Sabtu, 23 Juli 2016

Ini Tantangan Anak Masuk Pesantren

Sejak kelas V SD puteri pertama kami mulai menunjukkan keinginannya untuk melanjutkan ke pesantren/boarding school. Dengan anak hanya dua, sebetulnya berat bagi kami, terutama saya untuk melepas Wafa ke pesantren. Begitu banyak kekhawatiran yang saya pikirkan. Bagaimana kalau dia sakit, ada pelajaran yang tidak dimengerti, dan sebagainya. Kami pun berkali-kali mengajak Wafa ngobrol. Kami ingin tahu apa yang menyebabkan ia ingin masuk pesantren, bukan sekadar ikut teman. Kami juga paparkan seperti apa kehidupan di asrama nanti.

“Kak, nanti di asrama Kakak nggak bisa request sarapan kaya di rumah. Semua harus dikerjain sendiri. Bangunnya rata-rata jam 3 pagi.”
“Iya, Nun. Nggak apa-apa…”
“Kalo Kakak sakit? Unun khawatir, Kak”
“In syaa Allah aku sehat, Nun”
“Kalo alasan Kakak karena mau hapal Qur’an, kan bisa lanjut LTQ (Lembaga Tahfidz Qur’an dekat rumah) …”
“Nanti banyak godaannya, Nun. Lagian aku mau tambah pengalaman. Kayanya seru tinggal di asrama.”
“Trus nanti nulisnya gimana? Belum tentu pesantren yang Kakak masukin  kasih izin bawa laptop?”
“Emang nggak boleh ya, Nun?”
“Ya tergantung pesantrennya. Kalo nggak boleh?”
“Ya aku nulisnya pas liburan atau tulis tangan di buku,”

Itulah sekilas obrolan saya dengannya saat itu. Semua pahit-pahitnya masuk asrama sudah saya sampaikan dan Wafa sampai saat itu masih tetap pada pendiriannya.

Melihat keinginannya yang kuat, saya terus membiasakannya mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci, menyetrika, dan yang berkaitan dengan dirinya sebagai perempuan, terutama persiapan kalau nanti dia menstruasi.

Kami pun mulai survey ke beberapa pesantren/boarding school yang masih bisa ditempuh bolak balik dalam satu kali perjalanan; As Syifa Boarding School di Subang, Al Kahfi di Sukabumi, Nurul Fikri Anyer, Ibnu Abbas, Yapidh di Jatiasih, dan beberapa sekolah lain. Kami ikutsertakan Wafa setiap kali survey supaya dia lihat sendiri calon sekolahnya.
Alhamdulillah, Wafa diterima di BS pilihannya. Tentu ada beberapa pertimbangan yang kami lihat memasukkan Wafa ke sana. (In syaa Allah nanti saya tulis di tulisan terpisah, ya).


Awal Masuk Asrama

Meskipun kami sudah mengajarkan Wafa banyak hal namun tentu kehidupan di rumah tak sama dengan di asrama. Di rumah, kami memang masih kesulitan membiasakan Wafa bangun jam 3. Sementara di asrama, dia sudah harus bangun, mandi, sholat, persiapan tahfidz sebelum Subuh. Tak jarang Wafa tertidur di kelas. Alhamdulillah, para guru tidak marah dan memahami betul bahwa anak-anak masih dalam masa adaptasi.

Seminggu sekali kami masih menjenguk Wafa, lalu berkurang menjadi dua minggu sekali. Dua bulan pertama semua berjalan cukup baik. Komunikasi via telpon sesuai jadwal seminggu sekali juga kami lakukan. Begitu juga komunikasi dengan Bunda asrama. Alhamdulillah, waktu kelas 7, Wafa dapat bunda asrama yang baik sekali, saya pun tenang.

Tantangan kami hadapi ketika masa ulangan harian dimulai. Terlebih ketika matpel Fisika harus remedial. Wafa begitu khawatir. Wafa juga masih harus membiasakan diri untuk menghapal beberapa baris Qur’an setiap harinya. Ia belum terbiasa.

“Nun, aku bisa nggak ya … Aku khawatir … “

Sore itu, saat kami datang menjenguk, Wafa menumpahkan semua kekhawatirannya.

