Jumat, 01 November 2013

Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya


           Jadi seseorang yang beranjak dewasa, memang banyak godaannya, ya. Mau nggak pacaran, tapi diolok teman-teman. Mau pacaran, duh, kok si dia maunya ‘macam-macam’ ya. Nyeremin, deh.
            Hmm, gimana kalau nikah di usia muda? Kamu bisa punya pasangan yang halal sekaligus berkarya. Tapiii, muda nggak asal muda. Untuk jadi pasangan menikah muda yang nantinya tetap berkarya, ada syarat-syaratnya. Kamu juga harus menyiapkan diri baik-baik agar pernikahanmu tetap sehat hingga tua.
         Mau tahu seperti apa menikah muda yang sehat; yang tidak memberatkan orang tua, yang tidak menghalangi kamu meraih cita-cita, yang membuat kamu jadi suami atau istri yang keren dan orang tua muda yang siap?
            Resepnya ada di buku "Nikah Muda Nggak Bikin Mati Gaya"! Kamu akan diajak melihat kondisi seperti apa yang dikayakan layak untuk menikah, apa saja tantangan dan solusinya, komitmen apa yang perlu disepakati dengan pasangan, bagaimana merencanakan anak, keuangan, pendidikan dan karier.
           Buku ini juga akan mengurai tantangan-tantangan yang akan kamu hadapi di lima tahun pertama pernikahan, tetap berkarya meski sudah menikah, bekerjasama mengasuh anak-anak dan mengatur keuangan keluarga. Kamu juga bisa belajar dari kegagalan dan keberhasilan para orang tua yang menikah muda.

              Selamat membaca!

Salam
Aprilina Prastari dan Miyosi Ariefiansyah

Yang mau ke Gramedia, ini cover bukunya yaaa. Kalau lihat di rak, langsung beli ya :D


Rabu, 09 Oktober 2013

Ubi Ungu Dibuat Minuman? Bisa Kok!

Hari keempat, Rabu, 9 Oktober 2013, Konferensi Anak Indonesia 2013.

Di hari keempat Konfa 2013, para delegasi mengunjungi  Lab M-Brio dan melakukan eksperimen di laboratorium makanan. Setelah itu, mereka akan merumuskan poin-poin deklarasi konferensi, hasil pengamatan dan diskusi selama beberapa hari mengikuti pembekalan. Sementara kami, para pendamping, mengunjungi Rumah Sehat Intiyana di Terogong, Jakarta Selatan.

Di Rumah Sehat Intiyana, kita bisa memesan masakan rumah yang bahan-bahannya dipetik dari kebun sendiri dan dimasak tanpa menggunakan MSG atau bahan-bahan pengawet. Selain itu, ada tempat pijat dan refleksi.

Sambil menikmati jus, Mbak Ayu, pemilik Rumah Sehat Intiyana, kemudian berbagi pengetahun kepada kami salah satu resep minuman sehat yang terbuat dari ubi ungu. Kalau biasanya kita mengolah ubi ungu sebagai bahan makanan (kue, puding, atau sekadar dikukus), sekarang dikreasikan sebagai minuman bubble.

Cara membuatnya mudah. Sekitar 100 gram ubi ungu kukus dilumatkan, setelah halus, campur dengan sekitar 4 sendok tepung kanji. Uleni hingga kalis. Setelah itu, ambil sedikit adonan, pulung, ambil kurang lebih 1 cm lalu bulatkan sehingga membentuk bulatan sangat kecil (seperti bubble yang ada di minuman bubble tea). Sesudah itu, masukkan ke dalam air mendidih dan rebus hingga matang.

Nah, bubble ini bisa menjadi campuran minuman. Bisa dengan jus, atau seperti yang dicontohkan Mbak Ayu kemarin, dibuat menjadi strawberry pearl tea.

Selamat mencoba J

Yuk, Belajar Kyaraben

Hari kedua, 8 Oktober 2013, Konferensi Anak Indonesia 2013.

Hari ini, para delegasi akan bermain sambil belajar di Pasir Mukti, Bogor. Mereka akan belajar membajak sawah, menangkap ikan, menanam padi, meracik makanan dan melakukan kegiatan seru lainnya.  Sementara saya dan pendamping lainnya menuju ke Gedung Kompas Gramedia, tepatnya ke Tabloid Nova, untuk ... belajar kyaraben!Kyaraben berarti seni menghias bento (nasi dalam kotak). Seni ini berasal dari Jepang dan mulai booming di Jakarta, sekitar tujuh tahun lalu.

