Sabtu, 21 Desember 2013

Komunikasi dalam Pengasuhan Anak

Beberapa waktu lalu, saya diundang menjadi pembicara di sebuah TK, di Bekasi. Mencoba menggabungkan antara ilmu komunikasi yang selama ini saya pelajari dan pengasuhan anak, saya membahas tentang "Komunikasi dalam Pengasuhan Anak". Ada beberapa prinsip dasar yang bisa kita terapkan agar komunikasi antara orangtua dan anak, bisa berjalan dengan baik.

Prinsip pertama

Anak akan percaya pada orangtua jika orangtua bisa menjadikan dirinya sebagai orangtua yang bisa dipercaya.
Contoh: ketika seorang ayah berjanji ingin pulang sore, harus ditepati. Kalau ia sering melanggar bisa jadi anak akan kehilangan kepercayaan.

Prinsip kedua

Ketika kita mengajak anak bicara, pesan yang harus disampaikan sebaiknya tunggal. Jangan kebanyakan sehingga anak tidak bingung.
Ini juga bisa diaplikasikan untuk program-program untuk anak. Misal, program buang sampah pada tempatnya. Fokus di program itu jika sudah berjalan baik lalu melangkah ke program berikutnya.

Prinsip ketiga
Konsisten dan diulang
Sesuatu yang kerap dilakukan akan diingat oleh anak.

Contoh :
Soal jajan. Terkait dengan jajan, akan saya bahas di postingan selanjutnya :) 

Prinsip keempat
Pesan yang disampaikan orang tua bisa sampai ke anak ketika mereka dalam keadaan rileks. Terlebih jika kita melakukannya dengan sentuhan. 

Prinsip kelima
Peka dan melihat bahasa tubuh yang disampaikan anak. Komunikasi tidak hanya dilakukan oleh kata-kata tetapi bisa dengan bahasa tubuh seperti tatapan mata, ekspresi wajah dan sebagainya.  

Prinsip keenam
Komunikasi harus berjalan dua arah. Tidak hanya dari orangtua ke anak, tapi juga anak ke orangtua. Biarkan mereka mengekspresikan kekesalannya, unek-uneknya, tentang kita.
Bagaimanapun, orangtua adalah juga manusia, yang tak luput dari kesalahan.

Selamat Hari Ibu. Semoga Allah memberikan kita kesabaran dalam mengasuh anak-anak kita.

Salam hangat,
Aprilina Prastari
Penulis buku keluarga dan komunikasi

Selasa, 17 Desember 2013

77 Kesalahan Orangtua yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Anak

Ada kesalahan-- yang kelihatannya sepele tapi bisa berakibat fatal-- yang saya lakukan ketika puteri saya Wafa masih berusia 3 hari. Hari itu, sepulang dari rumah sakit, mertua saya menjenguk ke rumah. Beliau lalu berinsiatif ingin memandikan Wafa. Saya tentu sangat antusias membantu. Saya siapkan alas untuk mandi, sabun, dan tak lupa air panas dalam bak mandinya. Tadinya, saya mau langsung menambahkan air dingin ke dalam baknya, tapi urung. Saya pikir, ah nanti saja kalau mau dibilas, supaya tetap hangat.

Saya pun melihat mertua saya memandikan Wafa sambil mengamati wajah mungilnya. Dan ketika hendak dibilas. "Lho kok airnya masih panas" kata mertua saya, hampir saja ingin mencelupkan badan Wafa ke dalam air.

"Astaghfirulloh!" saya berteriak kaget. Segera saya tuang air dingin dan ... lemas! Tak bisa dibayangkan bagaimana jika mertua langsung memasukkan Wafa ke dalam bak mandi. Alhamdulillah, Allah Maha Melindungi. Sejak itu, saya tak pernah menunda memasukkan air dingin ke air panas, hanya mengatur suhunya agar saat dibilas, airnya tetap hangat.

Itu, hanya satu kesalahan kecil yang bisa membahayakan orangtua. Tentu masih banyak kesalahan-kesalahan kecil lain, yang tak hanya dilakukan saya, namun juga orangtua lain terhadap anaknya. Kesalahan, yang kelihatannya sepele tapi bisa berakibat fatal.

