Rabu, 25 Mei 2016

Panduan Wisata ke Kuala Lumpur

Halo, berniat berwisata ke Kuala Lumpur untuk pertama kali?

Saya berbagi sedikit informasi tentang berwisata di sana, ya.

Penginapan

Ada cukup banyak penginapan murah di Kuala Lumpur, terutama di daerah Chinatown. Sepenglihatan saya, daerah Chinatown memang cukup strategis karena dekat dengan tempat wisata. Untuk memilih hostel, sebaiknya tanyakan atau cari tahu di blog para wisatatawan yang sudah pernah menginap di sana. Kalau saya, selama di KL, menginap di dua tempat; Hotel Arenaa Mountbatten dan Geo. Tempatnya cukup berdekatan. Dengan jalan kaki sekitar 10 menit.

-          Hotel Arenaa Mountbatten

Hotel Arenaa Mounbatten berada di Jl. Tun Perak , tidak jauh dari Hab Lebuh Pudu. Jadi kalau dari bandara KLIA 2, naik bus Star Shuttle, bisa turun di hab tersebut, lalu jalan kaki sekitar 100 meter.  Kalau dari sisi lokasi, cukup strategis. Dekat dengan Pasar Seni (Central Market), kalau mau ke shuttle bus untuk naik GoKL perlu jalan ke arah belakang hotel. 

Berhubung hari pertama dan kedua saya bersama teman-teman, kami memesan kamar dengan enam tempat tidur di dalamnya (3 tempat tidur tingkat). Kamarnya kecil, tapi rapi dan bersih.  Tidak disediakan extra bed. Ada dispenser yang membolehkan penginap membawa air. Jadi kalau mau menginap di sini, boleh membawa botol minum. Lumayan kan, hemat 1,5 Ringgit tiap botol hihihi. Selain itu, wifi-nya super kencang. Kalau untuk berenam, harganya cukup murah. Per orang dikenakan biaya sekitar Rp76 ribu per malam. Soal harga, bisa berubah-ubah tergantung waktu pemesanan via online. Sementara yang deluxe, untuk berdua, harganya 93 RM (harga Mei 2016, bayar di tempat).
Pilihan kamarnya banyak; ada yang untuk berdua, berempat dan berenam. DI hotel ini juga disediakan laundry kiloan.



  
-          Hotel Geo

Selain menginap di Arenaa, hari ketiga dan keempat saya menginap di Hotel Geo. Lokasinya sangat strategis karena berada di depan Pasar Seni. Dilewati bus Go KL, dekat dengan terminal dan stasiun jadi mudah kalau mau ke mana-mana. Kalau dari segi harga, lebih mahal dari Arenaa namun tentu lebih bagus. Kamarnya standar hotel pada umumnya, rapi dan bersih. Saat check in kita akan diminta uang deposit sebesar 100 RM. Di hotel ini, wifi-nya juga kencang.
Untuk pemesanan hotel, kalau mau dapat murah, pesan jauh-jauh hari dan via online karena harganya berbeda dengan kalau membayar di tempat (untuk beberapa hotel).

Transportasi

Sesampainya di Bandara Kuala Lumpur (pastikan di tiket KLIA 1 atau 2), kita dapat mencapai Kuala Lumpur dengan bus, taksi atau kereta. Untuk bus harga tiket (kalau saya berhenti di Hab dekat Hotel Arena seharga 10 RM), sedangkan kereta express seharga 55 RM. 

Bandara di KL cukup ramah wisatawan baru karena papan petunjuk yang jelas. Meskipun untuk menuju konter tiket cukup jauh. Untuk naik bus atau taksi, kita dapat turun ke lantai 1 dan membeli tiket di konter yang sudah disediakan. 

Untuk bus, ada beberapa bus dan waktu keberangkatan. Pastikan bus dan waktunya tepat. Sebutkan juga tujuan kita berhenti. Lebih baik turun di hab (tempat pemberhentian) yang dekat dengan hotel tempat kita menginap.
Perjalanan dari bandara menuju KL cukup lama sekitar 1,5 jam dengan menggunakan bus.

