Rabu, 22 April 2015

Mengajak Anak Senang Membaca

Agar Buku Nggak Kalah dengan TV dan HP

Munculnya gadget, maraknya media sosial, banyak berpengaruh pada kebiasaan anak untuk membaca. Seringkali mereka lebih asyik bermain games atau sibuk menjawab komen-komen di Facebook.

Padahal membaca sangat penting untuk menambah pengetahuan, membantu memperbanyak kosa kata, memudahkan mereka berkomunikasi.

Mendidik memang bukan pekerjaan yang instan. Sejak mereka bayi sebaiknya sudah ditanamkan hal-hal baik sehingga ketika besar, mereka terbiasa melakukannya.

Untuk membiasakan anak membaca, bisa dimulai sejak mereka berusia satu tahun. Awali dengan membacakannya buku cerita. Sesuaikan jenis buku dengan usianya. Tentu anak seusia itu lebih senang dengan buku yang bergambar (dan berwarna) banyak.

Agar lebih menarik, ceritakan seperti seorang pendongeng bercerita dengan membedakan suara tiap tokoh dan nada bicaranya.

Jadikan membeli buku sebagai salah satu kegiatan jalan-jalan. Tidak harus membeli buku baru, hunting buku-buku cerita bekas yang masih bagus juga menyenangkan, lho.

Jika masih membolehkan anak untuk menonton TV/DVD, batasi waktunya. Berlaku juga untuk bermain games/berkegiatan dengan alat-alat elektronik. Misalkan, menonton dan bermain games hanya boleh selama satu jam (sesuaikan dengan usianya). Di luar waktu itu, anak harus melakukan kegiatan lain, salah satunya membaca.  

Buat kegiatan seru lain yang berkaitan dengan buku. Bisa dilakukan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Misal, tebak isi buku berhadiah.


In syaa Allah kalau dari kecil dibiasakan senang buku, akan mudah mengajaknya senang membaca.   

Kamis, 02 April 2015

Copywriting Online Course


Siapa yang perlu ikut:
  • Blogger yang mau belajar menulis product review
  • Humas di Kementerian atau perusahaan swasta
  • Staf promosi
  • Pemilik usaha 


Pendaftaran (termasuk pembayaran) ditutup hingga 9 April 2015. Peserta terbatas. Daftar sekarang, ya.  






Selasa, 31 Maret 2015

Menu untuk Anak Susah Makan


Masa-masa peralihan dari nasi tim ke menu keluarga pada usia anak satu tahun memang seringkali membuat orangtua stres. Masalahnya, akibat peralihan ini, ada anak yang susah makan. Meskipun, periode susah makan memang tidak hanya dialami anak usia setahun. Tapi dari pengalaman saya dan teman-teman para ibu, usia 10- 20 bulan memang masa-masa anak susah makan. Bisa jadi karena peralihan dari makanan yang lembut ke makanan yang lebih padat atau faktor lain, seperti:
·         Ada sariawan di mulutnya sehingga ia kesulitan memasukkan dan mengunyah makanan.
·         Tumbuh gigi sehingga mungkin mulutnya tidak nyaman
·         Bosan dengan suasana makan
·         Bosan dengan menunya

Nah, untuk yang terakhir, memang kreativitas ibu sangat diperlukan dalam mengolah makanan. Apa saja menu yang bisa dibuat ibu sehingga anak lebih semangat makan:
1.     Kalau nasi, coba deh nasi yang sangat lembut dengan kuah. Kalau pengalaman saya dulu, anak-anak suka makan dengan kuah soto. Untuk masak nasinya, saya pakai rice cooker kecil yang khusus untuk mereka. Masak dengan daun pandan dan lebih lembek dari ukuran untuk makanan dewasa. Untuk lauknya, bisa tuna atau chicken katsu (buat sendiri ya, Bunda. Jangan yang instan), bola-bola daging (pakai daging giling, kuahnya bisa pakai kuah semur atau sup).  
2.      Havermut. Bisa dikreasikan dengan menggunakan telur atau kalau yang rasanya manis bisa dicampur susu dan keju.
3.      Olahan kentang, misalnya: bitterballen, cake kentang keju, donat.
4.    Olahan pasta, misalnya: makaroni panggang, spageti krim, makaroni goreng. Semua menu tersebut menggunakan susu (UHT putih) dan daging giling. Sesuaikan dengan usia anak. Anak usia di atas satu tahun sudah boleh mengonsumsi UHT namun tentu perlu dicek kesiapan anak.  
5.      Olahan ubi dan singkong, misalnya: puding ubi ungu, getuk, cake berbahan dasar ubi.
6.      Olahan tepung beras: bubur sumsum
7.      Bubur kacang hijau
8.      Nasi kuning dengan bentuk-bentuk yang lucu (Bunda dapat belajar menghias bento)
9.      Olahan roti (tapi hati-hati memilih roti. Jangan membeli roti yang memakai pengawet); puding roti, dimakan langsung dengan melibatkan anak saat membuatnya.