Sebelum belajar menghias, mentor kami yang cantik, Mbak Pristi, mengajarkan kami memasak tamago atau telur dadar gulung Jepang.  Ternyata, untuk membuat telur dadar yang padat, tidak berlubang dan halus ada caranya, lho. Selain pan berbentuk kotak, jangan banyak menggunakan minyak.

Mbak Pristi mencontohkan, setelah pan diolesi minyak (kalau Mbak Pristi menggunakan minyak semprot) lap kembali pan dengan tisu makan. Lho, kok dilap? Nanti minyaknya hilang, dong. Jangan kuatir! Menurut Mbak Pristi pan anti lengket bisa menyimpan minyak sehingga nantinya telur tidak berminyak, padat, dan bertekstur lembut.

Cara menggulungnya juga unik. Setelah kurang lebih memasukkan dua sampai tiga centong telur yang sudah dikocok, gulung perlahan dengan sodet khusus pan anti lengket yang kecil. Setelah jadi satu gulungan, biarkan di atas pan. Lalu tambahkan lagi adonan berikutnya. Kalau sudah bisa digulung, gabungkan dengan gulungan sebelumnya. Begitu seterusnya sampai adonan habis.

Kalau tamago mau ditambahkan bahan makanan lain, seperti kornet, sosis, abon, bisa saja. Kalau berbentuk kering, taburkan setelah telur hampir matang. Tapi kalau berbentuk cair (misalnya mau diberikan pewarna makanan), campurkan ke telur yang sudah dikocok.

Nah, setelah tamago jadi, kami pun belajar kyaraben. Saya kebagian menghias nasi supaya berbentuk ayam. Caranya, dengan menggunakan plastik wrap, nasi dikepal-kepal sampai padat dan bulat, lalu gepengkan. Masukkan ke kotak makan yang memiliki tiga sekat (contohnya, seperti yang dimiliki Tupperware). Jangan lupa untuk mengalasinya dengan daun selada. 

Menurut Mbak Pristi, untuk menghias nasi kotak, bahan-bahan yang wajib ada adalah daun selada, wortel, brocoli atau buncis, supaya warnanya cantik. Untuk mata, bisa menggunakan nori. Paruhnya, bisa menggunakan wortel. Jambulnya bisa dikasih potongan sosis goreng. Selebihnya, bisa dikreasikan sendiri. Untuk merekatkan, bisa menggunakan spageti kering. Jangan takut menggunakannya karena nanti akan lunak sendiri.


Peralatan yang digunakan untuk kyaraben sebetulnya tidak banyak. Cuma puncher (untuk membentuk nori) dan cetakan pelastik untuk membentuk sayur yang sudah dikukus (misalnya wortel yang mau dibentuk bunga). Namun, untuk menghasilkan kreasi yang banyak, ibu harus berani mencoba dan berimajinasi J

Selasa, 08 Oktober 2013

Anak Pendek, Mungkin Kekurangan Gizi


Banyak orang tua mengira kalau anak pendek dikarenakan faktor genetik. Sebenarnya, tidak demikian. Memang, faktor genetik juga memengaruhi namun porsinya tidak banyak. Yang paling memengaruhi tinggi badan anak adalah kecukupan gizinya. Jika gizinya baik, meski orang tuanya pendek, anak juga bisa tinggi. Hal tersebut disampaikan DR. Dr. Yustina Arie, M.Sc, SpGK, saat berdiskusi dengan para pendamping delegasi Konferensi Anak Indonesia 2013, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta (7/10).

Untuk anak usia 10-12 tahun, berat yang ideal sekitar 37 Kg dengan tinggi sekitar 145 Cm, membutuhkan energi sekitar 2050 Kal. Semakin bertambah usia, tinggi dan beratnya pun semakin bertambah. Untuk laki-laki pertumbuhan badan akan berhenti di usia 21 tahun dan untuk perempuan akan berhenti di usia 18 tahun. Oleh sebab itu, untuk mendukung pertumbuhan anak agar optimal, Yustina mengharuskan orang tua agar peduli pada gizi anak, terlebih di seribu hari kehidupannya.

“Kalau ada anak yang tidak suka sayur dan buah, kemungkinan besar, saat usia di atas enam bulan, orang tua tidak mengenalkan sayur dan buah di MP-ASInya,” jelasnya.