Transportasi selama di KL

Selama di Kuala Lumpur, transportasi publik terbilang mudah. Kalau mau yang gratis bisa naik GO KL. Ada 3 rute Go KL; Purple Line, Green Line dan Red Line. Untuk mengetahui jalurnya, di beberapa hotel disediakan peta. Selain itu di setiap halte juga ada peta yang menjelaskan jalur ketiga rute tersebut. 
Selain GoKL, ada juga bus berbayar dengan harga 1 RM, MRT, dengan harga yang terjangkau.
Di setiap stasiun pun terdapat penjelasan jalur dan harga. Pembelian tiket melalui mesin pun tergolong mudah digunakan untuk mereka yang baru pertama kali ke KL.

Tempat Wisata

Untuk mereka yang senang dengan bangunan unik dan ingin berfoto, ada beberapa tempat yang cukup menarik.
Tidak jauh dari Central Market, kita dapat mendatangi:
a.      Sri Mahariamman, Kuala Lumpur
  Kuil tertua di Kuala Lumpur, dibangun tahun 1873.




b.      Sultan Abdul Samad Building, Kuala Lumpur
  Bangunannya megah dan cantik, dibangun oleh arsitek Inggris bernama   A.C Norman. Tahun 1957, deklarasi kemerdekaan Malaysia dibacakan di     depan gedung ini.


c.       Merdeka Square atau Dataran Merdeka
  Berada persis di depan Gd. Sultan Abdul Samad. Hanya berupa lapangan   rumput luas. Kalau di Indonesia, mirip dengan lapangan di depan Masjid   Raya Bandung.




d.     Kuala Lumpur Gallery dan Perpustakaan Kuala Lumpur
 Kalau mau tahu sejarah Kuala Lumpur, di sini tempatnya. Tiket            masuknya 5 RM, tapi nanti bisa ditukar dengan souvenir. Kalau harga  souvenirnya lebih dari 5 RM ya harus tambah uang. Souvenir seharga 5  RM (itu pun kalau beli 3) hanya gantungan kunci, tapi bentuknya nggak  pasaran.
 Di samping KL Gallery, ada Perpustakaan Kuala Lumpur yang cukup besar  dan menarik.


e.   Masjid Jamek, Kuala Lumpur
Tidak jauh dari Dataran Merdeka, kita akan menemui Masjid Jamek. Sayang, pada saat saya datang ke sana, masjid ini sedang direnovasi meskipun masih bisa digunakan untuk sholat. 





f.    Masjid Negara (The National Mosque), Kuala Lumpur
Dari belakang Hotel Geo, kita bisa berjalan menyusuri jembatan dan tiba di Stasiun Kuala Lumpur. Turun, lalu menyebrang lewat terowongan bawah tanah dan sampai di Masjid Negara.
Pengunjung yang hendak masuk ke dalam diminta berpakaian sopan dan tertutup. Jika tidak,di sana disediakan jubah dan penutup kepala.



Tempat-tempat wisata yang tidak ditulis tiket masuknya, berarti gratis ya. Untuk beberapa tempat seperti kuil, kita hanya diminta menitip alas kaki dan membayar sekitar 20 Sen per pasang.

Kalau tadi tempat wisata yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari Central Market, untuk tempat-tempat yang bagus untuk berfoto lainnya (dan wajib dikunjungi karena merupakan ikon KL) adalah Petronas Twin Tower dan KL Tower.

g.   Petronas Twin Tower
Dari Central Market, kita harus naik GoKL dua kali; purple line dulu lalu ganti dengan green line. Kalau mau ke sini sih, bagusnya datang sore (sekitar jam 6-7), supaya nggak panas dan masih bisa lihat air mancur warna-warni.




h.   KL Tower
Dari Central Market, kita bisa naik GoKL yang purple line. Berhubung saya hanya lihat dari luar, saya juga nggak tahu ada apa di dalamnya.

i.     Little India
Hati-hati kalau mau bertanya letak Little India karena pemahaman warga KL berbeda-beda. Hal ini yang membuat kami salah jalan. Ada yang menganggap Little India itu berada di Jalan Masjid India (dekat Masjid Jamek),  padahal Little India yang kami maksud berada di belakang KL Sentral (Little India Brickfields).

Oh, rupanya, dulu Little India memang di Jalan Masjid India, lalu dipindah. Selengkapnya, bisa dibaca di sini: http://www.kuala-lumpur.ws/attractions/brickfields.htm#.




