilkan atau memandang sebelah mata. Mereka tetap hangat menerima kekurangan saya. Tidak ada sindiran, tatapan mata sinis, atau kata-kata yang menyinggung. Di antara mereka bahkan guru Al Qur’an tapi ketika berdiskusi agama, mereka tetap terbuka dan tidak menganggap diri mereka paling tahu.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “kecintaan seseorang pada Allah Swt tidak dapat dilihat hanya dari lebar atau tidaknya jilbab yang ia pakai.” 

Alhamdulillah, kalau dulu saya masih melilit jilbab, pakai atasan masih sepaha, sekarang sudah lebih panjang. Sesekali sudah memakai rok dan gamis. Semoga kedepannya akan jauh lebih baik. Aamiin.

Tulisan saya ini tentu bukan untuk dijadikan pembenaran bahwa saat pertama kali berjilbab, boleh seadanya. Adalah sesuatu yang hebat jika seseorang baru berjilbab dan sudah bisa mengenakan jilbab yang benar-benar menutup aurat. Saya sangat salut. 

Namun, sebaiknya, kita dapat lebih bijak dalam menyikapi seseorang yang baru berjilbab namun belum dapat sempurna. Mungkin saja ia dulu senang memakai rok pendek sehingga memakai jilbab, meski masih seadanya, merupakan suatu kemajuan dalam kehidupannya.

Ketika kita melihat ada seseorang berjilbab dan masih mengenakan ‘seadanya’, jika kita mengenalnya dengan baik, tentu tak ada salahnya untuk memberi tahu dengan santun. Jika tidak kenal, semoga kita berbesar hati untuk mendoakan agar ia dapat berhijab yang syar'i. 


Semoga kita bisa saling mendoakan, saling menasehati dengan cara yang indah seperti yang sudah dicontohkan Baginda Rasulullah Muhammad Saw. 

Selasa, 22 April 2014

Jangan Mau "Kalah" Sama Smart Phone

Banyak orang tua mengecam smart phone.

“Gara-gara pakai hape pinter, kerjaannya main game terus!”

Begitu komentar salah seorang ibu.

Memang, jika tidak berhati-hati dan memberi aturan yang jelas, smart phone dapat membahayakan anak. Entah jadi kecanduan game, bermedia sosial tanpa kenal waktu, dan sebagainya.

Hanya saja, kita memang tidak bisa begitu saja menjauhkan hape pintar ini dari kehidupan kita. Nah, bagaimana kalau kita coba lihat dari sisi positifnya. 
Saya mau berbagi bagaimana games atau kecanggihan smart phone dapat mengakrabkan orangtua dan anak.

Di hape saya, putri saya mengunduh permainan “Pou”. Itu lho, peliharaan yang harus dikasih makan, diajak main, dan diobati kalau sakit. Jujur saja, saya ini nggak terlalu suka main game. Lah mau gimana lagi. Jadi ibu bekerja, nggak punya ART, eh kok ya masih harus mengurusi Pou.

Sering anak-anak menggoda saya.
“Nun, Pou udah dikasih makan, belum?” atau 
“Cieee, Nun lagi mandiin Pou, tuuh”

Nah, kemarin, Pou sakit. Berisik sekali dia. Sudah saya kasih obat kok masih sedih begitu ya. Saat itu saya sedang di kantor. 
Akhirnya saya BBM deh anak-anak. Dan mereka senang sekali melihat saya main Pou.

Selain games, kami juga sering berkirim icon lucu-lucu atau ledek-ledekan via BBM atau mengirim voice mail. Putri saya yang kedua, yang sedang suka baca puisi mengirim puisi ke ayahnya dan sebaliknya. Ayahnya mengirim video suasana kerja untuk menjawab pertanyaannya, "Ayah di kantor ngapain aja, sih?"

Itulah cara kami memanfaatkan smart phone untuk berkomunikasi. 

Semoga hal kecil itu bisa mereka ingat ketika mereka dewasa nanti. 

Rabu, 26 Februari 2014

Tantangan Membuat Iklan untuk Kementerian (Bag.1 )

Mengerjakan iklan layanan masyarakat atau kegiatan komunikasi lain untuk kementerian atau yang berkaitan dengan kementerian memang ada tantangan sendiri.

