Sesuai dengan artinya, “tumbuh
atau berkembang”, alangkah baiknya jika zakat tidak hanya sekadar membantu para
mustahiq untuk memenuhi kebutuhan mereka sesaat namun lebih dari itu, mampu mengubah
mereka menjadi muzakki. Mungkinkah? Sangat mungkin! Meksipun perjalanan dan
usaha yang diperlukan untuk mencapainya dibutuhkan komitmen dan konsep yang
jelas.
Jumat, 24 Juni 2016
Zona Madina: Konsep Pengelolaan Zakat yang Diperlukan Umat
Waktu
terpilih untuk mengikuti “Blogger Trip” ke Zona Madina, Dompet Dhuafa, saya sempat
bertanya-tanya, kayak apa ya tempat itu? Apa semacam tempat wisata? Karena kabarnya, di tempat ini ada area untuk outbound. Ternyata,
Zona Madina itu … Masya Allah! Bikin merinding. Andaikan di setiap
kabupaten/kota ada zona semacam ini, in syaa Allah Indonesia akan sejahtera.
![]() |
| Blogger yang terpilih mengikuti Blogger Trip ke Zona Madina |
Nah,
jadi, ada apa saja sih di zona ini?
Rabu, 25 Mei 2016
Panduan Wisata ke Kuala Lumpur
Halo, berniat berwisata ke Kuala Lumpur untuk
pertama kali?
Saya berbagi sedikit informasi tentang berwisata di sana, ya.
Penginapan
Ada cukup banyak penginapan murah di Kuala Lumpur, terutama di daerah Chinatown. Sepenglihatan saya, daerah Chinatown memang cukup strategis karena dekat dengan tempat wisata. Untuk memilih hostel, sebaiknya tanyakan atau cari tahu di blog para wisatatawan yang sudah pernah menginap di sana. Kalau saya, selama di KL, menginap di dua tempat; Hotel Arenaa Mountbatten dan Geo. Tempatnya cukup berdekatan. Dengan jalan kaki sekitar 10 menit.
-
Hotel Arenaa Mountbatten
Hotel Arenaa Mounbatten berada di Jl. Tun Perak ,
tidak jauh dari Hab Lebuh Pudu. Jadi kalau dari bandara KLIA 2, naik bus Star
Shuttle, bisa turun di hab tersebut, lalu jalan kaki sekitar 100 meter. Kalau dari sisi lokasi, cukup strategis. Dekat
dengan Pasar Seni (Central Market), kalau mau ke shuttle bus untuk naik GoKL
perlu jalan ke arah belakang hotel.
Berhubung hari pertama dan kedua saya bersama
teman-teman, kami memesan kamar dengan enam tempat tidur di dalamnya (3 tempat
tidur tingkat). Kamarnya kecil, tapi rapi dan bersih. Tidak disediakan extra bed. Ada dispenser yang
membolehkan penginap membawa air. Jadi kalau mau menginap di sini, boleh
membawa botol minum. Lumayan kan, hemat 1,5 Ringgit tiap botol hihihi. Selain
itu, wifi-nya super kencang. Kalau untuk berenam, harganya cukup murah. Per
orang dikenakan biaya sekitar Rp76 ribu per malam. Soal harga, bisa
berubah-ubah tergantung waktu pemesanan via online. Sementara yang deluxe,
untuk berdua, harganya 93 RM (harga Mei 2016, bayar di tempat).
Pilihan kamarnya banyak; ada yang untuk berdua,
berempat dan berenam. DI hotel ini juga disediakan laundry kiloan.
-
Hotel Geo
Selain menginap di Arenaa, hari ketiga dan keempat
saya menginap di Hotel Geo. Lokasinya sangat strategis karena berada di depan
Pasar Seni. Dilewati bus Go KL, dekat dengan terminal dan stasiun jadi mudah kalau
mau ke mana-mana. Kalau dari segi harga, lebih mahal dari Arenaa namun tentu
lebih bagus. Kamarnya standar hotel pada umumnya, rapi dan bersih. Saat check
in kita akan diminta uang deposit sebesar 100 RM. Di hotel ini, wifi-nya juga
kencang.
Untuk pemesanan hotel, kalau mau dapat murah, pesan
jauh-jauh hari dan via online karena harganya berbeda dengan kalau membayar di
tempat (untuk beberapa hotel).