Selain tempat wisata dengan bangunan unik, nah, kalau suka dengan alam, bisa mengunjungi Lake Garden. Lahannya luas sekali dan ada aneka taman di dalamnya. Bahkan rumah mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Abdul Razak, juga ada di kompleks wisata ini.

j.      Lake Garden, Kuala Lumpur
 Posisinya ada di belakang Masjid Negara. Untuk masuk ke sana, kita harus  berjalan kaki beberapa KM karena tidak dilewati GoKL, hanya bus Hop-on-Hop-Off dan taksi. Di area Lake Garden atau Taman Tasik Perdana ini, kita dapat mengunjungi:
-          Planetarium (ada tiket masuk)
-          Bird Park (tiket masuk sekitar 42 RM untuk dewasa)
-          Butterfly Park (tiket masuk sekitar 18 RM untuk dewasa)
-          Orchid Garden
-          Tugu Negara
-          Rumah Tun Abdul Razak Memorial
-          Dan beberapa taman lain yang cantik

Hanya saja, saking luasnya area ini, cukup melelahkan kalau harus berjalan kaki karena dari satu taman ke taman lain jaraknya cukup jauh.


   



k.       KL Forest Eco Park

Kalau mau naik jembatan gantung beberapa tingkat dan melihat hutan mini di tengah kota, sila main ke KL Forest Eco Park. Tidak ada tiket masuk.  

 l.      Batu Caves

Dari KL Sentral kita harus naik commuter dan lanjut lagi menuju Batu Caves. Perjalanan sekitar 30-40 menit karena harus melewati beberapa stasiun.

Di sini ada beberapa gua dan untuk masuk ke dalamnya, sebagian besar bayar. Ada sih yang gratis, dan untuk melihatnya kita harus menaiki sekitar 300 anak tangga. Seru, kan! 



Oleh-oleh

Kalau kita ke Pasar Seni (Central Market) sebetulnya banyak barang-barang kerajinan yang ada di Indonesia, khususnya Jogja dan daerah lain. Paling untuk oleh-oleh, kita bisa membelikan cokelat, kaos, gantungan kunci atau miniatur landmark Kuala Lumpur.  

Untuk cokelat, bisa dibeli di Choc Boutique yang ada di Pasar Seni dan Jalan Alor. Cuma kalau saya bandingkan, harganya sedikit lebih mahal. Saya dapat harga yang lebih murah di dalam Central Market. Cuma seingat saya, tidak ada nama kiosnya. Selain itu, bisa juga dibeli di Supermarket Mydin.
Untuk kaos, gantungan kunci dan sejenisnya, bisa dibeli di Pasar Seni atau China Town. Sebaiknya cek harga dulu di beberapa toko supaya tahu harga pasaran karena harga di beberapa toko berbeda-beda. Tidak sedikit penjual yang menawarkan harga tinggi sekali. Kalau di Pasar Seni, boleh lho untuk menawar harga.  

Tempat Belanja

Di Kuala Lumpur, ada beberapa mal mewah; dua diantaranya Pavilion di Bukit Bintang dan Suria KLCC. Hampir sama dengan Grand Indonesia atau mal setingkat itu di Jakarta.

Sedangkan pusat belanja baju yang lebih murah ada di Kenanga. Saking penasaran karena menurut banyak orang harga di sana sangat murah, saya memaksakan diri untuk melihat ke sana. Untuk sampai ke sana agak ribet, ya. Dari Bukit Bintang kita harus naik Commuter ke Stasiun Hang Tuah. Lalu jalan kaki menuju Kenaga Wholesale City.

Cuma buat kita yang sering main ke Tanah Abang atau Thamrin City, barang-brangnya masih lebih bagus di TA atau Thamcit sih. Jadi mending beli di Jakarta aja deh :D Kalau cuma mau beli oleh-oleh khas KL, cukup ke Chinatown atau Pasar Seni.  

Makanan di Kuala Lumpur


Buat kita yang muslim, sebagian besar makanan di sana halal. Namun kurang variatif, lebih banyak kare dan sejenisnya. Ada sih makanan rumahan seperti di Indonesia. Saya sempat menemuinya di dekat stasiun Kuala Lumpur. Kalau soal kuliner, Indonesia juara! 

Selasa, 03 Mei 2016

Kurangi Kejahatan Seksual, Tugas Kita Semua

Kejahatan Seksual pada Anak, Tugas Kita Semua

Dari berita yang saya baca, pelaku pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Ananda Yuyun di Bengkulu, mengaku sering menonton adegan pornografi. Hal ini makin menguatkan data yang dikumpulkan dari Yayasan Kita dan Buah Hati bahwa pelaku kejahatan seksual dipengaruhi oleh, salah satunya pornografi.