BPOM: 44% Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) Tidak Memenuhi Syarat

Pada 2010, BPOM melakukan survey terhadap beberapa sekolah di Jabodetabek. Hasilnya,sekitar 44% pangan jajanan anak sekolah (PJAS) yang sebagian besar terdapat di kantin sekolah tidak memenuhi syarat. Hal tersebut disampaikan A.A. Nyoman Mertanegara, Kasubdit Promosi Kemanan Pangan, BPOM, saat membuka Konferensi Anak Indonesia 2013, di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta (7/10).

Padahal, kantin sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk membeli makanan. Terlebih menurut survey tersebut, 48% anak-anak mengaku sering atau selalu jajan di sekolah. Hanya 51% yang menjawab kadang-kadang dan 1% mengaku tidak pernah jajan.

Untuk itu, Nyoman meminta pihak sekolah untuk memerhatikan makanan yang dijual, tidak hanya di kantin namun di sekitar sekolah. Ia menjelaskan, beberapa masalah pangan yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan guru, adalah pe ggunaan pewarna tekstil pada jajanan tersebut.

“Kalau makanan berwarna terlalu terang, ini bisa jadi menggunakan pewarna tekstil. Jangan dimakan,” jelasnya.

Selain pewarna tekstil, anak-anak juga perlu mewaspadai benda-benda asing yang ada di makanan, misalnya, staples dan rambut. Jika menemukan rambut di dalam makanan, tidak hanya rambutnya saja yang perlu dibuang, tapi seluruh makanan tersebut juga harus dibuang.

Sekolah Harus Peduli

Dalam sesi diskusi dengan pendamping delegasi Konfa 2013, Nyoman juga meminta pihak sekolah untuk lebih tegas pada pedagang yang menjual makanan di sekitar lingkungan sekolah.
“Kepala sekolah bisa meminta bantuan dari dinas kesehatan untuk mendata pedagang-pedagang yang berjualan di luar sekolah,” katanya.  

Tips Makan Sehat dari BPOM:
Untuk makanan dalam kemasan:
  • Cek label di kemasan. Beli produk yang sudah mendaftar di BPOM. Untuk makanan dalam negeri, dengan kode MD, sedangkan untuk makanan luar negeri dengan kode ML diikuti 12 nomor di belakangnya.
  • Cek tanggal kadaluarsa
Untuk makanan yang dimasak:
  • Lihat warna dan fisiknya
  • Untuk masakan yang mengandung DUIT (daging, unggas, dan telur), jika sudah dimasak lebih dari dua jam, harus dihangatkan lagi.
  • Untuk sayur, masak jika ingin dikonsumsi.

Jika ada yang ingin menyampaikan saran, keluhan dan pertanyaan, dapat mengirimkan email ke:

bpom_jakarta@pom.go.id (Khusus BPOM Jakarta)

Senin, 07 Oktober 2013

Konfa 2013: Makanan Sehat Untukku

Hari Pertama. Konferensi Anak Indonesia 2013. 6 Oktober 2013.

Selamat datang di Konferensi Anak Indonesia 2013!!

Alhamdulillah, dari sekitar 2560 tulisan yang masuk ke redaksi Majalah Bobo, tulisan puteriku, Wafa Auliya Insan Gaib, lolos seleksi. Artinya, Wafa berhak untuk mengikuti Konferensi Anak Indonesia 2013. Yeaay! (Selengkapnya tentang Konferensi Anak Indonesia 2013, bisa dibca di http://bobo.kidnesia.com/Bobo/Info-Bobo/Pembukaan-Konferensi-Anak-2013)

Sesuai dengan tema Konfa 2013, tentang Makanan Sehat Untukku, Wafa dan 35 delegasi lainnya diminta untuk membawa makanan daerah masing-masing. Berhubung Wafa mewakili Bekasi, Jawa Barat, maka ia membawa Pecak Bandeng dan Kue Kembang Goyang.

Minggu pagi, sebelum berangkat, Wafa dan Eyang sibuk membuat Pecak Bandeng (Tuh, kan jadi ketahuan kalau bukan saya yang memasak Pecak Bandengnya hehehe). Setelah semua rapi, kami berangkat ke tempat Wafa dan seluruh delegasi menginap selama Konfa 2013.

Setibanya di sana, sebagian delegasi sudah hadir. Ada yang dari Papua, Banjarnegara, Solo, dan teman-teman dari Jabodetabek. Sebagian lagi, masih dijemput dari bandara.  Makanan daerah yang mereka bawa, buanyak banget, lho. Apalagi delegasi dari Toraja.

“Saya sengaja diminta Pak Bupati untuk membawa banyak makanan daerah supaya orang Jakarta tahu makanan khas kami,” kata pendamping dari Toraja.