Selamat mencoba. Jangan lupa untuk mengecek alergi anak terhadap bahan pangan tertentu. Yang penting, hadapi dengan senang. Saya paham betapa sedihnya seorang ibu melihat anaknya susah makan tapi in syaa Allah itu adalah proses yang perlu dilalui.

Ciptakan suasana makan yang menyenangkan agar anak tidak trauma. Menghindari makanan tidak habis dan terbuang, ambillah makanan sedikit dulu. Kalau ambil banyak dan anak tidak menghabiskannya, bukan hanya mubadzir, tapi akan membuat ibu bertambah stres karena makanan tidak habis-habis. 

Rabu, 25 Maret 2015

Berhentilah Menambah Stres Ibu Muda

"Ya ampuuun .. ASI kamu belum keluar. Kasian banget anaknya. Nanti kekurangan nutrisi lho. Biasanya nih kalo anak nggak dikasih ASI, anaknya nggak pinter. Kamu gimana sih. Emang waktu hamil nggak perawatan ... "
Atau ...
"Hah? Kamu cesar? Kalo cesar anaknya gampang sakit lho. Kamu juga nggak bisa ngapa2in. Bisanya cuma tiduraaan ajah. Seharusnya kamu normal. Paksa dokternya minta normal"
Sementara ibu muda yang mengalami kesulitan memberi ASI pun sebetulnya ingin sekali memberi anaknya  ASI. Ia pun sadar betul ASI baik bagi bayinya tapi kenyataannya ia masih kesulitan memberi ASI dengan benar sehingga mungkin ASI belum keluar lancar. 
Dan ibu yang terpaksa melahirkan melalui operasi cesar, sebetulnya juga ingiiin sekali melahirkan normal. Tapi ada kondisi2 tertentu yang akhirnya membuatnya terpaksa harus cesar.

Memang boleh jadi, ibu yang belum mampu memberikan ASI tersebut kurang maksimal melakukan perawatan selama kehamilan. Tapi apakah dengan berkata seperti itu akan membantu memperbanyak ASI-nya? Jangan-jangan malah membuatnya bertambah stres dan ASI makin sulit keluar. 

Alangkah baik jika memotivasi dengan kata-kata yang menenangkan.

"Ooh, kalau ASI belum keluar coba deh kompres pakai air hangat, diurut, dan harus tetap diminumin ke bayinya. Karena semakin banyak diminum, produksinya juga semakin banyak. Coba deh makan ini... In syaa Allah bisa keluar"
Atau
"Memang sih, kalau melahirkan normal, pulihnya lebih cepet. Tapi nggak apa2. Yang penting anaknya sehat. Melahirkan cesar juga bisa ngurus anak kok. Asal jangan angkat yang berat2, ya."

Komunikasi itu penting.

Jangan sampai kata-kata kita melemahkan semangat ibu yang baru memiliki anak dan merasa dirinya lemah sebagai ibu.

Kamis, 08 Januari 2015

Etika dan Kreativitas dalam Iklan

Minggu lalu, di media sosial, banyak postingan yang mengecam iklan di billboard sebuah brand rokok. Di dalam iklan tersebut, terlihat dua orang remaja, laki-laki dan perempuan, saling berangkulan, dengan posisi wajah laki-laki yang mendekati wajah perempuan, seperti hendak mencium. Ditunjang dengan copy-nya “Mula-mula Mau, Lama-lama Mau”.

Kira-kira, melihat perpaduan visual dan copy seperti itu, apa pesan yang ditangkap masyarakat?
Sepasang kekasih yang sedang pacaran. Perempuannya mula-mula nggak mau dicium lalu mau?
Atau yang lain?

Namun saya dapat memastikan, sebagian besar masyarakat akan menilainya, negatif.

Mereka yang pernah bekerja di ad agency pasti mengerti betapa kuat visual dan copy saling mendukung dan tentu, memiliki pesan yang ingin disampaikan.

Mungkin ada yang mengatakan, “Ya iklan seperti itu, sesuai lah sama TA-nya. Perokok, muda, senang hura-hura.”
Mereka yang punya kepedulian pada generasi muda kemudian menjawab,  ”Oo jadi iklannya memang sengaja dibuat untuk mengajak anak muda melakukan hal yang nggak baik? Jahat banget, dong”
Sebagian pendukung iklan ini mungkin menjawab, ”Sejak kapan iklan harus mendidik? Itu kan kreativitas. Harus peduli?”

Jujur saja. Sempat saya berpikir, apakah mungkin sengaja dibuat agar menimbulkan kontroversi dan ramai diperbincangkan di media sosial?
Namun saya ingat, brand ini bukan brand baru yang tidak memikirkan strategi. Produsennya, juga bukan perusahaan kecil yang tidak mengerti strategi branding. Mereka tentu memahami menjadi brand dibicarakan dalam konteks negatif tentu tidak baik bagi brand itu sendiri.