Ada beberapa ciri anak kecanduan pornografi; sulit berkonsentrasi dan melakukan aktivitasnya karena otak depannya rusak, mudah marah, senang menyendiri, mudah berkata kotor/jorok, sering berkeringat, sering buang air kecil (sumber: materi ToT SEMAI-YKBH).

Tugas kita semua untuk membantu mengurangi kejahatan seksual pada anak.

Sebagai orangtua, kalau kita pada akhirnya memberikan anak akses menggunakan gadget, seberapa sering mengecek apa yang anak lihat, berupaya untuk diproteksi, games apa yang mereka mainkan, dan sebagainya.

Seberapa dekat dengan anak? Seberapa sering kita berdiskusi dan berkomunikasi dengan mereka? Seberapa sering kita memeluk dan membelai mereka?

Apakah kita sudah mengajarkan pendidikan seksualitas, menyiapkan masa puber mereka?
PKK, Posyandu, Ustadzah, akrabi orangtua dengan ilmu pengasuhan anak, terutama untuk mereka yang tinggal di daerah, yang mungkin kekurangan akses untuk membaca atau belajar.
Sekolah, peka terhadap kondisi murid. Kalau ada murid yang tiba-tiba jadi pendiam, dekati.  

Dari pihak RT/RW, sudahkah mengamati warnet yang ada di lingkungannya? Apakah mereka membolehkan anak-anak mengakses situs dan games yang mengandung pornografi?
Media, cek lagi aneka sinetron dan produk-produk hiburan lainnya yang banyak sekali yang tidak mendidik!  

Dan pihak-pihak lainnya, terutama kementerian terkait.

Semoga Allah Swt melindungi anak-anak kita semua.


Senin, 18 April 2016

Jangan Asal Resign! - Persiapan Bekerja dari Rumah

Tak sedikit ibu bekerja yang kerap diliputi rasa gundah. Di satu sisi, merasa masih perlu memberi kontribusi bagi keuangan keluarga, namun di sisi lain, khawatir dengan perkembangan buah hatinya karena merasa sedikit waktu di rumah. Apalagi jika anak dalam kondisi sakit, pada usia yang membutuhkan banyak perhatian dari orangtua, khususnya ibu. Kepusingan bertambah ketika  ART atau pengasuh harus pulang kampung.

Pernah berada di dalam posisi itu?

Saat kondisi itu terjadi, mungkin para ibu bekerja berpikir, gimana ya tetap bisa berkontribusi untuk keuangan keluarga tapi masih memiliki waktu lebih banyak untuk anak-anak?

Mungkin nggak sih? Bagaimana memulainya?

Buku “Jangan Asal Resign (untuk Ibu Bekerja)” diharapkan bisa memberi jawaban atas kegundahan tersebut. Buku ini memaparkan perencanaan yang perlu dilakukan seorang ibu untuk bekerja dari rumah; baik sebagai self-employed maupun business owner, karena keduanya memerlukan perencanaan yang berbeda. Begitu juga tantangan yang akan dihadapi dan solusinya. 


Diperkaya dengan wawancara dengan business coach Lyra Puspa dan Valentino Dinsi juga beberapa narasumber ibu yang sebelumnya bekerja kantoran lalu resign, kemudian sukses menjadi freelancer atau membuka usaha. 



Tertarik untuk membacanya? Buku terbitan Grasindo ini bisa dibeli di toko buku Gramedia di sleuruh Indonesia dan beberapa toko buku online. 

Terima kasih. Selamat membaca :)

Kamis, 07 April 2016

LGBT Ditinjau dari Aspek Neuropsikologi

(Ditulis berdasarkan paparan pemateri Dr. Ihsan Gumilar, pada ToT “Selamatkan Generasi Emas Indonesia”, 30 Maret 2016 di Kampus UNJ, kerjasama Rumah Parenting Yayasan Kita dan Buah Hati dan Pusat Studi Wanita UNJ)

Menurut ilmu neuroplasticity, otak dapat terus berkembang, fungsi dan struktur dapat berubah sesuai dengan perilaku dan pengalaman yang pemiliknya lakukan. Susunan saraf akan mengenali apa kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pemiliknya. Bahkan dapat otak dapat merespon dan menyiapkan sesuatu yang dipikirkan atau diniatkan oleh pemiliknya.  