Wah, rupanya, delegasi dari daerah, didukung penuh oleh para bupatinya, lho. Bahkan delegasi dari Bojonegoro, mendapat beasiswa dari bupati karena berhasil mengikuti Konfa 2013!

Para delegasi yang sudah datang lalu diminta berfoto dengan makanan khas dari daerah mereka dan mempersiapkan diri untuk mengikuti latihan untuk acara pembukaan besok. Sementara saya dan para pendamping lainnya, berangkat menuju Hotel Amaris. Ya, meskipun kami pendamping, tapi para delegasi tidak boleh ditemani.

“Supaya anak belajar mandiri,” begitu kata kakak panitia.

Oke deh, selamat berkonferensi, anak-anak Indonesia.

Minggu, 15 September 2013

Tetap Berjuang Hingga Detik Deadline Terakhir

                 Biasanya saya selalu mencatat semua jadwal di kalender; deadline naskah, pekerjaan, meeting,  termasuk jadwal kegiatan anak-anak; ulangan, kegiatan khusus di sekolah, dan khusus Wafa, deadline tulisan untu lomba atau naskah yang harus dikirim ke penerbit. 
                Tapi, entah kenapa, saya lupa mencatat di kalender hari terakhir pengumpulan naskah yang akan diseleksi untuk mengikuti Konferensi Anak Indonesia 2013. Di hari terakhir pengumpulan naskah, Wafa tiba-tiba mengingatkan saya!
                “Nun, sekarang kan hari terakhir ngirimin naskah untuk konferensi anak?”
           saya lalu mengecek pengumuman yang kurang lebih sebulan lalu kami gunting dari harian Kompas.
                “Wah, iya, Kak. Maaf ya, Unun lupa kasih tanggal di kalender,”
                “Aku udah buat kok tulisannya,” Wafa langsung mengambil laptopnya.
                Ok, mumpung masih pagi, tulisan bisa segera diprint, ke sekolah minta tanda tangan dan cap sekolah …
                Sekolah …
                Aduh, anak-anak kan sudah libur sekolah. Jangan-jangan sekolah juga sudah libur! Saya mulai nggak tega melihat Wafa yang mulai mencari file naskah. Namun, mengingat ini hari pertama anak-anak libur, kemungkinan sekolah belum libur.
                Saya baru saja ingin menghubungi sekolah, ketika Wafa memanggil saya dengan suara agak panik.
                “Nuuun, file-nya kok nggak ada?”
                “Kakak simpen di folder apa waktu itu?”
                “Di folder yang buat lomba,”
                “Coba dicari lagi lebih teliti.”
Kami mencari lagi di setiap folder tapi nihil.
“Nggak ada, Nun. Jangan-jangan lupa aku simpen,“ Wafa mulai sedih.
Pheew. 
“Kalau Kakak ikhlasin aja, gimana?” usul saya mengingat hari itu hari terakhir pengumpulan naskah. Kalaupun file-nya ada dan sekolah belum libur, naskah itu harus diantar sendiri ke Majalah Bobo, sementara hari itu hari kerja…
“Aku bisa ketik ulang, kok. Aku masih inget apa yang aku tulis,” kata Wafa memelas.
“Ayah bisa anter?”
“Yaa, demi anak…” kata suami saya, sok cool. Ih!
“Ok, kalau sekolah belum libur, Kakak masih bisa ikut. Tapi kalau udah libur, Kakak ikhlasin aja, ya. “
Saya lalu menghubungi Wakasek. Dan, …
“Kak, sekolah belum libur. Kakak fokus selesain tulisannya, ya. Sejam bisa?”
“Bisa!” kata Wafa yakin.
“Kakak udah ketularan virus Be BOP Unun,” kata suami saya.
Alhamdulillah, hari itu, naskah dan berkas yang diperlukan berhasil sampai di Majalah Bobo dengan selamat. Dan ketika minggu lalu Majalah Bobo menghubungi dan mengabari kalau Wafa terpilih sebagai delegasi untuk mengikuti Konferensi Anak Indonesia, saya cuma bisa bilang, Alhamdulillah. Tetap semangat hingga detik deadline terakhir. Kalau bukan Wafa yang yakin dan ngotot mau ikut, kalau suami tidak bisa mengantar, kalau sekolah tidak mendukung, Wafa tidak mungkin bisa ikut.