Transportasi
Sesampainya di Bandara Kuala Lumpur (pastikan di tiket KLIA 1 atau 2), kita dapat mencapai Kuala Lumpur dengan bus, taksi atau kereta. Untuk bus harga tiket (kalau saya berhenti di Hab dekat Hotel Arena seharga 10 RM), sedangkan kereta express seharga 55 RM.
Bandara di KL cukup ramah wisatawan baru karena papan petunjuk yang jelas. Meskipun
untuk menuju konter tiket cukup jauh. Untuk naik bus atau taksi, kita dapat
turun ke lantai 1 dan membeli tiket di konter yang sudah disediakan.
Untuk bus, ada beberapa bus dan waktu
keberangkatan. Pastikan bus dan waktunya tepat. Sebutkan juga tujuan kita
berhenti. Lebih baik turun di hab (tempat pemberhentian) yang dekat dengan
hotel tempat kita menginap.
Perjalanan dari bandara menuju KL cukup lama sekitar 1,5 jam dengan menggunakan bus.
Perjalanan dari bandara menuju KL cukup lama sekitar 1,5 jam dengan menggunakan bus.
Transportasi
selama di KL
Selama di Kuala Lumpur, transportasi publik
terbilang mudah. Kalau mau yang gratis bisa naik GO KL. Ada 3 rute Go KL;
Purple Line, Green Line dan Red Line. Untuk mengetahui jalurnya, di beberapa
hotel disediakan peta. Selain itu di setiap halte juga ada peta yang
menjelaskan jalur ketiga rute tersebut.
Selain GoKL, ada juga bus berbayar dengan harga 1 RM, MRT, dengan harga yang terjangkau.
Di setiap stasiun pun terdapat penjelasan jalur dan harga. Pembelian tiket melalui mesin pun tergolong mudah digunakan untuk mereka yang baru pertama kali ke KL.
Selain GoKL, ada juga bus berbayar dengan harga 1 RM, MRT, dengan harga yang terjangkau.
Di setiap stasiun pun terdapat penjelasan jalur dan harga. Pembelian tiket melalui mesin pun tergolong mudah digunakan untuk mereka yang baru pertama kali ke KL.
Tempat Wisata
Untuk mereka yang senang dengan bangunan unik dan
ingin berfoto, ada beberapa tempat yang cukup menarik.
Tidak jauh dari Central Market, kita dapat
mendatangi:
a.
Sri Mahariamman, Kuala Lumpur
Kuil tertua di Kuala Lumpur, dibangun tahun 1873.
b.
Sultan Abdul Samad Building, Kuala Lumpur
Bangunannya megah dan cantik, dibangun oleh arsitek
Inggris bernama A.C Norman. Tahun 1957, deklarasi kemerdekaan Malaysia
dibacakan di depan gedung ini.
c.
Merdeka Square atau Dataran Merdeka
Berada persis di depan Gd. Sultan Abdul Samad.
Hanya berupa lapangan rumput luas. Kalau di Indonesia, mirip dengan lapangan di
depan Masjid Raya Bandung.
d. Kuala Lumpur Gallery dan Perpustakaan Kuala Lumpur
Kalau mau tahu sejarah Kuala Lumpur, di sini
tempatnya. Tiket masuknya 5 RM, tapi nanti bisa ditukar dengan souvenir. Kalau harga souvenirnya lebih dari 5 RM ya harus tambah uang. Souvenir seharga 5 RM (itu
pun kalau beli 3) hanya gantungan kunci, tapi bentuknya nggak pasaran.
Di samping KL Gallery, ada Perpustakaan Kuala
Lumpur yang cukup besar dan menarik.
e. Masjid Jamek, Kuala Lumpur
Tidak jauh dari Dataran Merdeka, kita akan menemui
Masjid Jamek. Sayang, pada saat saya datang ke sana, masjid ini sedang
direnovasi meskipun masih bisa digunakan untuk sholat.
f. Masjid Negara (The National Mosque), Kuala Lumpur
Dari belakang Hotel Geo, kita bisa berjalan
menyusuri jembatan dan tiba di Stasiun Kuala Lumpur. Turun, lalu menyebrang
lewat terowongan bawah tanah dan sampai di Masjid Negara.
Pengunjung yang hendak masuk ke dalam diminta
berpakaian sopan dan tertutup. Jika tidak,di sana disediakan jubah dan penutup
kepala.
Tempat-tempat wisata yang tidak ditulis tiket
masuknya, berarti gratis ya. Untuk beberapa tempat seperti kuil, kita hanya
diminta menitip alas kaki dan membayar sekitar 20 Sen per pasang.