Apa saja, 76 kesalahan yang lain?
Selengkapnya dapat dibaca di buku terbaru saya: "Sepele tapi Penting" -- 77 Kesalahan Orangtua yang Membahayakan Kesehatan dan Keselamatan Anak". Selain cerita pengalaman dari orangtua, saya pun mewawancarai dokter, apoteker (soal obat) agar buku ini lebih kaya.

Semoga kita, bisa menjadi orangtua yang senang belajar, salah satunya dengan membaca

Salam
Aprilina Prastari
Penulis buku Keluarga dan Komunikasi


Senin, 16 Desember 2013

Jadi Copywriter, Haruskah Selalu Lembur?

Saya tidak mengenal Mita Diran, copywriter yang meninggal dunia  setelah 30 jam bekerja tanpa henti. Namun, sebagai mantan fulltime copywriter, saya merasa ikut berduka dan mendoakan semoga ia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Meninggalnya Mita membuat beberapa kawan bertanya kepada saya. Apakah begitu melelahkannya bekerja di ad agency? Kenapa sampai tidak ada waktu untuk istirahat? Seperti apa kerja copywriter?

Selama kurang lebih delapan tahun, saya bekerja di ad agency. Tak selamanya ad agency tempat saya bekerja selalu menuntut lembur. Ada juga ad agency yang mengharuskan lembur  ketika ada pitching atau deadline yang mendesak. Selebihnya, kami bisa pulang selepas Maghrib.

Namun, di beberapa agency besar dan harus menangani klien yang aktif, lembur memang menjadi makanan sehari-hari. Terlebih ketika harus menangani klien telco. Hampir setiap malam saya pulang di atas pukul 22.00. Seminggu sekali,  pulang bareng maling alias pukul 02.00 dan esoknya eh paginya, harus sampai di kantor lagi pukul 08.30. Kalau telat, potong uang makan. Sedihnya!

Mungkin ada yang bertanya, apa saja yang kami lakukan sehingga harus sering lembur?
Bekerja di ad agency adalah pekerjaan tim. Meski seorang copywriter sudah menyelesaikan tugasnya untuk urusan copy (naskah iklan) tapi bukan berarti pekerjaannya selesai. Ia masih harus berdiskusi lagi dengan pasangannya—art director—presentasi ke creative director-nya. Jika masih ada yang kurang, ya harus direvisi lagi. Belum lagi kalau harus menghadapi deadline yang extra super cepat.

Oh ya, meskipun namanya copywriter, tapi dia juga bukan hanya mengurusi naskah iklan saja, ya. Jadi kalau bertemu dengan iklan yang hanya ada tagline, bukan berarti copywriternya nggak kerja, lho. Karena seorang copywriter juga harus mengonsep hingga akhirnya, iklan itu siap tayang. Artinya, sebelum jadi, ya harus didampingi terus. Kalau buat TVC (TV Commercials), misalnya, seorang copywriter harus ikut sampai editing selesai. Jadi, iklan TV yang 30 detik itu, prosesnya panjang, lho!

Apakah Harus Lembur?

Mungkin tidak, kalau manajemen di agency itu lebih rapi. Seringkali, kita sudah datang pagi, tapi rekan kerja kita datang siang. Mending kalau langsung kerja, karena biasanya ‘pemanasannya’ agak lama. Kadang, mulai benar-benar kerja sesudah makan siang.  Mau tak mau kita harus bisa menyesuaikan diri karena lagi-lagi kerja di ad agency adalah kerja tim.

Hal lain, jika agency melalui bagian traffic-nya bisa tegas mengatur deadline dan memberikan waktu untuk seluruh tim untuk tidak selalu lembur.  Tentu ini membutuhkan pengaturan SDM dan negosiasi ke klien dengan baik.

Asap Rokok yang Menggangggu

Ini agak OOT dari soal lembur, ya. Tapi saya perlu menyampaikan unek-unek saya soal rokok! Untuk saya yang bukan perokok, bekerja di ruangan penuh dengan asap rokok, sungguh menyiksa. Beberapa teman bilang, maaf ya, Pril, nggak enak kalau nggak ngerokok. Idenya nggak keluar! Untunglah saya tak perlu berlama-lama bekerja di agency yang sangat tidak ramah pada orang yang mau sehat itu.

***

Begitulah. Penuh perjuangan untuk bekerja di ad agency. Dan saya selalu bilang kepada mahasiswa-mahasiswa saya untuk siap menghadapi tantangan-tantangan tersebut.