Be BOP: Believe. Optimist. Positive. J
 

Kamis, 22 Agustus 2013

Bingung di 5 Halaman Pertama? Check Your Outline


                Sebagai penulis non fiksi, saya selalu membuat outline terlebih dulu, sebelum memulai menulis. Outline itu adalah rancangan yang akan membantu kita untuk menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat dan akhirnya bab demi bab.
                Di dalam outline tersebut, biasanya saya awali dengan memberikan deskripsi seperti apa sih calon buku saya itu.; siapa pembacanya, bagaimana cara saya berbicara dengan pembaca melalui tulisan, dan sebagainya.
                Melalui outline saya juga memberi gambaran apa yang akan saya ceritakan dalam setiap bab, siapa nara sumber yang akan saya wawancarai, buku apa yang akan menjadi referensi, dan sebagainya.
                Semakin kuat sebuah outline, semakin mudah kita mengembangkan calon naskah kita. Jika saat kita mulai ingin menulis naskah dan kita mengalami kesulitan di lima halaman pertama, cobalah mengecek kembali outline yang sudah kita buat:
  1. Apakah kita sudah memberi gambaran seperti apa naskah tersebut?
  2. Sudahkah jelas, siapa pembaca kita? Psikografi, demografinya? Jika pembaca yang ingin kita tuju jelas, ini akan berpengaruh dengan bagaimana cara kita menyampaikannya; apakah santai? Serius? Atau, terkait dengan panggilan kepada pembaca.
  3. Bagaimana memulai bab-nya? Dengan menggunakan ilustrasi, pengalaman orang lain, kasus, atau cara lain?
  4. Rincian bab per bab. Apa yang akan dibahas di bab 1, bab 2, dan selanjutnya.


Nah, kalau outline sudah detil, kuat, Insya Allah kita bisa lancar menulis J

Selasa, 23 Juli 2013

Tipe Parenting Apakah yang Kita Terapkan?

Selamat Hari Anak Nasional!

Semoga anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang berkarakter baik, sukses dunia akhirat. Aamiin.

Bicara soal karakter anak, saya percaya hal tersebut sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tuanya—bagaimana orang tua mendidik dan berkomunikasi dengan anak-anaknya. Apa yang dialami anak ketika dewasa, tentu ditentukan oleh bagaimana masa lalunya.

Awal juli lalu saya berkesempatan mengikutkan puteri saya, Taman Hati, untuk ikut tes STIFIn (lebih jelas tentang STIFIn, silakan ditanya ke Eyang Google, ya, hehehe). Tak hanya Taman Hati, saya juga mengikuti mini training yang disampaikan oleh Mas Andhika Harya, trainer dari STIFIn,  dan Mas Reza Adrianto.

Dari sekian banyak materi yang sangat menarik  yang dipresentasikan pada hari itu, saya ingin berbagi tentang  tipe-tipe pola asuh orang tua.

Tipe pertama, adalah tipe orang tua cuek. Orang tua tipe ini, biasanya memiliki responsivitas rendah. Ia tidak begitu memerhatikan kondisi anak, sedang apa anaknya, siapa teman mainnya, bagaimana kondisi anaknya, dan sebagainya. Boleh dibilang, ia tidak memedulikan anak-anaknya. Mereka mau apa saja, terserah. Komunikasi dengan anak pun jarang. Di sisi lain, ia juga tidak menuntut banyak dari anaknya.  Mau dapat nilai bagus syukur, tidak pun ya biar saja. Tipe orang tua seperti ini bisa menjadi bom waktu. Saat mereka kecil, bisa saja belum timbul masalah. Tapi setelah mereka dewasa, anak akan menjauh dari orang tuanya.

Tipe kedua, permisif alias sering membolehkan. Boleh dibilang, tipe ini memiliki responsivitas tinggi.  Anak selalu dilayani, dipenuhi kebutuhannya. Tetapi di sisi lain, tuntutan orang tua terhadap anak rendah. Hal ini mengakibatkan anak menjadi manja.

Tipe ketiga, otoriter. Kebalikan dari permisif, orang tua tipe ini memberi tuntutan terlalu tinggi pada anak, namun tidak melakukan komunikasi dua arah. Kecenderungannya untuk anak perempuan, menjadi tergantung pada orang tua, dan untuk anak laki-laki cenderung menjadi agresif.

Sedangkan yang terakhir, adalah tipe autoritatif. Orang tua tipe ini memiliki responsivitas tinggi namun tuntutan terhadap anak juga tinggi. Mereka menerima dan melibatkan anak-anak, dan tentu melakukan komunikasi dua arah. Meski mendapat tuntutan namun anak melakukannya dengan nyaman dan penuh semangat.