Pertama, masalah waktu. Seringkali kami dihadapkan pada deadline yang sangat ketat, sementara untuk mendapatkan approval kami harus melewati banyak pintu, karena pada akhirnya, harus mendapatkan approval dari menteri. Pernah, suatu waktu, kami sudah harus mengirimkan materi iklan ke sebuah stasiun TV, sementara masih belum mendapat approval.

Sungguh tidak mudah menjadi orang yang berada di tengah; antara klien dan media. Akhirnya, dengan meminta izin kepada Kabiro Humas kementerian yang bersangkutan, saya memberanikan diri untuk berbicara langsung kepada sesmen agar segera mengambil keputusan; apakah sudah boleh ditayangkan atau tidak.

Soalnya, setiap media memiliki kebijakan sendiri, kapan materi harus mereka peroleh agar sesuai dengan jadwal tayang yang kita pinta. Jika materi terlambat diterima tentu akan berpengaruh pada waktu tayangnya.
Syukurlah, dengan nego pihak sana, nego pihak sini, akhirnya urusan tersebut bisa diselesaikan.


Bagian kedua dan seterusnya, .... Dilanjutkan nanti ya. 

Kamis, 06 Februari 2014

Ketidakjujuran Bernama Titip Absen

“Eh, gue titip absen, ya.”

Kalimat ini biasa kita dengar dari mahasiswa, terutama di kampus-kampus yang masih memberlakukan absen manual; tandatangan di daftar hadir.   

Entahlah. Mungkin buat orang lain, titip absen adalah sesuatu yang lumrah, biasa. Tapi buat saya, titip absen tetap merupakan sebuah ketidakjujuran.

Mungkin, ada teman yang berpendapat, “gue kan kerja. Wajar dong kalau gue nggak masuk dan titip absen. Kalau keseringan nggak masuk, nanti nilai nggak keluar.”

Well, tidak masuk kuliah karena ada pekerjaan tentu wajar. Tapi solusinya bukan titip absen. Buat saya, kuliah sambil bekerja memiliki konsekuensi yang sudah harus dicari solusinya sejak awal. Kalau memang pekerjaan kita benar-benar banyak ke luar kota atau sampai malam, bukankah ada kampus yang menyelenggarakan kelas Sabtu dan Minggu?

Kalaupun sesekali tidak masuk, langsung saja izin ke dosen.  Segala sesuatunya tentu bisa dibicarakan, asal dilakukan di muka. Jangan kebanyakan bolos, tidak memberi tahu, tapi ketika menjelang UAS, memohon pada dosen agar memberi keringanan.

Mungkin ini terdengar sepele. Titip absen doang. Nggak merugikan siapapun. Tapi rasanya, jika dari hal yang kecil, apalagi dilakukan di tempat kita menuntut ilmu, kita sudah melakukan hal yang tidak jujur, saya khawatir hal tersebut akan menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan untuk berlaku tidak jujur.


Semoga kita bisa terus saling memperbaiki diri. Khusus untuk soal absen, sebaiknya kampus saat ini sudah difasilitasi dengan absen online, bukan manual yang bisa dipalsukan oleh orang lain. 

Senin, 06 Januari 2014

Special Zuppa Soup

Siapa yang suka Zuppa Soup? Pasti banyak deh yang bilang, "akuuuu!"
Zuppa soup memang enak, ya. Cara buatnya juga mudah. Bunda sering membuatnya untuk Wafa dan Taman Hati. Nah, mungkin, ini yang membuat Wafa terinspirasi untuk menulis cerita tentang zuppa soup. 

Ceritanya, ada seorang Chef yang diminta oleh sebuah restoran terkenal untuk membuat zuppa soup unik. Namanya juga unik, jadi rasanya harus beda dari biasanya. Waduh, gimana ya caranya, agar Chef itu berhasil membuat zuppa soup dengan rasa yang beda?

Selain cerita itu, ada juga cerita tentang misteri bekal sekolah yang hilang, warung bakso misterius, dan pengalaman Wafa ketika ikut ayah ke stasiun radio, tempat ayah bekerja. Seperti apa ya serunya bekerja di radio? Apalagi kalau ada peristiwa penting?

Kumpulan cerita itu, ada di buku terbaru Wafa: Special Zuppa Soup, diterbitkan oleh Pastel Books, Mizan. 

Nah, kalau Ibu-ibu, Bapak-bapak, atau adik-adik ada yang ke Gramedia lalu lihat cover buku ini, jangan lupa beli yaa. 