Namun bagi saya, sekeras-kerasnya kita bekerja, selalu ada tujuan, untuk apa kita bekerja. Melihat anak-anak yang sudah semakin besar dan hal lain, awal 2009, saya memutusakan untuk tidak lagi bekerja di ad agency.

Saat ini saya memilih bekerja mandiri. And u know what, banyak hal yang bisa saya lakukan sesudah itu; saya bisa melanjutkan S2, bisa menulis buku, mengajar, menjadi konsultan, dan pastinya, bisa mengatur waktu kapan harus bekerja dan kapan untuk anak-anak.

Meski saya akui, begitu banyak pengalaman, pengetahun,  dan pelajaran yang saya dapatkan selama bekerja di ad agency.

Untuk sahabat-sahabat saya yang masih bekerja di ad agency, terutama ibu, semoga Allah menguatkan kalian J

Salam
Aprilina Prastari

Penulis buku “Seru (nggak)nya Jadi Copywriter”

Rabu, 04 Desember 2013

Survey DNPI: 90% Masyarakat Memilih Pemimpin yang Berkomitmen Terhadap Perubahan Iklim

Hasil dari survey yang dilakukan terhadap 1137 respoden tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap pemanasan global dan perubahan iklim baru sekitar 57%. Bahkan masih ada responden yang beranggapan bahwa perubahan iklim terkait dengan gedung berkaca. Mungkin, kata-kata efek rumah kaca diterjemahkan sebagai gedung berkaca.
Hal menarik lain yang saya cermati dari workshop ini adalah hasil dari dialog interaktif yang memberi gambaran masih kurangnya kesadaran pelajar untuk berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim.
Saya memang belum banyak mengamati program-program DNPI untuk remaja tapi bisa jadi, kurangnya sosialisasi menjadi salah satu penyebabnya. Dilihat dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan remaja, sosialisasi untuk mereka memang tidak bisa dilakukan dengan PSA, terlebih hanya sekadar slogan. Namun, kegiatan yang memungkinkan mereka  terlibat langsung kemudian mempromosikan apa yang sudah mereka lakukan di social media.   Misalnya dengan mengadakan sebuah kompetisi, yang hasil kerja mereka bisa diupload di Youtube, kemudian mereka share melalui FB, Twitter dan media sosial lainnya. Atau, bisa juga dengan mengundang mereka untuk menulis di blog masing-masing.

Terakhir, ada satu hal penting yang perlu menjadi catatan untuk mereka yang berniat mencalonkan diri di 2014 nanti. Menurut survey ini, keinginanan masyarakat untuk memilih pemimpin masa depan yang peduli dan berkomitmen terhadap perubahan iklim sangat tinggi, yakni sekitar 90%. Nah, siapa kira-kira calon pemimpin yang peduli dengan perubahan iklim ya?

Jumat, 01 November 2013

Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya


           Jadi seseorang yang beranjak dewasa, memang banyak godaannya, ya. Mau nggak pacaran, tapi diolok teman-teman. Mau pacaran, duh, kok si dia maunya ‘macam-macam’ ya. Nyeremin, deh.
            Hmm, gimana kalau nikah di usia muda? Kamu bisa punya pasangan yang halal sekaligus berkarya. Tapiii, muda nggak asal muda. Untuk jadi pasangan menikah muda yang nantinya tetap berkarya, ada syarat-syaratnya. Kamu juga harus menyiapkan diri baik-baik agar pernikahanmu tetap sehat hingga tua.
         Mau tahu seperti apa menikah muda yang sehat; yang tidak memberatkan orang tua, yang tidak menghalangi kamu meraih cita-cita, yang membuat kamu jadi suami atau istri yang keren dan orang tua muda yang siap?
            Resepnya ada di buku "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya"! Kamu akan diajak melihat kondisi seperti apa yang dikayakan layak untuk menikah, apa saja tantangan dan solusinya, komitmen apa yang perlu disepakati dengan pasangan, bagaimana merencanakan anak, keuangan, pendidikan dan karier.
           Buku ini juga akan mengurai tantangan-tantangan yang akan kamu hadapi di lima tahun pertama pernikahan, tetap berkarya meski sudah menikah, bekerjasama mengasuh anak-anak dan mengatur keuangan keluarga. Kamu juga bisa belajar dari kegagalan dan keberhasilan para orang tua yang menikah muda.