Kalau tadi tempat wisata yang bisa dijangkau dengan
berjalan kaki dari Central Market, untuk tempat-tempat yang bagus untuk berfoto
lainnya (dan wajib dikunjungi karena merupakan ikon KL) adalah Petronas Twin
Tower dan KL Tower.
g. Petronas Twin Tower
Dari Central Market, kita harus naik GoKL dua kali;
purple line dulu lalu ganti dengan green line. Kalau mau ke sini sih, bagusnya
datang sore (sekitar jam 6-7), supaya nggak panas dan masih bisa lihat air
mancur warna-warni.
h. KL Tower
Dari Central Market, kita bisa naik GoKL yang
purple line. Berhubung saya hanya lihat dari luar, saya juga nggak tahu ada apa
di dalamnya.
i. Little India
Hati-hati kalau mau bertanya letak Little India
karena pemahaman warga KL berbeda-beda. Hal ini yang membuat kami salah jalan.
Ada yang menganggap Little India itu berada di Jalan Masjid India (dekat Masjid
Jamek), padahal Little India yang kami
maksud berada di belakang KL Sentral (Little India Brickfields).
Oh, rupanya, dulu Little India memang di Jalan
Masjid India, lalu dipindah. Selengkapnya, bisa dibaca di sini: http://www.kuala-lumpur.ws/attractions/brickfields.htm#.
Selain tempat wisata dengan bangunan unik, nah,
kalau suka dengan alam, bisa mengunjungi Lake Garden. Lahannya luas sekali dan
ada aneka taman di dalamnya. Bahkan rumah mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun
Abdul Razak, juga ada di kompleks wisata ini.
j. Lake Garden, Kuala Lumpur
Posisinya ada di belakang Masjid Negara. Untuk
masuk ke sana, kita harus berjalan kaki beberapa KM karena tidak dilewati GoKL,
hanya bus Hop-on-Hop-Off dan taksi. Di area Lake Garden atau Taman Tasik
Perdana ini, kita dapat mengunjungi:
-
Planetarium (ada tiket masuk)
-
Bird Park (tiket masuk sekitar 42 RM untuk dewasa)
-
Butterfly Park (tiket masuk sekitar 18 RM untuk
dewasa)
-
Orchid Garden
-
Tugu Negara
-
Rumah Tun Abdul Razak Memorial
-
Dan beberapa taman lain yang cantik
Hanya saja, saking luasnya area ini, cukup
melelahkan kalau harus berjalan kaki karena dari satu taman ke taman lain
jaraknya cukup jauh.
k.
KL Forest Eco Park
Kalau mau naik jembatan gantung beberapa tingkat
dan melihat hutan mini di tengah kota, sila main ke KL Forest Eco Park. Tidak
ada tiket masuk.
l.
Batu Caves
Dari KL Sentral kita harus naik commuter dan lanjut
lagi menuju Batu Caves. Perjalanan sekitar 30-40 menit karena harus melewati
beberapa stasiun.
Di sini ada beberapa gua dan untuk masuk ke
dalamnya, sebagian besar bayar. Ada sih yang gratis, dan untuk melihatnya kita
harus menaiki sekitar 300 anak tangga. Seru, kan!
Oleh-oleh
Kalau kita ke Pasar Seni (Central Market) sebetulnya banyak
barang-barang kerajinan yang ada di Indonesia, khususnya Jogja dan daerah lain.
Paling untuk oleh-oleh, kita bisa membelikan cokelat, kaos, gantungan kunci
atau miniatur landmark Kuala Lumpur.
Untuk cokelat, bisa dibeli di Choc Boutique yang ada di Pasar
Seni dan Jalan Alor. Cuma kalau saya bandingkan, harganya sedikit lebih mahal.
Saya dapat harga yang lebih murah di dalam Central Market. Cuma seingat saya,
tidak ada nama kiosnya. Selain itu, bisa juga dibeli di Supermarket Mydin.
Untuk kaos, gantungan kunci dan sejenisnya, bisa dibeli di
Pasar Seni atau China Town. Sebaiknya cek harga dulu di beberapa toko supaya
tahu harga pasaran karena harga di beberapa toko berbeda-beda. Tidak sedikit
penjual yang menawarkan harga tinggi sekali. Kalau di Pasar Seni, boleh lho
untuk menawar harga.