Ketika ada seorang laki-laki yang berprilaku seperti seorang perempuan dan didukung oleh lingkungan sekitarnya, otak akan menangkap sinyal tersebut. Konsep dirinya pun dapat berubah dan bukan tidak mungkin lambat laun ia akan merasa bahwa dirinya adalah perempuan. Terlebih jika ia banyak bergaul dengan pelaku homoseksual dan transgender.

Faktor-faktor  yang membentuk seseorang menjadi homoseksual memang ada yang disadari dan tidak. Bisa jadi karena pola pengasuhan yang kurang tepat atau pernah menjadi korban dari kejahatan seksual.

Catatan Penulis:

Dari paparan di atas, penting bagi orangtua untuk memerhatikan anak-anaknya. Mengenalkan anak akan jenis kelaminnya dan aktivitas-aktivitas penunjang. Saya teringat dengan seorang anak laki-laki (saat itu usianya masih SD). Ia senang bermain masak-masakan dengan teman-teman perempuan.

Oleh teman-temannya yang laki-laki, ia kerap dipanggil bencong.
“Ih, bencong! Mainannya masak-masakan!”

Meskipun saya bukan ibunya, namun ada kekhawatiran jika ucapan dari teman-temannya dapat mengubah konsep dirinya.
Saat itu saya panggil teman-teman yang mengatainya dan mengajak mereka bicara karena bisa jadi mereka tidak menyadari dampak dari apa yang mereka ucapkan.


Mulai dari diri kita sendiri, ayo kita selamatkan generasi emas Indonesia! 

Rabu, 06 April 2016

Benarkah Perilaku Homoseksual Bukan Sebuah Penyakit Gangguan Mental?

ToT SEMAI #1

(Ditulis berdasarkan paparan Dr. Ihsan Gumilar, pakar neuropsikologi dalam Training of Trainers SEMAI, di kampus UNJ, 30 Maret 2016)

Untuk menentukan apakah gejala-gejala yang dirasakan oleh seseorang dapat dikategorikan sebagai sebuah penyakit gangguan mental, psikolog maupun psikiater umumnya akan mengacu pada buku pegangan yang dinamakan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (APA).

Di dalam DSM-5, perilaku homosesual tidak tercantum di dalam buku tersebut. Namun, melihat perjalanan buku pegangan tersebut, ada hal penting yang perlu dicermati.
Sebagai sebuah buku pegangan, maka setiap perubahan (revisi) yang dilakukan mulai dari DSM-1 hingga DSM-5, sudah sepatutnya melalui penelitian yang memenuhi syarat.

Di dalam DSM-1 dan DSM-2, homoseksual sebenarnya ada di dalam kategori penyakit gangguan mental. Namun saat itu, sekitar tahun 1970-an di Amerika Serikat, gerakan feminisme yang semakin meningkat juga disertai dengan tuntutan dari aktivis LGBT yang meminta persamaan hak. Mereka menginginkan agar ‘homoseksual’ dicabut dari DSM. Akhirnya, dibentuklah sebuah komite untuk menentukan apakah homoseksual termasuk penyakit mental atau bukan.

Tanpa sebuah penelitian, hanya berdasarkan voting, perubahan besar terjadi di dalam DSM-2 cetakan keenam. Agar tidak terlalu menggegerkan, perlahan-lahan, dari mulai DSM-2 hingga sekarang, beberapa perubahan dilakukan terkait dengan penyakit homoseksual:
DSM-2 Revised (1973) : Homoseksual dianggap sebagai sexual orientation disturbance (ada gangguan).
DSM-3 (1980) : Ego-dystonic homosexuality; kalau penderita merasa tidak nyaman baru dapat dikategorikan sebagai penyakit. Ini yang banyak dipakai oleh psikolog.
DSM-3 Revised (1987) : sexual disorder not otherwise specified; dikategorikan sebagai penyakit yang tidak dikenal (unknown disease)
DSM-4 (1994) : kata homoseksual sebagai penyakit gangguan mental dihilangkan dari buku DSM tersebut.


Selain itu, meskipun pelaku homoseksual tidak menunjukkan gejala penyakit mental pada umumnya, seperti tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari, untuk mempertimbangkan apakah itu digolongkan penyakit atau bukan harus melihat di mana kultur penyakit itu berada. Aspek kultur termasuk agama perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, jika di Indonesia semua agama telah melarang homoseksual dan transgender, pelaku LGBT perlu disembuhkan. 