              Selamat membaca!

Salam
Aprilina Prastari dan Miyosi Ariefiansyah

Yang mau ke Gramedia, ini cover bukunya yaaa. Kalau lihat di rak, langsung beli ya :D


Rabu, 09 Oktober 2013

Ubi Ungu Dibuat Minuman? Bisa Kok!

Hari keempat, Rabu, 9 Oktober 2013, Konferensi Anak Indonesia 2013.

Di hari keempat Konfa 2013, para delegasi mengunjungi  Lab M-Brio dan melakukan eksperimen di laboratorium makanan. Setelah itu, mereka akan merumuskan poin-poin deklarasi konferensi, hasil pengamatan dan diskusi selama beberapa hari mengikuti pembekalan. Sementara kami, para pendamping, mengunjungi Rumah Sehat Intiyana di Terogong, Jakarta Selatan.

Di Rumah Sehat Intiyana, kita bisa memesan masakan rumah yang bahan-bahannya dipetik dari kebun sendiri dan dimasak tanpa menggunakan MSG atau bahan-bahan pengawet. Selain itu, ada tempat pijat dan refleksi.

Sambil menikmati jus, Mbak Ayu, pemilik Rumah Sehat Intiyana, kemudian berbagi pengetahun kepada kami salah satu resep minuman sehat yang terbuat dari ubi ungu. Kalau biasanya kita mengolah ubi ungu sebagai bahan makanan (kue, puding, atau sekadar dikukus), sekarang dikreasikan sebagai minuman bubble.

Cara membuatnya mudah. Sekitar 100 gram ubi ungu kukus dilumatkan, setelah halus, campur dengan sekitar 4 sendok tepung kanji. Uleni hingga kalis. Setelah itu, ambil sedikit adonan, pulung, ambil kurang lebih 1 cm lalu bulatkan sehingga membentuk bulatan sangat kecil (seperti bubble yang ada di minuman bubble tea). Sesudah itu, masukkan ke dalam air mendidih dan rebus hingga matang.

Nah, bubble ini bisa menjadi campuran minuman. Bisa dengan jus, atau seperti yang dicontohkan Mbak Ayu kemarin, dibuat menjadi strawberry pearl tea.

Selamat mencoba J

Yuk, Belajar Kyaraben

Hari kedua, 8 Oktober 2013, Konferensi Anak Indonesia 2013.

Hari ini, para delegasi akan bermain sambil belajar di Pasir Mukti, Bogor. Mereka akan belajar membajak sawah, menangkap ikan, menanam padi, meracik makanan dan melakukan kegiatan seru lainnya.  Sementara saya dan pendamping lainnya menuju ke Gedung Kompas Gramedia, tepatnya ke Tabloid Nova, untuk ... belajar kyaraben!Kyaraben berarti seni menghias bento (nasi dalam kotak). Seni ini berasal dari Jepang dan mulai booming di Jakarta, sekitar tujuh tahun lalu.

Sebelum belajar menghias, mentor kami yang cantik, Mbak Pristi, mengajarkan kami memasak tamago atau telur dadar gulung Jepang.  Ternyata, untuk membuat telur dadar yang padat, tidak berlubang dan halus ada caranya, lho. Selain pan berbentuk kotak, jangan banyak menggunakan minyak.

Mbak Pristi mencontohkan, setelah pan diolesi minyak (kalau Mbak Pristi menggunakan minyak semprot) lap kembali pan dengan tisu makan. Lho, kok dilap? Nanti minyaknya hilang, dong. Jangan kuatir! Menurut Mbak Pristi pan anti lengket bisa menyimpan minyak sehingga nantinya telur tidak berminyak, padat, dan bertekstur lembut.

Cara menggulungnya juga unik. Setelah kurang lebih memasukkan dua sampai tiga centong telur yang sudah dikocok, gulung perlahan dengan sodet khusus pan anti lengket yang kecil. Setelah jadi satu gulungan, biarkan di atas pan. Lalu tambahkan lagi adonan berikutnya. Kalau sudah bisa digulung, gabungkan dengan gulungan sebelumnya. Begitu seterusnya sampai adonan habis.