Moriarty, Mitchell dan Wells di buku “Advertising-Principles and Practice” menjelaskan bahwa pengiklan perlu memiliki self-regulation, terlebih jika itu berkaitan dengan norma-norma yang ada di dalam suatu masyarakat-- kita perlu melihat apa dampak yang akan timbul jika iklan tersebut dipublikasikan.

Masyarakat Indonesia, bagaimanapun, masih peduli dengan kesopanan, kepatuhan terhadap yang boleh dan tidak boleh, khususnya dalam agama. 

Konsep "Go Ahead" yang biasa diusung brand rokok ini tentu dapat diterjemahkan dalam kreativitas yang lain. Jika ingin disukai, mengapa tidak menggali ide dari apa yang dicintai masyarakatnya? Terlebih, ini menyangkut brand, termasuk corporate image produsennya.

Iklan adalah karya. Dan bagi saya, karya yang baik adalah yang bermanfaat, setidaknya tidak meresahkan.



Senin, 05 Januari 2015

Mencetak Generasi Rabbani

Seminar Parenting Nabawiyah

“Mencetak Generasi Rabbani”

(Disarikan dari ceramah Ust. Arifin Nugroho)

Bismillahirrohmaniirrohiim.

Ahad kemarin, 4 Agustus 2014, saya mengikuti seminar parenting nabawiyah di SMPIT As Syifa Boarding School, dengan pembicara, Ust. Arifin Nugroho. Temanya tentang mencetak generasi rabbani.

Sebagai orangtua, siapa yang tak mau memiliki anak-anak yang berakhlak baik, mencintai Allah Swt, dan melaksanakan perintah-Nya? Apalagi, anak merupakan investasi akhirat. Anak bisa membuat orangtua masuk syurga atau neraka. Kita tentu pernah mendengar nasihat bahwa orangtua (meski di dunia rajin sholat dan beramal baik) bisa tertahan masuk syurga karena anak-anaknya tidak ridho. Sebaliknya, orangtua yang amalan baik selama di dunia kurang, dapat sedikit demi sedikit naik derajatnya dan dikurangi siksa kuburnya karena doa dari anak.

Bagaimana doa seorang anak dapat menyelamatkan orangtua di akhirat?
Ust. Arifin bercerita. Suatu hari beliau membaca sebuah buku. Di dalam buku tersebut disebutkan, seorang anak yang mendoakan orangtuanya lima kali dalam sehari termasuk anak “durhaka”.
Wah, kok bisa ya?
Beliau lalu menanyakan maksud dari kalimat tersebut kepada seorang syekh.
Syekh: “Silakan Anda ucapkan doa untuk orangtua”
Ust. Arifin membaca doa pendek tersebut. Syekh memintanya mengulang hingga lima kali.
Syekh: “Apakah Anda lelah mengucapkannya?”
Ust. Arifin: “Tidak”
Syekh: “Apakah perlu usaha keras untuk mengucapkannya?”
UA : “Tidak”
Syekh: “Apakah perlu membayar mahal?”
UA: “Tidak”

Artinya, mendoakan orangtua lima kali sehari tidak cukup untuk membalas apa yang sudah diberikan dan dilakukan oleh orangtua kita. Pengorbanan, kasih sayang yang mereka curahkan tidak cukup dengan mendoakannya lima kali dalam sehari.

Namun, bagaimana jika ada anak yang tidak terbiasa mendoakan orangtuanya? Bagaimana jika mereka tak paham membimbing orangtuanya yang sedang menghadapi sakaratul maut? Bagaimana jika anak-anak lebih dekat dengan dunia dan melalaikan tugasnya sebagai hamba Allah?

Inilah pentingnya orangtua menanamkan kecintaan anak pada Allah Swt. Porsi terbesar membangun karakter dan pondasi keimanan ada pada orangtua. Sekalipun sudah menyekolahkan anak di sekolah Islam bahkan pesantren sekalipun, orangtua tetap yang memiliki andil paling besar.

Lalu, bagaimana menjadikan anak-anak kita sebagai generasi rabbani?

Pertama, niat. Orangtua perlu meniatkan dalam hati, mau seperti apa anak kita nanti. Kalau tujuannya hanya bagus di dunia, itulah yang akan didapat.
Ust. Arifin menggambarkan, ada orangtua yang mengikutkan anaknya dengan berbagai les; piano, bahasa asing, balet, tapi lupa mengajarkan anaknya untuk membaca Al Qur’an dengan baik. Tentu tidak salah untuk mengajarkan anak bahasa atau seni, namun jangan lupa memberikan bekal akhirat untuk mereka.
Kalau orangtua meniatkan anak-anaknya menjadi pejuang Islam, pengusaha muslim yang sukses dan bermanfaat, atau dokter yang peduli pada masyarakat miskin, in syaa Allah bisa menjadi kenyataan.