Senin, 16 November 2015

Mengajarkan Anak Mendongeng

Ayah-Bunda, saat ini banyak ya, lomba-lomba yang berkaitan dengan bercerita, baik dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Kedua puteri saya pun ikut. Menurut saya, lomba bercerita atau mendongeng dapat mengasah kemampuan public speaking mereka, lho. Nah, untuk Ayah-Bunda mau mengajarkan putera/i-nya ikut lomba ini, izinkan saya berbagi apa yang biasa saya lakukan kepada mereka. Tentu, saya bukanlah pendongeng profesional, jadi cara-cara ini masih harus banyak dikembangkan lagi.

Melatih artikulasi

Salah satu aspek penting dalam bercerita/mendongeng adalah artikulasi. Untuk mengasahnya, kita dapat membiasakan membacakan cerita untuk anak dengan pengucapan yang benar. Dengan mendengarkan pengucapan yang benar, diharapkan anak juga termotivasi untuk membacanya dengan benar.

Cara berikutnya, berlatih membaca keras. Ketika dulu saya menjadi penyiar radio, kami dibiasakan untuk membaca keras. Berbicara dengan lepas dan mengucapkan huruf-huruf vocal (a,I,u,e,o) dengan mulut terbuka  sehingga huruf-huruf tersebut dapat terdengar dengan sangat jelas.

Dulu, puteri saya cenderung cadel “s”. Ketika ada kata dengan huruf “s”, ia akan mengucapkannya seperti huruf “tsa”. Untuk menguranginya, saya sering memintanya untuk mengucapkan kata-kata yang memiliki banyak huruf “s”, seperti, susu Sasa . Jika ia mengucapkannya masih belum jelas (masih terdengar seperti mengucap “tsa), saya akan memintanya mengulang kata-kata tersebut dengan huruf yang jelas.

Intonasi

Ketika membaca keras, ajarkan anak untuk membaca tanda baca dan menyesuaikan dengan nadanya.

Membedakan Suara

Ketika menceritakan sebuah cerita, akan ada beberapa suara yang perlu dibedakan; narrator dan beberapa tokoh. Nah, untuk suara tokoh, biasakan untuk membedakannya. Kalau tokohnya adalah nenek belajarlah untuk menjadi seorang nenek. Tidak hanya suaranya tapi juga gayanya. Atau, jika tokohnya adalah binatang, coba amati seperti apa sih binatang yang sedang kita perankan. Misal, monyet yang jahil. Selain menyisipkan suara ‘uu .. aa.. uu.. aa’, tingkah laku monyet yang senang garuk-garuk kepala dan ketiak, perhatikan juga mimik wajah. Coba deh lihat di cermin, apakah wajah kita sudah terlihat jahil?   

Alat Peraga

Kak Heru, seorang pendongeng nasional, kasih tips bagaimana memaksimalkan alat peraga untuk bercerita/mendongeng.
“Kalau mau pakai alat peraga, jangan tanggung-tanggung. Buat yang besar dan gunakan secara maksimal. Alat peraga juga jangan sampai merepotkan ketika mendongeng,” katanya ketika menjadi juri lomba mendongeng di Grand Indonesia, Oktober 2015 lalu.
Yang perlu diperhatikan jika kita membuat cerita sendiri, kata Kak Heru, tokoh tidak perlu banyak. Cukup 2-3 tokoh, yang penting dapat dibawakan dengan berbeda dan maksimal.

Dan yang pasti, harus sering-sering berlatih, ya. (apr)

  

Sabtu, 14 November 2015

Dampak Kecanduan Pornografi Pada Anak dan Cara Mencegahnya

(Disarikan dari materi diskusi parenting “Cegah Pornografi, Selamatkan Generasi Emas Indonesia” oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, di Rumah Parenting YKBH, 5 November 2015)

Generasi BLAST (Bored, Lonely, Angry, Stress, Tired) merupakan sasaran bagi kaum perusak. Mereka sangat mudah bersentuhan dengan pornografi, pacaran, narkoba, miras, merokok, masturbasi, LGBT dan seks bebas.

Menurut data dari berita online yang dihimpun oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, selama 2014, setidaknya ada 909 kasus yang berkaitan dengan pornografi, 340 kasus diantaranya adalah kasus perkosaan. Ironisnya, gambaran usia pelaku berada di usia produktif; 11-20 tahun!