Kalau tamago mau ditambahkan bahan makanan lain, seperti kornet, sosis, abon, bisa saja. Kalau berbentuk kering, taburkan setelah telur hampir matang. Tapi kalau berbentuk cair (misalnya mau diberikan pewarna makanan), campurkan ke telur yang sudah dikocok.

Nah, setelah tamago jadi, kami pun belajar kyaraben. Saya kebagian menghias nasi supaya berbentuk ayam. Caranya, dengan menggunakan plastik wrap, nasi dikepal-kepal sampai padat dan bulat, lalu gepengkan. Masukkan ke kotak makan yang memiliki tiga sekat (contohnya, seperti yang dimiliki Tupperware). Jangan lupa untuk mengalasinya dengan daun selada. 

Menurut Mbak Pristi, untuk menghias nasi kotak, bahan-bahan yang wajib ada adalah daun selada, wortel, brocoli atau buncis, supaya warnanya cantik. Untuk mata, bisa menggunakan nori. Paruhnya, bisa menggunakan wortel. Jambulnya bisa dikasih potongan sosis goreng. Selebihnya, bisa dikreasikan sendiri. Untuk merekatkan, bisa menggunakan spageti kering. Jangan takut menggunakannya karena nanti akan lunak sendiri.


Peralatan yang digunakan untuk kyaraben sebetulnya tidak banyak. Cuma puncher (untuk membentuk nori) dan cetakan pelastik untuk membentuk sayur yang sudah dikukus (misalnya wortel yang mau dibentuk bunga). Namun, untuk menghasilkan kreasi yang banyak, ibu harus berani mencoba dan berimajinasi J

Selasa, 08 Oktober 2013

Anak Pendek, Mungkin Kekurangan Gizi


Banyak orang tua mengira kalau anak pendek dikarenakan faktor genetik. Sebenarnya, tidak demikian. Memang, faktor genetik juga memengaruhi namun porsinya tidak banyak. Yang paling memengaruhi tinggi badan anak adalah kecukupan gizinya. Jika gizinya baik, meski orang tuanya pendek, anak juga bisa tinggi. Hal tersebut disampaikan DR. Dr. Yustina Arie, M.Sc, SpGK, saat berdiskusi dengan para pendamping delegasi Konferensi Anak Indonesia 2013, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta (7/10).

Untuk anak usia 10-12 tahun, berat yang ideal sekitar 37 Kg dengan tinggi sekitar 145 Cm, membutuhkan energi sekitar 2050 Kal. Semakin bertambah usia, tinggi dan beratnya pun semakin bertambah. Untuk laki-laki pertumbuhan badan akan berhenti di usia 21 tahun dan untuk perempuan akan berhenti di usia 18 tahun. Oleh sebab itu, untuk mendukung pertumbuhan anak agar optimal, Yustina mengharuskan orang tua agar peduli pada gizi anak, terlebih di seribu hari kehidupannya.

“Kalau ada anak yang tidak suka sayur dan buah, kemungkinan besar, saat usia di atas enam bulan, orang tua tidak mengenalkan sayur dan buah di MP-ASInya,” jelasnya.



BPOM: 44% Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) Tidak Memenuhi Syarat

Pada 2010, BPOM melakukan survey terhadap beberapa sekolah di Jabodetabek. Hasilnya,sekitar 44% pangan jajanan anak sekolah (PJAS) yang sebagian besar terdapat di kantin sekolah tidak memenuhi syarat. Hal tersebut disampaikan A.A. Nyoman Mertanegara, Kasubdit Promosi Kemanan Pangan, BPOM, saat membuka Konferensi Anak Indonesia 2013, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta (7/10).

Padahal, kantin sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk membeli makanan. Terlebih menurut survey tersebut, 48% anak-anak mengaku sering atau selalu jajan di sekolah. Hanya 51% yang menjawab kadang-kadang dan 1% mengaku tidak pernah jajan.

Untuk itu, Nyoman meminta pihak sekolah untuk memerhatikan makanan yang dijual, tidak hanya di kantin namun di sekitar sekolah. Ia menjelaskan, beberapa masalah pangan yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan guru, adalah pe ggunaan pewarna tekstil pada jajanan tersebut.

“Kalau makanan berwarna terlalu terang, ini bisa jadi menggunakan pewarna tekstil. Jangan dimakan,” jelasnya.