Kedua, memberi contoh.
Ust. Arifin memberi gambaran bagaimana Rasululloh Saw secara nyata memberi contoh dalam beribadah kepada Allah, begitu juga ketika beliau mencontohkan menjadi pempimpin yang sederhana.
“Jangan sampai kita meminta anak sholat subuh tepat waktu, tapi orangtuanya sholat selalu kesiangan.” :D

Ketiga, kawal dengan doa.
Ada sebuah kisah yang diceritakan kembali oleh Ust. Arifin yang membuat saya makin percaya dan yakin bahwa rizqi dari Allah seringkali tidak bisa dipikir dengan logika.
Beliau bercerita tentang seorang ibu penjual jamu yang memiliki 7 anak dan semuanya menjadi doktor. Empat diantaranya lulusan luar negeri. Masya Allah. Dan, lucunya, ibu ini tidak tahu kalau anaknya menjadi doktor. Yang ia tahu, anak-anaknya tidak selesai-selesai sekolah :D
Ibu penjual jamu ini sempat ditanya, apakah beliau kehabisan harta sepeninggal suaminya (suaminya meninggal ketika ia mengandung anak terakhir), sehingga harus berjualan jamu.
Ibu itu menjawab, “suami saya hanya meninggalkan bakul jamu dan botol-botolnya.”
Kalau dihitung dengan matematika manusia, bagaimana mungkin seorang penjual jamu gendong di pasar bisa memiliki 7 anak dan semuanya doktor. Tapi itulah kuasa Allah.

Doa dan ikhtiar orangtua. Doa yang ikhlas dari orangtua yang tidak habis untuk anak-anaknya ...


(Catatan: berhubung saya tidak mencatat dan merekam perkataan Ust. Arifin, maka sebagian tulisan di atas, ada yang menggunakan kata-kata saya sendiri. Masih banyak cerita dari Ust. Arifin tapi karena keterbatasan daya ingat saya, hanya catatan ini yang dapat saya tulis. Semoga bermanfaat). 

Rabu, 17 Desember 2014

Cool Branding with Social Media

(Oleh-oleh dari Markplus Conference 2015) 

Mengukur RoI Media Sosial

Ini salah satu sesi yang saya ikuti. Sebetulnya ada beberapa sesi lain, namun karena dilaksanakan pada waktu yang bersamaan, dan perwakilan dari Jagawudhu Communication hanya saya sendiri :D, jadi nggak banyak sesi yang bisa saya ikuti.

Bicara media sosial, sekarang tidak hanya digunakan untuk ngobrol dengan teman dan keperluan pribadi lainnya. Sebagian besar brand owner sudah menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Bisa untuk menanggapi keluhan pelanggan, pertanyaan, dan mempromosikan produk atau layanan terbaru.

Namun, sejauh mana ya brand owner bisa mengukur RoI di media sosial?

Ramya Prajna,  Co-CEO Think.web yang menjadi salah satu pembicara mencontohkan program yang dilakukan timnya untuk sebuah brand laptop. Menurutnya, mengukur RoI bisa dilakukan dengan melihat sales leads.
“Setiap ada pertanyaan harga produk berarti ada sales lead. Dari situ, admin bisa berkomunikasi dengan penanya dan pastinya menyarankan. Nah, kalau sampai tahap membeli, baru dikonversi. Yang paling kelihatan memang melalui e-commerce”

Kalau mengacu pada wow marketing (lihat tulisan sebelumnya), produk harus bisa memunculkan keingintahuan konsumen sehingga mereka bertanya, membeli, mencoba dan lebih dari itu, mau mempromosikan.
Tambah Ramya, perwakilan brand yang berhadapan langsung dengan konsumen memang perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai produk dengan baik sehingga perlu adanya knowledge center.

Cool Brand, Great Campaign

Bicara cool brand, kira-kira brand apa yang melakukan kampanye yang keren melalui media sosial, belakangan ini?

Mungkin ada yang jawab: Line atau yang ramai dengan alumni AADC-nya.

Nah, kenapa Line kemudian memilih alumni AADC untuk mempromosikan fitur terbarunya “Find Alumni”?

Galuh Chandrakirana dari Line Indonesia menjelaskan, selain sesuai dengan manfaat dari fitur ini, AADC juga dinilai sebagai film yang fenomenal dan dikenal oleh banyak orang, terutama oleh target market.

Menariknya, selain ditonton oleh ratusan ribu orang di Youtube, kampanye ini juga banyak dibicarakan di media sosial dan digunakan oleh brand lain untuk promosi. Seperti salah satu iklan mie instan dengan copy-nya (kurang lebih) “Nggak perlu nunggu 12 tahun untuk makan mie enak. Cukup 3 menit”.  