Tempat Belanja
Di Kuala Lumpur, ada beberapa mal mewah; dua diantaranya Pavilion di Bukit Bintang dan Suria KLCC. Hampir sama dengan Grand Indonesia
atau mal setingkat itu di Jakarta.
Sedangkan pusat belanja baju yang lebih murah ada di Kenanga.
Saking penasaran karena menurut banyak orang harga di sana sangat murah, saya
memaksakan diri untuk melihat ke sana. Untuk sampai ke sana agak ribet, ya.
Dari Bukit Bintang kita harus naik Commuter ke Stasiun Hang Tuah. Lalu jalan
kaki menuju Kenaga Wholesale City.
Cuma buat kita yang sering main ke Tanah Abang atau Thamrin
City, barang-brangnya masih lebih bagus di TA atau Thamcit sih. Jadi mending
beli di Jakarta aja deh :D Kalau cuma mau beli oleh-oleh khas KL, cukup ke
Chinatown atau Pasar Seni.
Makanan di Kuala Lumpur
Buat kita yang muslim, sebagian besar
makanan di sana halal. Namun kurang variatif, lebih banyak kare dan sejenisnya.
Ada sih makanan rumahan seperti di Indonesia. Saya sempat menemuinya di dekat
stasiun Kuala Lumpur. Kalau soal kuliner, Indonesia juara!
Selasa, 03 Mei 2016
Kurangi Kejahatan Seksual, Tugas Kita Semua
Kejahatan Seksual
pada Anak, Tugas Kita Semua
Dari berita yang saya baca, pelaku pemerkosaan dan
pembunuhan terhadap Ananda Yuyun di Bengkulu, mengaku sering menonton adegan pornografi.
Hal ini makin menguatkan data yang dikumpulkan dari Yayasan Kita dan Buah Hati
bahwa pelaku kejahatan seksual dipengaruhi oleh, salah satunya pornografi.
Ada beberapa ciri anak kecanduan pornografi; sulit
berkonsentrasi dan melakukan aktivitasnya karena otak depannya rusak, mudah
marah, senang menyendiri, mudah berkata kotor/jorok, sering berkeringat, sering
buang air kecil (sumber: materi ToT SEMAI-YKBH).
Tugas kita semua untuk membantu mengurangi kejahatan seksual
pada anak.
Sebagai orangtua, kalau kita pada akhirnya memberikan anak
akses menggunakan gadget, seberapa sering mengecek apa yang anak lihat, berupaya
untuk diproteksi, games apa yang mereka mainkan, dan sebagainya.
Seberapa dekat dengan anak? Seberapa sering kita berdiskusi
dan berkomunikasi dengan mereka? Seberapa sering kita memeluk dan membelai mereka?
Apakah kita sudah mengajarkan pendidikan seksualitas,
menyiapkan masa puber mereka?
PKK, Posyandu, Ustadzah, akrabi orangtua dengan ilmu
pengasuhan anak, terutama untuk mereka yang tinggal di daerah, yang mungkin
kekurangan akses untuk membaca atau belajar.
Sekolah, peka terhadap kondisi murid. Kalau ada murid yang
tiba-tiba jadi pendiam, dekati.
Dari pihak RT/RW, sudahkah mengamati warnet yang ada di lingkungannya?
Apakah mereka membolehkan anak-anak mengakses situs dan games yang mengandung
pornografi?
Media, cek lagi aneka sinetron dan produk-produk hiburan
lainnya yang banyak sekali yang tidak mendidik!
Dan pihak-pihak lainnya, terutama kementerian terkait.
Semoga Allah Swt melindungi anak-anak kita semua.
Senin, 18 April 2016
Jangan Asal Resign! - Persiapan Bekerja dari Rumah
Tak sedikit ibu bekerja yang
kerap diliputi rasa gundah. Di satu sisi, merasa masih perlu memberi kontribusi
bagi keuangan keluarga, namun di sisi lain, khawatir dengan perkembangan buah
hatinya karena merasa sedikit waktu di rumah. Apalagi jika anak dalam kondisi
sakit, pada usia yang membutuhkan banyak perhatian dari orangtua, khususnya
ibu. Kepusingan bertambah ketika ART atau pengasuh harus pulang kampung.
Pernah berada di dalam posisi
itu?
Saat kondisi itu terjadi, mungkin para ibu bekerja berpikir, gimana ya tetap bisa berkontribusi untuk keuangan keluarga tapi masih memiliki waktu lebih banyak untuk anak-anak?