Makasiiih :) 










Rabu, 01 Januari 2014

Allah yang Membayarkan SPP-mu

Mau kuliah tapi uang kurang? Saya pernah mengalaminya.

Tahun 2010. Saya ingin sekali kuliah lagi. Tapi, sebagai ibu dari dua puteri dan sedang merintis usaha sendiri, jujur, berat.  Apalagi kalau saya kuliah di UI, yang SPP per semesternya, lumayan. Saya bimbang dan lama menimbang-nimbang, apakah uang yang kami miliki akan digunakan untuk mengembangkan usaha atau kuliah lagi. Keduanya sama penting. Digunakan untuk mengembangkan usaha, bermanfaat. Kuliah lagi juga bermanfaat untuk masa depan saya. Apalagi saat itu saya sudah menjadi dosen. Rasanya lebih mantap jika menjadi dosen tidak hanya berbekal pengalaman kerja tapi juga memiliki ilmu yang didapat dari jalur formal.

Saat itu, saya berpikir, apakah dengan uang sekian, lebih baik mengembangkan usaha dulu, atau kuliah dulu? Akhirnya, saya putuskan untuk tetap mengikuti tes di UI. Saya bilang sama Allah, “kalau baik untuk saya kuliah lagi saat ini, terimalah di UI. Kalau nggak, nggak usah diterima.”

Waktu pengumuman tiba. Saya takut-takut mau cek di situs UI. Tapi akhirnya saya lihat juga. Saya masukkan username dan password tapi belum ada pengumuman. Sampai menjelang siang masih begitu. Saya pikir, ya sudahlah, mungkin memang nggak diterima. Siang harinya, tiba-tiba suami dan anak-anak menyiram saya pakai air.

“Selamat ya, mahasiswi UI ...”

Tahun 2011. Saya menjadi mahasiswi Pascasarjana UI. Saya dan suami mulai membagi uang yang dialokasikan untuk pendidikan dan usaha itu, menjadi dua bagian. Otomatis, biaya untuk kuliah semakin berkurang. Kalau saya tidak salah ingat, dengan asumsi saya kuliah 4 semester (2 tahun) biaya kuliah yang perlu disiapkan, masih kurang 1 semester. FYI, kuliah di UI waktu itu, per semesternya sekitar 13 juta.

“Bismillah,” kata suami saya.

Saya pun menikmati masa-masa menjadi mahasiswi. Sebagai orang yang tadinya karyawati, per bulan dapat gaji, kemudian bekerja mandiri, menjadi konsultan komunikasi lepas, hal ini tentu bukan hal mudah. Saya harus giat membangun jaringan, mencari project sendiri, dan harus bisa memilah keuangan dengan cermat. Mana untuk pengeluaran harian, tabungan anak-anak, pendidikan saya dan sebagainya. Apalagi, harga buku-buku yang diperlukan saat kuliah juga lumayan.

Namun, kami meyakini, selalu ada Allah yang akan membantu. Bukankah Allah senang dengan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam berusaha?

Alhamdulillah, saya bisa membayar biaya kuliah dengan lancar dan lulus tepat 4 semester. Soalnya kalau molor, uangnya nggak ada hehehe... (ternyata cepat tidaknya lulus seorang mahasiswa, salah satunya, dikarenakan faktor mahalnya bayaran SPP ... hehehe)

Jadi, kalau saat ini, ada yang mau nikah, kuliah lagi, tabungan masih sedikit, jangan khawatir. Ada Allah. Allah yang akan membantu. Asal sungguh-sungguh, yakin, berdoa dan berusaha. Tapi, perencanaan tetap harus ada.


Selamat berjuang J

Sabtu, 21 Desember 2013

Komunikasi dalam Pengasuhan Anak

Beberapa waktu lalu, saya diundang menjadi pembicara di sebuah TK, di Bekasi. Mencoba menggabungkan antara ilmu komunikasi yang selama ini saya pelajari dan pengasuhan anak, saya membahas tentang "Komunikasi dalam Pengasuhan Anak". Ada beberapa prinsip dasar yang bisa kita terapkan agar komunikasi antara orangtua dan anak, bisa berjalan dengan baik.

Prinsip pertama

Anak akan percaya pada orangtua jika orangtua bisa menjadikan dirinya sebagai orangtua yang bisa dipercaya.
Contoh: ketika seorang ayah berjanji ingin pulang sore, harus ditepati. Kalau ia sering melanggar bisa jadi anak akan kehilangan kepercayaan.