Sayangnya, kemarin Galuh tidak menjelaskan berapa penambahan jumlah pengguna Line sejak mini drama AADC ini muncul. 

WOW Marketing = Creativity + Productivity

MarkPlus Conference 2015 #1

WOW Marketing = Creativity + Productivity

Guru marketing Indonesia, Hermawan Kartajaya, memprediksi pada 2015, semua yang akan berhubungan dengan internet akan berkembang (e-verything). Sedangkan industri yang akan berkembang adalah properti, transportasi, otomotif, rumah sakit, banking, farmasi, telco, media (surprising me tidak hanya media online tetapi juga konvensional) dan bangkitnya pemimpin-pemimpin daerah (ini sepertinya sudah mulai terlihat sejak tahun lalu, ya).

Prediksi ini dikemukakan Hermawan saat membuka Markplus Conference 2015 di The Ritz Carlton, Pacific Place, Kamis (11/12) lalu. Konferensi tahunan itu mengambil tema “Wow Marketing = Creativity + Productivity”.

Sebelumnya, di buku yang ditulis Hermawan, New Wave Marketing, ia sudah menulis bahwa dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, pendekatannya sudah tidak lagi bersifat vertikal, top-down tapi berubah menjadi horisontal, peer to peer dan many to many. Maka tak heran kalau sekarang, banyak brand owner yang membentuk komunitas, dan berkomunikasi dengan komunitasnya, termasuk mengandalkan media sosial untuk saling berbagi.

Nah, dengan semakin pesatnya perkembangan internet, apa yang perlu dilakukan oleh brand owner?

WOW Marketing mengacu pada dua hal: kreativitas dan produktivitas.
Produktif artinya:
Brand dapat menciptakan awareness sehingga perlu atraktif. Untuk membuatnya atraktif, maka perlu diciptakan sesuatu yang membangkitkan keingintahuan orang (curiousity). Harapannya, target akan bertanya tentang produk tersebut. Ujungnya, mereka memiliki komitmen untuk membeli.
Setelah itu, marketer biasanya akan berharap ada repeat order. Tapi sekarang, tidak hanya itu. Pelanggan dihara
pkan melakukan advocate terhadap brand.

Hal ini dikarenakan perrkembangan media sosial yang memungkinkan semua orang untuk berbicara tentang sebuah brand. Untuk itu diperlukan pelanggan yang tidak hanya memakai tapi juga membantu merekomendasikan brand tersebut ke orang lain. Bahkan jika memungkinkan, “membela” brand tersebut.  

Hal kedua, kreativitas. Ide yang baik adalah ide yang dieksekusi. Percuma memiliki ide banyak tapi tanpa eksekusi. Nah, untuk itu perlu bagi sebuah brand untuk berani bereksplorasi dengan ditunjang kejelasan informasi dan pelayanan yang berkualitas.

Hingga pada akhinya, orang tidak hanya sekadar tahu, tapi mau menggunakan dan sesudahnya berani bilang “Wow, ini produk keren banget!”.     

(Catatan: sebagian dari pernyataan di atas tidak hanya dikemukakan oleh Bp. Hermawan tapi juga pendapat saya). 

Jumat, 24 Oktober 2014

Novel KKJD "Delman Merah Jambu"

"Delman Merah Jambu"
Aprilina Prastari

Bab 1
Peraturan yang Menakutkan

            Alva mempercepat langkahnya. Wajahnya sedikit cemberut.  Tadi pagi dia bangun kesiangan. Biasanya, anak kelas VI SD itu sudah bangun saat adzan Subuh berkumandang lalu sholat berjamaah bersama Ayah dan Kak Sarah. Tapi, berhubung Ayah sedang ke luar kota, Alva jadi kesiangan. Lho, apa hubungannya? Ada, dong! Soalnya Alva cuma mau bangun pagi kalau Ayah yang membangunkan.
“Ya ampuun, Alva! Belum bangun juga! Kakak harus berangkat jam setengah enam, nih. Nanti Kakak tinggal, ya!” ancam Kak Sarah tadi pagi. Hari itu Kak Sarah ada lomba memasak di sekolahnya, jadi harus berangkat lebih pagi dari biasanya.
“Alva! Ayo bangun!” Kak Sarah kembali membangunkan adik satu-satunya itu. 
Tapi, bukannya langsung bangun, Alva malah menarik selimutnya lagi.
“Aku masih ngantuk, Kak. Whooaam,” kata Alva sambil menguap. Malam sebelumnya, anak bertubuh atletis itu memang tak dapat tidur nyenyak. Sepulang latihan silat, kakinya terkilir sehingga nyeri. Untung Mbok Na, pembantu keluarga mereka, bisa mengurut. Setelah itu, barulah Alva bisa tidur dengan nyenyak.
Sampai Kak Sarah harus berangkat, Alva belum bangun juga. Jadi terpaksa deh, Alva ditinggal. Ia baru bangun ketika Mbok Na mengetuk pintu kamarnya keras-keras.
“Mas Alvaa, Maaas, banguun, sudah jam enam kurang,” teriak Mbok Na dengan logat Jawanya.
“Hah?! Jam enam! Waduh, aku telat, deh!” seru Alva langsung melompat dari tempat tidur.
Selesai mandi dan berpakaian, tanpa sempat sarapan, Alva segera berangkat. Biasanya kalau diantar Kak Sarah naik motor, jarak dari rumah ke sekolah bisa ditempuh selama dua puluh menit tapi kalau tidak diantar, memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. Jarak rumah ke sekolah Alva memang cukup jauh. Dari rumah, ia harus naik angkot lalu turun di perempatan kantor pos. Dari situ, ia masih harus berjalan sejauh kurang lebih lima ratus meter.