Untuk menguatkan data tersebut, pada 2014, YKBH pernah melakukan penelitian dengan responden siswa SD kelas 4-6 sebanyak 2.227 anak. Hasilnya, 92% anak pernah mengakses pornografi baik lewat internet maupun tayangan TV dan games. Mereka melihatnya di rumah sebanyak 52%, sisanya di warnet dan rumah teman.

Apa yang Terjadi Jika Anak Kecanduan Pornografi?

Salah satu bagian dari otak kita bernama Prefrontal Cortex (PFC). Bagian ini berfungsi untuk berkonsentrasi, mengendalikan diri, merencanakan sebagai pusat masa depan. Begitu pentingnya PFC namun ia mudah mengalami kerusakan, salah satunya karena NAPZA dan Narkolema (Narkotika lewat mata).

Memang, pada awal anak mengakses pornografi, timbul perasaan jijik, namun sesudahnya, khususnya bagi anak-anak BLAST, mereka akan tertarik dan timbul perasaan senang. Otak lalu akan menyimpan bahawa kegiatan ini membuat senang dan ketika kita membutuhkan rasa senang, otak akan menyuruh untuk mengonsumsinya lagi.

Bagi anak yang kecanduan pornografi, mudah melakukan kegiatan perilaku seks tidak sehat, seperti masturbasi, oral seks, hubungan sejenis, gonta-ganti pasangan dan memperkosa.

Ketika PFC rusak karena anak kecanduan pornografi, inilah yang terjadi:
  • Menurunnya fungsi otak karena terjadi penyempitan korteks
  • Sulit untuk berkonstrasi, memahami benar dan salah, membuat keputusan, mengendalikan diri untuk menunda kepuasan.   

Apa yang dapat kita lakukan sebagai orangtua?
  1. Perkuat iman kepada Allah Swt.
  2. Tingkatkan komunikasi antara orangtua dan anak. Biarkan anak untuk berpikir, memilih dan beri ruang bagi anak untuk membuat keputusan.
  3. Hidup sehat dengan olahrafa
  4. Gunakan gadget/internet dengan bijak.
Terkait dengan games, orangtua perlu mengenal games yang sering dimainkan anak dan lihatlah keamannya. Di media sosial, ajarkan anak untuk tidak memasang foto pribadi, mencantumkan alamat dan no telpon, menulis status tentang suasana hati yang negatif.




Minggu, 14 Juni 2015

Menerapkan Aturan untuk Anak

Minggu, 7 Juni 2015 lalu, saya diundang menjadi pembicara di acara “Smart Parents, Smart Kids”. Acara yang  digagas oleh Duta Indonesia Pintar--yang merupakan mahasiswa-mahasiswi Universitas Mercu Buana-- ini berlangsung di Mal Cipinang Indah, Jakarta Timur. Pada kesempatan tersebut, saya berbagai tentang prinsip menerapkan aturan untuk anak.

Seiring dengan bertambahnya usia anak, mereka perlu diajarkan mengenai aturan. Hal ini penting sehingga anak memahami bahwa ada kewajiban yang perlu ia lakukan dan tidak semaunya sendiri. Aturan yang diajarkan tentu perlu disesuaikan dengan kemampuan anak; dari hal-hal sepele seperti menjemur handur setiap kali habis mandi, meletakkan kembali barang-barang yang sudah dipakai ke tempat semula, dan sebagainya.

Namun tak jarang, banyak orangtua yang mengeluh karena anak tidak mau menuruti aturan yang sudah diberikan. Nah, bagaimana ya agar anak mau diajak bekerjasama?

Pertama, aturan akan lebih mudah dipatuhi jika antara orangtua dan anak sama-sama menyepakatinya. Agar anak mau menyepakatinya, sebagai orangtua kita perlu menyampaikan apa yang kita inginkan atau harapkan dari anak. Seringkali, aturan sulit dilakukan karena masing-masing memiliki pemikirannya sendiri-sendiri dan tidak diungkapkan. Misal, soal waktu main. Ada orangtua yang membuat jadwal bermain anak karena khawatir anaknya terlalu kelelahan dan jika sudah begitu akan memengaruhi kesehatannya. Sedangkan, bagi anak, bermain sangat menyenangkan. Ia tidak mengetahui kekhawatiran orangtua. Bisa jadi yang ada di pikirannya, kenapa sih Mama punya banyak aturan? Kenapa aku nggak boleh bermain? Sehingga, supaya anak memahami, orangtua perlu menyampaikan.