Prinsip kedua

Ketika kita mengajak anak bicara, pesan yang harus disampaikan sebaiknya tunggal. Jangan kebanyakan sehingga anak tidak bingung.
Ini juga bisa diaplikasikan untuk program-program untuk anak. Misal, program buang sampah pada tempatnya. Fokus di program itu jika sudah berjalan baik lalu melangkah ke program berikutnya.

Prinsip ketiga
Konsisten dan diulang
Sesuatu yang kerap dilakukan akan diingat oleh anak.

Contoh :
Soal jajan. Terkait dengan jajan, akan saya bahas di postingan selanjutnya :) 

Prinsip keempat
Pesan yang disampaikan orang tua bisa sampai ke anak ketika mereka dalam keadaan rileks. Terlebih jika kita melakukannya dengan sentuhan. 

Prinsip kelima
Peka dan melihat bahasa tubuh yang disampaikan anak. Komunikasi tidak hanya dilakukan oleh kata-kata tetapi bisa dengan bahasa tubuh seperti tatapan mata, ekspresi wajah dan sebagainya.  

Prinsip keenam
Komunikasi harus berjalan dua arah. Tidak hanya dari orangtua ke anak, tapi juga anak ke orangtua. Biarkan mereka mengekspresikan kekesalannya, unek-uneknya, tentang kita.
Bagaimanapun, orangtua adalah juga manusia, yang tak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Ibu. Semoga Allah memberikan kita kesabaran dalam mengasuh anak-anak kita.

Salam hangat,
Aprilina Prastari
Penulis buku keluarga dan komunikasi

Selasa, 17 Desember 2013

77 Kesalahan Orangtua yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Anak

Ada kesalahan-- yang kelihatannya sepele tapi bisa berakibat fatal-- yang saya lakukan ketika puteri saya Wafa masih berusia 3 hari. Hari itu, sepulang dari rumah sakit, mertua saya menjenguk ke rumah. Beliau lalu berinsiatif ingin memandikan Wafa. Saya tentu sangat antusias membantu. Saya siapkan alas untuk mandi, sabun, dan tak lupa air panas dalam bak mandinya. Tadinya, saya mau langsung menambahkan air dingin ke dalam baknya, tapi urung. Saya pikir, ah nanti saja kalau mau dibilas, supaya tetap hangat.

Saya pun melihat mertua saya memandikan Wafa sambil mengamati wajah mungilnya. Dan ketika hendak dibilas. "Lho kok airnya masih panas" kata mertua saya, hampir saja ingin mencelupkan badan Wafa ke dalam air.

"Astaghfirulloh!" saya berteriak kaget. Segera saya tuang air dingin dan ... lemas! Tak bisa dibayangkan bagaimana jika mertua langsung memasukkan Wafa ke dalam bak mandi. Alhamdulillah, Allah Maha Melindungi. Sejak itu, saya tak pernah menunda memasukkan air dingin ke air panas, hanya mengatur suhunya agar saat dibilas, airnya tetap hangat.

Itu, hanya satu kesalahan kecil yang bisa membahayakan orangtua. Tentu masih banyak kesalahan-kesalahan kecil lain, yang tak hanya dilakukan saya, namun juga orangtua lain terhadap anaknya. Kesalahan, yang kelihatannya sepele tapi bisa berakibat fatal.

Apa saja, 76 kesalahan yang lain?
Selengkapnya dapat dibaca di buku terbaru saya: "Sepele tapi Penting" -- 77 Kesalahan Orangtua yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Anak". Selain cerita pengalaman dari orangtua, saya pun mewawancarai dokter, apoteker (soal obat) agar buku ini lebih kaya.

Semoga kita, bisa menjadi orangtua yang senang belajar, salah satunya dengan membaca

Salam
Aprilina Prastari
Penulis buku Keluarga dan Komunikasi


Senin, 16 Desember 2013

Jadi Copywriter, Haruskah Selalu Lembur?

Saya tidak mengenal Mita Diran, copywriter yang meninggal dunia  setelah 30 jam bekerja tanpa henti. Namun, sebagai mantan fulltime copywriter, saya merasa ikut berduka dan mendoakan semoga ia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Meninggalnya Mita membuat beberapa kawan bertanya kepada saya. Apakah begitu melelahkannya bekerja di ad agency? Kenapa sampai tidak ada waktu untuk istirahat? Seperti apa kerja copywriter?