Nah, bagaimana dengan kita? Masuk ke tipe parenting manakah?

Jika kita termasuk tipe autoritatif, SELAMAT! Besar kemungkinan, ketika dewasa, anak memiliki motivasi untuk maju.

Alhamdulillah, setelah mengisi daftar pertanyaan, kami termasuk orang tua autoritatif. Tentu kami harus terus belajar dan memahami kesalaham-kesalahan yang selama ini kami lakukan.

Semoga, kita bisa menjadi orang tua yang menjadi kesayangan anak-anak kita...

(Seputar pola asuh, juga dapat dibaca di buku Pengantar Psikologi, karya Atkinson (1987). 

Rabu, 17 Juli 2013

Travelling, Cara Menyenangkan Ajarkan Anak Cinta Alam


Ada banyak cara yang kami lakukan untuk mengajarkan anak mencintai kebersihan. Salah satunya, tidak membuang sampah sembarangan. Apalagi, saya termasuk orang yang paling gemas kalau melihat orang membuang sampah seenaknya. Lempar bungkusan pelastik dari dalam mobil, buang kemasan minum di selokan sudah sangat sering saya lakukan. Dan, seringkali, saya tegur. Kalau dengan anak-anak, menegur dengan manis, kalau dengan orang dewasa, menegur dengan sadis. Qiqiqi ...  :P :D (ok, back on track)

Nah, hal yang saya lakukan untuk mengajarkan ini adalah mencontohkan ke anak-anak untuk membuang sampah ke tempatnya. Jika di suatu tempat saya tidak menemukan tempat sampah, saya akan membawa sampah tersebut sampai saya menemukan tempat sampah. Sederhana, ya. Tapi butuh proses sampai anak-anak benar-benar terbiasa membuang sampah di tempatnya.  

Suatu kali, puteri saya Wafa pernah melihat saya membawa sampah.
Dia bertanya, “kenapa sampahnya Bunda bawa?”
Saya jawab, “karena nggak ada tempat sampah. Nanti kalau ada tempat sampah, baru Bunda buang.”

Rupanya, ucapan saya itu membekas di benaknya. Beberapa kali saya melihat Wafa membuang sampah di tempatnya, atau membawanya jika ia tidak menemukan tempat sampah.

Cara lain yang menyenangkan untuk mengajarkan anak cinta lingkungan, khususnya kebersihan, adalah mengajaknya travelling.  Seperti yang kami lakukan akhir Juni 2013 lalu, kami mengajak anak-anak berlibur ke Pulau Tidung.

Dua hari sebelum berangkat, Wafa dan Taman Hati, semangat searching di internet tentang Pulau Tidung. Melihat foto-foto laut di sekitar pulau, mereka takjub dan begitu antusias. Maklum, ini kali pertama kami jalan-jalan ke sana. Dari foto-fotonya, memang kelihatan lautnya sangat indah!

Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dari Muara Angke, kami sampai di Pulau Tidung. Anak-anak sudah tak sabar ingin snorkeling dan main di pantai. Siang itu juga, setelah meletakkan tas, kami berangkat dengan perahu kecil untuk snorkeling.  

Subhanallah. Airnya bening, ikan-ikan cantik berenang mengerubuti kami, dan karang-karang, bisa kami nikmati dengan jelas. Setelah setengah puas snorkeling, kami main ke Pulau Payung. Pulau ini sepi tapi berpenghuni. Sayang, di tepi pantai, banyak sampah. Kembali ke Pulau Tidung, waktu kami main-main di dekat Jembatan Cinta, sampah juga bertebaran di mana-mana! Apalagi di Pulau Tidung Kecil. Dari mulai bungkus mie instant, botol minuman, sampai yang parah, popok sekali pakai juga dengan manis teronggok di tepi pantai.

Saya katakan ke anak-anak, “sekarang lautnya masih cukup bersih. Tapi kalau sampahnya dibiarkan terus, lama-lama airnya juga jadi kotor.”
Esok paginya, kami pun bersama-sama mengumpulkan sampah di tepi pantai dan membuangnya ke tempat sampah.   


Mungkin hanya inilah yang dapat kami lakukan untuk mengajarkan anak-anak kami mencintai kebersihan, tapi kalau setiap orang tua mengajarkan anaknya membuang sampah di tempatnya, insya Allah, Indonesia akan selamanya bersih dan indah. 

*Foto-foto menyusul, ya :D