Selain pewarna tekstil, anak-anak juga perlu mewaspadai benda-benda asing yang ada di makanan, misalnya, staples dan rambut. Jika menemukan rambut di dalam makanan, tidak hanya rambutnya saja yang perlu dibuang, tapi seluruh makanan tersebut juga harus dibuang.

Sekolah Harus Peduli

Dalam sesi diskusi dengan pendamping delegasi Konfa 2013, Nyoman juga meminta pihak sekolah untuk lebih tegas pada pedagang yang menjual makanan di sekitar lingkungan sekolah.
“Kepala sekolah bisa meminta bantuan dari dinas kesehatan untuk mendata pedagang-pedagang yang berjualan di luar sekolah,” katanya.  

Tips Makan Sehat dari BPOM:
Untuk makanan dalam kemasan:
  • Cek label di kemasan. Beli produk yang sudah mendaftar di BPOM. Untuk makanan dalam negeri, dengan kode MD, sedangkan untuk makanan luar negeri dengan kode ML diikuti 12 nomor di belakangnya.
  • Cek tanggal kadaluarsa
Untuk makanan yang dimasak:
  • Lihat warna dan fisiknya
  • Untuk masakan yang mengandung DUIT (daging, unggas, dan telur), jika sudah dimasak lebih dari dua jam, harus dihangatkan lagi.
  • Untuk sayur, masak jika ingin dikonsumsi.

Jika ada yang ingin menyampaikan saran, keluhan dan pertanyaan, dapat mengirimkan email ke:

bpom_jakarta@pom.go.id (Khusus BPOM Jakarta)

Senin, 07 Oktober 2013

Konfa 2013: Makanan Sehat Untukku

Hari Pertama. Konferensi Anak Indonesia 2013. 6 Oktober 2013.

Selamat datang di Konferensi Anak Indonesia 2013!!

Alhamdulillah, dari sekitar 2560 tulisan yang masuk ke redaksi Majalah Bobo, tulisan puteriku, Wafa Auliya Insan Gaib, lolos seleksi. Artinya, Wafa berhak untuk mengikuti Konferensi Anak Indonesia 2013. Yeaay! (Selengkapnya tentang Konferensi Anak Indonesia 2013, bisa dibca di http://bobo.kidnesia.com/Bobo/Info-Bobo/Pembukaan-Konferensi-Anak-2013)

Sesuai dengan tema Konfa 2013, tentang Makanan Sehat Untukku, Wafa dan 35 delegasi lainnya diminta untuk membawa makanan daerah masing-masing. Berhubung Wafa mewakili Bekasi, Jawa Barat, maka ia membawa Pecak Bandeng dan Kue Kembang Goyang.

Minggu pagi, sebelum berangkat, Wafa dan Eyang sibuk membuat Pecak Bandeng (Tuh, kan jadi ketahuan kalau bukan saya yang memasak Pecak Bandengnya hehehe). Setelah semua rapi, kami berangkat ke tempat Wafa dan seluruh delegasi menginap selama Konfa 2013.

Setibanya di sana, sebagian delegasi sudah hadir. Ada yang dari Papua, Banjarnegara, Solo, dan teman-teman dari Jabodetabek. Sebagian lagi, masih dijemput dari bandara.  Makanan daerah yang mereka bawa, buanyak banget, lho. Apalagi delegasi dari Toraja.

“Saya sengaja diminta Pak Bupati untuk membawa banyak makanan daerah supaya orang Jakarta tahu makanan khas kami,” kata pendamping dari Toraja.

Wah, rupanya, delegasi dari daerah, didukung penuh oleh para bupatinya, lho. Bahkan delegasi dari Bojonegoro, mendapat beasiswa dari bupati karena berhasil mengikuti Konfa 2013!

Para delegasi yang sudah datang lalu diminta berfoto dengan makanan khas dari daerah mereka dan mempersiapkan diri untuk mengikuti latihan untuk acara pembukaan besok. Sementara saya dan para pendamping lainnya, berangkat menuju Hotel Amaris. Ya, meskipun kami pendamping, tapi para delegasi tidak boleh ditemani.

“Supaya anak belajar mandiri,” begitu kata kakak panitia.

Oke deh, selamat berkonferensi, anak-anak Indonesia.