Mungkin nggak sih? Bagaimana memulainya?
Buku “Jangan Asal Resign (untuk
Ibu Bekerja)” diharapkan bisa memberi jawaban atas kegundahan tersebut. Buku
ini memaparkan perencanaan yang perlu dilakukan seorang ibu untuk bekerja dari
rumah; baik sebagai self-employed maupun business owner, karena keduanya
memerlukan perencanaan yang berbeda. Begitu juga tantangan yang akan dihadapi
dan solusinya.
Diperkaya dengan wawancara dengan
business coach Lyra Puspa dan Valentino Dinsi juga beberapa narasumber ibu yang
sebelumnya bekerja kantoran lalu resign, kemudian sukses menjadi freelancer
atau membuka usaha.
Tertarik untuk membacanya? Buku terbitan Grasindo ini bisa dibeli di toko buku Gramedia di sleuruh Indonesia dan beberapa toko buku online.
Terima kasih. Selamat membaca :)
Kamis, 07 April 2016
LGBT Ditinjau dari Aspek Neuropsikologi
(Ditulis berdasarkan paparan
pemateri Dr. Ihsan Gumilar, pada ToT “Selamatkan Generasi Emas Indonesia”, 30
Maret 2016 di Kampus UNJ, kerjasama Rumah Parenting Yayasan Kita dan Buah Hati
dan Pusat Studi Wanita UNJ)
Menurut ilmu neuroplasticity, otak dapat terus berkembang, fungsi dan struktur
dapat berubah sesuai dengan perilaku dan pengalaman yang pemiliknya lakukan.
Susunan saraf akan mengenali apa kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pemiliknya.
Bahkan dapat otak dapat merespon dan menyiapkan sesuatu yang dipikirkan atau
diniatkan oleh pemiliknya.
Ketika ada seorang laki-laki yang
berprilaku seperti seorang perempuan dan didukung oleh lingkungan sekitarnya,
otak akan menangkap sinyal tersebut. Konsep dirinya pun dapat berubah dan bukan
tidak mungkin lambat laun ia akan merasa bahwa dirinya adalah perempuan.
Terlebih jika ia banyak bergaul dengan pelaku homoseksual dan transgender.
Faktor-faktor yang membentuk seseorang menjadi homoseksual
memang ada yang disadari dan tidak. Bisa jadi karena pola pengasuhan yang
kurang tepat atau pernah menjadi korban dari kejahatan seksual.
Catatan Penulis:
Dari paparan di atas, penting
bagi orangtua untuk memerhatikan anak-anaknya. Mengenalkan anak akan jenis
kelaminnya dan aktivitas-aktivitas penunjang. Saya teringat dengan seorang anak
laki-laki (saat itu usianya masih SD). Ia senang bermain masak-masakan dengan
teman-teman perempuan.
Oleh teman-temannya yang
laki-laki, ia kerap dipanggil bencong.
“Ih, bencong! Mainannya
masak-masakan!”
Meskipun saya bukan ibunya, namun
ada kekhawatiran jika ucapan dari teman-temannya dapat mengubah konsep dirinya.
Saat itu saya panggil teman-teman
yang mengatainya dan mengajak mereka bicara karena bisa jadi mereka tidak menyadari dampak dari apa yang mereka ucapkan.
Mulai dari diri kita sendiri, ayo
kita selamatkan generasi emas Indonesia!
Rabu, 06 April 2016
Benarkah Perilaku Homoseksual Bukan Sebuah Penyakit Gangguan Mental?
ToT SEMAI #1
(Ditulis berdasarkan paparan Dr. Ihsan Gumilar, pakar neuropsikologi
dalam Training of Trainers SEMAI, di kampus UNJ, 30 Maret 2016)
Untuk menentukan apakah
gejala-gejala yang dirasakan oleh seseorang dapat dikategorikan sebagai sebuah
penyakit gangguan mental, psikolog maupun psikiater umumnya akan mengacu pada
buku pegangan yang dinamakan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders), yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (APA).
Di dalam DSM-5, perilaku
homosesual tidak tercantum di dalam buku tersebut. Namun, melihat perjalanan
buku pegangan tersebut, ada hal penting yang perlu dicermati.
Sebagai sebuah buku pegangan,
maka setiap perubahan (revisi) yang dilakukan mulai dari DSM-1 hingga DSM-5,
sudah sepatutnya melalui penelitian yang memenuhi syarat.