Sambil berjalan menuju sekolahnya, Alva menendang batu-batu kerikil yang memenuhi jalan. Jalanan di sana memang masih banyak yang belum diaspal. Berbeda dengan sekolah Alva waktu di Yogya dulu. Meski bukan sekolah favorit, tapi bangunannya bagus dan terawat rapi. Jaraknya juga dekat dari rumah. Tinggal jalan kaki lima belas menit, sampai deh. Ah, Alva jadi kangen sekolahnya itu. Selain dekat, jalannya lebih bagus. Alva juga tidak pernah terburu-buru seperti tadi pagi karena ada Ibu yang selalu membangunkannya. Tapi sekarang ...
                                                                        ***
            Sudah delapan bulan Ibu meninggalkan Alva, Kak Sarah dan Ayah. Meninggalkan orang-orang yang Ibu cintai. Setelah dua bulan dirawat di rumah sakit, Ibu berpulang ke Sang Maha Pencipta. Waktu itu, Alva tak bisa berhenti menangis. Dia memang sangat dekat dengan Ibu. Biarpun terlihat mandiri, tapi kalau dengan Ibu, Alva masih suka manja. Saking sedihnya, Alva bahkan pernah tanya pada Allah, kenapa Ibu harus meninggalkannya secepat itu.
“Alva sayang Ibu, kan?” tanya Ayah saat itu.  
Alva mengangguk sambil terus menangis.
“Allah juga sayang Ibu. Allah enggak mau Ibu terus-terusan sakit. Makanya, Allah memanggil Ibu supaya enggak merasa sakit lagi.”
Cukup lama Alva merasa sangat sedih dan kesepian. Biasanya, kalau Alva pulang sekolah, selalu ada Ibu yang membuatkan minuman segar. Kalau dia capek sehabis main bola, Ibu pasti siap dengan minyak zaitun dan minyak kayu putih untuk mengurut kakinya. Tapi sejak enggak ada Ibu ...
“Alva!”
Sebuah suara membuyarkan lamunan Alva. Dilihatnya Randu sedang berlari ke arahnya.
“Hei! Kesiangan juga?” sapa Alva sambil tersenyum.
Bulikku sakit. Jadi aku harus bantu beres-beres rumah dulu,” jawab Randu. Bulik adalah panggilan orang Jawa untuk Tante.
“Eh, kemarin ke mana? Kok ndak masuk?” tanya Randu dengan logat Jawanya yang kental.
“Kurang enak badan. Kakiku terkilir sewaktu latihan silat,” jawabnya. 
Randu mengangguk-angguk. Anak bertubuh gemuk dan berambut ikal itu adalah teman sekelas Alva. Ia anak yang menyenangkan dan suka bergaul dengan siapa saja. Waktu Alva baru pindah ke sekolah itu, Randu, teman pertama yang mengajaknya mengobrol.
Mendekati pukul 7.10 WIB, suasana kelas VI Ceria semakin ramai. O ya, di sekolah ini, tiap kelas memiliki nama-nama yang bisa membuat murid-muridnya semangat. Ada kelas VI Amanah, kelas VI Berani dan VI Ceria. Tak lama setelah bel berbunyi, Pak Gatot, Wali Kelas VI Ceria masuk dan memberitahukan sebuah pengumuman.
“Anak-anak, sebelum memulai pelajaran, ada pengumuman penting yang harus Bapak sampaikan,” kata Pak Gatot di depan kelas.
“Wah, apa, Pak?” tanya Randu bersemangat.
“Kambingnya Randu mau beranak ya, Pak,” celetuk Awan jahil. Awan memang terkenal usil dan mau tahu urusan orang lain. Ayahnya, Pak Karto, adalah pengurus desa sekaligus pemilik kios di pasar.  
Hahahaha.” Seluruh kelas tertawa. Randu cuma bisa cemberut tapi sehabis itu ia kembali tersenyum. Anak berkulit sawo matang itu memang tidak bisa marah lama-lama.   
Pak Gatot tersenyum lalu melanjutkan bicaranya.
“Kemarin, Pak Kepala Sekolah dan guru-guru rapat. Beliau menyampaikan pesan penting dari Pak Kepala Desa,” sejenak Pak Gatot diam. Anak-anak yang semula tertawa ikut diam.
Ada apa ya? Mereka bertanya-tanya dalam hati.  
Pak Gatot menatap murid-muridnya satu per satu.
“Anak-anak, Pak Kades meminta semua anak yang berusia di bawah lima belas tahun, harus sudah berada di rumah sebelum pukul tujuh malam,” Pak Gatot berkata dengan hati-hati.
Anak-anak terdiam. Beberapa di antara mereka melirik ke arah Ilham. Ilham jadi serba salah. Sebagai anak Kepala Desa, ia pun tidak tahu mengapa ayahnya membuat keputusan seperti itu.
Hingga akhirnya, Alva memberanikan diri untuk bertanya.
“Pak Gatot, mengapa kami sudah harus berada di rumah sebelum pukul tujuh?” tanyanya.
Guru santun itu terdiam. Beliau terlihat ragu-ragu menjawabnya. Tiba-tiba, dari arah belakang kelas, Awan bertanya, “Apa ada hubungannya dengan Delman Merah Jambu, Pak?”
“Delman Merah Jambu?” seluruh anak serempak bertanya. Kelas yang semula tenang berubah menjadi gaduh. Mereka saling berpandangan dan bertanya-tanya.
Pak Gatot juga terkejut mendengar ucapan Awan, tapi kemudian berusaha menenangkan siswa-siswinya.  
“Tenang anak-anak... Tenang ... Kita akan membicarakan ini lagi, nanti. Sekarang kita belajar dulu. Bapak harap kalian setuju,” jawab Pak Gatot akhirnya.
Meski terlihat masih sangat penasaran, mereka tidak berani bertanya lebih lanjut. Yang jelas, saat istirahat, mereka langsung mengerubungi Awan.
“Kenapa dengan Delman Merah Jambu, Wan?” tanya Randu.
“Iya, Wan, memang siapa pemiliknya?” kali ini Alva yang bertanya.
“Kenapa harus ditakuti, Wan? Apa ada hantunya?” seorang anak, entah siapa, bertanya dari arah samping.
“Hantu?? Hiii ...” anak-anak perempuan mulai ketakutan.
“Yaa... mana aku tahu ...” jawab Awan santai.
“Huuu!” mereka menyoraki Awan. “Terus, kenapa kamu tadi tanya apa ada hubungannya  sama Delman Merah Jambu?” Randu yang bertanya lagi.
“Semalam, Bapakku dipanggil Pak Kades. Nah, pulangnya, aku mendengar Bapak bercerita ke Ibuku. Katanya, di desa kita ini ada Delman Merah Jambu. Begitu ...” Awan mencoba memberi penjelasan.
“Terus, apa hubungannya sama peraturan baru dari Pak Kades? Kenapa kita sudah harus berada di rumah sebelum jam tujuh?” Alva mencecar Awan.
“Lho, kan tadi aku sudah bilang. Mana aku tahuuu?” lagi-lagi Awan mengelak.  
“Huuuu!” siswa-siswi kelas VI Ceria kembali menyoraki Awan.  
 Tidak mendapat jawaban memuaskan dari Awan, satu per satu anak-anak meninggalkannya. Tak berapa lama kemudian, bel masuk pun berbunyi.