Selama kurang lebih delapan tahun, saya bekerja di ad agency. Tak selamanya ad agency tempat saya bekerja selalu menuntut lembur. Ada juga ad agency yang mengharuskan lembur  ketika ada pitching atau deadline yang mendesak. Selebihnya, kami bisa pulang selepas Maghrib.

Namun, di beberapa agency besar dan harus menangani klien yang aktif, lembur memang menjadi makanan sehari-hari. Terlebih ketika harus menangani klien telco. Hampir setiap malam saya pulang di atas pukul 22.00. Seminggu sekali,  pulang bareng maling alias pukul 02.00 dan esoknya eh paginya, harus sampai di kantor lagi pukul 08.30. Kalau telat, potong uang makan. Sedihnya!

Mungkin ada yang bertanya, apa saja yang kami lakukan sehingga harus sering lembur?
Bekerja di ad agency adalah pekerjaan tim. Meski seorang copywriter sudah menyelesaikan tugasnya untuk urusan copy (naskah iklan) tapi bukan berarti pekerjaannya selesai. Ia masih harus berdiskusi lagi dengan pasangannya—art director—presentasi ke creative director-nya. Jika masih ada yang kurang, ya harus direvisi lagi. Belum lagi kalau harus menghadapi deadline yang extra super cepat.

Oh ya, meskipun namanya copywriter, tapi dia juga bukan hanya mengurusi naskah iklan saja, ya. Jadi kalau bertemu dengan iklan yang hanya ada tagline, bukan berarti copywriternya nggak kerja, lho. Karena seorang copywriter juga harus mengonsep hingga akhirnya, iklan itu siap tayang. Artinya, sebelum jadi, ya harus didampingi terus. Kalau buat TVC (TV Commercials), misalnya, seorang copywriter harus ikut sampai editing selesai. Jadi, iklan TV yang 30 detik itu, prosesnya panjang, lho!

Apakah Harus Lembur?

Mungkin tidak, kalau manajemen di agency itu lebih rapi. Seringkali, kita sudah datang pagi, tapi rekan kerja kita datang siang. Mending kalau langsung kerja, karena biasanya ‘pemanasannya’ agak lama. Kadang, mulai benar-benar kerja sesudah makan siang.  Mau tak mau kita harus bisa menyesuaikan diri karena lagi-lagi kerja di ad agency adalah kerja tim.

Hal lain, jika agency melalui bagian traffic-nya bisa tegas mengatur deadline dan memberikan waktu untuk seluruh tim untuk tidak selalu lembur.  Tentu ini membutuhkan pengaturan SDM dan negosiasi ke klien dengan baik.

Asap Rokok yang Menggangggu

Ini agak OOT dari soal lembur, ya. Tapi saya perlu menyampaikan unek-unek saya soal rokok! Untuk saya yang bukan perokok, bekerja di ruangan penuh dengan asap rokok, sungguh menyiksa. Beberapa teman bilang, maaf ya, Pril, nggak enak kalau nggak ngerokok. Idenya nggak keluar! Untunglah saya tak perlu berlama-lama bekerja di agency yang sangat tidak ramah pada orang yang mau sehat itu.

***

Begitulah. Penuh perjuangan untuk bekerja di ad agency. Dan saya selalu bilang kepada mahasiswa-mahasiswa saya untuk siap menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Namun bagi saya, sekeras-kerasnya kita bekerja, selalu ada tujuan, untuk apa kita bekerja. Melihat anak-anak yang sudah semakin besar dan hal lain, awal 2009, saya memutusakan untuk tidak lagi bekerja di ad agency.

Saat ini saya memilih bekerja mandiri. And u know what, banyak hal yang bisa saya lakukan sesudah itu; saya bisa melanjutkan S2, bisa menulis buku, mengajar, menjadi konsultan, dan pastinya, bisa mengatur waktu kapan harus bekerja dan kapan untuk anak-anak.

Meski saya akui, begitu banyak pengalaman, pengetahun,  dan pelajaran yang saya dapatkan selama bekerja di ad agency.

Untuk sahabat-sahabat saya yang masih bekerja di ad agency, terutama ibu, semoga Allah menguatkan kalian J

Salam
Aprilina Prastari

Penulis buku “Seru (nggak)nya Jadi Copywriter”