Di dalam DSM-1 dan DSM-2,
homoseksual sebenarnya ada di dalam kategori penyakit gangguan mental. Namun
saat itu, sekitar tahun 1970-an di Amerika Serikat, gerakan feminisme yang
semakin meningkat juga disertai dengan tuntutan dari aktivis LGBT yang meminta
persamaan hak. Mereka menginginkan agar ‘homoseksual’ dicabut dari DSM.
Akhirnya, dibentuklah sebuah komite untuk menentukan apakah homoseksual
termasuk penyakit mental atau bukan.
Tanpa sebuah penelitian, hanya
berdasarkan voting, perubahan besar terjadi di dalam DSM-2 cetakan keenam. Agar
tidak terlalu menggegerkan, perlahan-lahan, dari mulai DSM-2 hingga sekarang,
beberapa perubahan dilakukan terkait dengan penyakit homoseksual:
DSM-2 Revised (1973) : Homoseksual
dianggap sebagai sexual orientation
disturbance (ada gangguan).
DSM-3 (1980) : Ego-dystonic homosexuality; kalau
penderita merasa tidak nyaman baru dapat dikategorikan sebagai penyakit. Ini
yang banyak dipakai oleh psikolog.
DSM-3 Revised (1987) : sexual disorder not otherwise specified;
dikategorikan sebagai penyakit yang tidak dikenal (unknown disease)
DSM-4 (1994) : kata homoseksual
sebagai penyakit gangguan mental dihilangkan dari buku DSM tersebut.
Selain itu, meskipun pelaku
homoseksual tidak menunjukkan gejala penyakit mental pada umumnya, seperti
tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari, untuk mempertimbangkan apakah itu
digolongkan penyakit atau bukan harus melihat di mana kultur penyakit itu
berada. Aspek kultur termasuk agama perlu dipertimbangkan. Dengan demikian,
jika di Indonesia semua agama telah melarang homoseksual dan transgender,
pelaku LGBT perlu disembuhkan.
Senin, 16 November 2015
Mengajarkan Anak Mendongeng
Ayah-Bunda, saat ini banyak ya,
lomba-lomba yang berkaitan dengan bercerita, baik dalam Bahasa Indonesia atau
Bahasa Inggris. Kedua puteri saya pun ikut. Menurut saya, lomba bercerita atau
mendongeng dapat mengasah kemampuan public speaking mereka, lho. Nah, untuk
Ayah-Bunda mau mengajarkan putera/i-nya ikut lomba ini, izinkan saya berbagi
apa yang biasa saya lakukan kepada mereka. Tentu, saya bukanlah pendongeng
profesional, jadi cara-cara ini masih harus banyak dikembangkan lagi.
Melatih artikulasi
Salah satu aspek penting dalam
bercerita/mendongeng adalah artikulasi. Untuk mengasahnya, kita dapat
membiasakan membacakan cerita untuk anak dengan pengucapan yang benar. Dengan
mendengarkan pengucapan yang benar, diharapkan anak juga termotivasi untuk
membacanya dengan benar.
Cara berikutnya, berlatih membaca
keras. Ketika dulu saya menjadi penyiar radio, kami dibiasakan untuk membaca
keras. Berbicara dengan lepas dan mengucapkan huruf-huruf vocal (a,I,u,e,o)
dengan mulut terbuka sehingga
huruf-huruf tersebut dapat terdengar dengan sangat jelas.
Dulu, puteri saya cenderung cadel
“s”. Ketika ada kata dengan huruf “s”, ia akan mengucapkannya seperti huruf
“tsa”. Untuk menguranginya, saya sering memintanya untuk mengucapkan kata-kata yang
memiliki banyak huruf “s”, seperti, susu Sasa . Jika ia mengucapkannya masih
belum jelas (masih terdengar seperti mengucap “tsa), saya akan memintanya
mengulang kata-kata tersebut dengan huruf yang jelas.
Intonasi
Ketika membaca
keras, ajarkan anak untuk membaca tanda baca dan menyesuaikan dengan nadanya.