Saya berusaha untuk tidak ikut menangis. Meski dalam hati pun saya khawatir dan tidak tega melihat dia begitu sedih.

Meskipun dari sejak SD Wafa paham bahwa kami tidak pernah marah kalau Wafa dapat nilai kurang baik terutama untuk matpel yang banyak hitung-hitungan karena dari dulu ia memang lebih kuat di matpel bahasa, seni dan sosial. Apalagi untuk pelajaran yang tergolong baru seperti Fisika dan cukup banyak siswa yang remedial.

Cukup panjang kami mengobrol. Yang jelas, kami meminta Wafa untuk membuang segala kekhawatiran dan berpikir positif.

“Kakak mau pulang?” tanya saya.
Wafa menggeleng.
“Aku seneng di sini, Nun,”
“Kalo gitu kita lihat satu semester ini ya. Tapi Unun yakin Kakak bisa sepanjang Kakak yakin dan mau berusaha.”

Alhamdulillah, dalam satu semester, nilai-nilai akademiknya memuaskan dan mulai terbiasa dengan kehidupan asrama. Bahkan ia mulai aktif organisasi BEM (Badan Eksekutif Murid seperti OSIS) dan mulai mewakili sekolahnya untuk ikut lomba storytelling.

Kalau awal-awal masuk sekolah, Wafa yang meminta kami untuk sering jenguk, sejak dia ikut organisasi kami yang menyesuaikan jadwalnya.  Bahkan pernah, kami tidak bisa menengok dia selama 1,5 bulan karena hampir tiap pekan dia ada kegiatan. Hahaha …

Syukurlah Wafa sudah senang dengan kehidupan asrama. Katanya, sih, sudah jarang nangis kangen rumah hehehe … Beda sama ibunya, yang sampai sekarang, iya sampai sekarang anaknya sudah kelas 9, masih suka nangis. Terlebih sesudah libur panjang seperti saat ini. Tapi sekarang sudah agak lumayan sih. Dulu, awal-awal masuk BS, masak makanan kesukaan Wafa, nangis. Lihat anak SMP berjilbab di jalan, nangis. Tiap habis jenguk, nangis. Lebay lah pokoknya.

Sekarang, melihat perkembangan Wafa, in syaa Allah ini yang terbaik untuk Wafa karena dalam diterimanya Wafa di BS pilihannya, tentu tidak terlepas dari izin Allah Swt. Apalagi ketika saya lihat, di Qur’annya, ada foto kami sekeluarga plus tulisan tangannya “Target utama: bawa mereka ke surga.” Ya Robb, nyess banget bacanya …

Maka setiap kali saya kangen, saya selalu ingat bahwa Wafa sedang berjuang agar kelak menjadi seorang muslimah yang membanggakan, generasi penerus berakhlak baik.
   

Selamat berjuang, Anakku. Kita akan selalu bertemu dalam doa … 

Jumat, 24 Juni 2016

Ini Syarat Indonesia Sejahtera dengan Zakat

Sesuai dengan artinya, “tumbuh atau berkembang”, alangkah baiknya jika zakat tidak hanya sekadar membantu para mustahiq untuk memenuhi kebutuhan mereka sesaat namun lebih dari itu, mampu mengubah mereka menjadi muzakki. Mungkinkah? Sangat mungkin! Meksipun perjalanan dan usaha yang diperlukan untuk mencapainya dibutuhkan komitmen dan konsep yang jelas.

Zona Madina: Konsep Pengelolaan Zakat yang Diperlukan Umat

Waktu terpilih untuk mengikuti “Blogger Trip” ke Zona Madina, Dompet Dhuafa, saya sempat bertanya-tanya, kayak apa ya tempat itu? Apa semacam tempat wisata? Karena kabarnya, di tempat ini ada area untuk outbound. Ternyata, Zona Madina itu … Masya Allah! Bikin merinding. Andaikan di setiap kabupaten/kota ada zona semacam ini, in syaa Allah Indonesia akan sejahtera.


Blogger yang terpilih mengikuti Blogger Trip ke Zona Madina


Nah, jadi, ada apa saja sih di zona ini?