“Kak, Bunda seneng kalo Kakak main bola sama temen-temen. Kakak boleh main bola. Tapi dokter bilang kan Kakak nggak boleh terlalu capek dulu. Gimana kalau kita sepakatin waktu mainnya?”

Kedua, konsisten dengan aturan yang sudah kita buat. Misal, waktu menonton TV.  Kalau kita sudah menyepakati menonton TV hanya satu jam per hari, jalani. Seringkali kita mudah tergoda dengan rengekan atau tatapan sedih anak. Saat awal aturan dibuat, sangat mungkin terjadi, anak masih belum terbiasa sehingga lupa melakukannya. Itu hal yang wajar. Tugas kita adalah terus menyemangati dan mengingatkan dengan berbagai cara.  

Ketiga, beri solusi. Banyak orangtua menahan agar anaknya tidak jajan, tidak menonton TV namun tidak memberikan solusi. Anak jajan bisa jadi karena ia mudah lapar, sehingga solusinya, siapkan camilan yang cukup di rumah. Anak menonton karena dia merasa tidak ada yang dikerjakannya, solusinya, berikan buku, peralatan yang menunjang hobinya, atau kegiatan lain.  

Keempat, jadi contoh. Mengharapkan anak tidak menonton sinetron tapi kita pun menontonnya saat anak ada di rumah? Saya yakin anak akan mudah menjawab, “Mama sendiri nonton sinetron,” :D

Kelima, satu suara antara Ayah dan Bunda. Jangan sampai, ibu tidak membolehkan, tapi ayah membolehkan. Kata bunda, pokoknya nggak boleh naik motor sampai kamu punya SIM.” Kata ayah, “Boleh naik motor, tapi jangan jauh-jauh, ya.” Anak jadi bingung, boleh apa nggak sih sebetulnya?
Satu suara juga perlu dilakukan oleh pengasuh dan keluarga yang ada di dalam rumah.


Mau tahu lebih banyak tentang komunikasi dalam pengasuhan anak? Tunggu buku solo saya ya :D

Salam hangat, 
Aprilina Prastari

Rabu, 22 April 2015

Mengajak Anak Senang Membaca

Agar Buku Nggak Kalah dengan TV dan HP

Munculnya gadget, maraknya media sosial, banyak berpengaruh pada kebiasaan anak untuk membaca. Seringkali mereka lebih asyik bermain games atau sibuk menjawab komen-komen di Facebook.

Padahal membaca sangat penting untuk menambah pengetahuan, membantu memperbanyak kosa kata, memudahkan mereka berkomunikasi.

Mendidik memang bukan pekerjaan yang instan. Sejak mereka bayi sebaiknya sudah ditanamkan hal-hal baik sehingga ketika besar, mereka terbiasa melakukannya.

Untuk membiasakan anak membaca, bisa dimulai sejak mereka berusia satu tahun. Awali dengan membacakannya buku cerita. Sesuaikan jenis buku dengan usianya. Tentu anak seusia itu lebih senang dengan buku yang bergambar (dan berwarna) banyak.

Agar lebih menarik, ceritakan seperti seorang pendongeng bercerita dengan membedakan suara tiap tokoh dan nada bicaranya.

Jadikan membeli buku sebagai salah satu kegiatan jalan-jalan. Tidak harus membeli buku baru, hunting buku-buku cerita bekas yang masih bagus juga menyenangkan, lho.

Jika masih membolehkan anak untuk menonton TV/DVD, batasi waktunya. Berlaku juga untuk bermain games/berkegiatan dengan alat-alat elektronik. Misalkan, menonton dan bermain games hanya boleh selama satu jam (sesuaikan dengan usianya). Di luar waktu itu, anak harus melakukan kegiatan lain, salah satunya membaca.  

Buat kegiatan seru lain yang berkaitan dengan buku. Bisa dilakukan ketika anak sudah masuk usia sekolah. Misal, tebak isi buku berhadiah.


In syaa Allah kalau dari kecil dibiasakan senang buku, akan mudah mengajaknya senang membaca.   

Kamis, 02 April 2015

Copywriting Online Course


Siapa yang perlu ikut:
  • Blogger yang mau belajar menulis product review
  • Humas di Kementerian atau perusahaan swasta
  • Staf promosi
  • Pemilik usaha 


Pendaftaran (termasuk pembayaran) ditutup hingga 9 April 2015. Peserta terbatas. Daftar sekarang, ya.