Sepulang sekolah, anak-anak SD Nusa Bakti masih sibuk membicarakan pengumuman dari Pak Kades yang disampaikan oleh wali kelas masing-masing. Mereka masih belum mendapat jawaban yang memuaskan kenapa harus sudah berada di rumah sebelum pukul tujuh malam. Para guru pun sepertinya masih keberatan untuk menjelaskan ke murid-murid. Kalaupun ada guru yang mencoba menjawab, alasannya karena di TV sedang marak penculikan anak sehingga Pak Kades ingin agar anak-anak berhati-hati.
“Menurut kalian, apakah Awan mengada-ada soal Delman Merah Jambu itu?” Alva bertanya pada Randu dan Ilham dalam perjalanan pulang sekolah. Meski jarak rumah mereka tidak berdekatan tapi Alva sering pulang sekolah bersama-sama dengan Randu dan Ilham. Di sekolah pun mereka suka bermain bersama-sama.   
“Hmm, sepertinya enggak. Ayahnya Awan kan pengurus desa. Mungkin soal Delman Merah Jambu itu memang benar,” jelas Randu.
“Tapi, apa hubungannya Delman Merah Jambu dengan peraturan Pak Kades?” tanya Alva lagi.
Randu menggeleng sementara Ilham hanya diam saja.   
“Hmm, Ilham, apa Ayahmu pernah berkata sesuatu soal Delman Merah Jambu?” Alva bertanya pada Ilham.
Ilham menggeleng. “Bapak enggak pernah bercerita apapun soal itu di rumah” katanya pelan.
Melihat sikap Ilham yang kurang bersemangat membahasnya, Alva tidak bertanya lebih lanjut. Ia khawatir, Ilham akan tersinggung. Sebenarnya, Ilham juga merasa tidak enak hati karena bapaknya membuat pengumuman aneh seperti itu. Apalagi peraturan itu jadi pembicaraan hangat di sekolahnya. Bahkan mungkin, di seluruh desa!
Alva dan Randu saling pandang namun tak berkata apa-apa. Sepanjang perjalanan pulang, mereka sibuk menerka apa kaitan Delman Merah Jambu dengan peraturan baru dari Pak Kades.  