Rabu, 25 Mei 2016

Panduan Wisata ke Kuala Lumpur

Halo, berniat berwisata ke Kuala Lumpur untuk pertama kali?

Saya berbagi sedikit informasi tentang berwisata di sana, ya.

Penginapan

Ada cukup banyak penginapan murah di Kuala Lumpur, terutama di daerah Chinatown. Sepenglihatan saya, daerah Chinatown memang cukup strategis karena dekat dengan tempat wisata. Untuk memilih hostel, sebaiknya tanyakan atau cari tahu di blog para wisatatawan yang sudah pernah menginap di sana. Kalau saya, selama di KL, menginap di dua tempat; Hotel Arenaa Mountbatten dan Geo. Tempatnya cukup berdekatan. Dengan jalan kaki sekitar 10 menit.

-          Hotel Arenaa Mountbatten

Hotel Arenaa Mounbatten berada di Jl. Tun Perak , tidak jauh dari Hab Lebuh Pudu. Jadi kalau dari bandara KLIA 2, naik bus Star Shuttle, bisa turun di hab tersebut, lalu jalan kaki sekitar 100 meter.  Kalau dari sisi lokasi, cukup strategis. Dekat dengan Pasar Seni (Central Market), kalau mau ke shuttle bus untuk naik GoKL perlu jalan ke arah belakang hotel. 

Berhubung hari pertama dan kedua saya bersama teman-teman, kami memesan kamar dengan enam tempat tidur di dalamnya (3 tempat tidur tingkat). Kamarnya kecil, tapi rapi dan bersih.  Tidak disediakan extra bed. Ada dispenser yang membolehkan penginap membawa air. Jadi kalau mau menginap di sini, boleh membawa botol minum. Lumayan kan, hemat 1,5 Ringgit tiap botol hihihi. Selain itu, wifi-nya super kencang. Kalau untuk berenam, harganya cukup murah. Per orang dikenakan biaya sekitar Rp76 ribu per malam. Soal harga, bisa berubah-ubah tergantung waktu pemesanan via online. Sementara yang deluxe, untuk berdua, harganya 93 RM (harga Mei 2016, bayar di tempat).
Pilihan kamarnya banyak; ada yang untuk berdua, berempat dan berenam. DI hotel ini juga disediakan laundry kiloan.



  
-          Hotel Geo

Selain menginap di Arenaa, hari ketiga dan keempat saya menginap di Hotel Geo. Lokasinya sangat strategis karena berada di depan Pasar Seni. Dilewati bus Go KL, dekat dengan terminal dan stasiun jadi mudah kalau mau ke mana-mana. Kalau dari segi harga, lebih mahal dari Arenaa namun tentu lebih bagus. Kamarnya standar hotel pada umumnya, rapi dan bersih. Saat check in kita akan diminta uang deposit sebesar 100 RM. Di hotel ini, wifi-nya juga kencang.
Untuk pemesanan hotel, kalau mau dapat murah, pesan jauh-jauh hari dan via online karena harganya berbeda dengan kalau membayar di tempat (untuk beberapa hotel).

Transportasi

Sesampainya di Bandara Kuala Lumpur (pastikan di tiket KLIA 1 atau 2), kita dapat mencapai Kuala Lumpur dengan bus, taksi atau kereta. Untuk bus harga tiket (kalau saya berhenti di Hab dekat Hotel Arena seharga 10 RM), sedangkan kereta express seharga 55 RM. 

Bandara di KL cukup ramah wisatawan baru karena papan petunjuk yang jelas. Meskipun untuk menuju konter tiket cukup jauh. Untuk naik bus atau taksi, kita dapat turun ke lantai 1 dan membeli tiket di konter yang sudah disediakan. 

Untuk bus, ada beberapa bus dan waktu keberangkatan. Pastikan bus dan waktunya tepat. Sebutkan juga tujuan kita berhenti. Lebih baik turun di hab (tempat pemberhentian) yang dekat dengan hotel tempat kita menginap.
Perjalanan dari bandara menuju KL cukup lama sekitar 1,5 jam dengan menggunakan bus.