Membedakan Suara
Ketika menceritakan sebuah
cerita, akan ada beberapa suara yang perlu dibedakan; narrator dan beberapa
tokoh. Nah, untuk suara tokoh, biasakan untuk membedakannya. Kalau tokohnya adalah
nenek belajarlah untuk menjadi seorang nenek. Tidak hanya suaranya tapi juga
gayanya. Atau, jika tokohnya adalah binatang, coba amati seperti apa sih
binatang yang sedang kita perankan. Misal, monyet yang jahil. Selain
menyisipkan suara ‘uu .. aa.. uu.. aa’, tingkah laku monyet yang senang
garuk-garuk kepala dan ketiak, perhatikan juga mimik wajah. Coba deh lihat di
cermin, apakah wajah kita sudah terlihat jahil?
Alat Peraga
Kak Heru, seorang pendongeng
nasional, kasih tips bagaimana memaksimalkan alat peraga untuk
bercerita/mendongeng.
“Kalau mau pakai alat peraga,
jangan tanggung-tanggung. Buat yang besar dan gunakan secara maksimal. Alat
peraga juga jangan sampai merepotkan ketika mendongeng,” katanya ketika menjadi
juri lomba mendongeng di Grand Indonesia, Oktober 2015 lalu.
Yang
perlu diperhatikan jika kita membuat cerita sendiri, kata Kak Heru, tokoh tidak
perlu banyak. Cukup 2-3 tokoh, yang penting dapat dibawakan dengan berbeda dan
maksimal.
Dan yang pasti, harus
sering-sering berlatih, ya. (apr)
Sabtu, 14 November 2015
Dampak Kecanduan Pornografi Pada Anak dan Cara Mencegahnya
(Disarikan dari materi diskusi parenting “Cegah Pornografi,
Selamatkan Generasi Emas Indonesia” oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, di Rumah
Parenting YKBH, 5 November 2015)
Generasi BLAST (Bored, Lonely,
Angry, Stress, Tired) merupakan sasaran bagi kaum perusak. Mereka sangat mudah
bersentuhan dengan pornografi, pacaran, narkoba, miras, merokok, masturbasi,
LGBT dan seks bebas.
Menurut data dari berita online yang
dihimpun oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, selama 2014, setidaknya ada 909 kasus
yang berkaitan dengan pornografi, 340 kasus diantaranya adalah kasus perkosaan.
Ironisnya, gambaran usia pelaku berada di usia produktif; 11-20 tahun!
Untuk menguatkan data tersebut, pada
2014, YKBH pernah melakukan penelitian dengan responden siswa SD kelas 4-6
sebanyak 2.227 anak. Hasilnya, 92% anak pernah mengakses pornografi baik lewat
internet maupun tayangan TV dan games. Mereka melihatnya di rumah sebanyak 52%,
sisanya di warnet dan rumah teman.
Apa yang Terjadi Jika Anak Kecanduan Pornografi?
Salah satu bagian dari otak kita
bernama Prefrontal Cortex (PFC). Bagian ini berfungsi untuk berkonsentrasi,
mengendalikan diri, merencanakan sebagai pusat masa depan. Begitu pentingnya
PFC namun ia mudah mengalami kerusakan, salah satunya karena NAPZA dan
Narkolema (Narkotika lewat mata).
Memang, pada awal anak mengakses
pornografi, timbul perasaan jijik, namun sesudahnya, khususnya bagi anak-anak
BLAST, mereka akan tertarik dan timbul perasaan senang. Otak lalu akan
menyimpan bahawa kegiatan ini membuat senang dan ketika kita membutuhkan rasa
senang, otak akan menyuruh untuk mengonsumsinya lagi.
Bagi anak yang kecanduan
pornografi, mudah melakukan kegiatan perilaku seks tidak sehat, seperti
masturbasi, oral seks, hubungan sejenis, gonta-ganti pasangan dan memperkosa.
Ketika PFC rusak karena anak
kecanduan pornografi, inilah yang terjadi:
- Menurunnya fungsi otak karena terjadi penyempitan korteks
- Sulit untuk berkonstrasi, memahami benar dan salah, membuat keputusan, mengendalikan diri untuk menunda kepuasan.
Apa yang dapat kita lakukan sebagai orangtua?
- Perkuat iman kepada Allah Swt.
- Tingkatkan komunikasi antara orangtua dan anak. Biarkan anak untuk berpikir, memilih dan beri ruang bagi anak untuk membuat keputusan.
- Hidup sehat dengan olahrafa
- Gunakan gadget/internet dengan bijak.
Terkait dengan
games, orangtua perlu mengenal games yang sering dimainkan anak dan lihatlah
keamannya. Di media sosial, ajarkan anak untuk tidak memasang foto pribadi,
mencantumkan alamat dan no telpon, menulis status tentang suasana hati yang negatif.