Kamis, 23 Oktober 2014

Lomba Blog untuk Guru - Gerakan Indonesia Terdidik TIK

Gerakan Indonesia Terdidik TIK (IndiTIK)
Mencari
“Guru Blogger Inspiratif 2014”

Sebagai gerakan yang mendukung pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di sekolah, Gerakan IndiTIK mengajak para guru untuk menuliskan pengalaman atau gagasan dengan tema:
“Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam menunjang proses mengajar.”  
Persyaratan dan Ketentuan Lomba:
1.  Blogger berprofesi sebagai guru
2.  Memiliki blog pribadi (blogspot, wordpress, dll)
3.  Wajib menjadi Follower Indonesia Terdidik TIK (@inditik)
4.  Wajib melakukan Like Fan Page Facebook Indonesia Terdidik TIK
5.  Tulisan dapat berupa pengalaman atau gagasan
6. Tulisan adalah karya sendiri, belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis. Jika ada kutipan wajib mencantumkan sumber/referensi.
7.  Tulisan dalam Bahasa Indonesia, dengan panjang minimal 600 kata
8.  Tulisan tidak boleh melanggar hak kekayaan intelektual pihak manapun
9.  Tidak bermuatan  SARA
10. Tulisan wajib disebarkan melalui Twitter masing-masing peserta dengan  mengirim link URL artikel lomba yang dilombakan dan menyebutkan Twitter Gerakan IndiTIK @inditik dilanjutkan dengan tagar #bloggerindiTIK
11.Tulisan wajib disebarkan melalui Facebook masing-masing peserta dengan  mengirim link URL artikel lomba yang dilombakan dan menyebutkan Fanpage Indonesia Terdidik TIK
12. Kirim URL lengkap postingan di blog sekaligus lampiran dalam MS Word ke email: gerakaninditik@gmail.com  
13. Peserta yang tidak memenuhi persyaratan akan didiskualifikasi
14. Mereka yang nantinya menjadi pemenang harus dapat menunjukkan surat pengantar dari sekolah atau lembaga yang menjelaskan bahwa yang bersangkutan adalah guru di sekolah atau lembaga tersebut

Kriteria Penilaian:
  1. Kesesuaian tema
  2. Orisinalitas
  3. Tata bahasa
  4. Gaya penulisan
  5. Adanya foto, ilustrasi atau video dapat menjadi nilai tambah

Hadiah:
Pemenang I : Uang tunai sejumlah Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) dan                 sertifikat
Pemenang II : Uang tunai sejumlah Rp2.000.000,00 (dua juta rupiah) dan                  sertifikat
Pemenang III : Uang tunai sejumlah Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah)                      dan sertifikat

Tim Juri:
      Wijaya Kusumah, S.Pd., M. Pd (Pemerhati TIK, Guru, Blogger)
      Haya Aliya Zaki  (Editor Lepas, Blogger)
      Tim Djalaludin Pane Foundation

Periode Lomba                    : 
Waktu pengiriman                  : 17 Oktober – 13 November 2014
Proses seleksi dan Penjurian   : 14- 20 November 2014
Pengumuman Pemenang        : 21 November 2014
      
  Pengumuman pemenang diinformasikan melalui FB dan Twitter Gerakan IndiTIK.
  Jika pemenang dari Jabodetabek, penyerahan hadiah dilakukan pada saat peluncuran Gerakan Indonesia Terdidik TIK (IndiTIK) pada 25 November 2014 di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta. Untuk pemenang di luar Jabodetabek, hadiah akan dikirim.          

Jika ada pertanyaan terkait lomba ini, silakan bertanya melalui FB atau Twitter IndiTIK.

Tentang Gerakan IndiTIK
Gerakan Indonesia Terdidik TIK (IndiTIK) merupakan gerakan yang diinisiasi oleh Djalaludin Pane Foundation dengan mengajak para guru untuk memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk membantu proses mengajar di sekolah. Gerakan ini juga menjembatani masyarakat yang ingin memberikan donasi untuk disalurkan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan peralatan TIK.