Minggu, 14 Juni 2015
Menerapkan Aturan untuk Anak
Minggu, 7 Juni 2015 lalu, saya
diundang menjadi pembicara di acara “Smart Parents, Smart Kids”. Acara
yang digagas oleh Duta Indonesia
Pintar--yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Universitas Mercu Buana-- ini berlangsung
di Mal Cipinang Indah, Jakarta Timur. Pada kesempatan tersebut, saya berbagai
tentang prinsip menerapkan aturan untuk anak.
Seiring dengan bertambahnya usia
anak, mereka perlu diajarkan mengenai aturan. Hal ini penting sehingga anak
memahami bahwa ada kewajiban yang perlu ia lakukan dan tidak semaunya sendiri.
Aturan yang diajarkan tentu perlu disesuaikan dengan kemampuan anak; dari
hal-hal sepele seperti menjemur handur setiap kali habis mandi, meletakkan
kembali barang-barang yang sudah dipakai ke tempat semula, dan sebagainya.
Namun tak jarang, banyak orangtua
yang mengeluh karena anak tidak mau menuruti aturan yang sudah diberikan. Nah,
bagaimana ya agar anak mau diajak bekerjasama?
Pertama, aturan akan lebih mudah
dipatuhi jika antara orangtua dan anak sama-sama menyepakatinya. Agar anak mau
menyepakatinya, sebagai orangtua kita perlu menyampaikan apa yang kita inginkan
atau harapkan dari anak. Seringkali, aturan sulit dilakukan karena
masing-masing memiliki pemikirannya sendiri-sendiri dan tidak diungkapkan.
Misal, soal waktu main. Ada orangtua yang membuat jadwal bermain anak karena
khawatir anaknya terlalu kelelahan dan jika sudah begitu akan memengaruhi
kesehatannya. Sedangkan, bagi anak, bermain sangat menyenangkan. Ia tidak
mengetahui kekhawatiran orangtua. Bisa jadi yang ada di pikirannya, kenapa sih
Mama punya banyak aturan? Kenapa aku nggak boleh bermain? Sehingga, supaya anak
memahami, orangtua perlu menyampaikan.
“Kak, Bunda seneng kalo Kakak
main bola sama temen-temen. Kakak boleh main bola. Tapi dokter bilang kan Kakak
nggak boleh terlalu capek dulu. Gimana kalau kita sepakatin waktu mainnya?”
Kedua, konsisten dengan aturan
yang sudah kita buat. Misal, waktu menonton TV.
Kalau kita sudah menyepakati menonton TV hanya satu jam per hari,
jalani. Seringkali kita mudah tergoda dengan rengekan atau tatapan sedih anak. Saat
awal aturan dibuat, sangat mungkin terjadi, anak masih belum terbiasa sehingga
lupa melakukannya. Itu hal yang wajar. Tugas kita adalah terus menyemangati dan
mengingatkan dengan berbagai cara.
Ketiga, beri solusi. Banyak
orangtua menahan agar anaknya tidak jajan, tidak menonton TV namun tidak
memberikan solusi. Anak jajan bisa jadi karena ia mudah lapar, sehingga
solusinya, siapkan camilan yang cukup di rumah. Anak menonton karena dia merasa
tidak ada yang dikerjakannya, solusinya, berikan buku, peralatan yang menunjang
hobinya, atau kegiatan lain.
Keempat, jadi contoh.
Mengharapkan anak tidak menonton sinetron tapi kita pun menontonnya saat anak
ada di rumah? Saya yakin anak akan mudah menjawab, “Mama sendiri nonton
sinetron,” :D
Kelima, satu suara antara Ayah
dan Bunda. Jangan sampai, ibu tidak membolehkan, tapi ayah membolehkan. Kata
bunda, pokoknya nggak boleh naik motor sampai kamu punya SIM.” Kata ayah, “Boleh
naik motor, tapi jangan jauh-jauh, ya.” Anak jadi bingung, boleh apa nggak sih
sebetulnya?
Satu suara juga perlu dilakukan
oleh pengasuh dan keluarga yang ada di dalam rumah.
Mau tahu lebih banyak tentang
komunikasi dalam pengasuhan anak? Tunggu buku solo saya ya :D
Salam hangat,
Aprilina Prastari
Langganan:
Postingan (Atom)