Transportasi selama di KL

Selama di Kuala Lumpur, transportasi publik terbilang mudah. Kalau mau yang gratis bisa naik GO KL. Ada 3 rute Go KL; Purple Line, Green Line dan Red Line. Untuk mengetahui jalurnya, di beberapa hotel disediakan peta. Selain itu di setiap halte juga ada peta yang menjelaskan jalur ketiga rute tersebut. 
Selain GoKL, ada juga bus berbayar dengan harga 1 RM, MRT, dengan harga yang terjangkau.
Di setiap stasiun pun terdapat penjelasan jalur dan harga. Pembelian tiket melalui mesin pun tergolong mudah digunakan untuk mereka yang baru pertama kali ke KL.

Tempat Wisata

Untuk mereka yang senang dengan bangunan unik dan ingin berfoto, ada beberapa tempat yang cukup menarik.
Tidak jauh dari Central Market, kita dapat mendatangi:
a.      Sri Mahariamman, Kuala Lumpur
  Kuil tertua di Kuala Lumpur, dibangun tahun 1873.




b.      Sultan Abdul Samad Building, Kuala Lumpur
  Bangunannya megah dan cantik, dibangun oleh arsitek Inggris bernama   A.C Norman. Tahun 1957, deklarasi kemerdekaan Malaysia dibacakan di     depan gedung ini.


c.       Merdeka Square atau Dataran Merdeka
  Berada persis di depan Gd. Sultan Abdul Samad. Hanya berupa lapangan   rumput luas. Kalau di Indonesia, mirip dengan lapangan di depan Masjid   Raya Bandung.




d.     Kuala Lumpur Gallery dan Perpustakaan Kuala Lumpur
 Kalau mau tahu sejarah Kuala Lumpur, di sini tempatnya. Tiket            masuknya 5 RM, tapi nanti bisa ditukar dengan souvenir. Kalau harga  souvenirnya lebih dari 5 RM ya harus tambah uang. Souvenir seharga 5  RM (itu pun kalau beli 3) hanya gantungan kunci, tapi bentuknya nggak  pasaran.
 Di samping KL Gallery, ada Perpustakaan Kuala Lumpur yang cukup besar  dan menarik.


e.   Masjid Jamek, Kuala Lumpur
Tidak jauh dari Dataran Merdeka, kita akan menemui Masjid Jamek. Sayang, pada saat saya datang ke sana, masjid ini sedang direnovasi meskipun masih bisa digunakan untuk sholat. 





f.    Masjid Negara (The National Mosque), Kuala Lumpur
Dari belakang Hotel Geo, kita bisa berjalan menyusuri jembatan dan tiba di Stasiun Kuala Lumpur. Turun, lalu menyebrang lewat terowongan bawah tanah dan sampai di Masjid Negara.
Pengunjung yang hendak masuk ke dalam diminta berpakaian sopan dan tertutup. Jika tidak,di sana disediakan jubah dan penutup kepala.



Tempat-tempat wisata yang tidak ditulis tiket masuknya, berarti gratis ya. Untuk beberapa tempat seperti kuil, kita hanya diminta menitip alas kaki dan membayar sekitar 20 Sen per pasang.

Kalau tadi tempat wisata yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari Central Market, untuk tempat-tempat yang bagus untuk berfoto lainnya (dan wajib dikunjungi karena merupakan ikon KL) adalah Petronas Twin Tower dan KL Tower.

g.   Petronas Twin Tower
Dari Central Market, kita harus naik GoKL dua kali; purple line dulu lalu ganti dengan green line. Kalau mau ke sini sih, bagusnya datang sore (sekitar jam 6-7), supaya nggak panas dan masih bisa lihat air mancur warna-warni.




h.   KL Tower
Dari Central Market, kita bisa naik GoKL yang purple line. Berhubung saya hanya lihat dari luar, saya juga nggak tahu ada apa di dalamnya.

i.     Little India
Hati-hati kalau mau bertanya letak Little India karena pemahaman warga KL berbeda-beda. Hal ini yang membuat kami salah jalan. Ada yang menganggap Little India itu berada di Jalan Masjid India (dekat Masjid Jamek),  padahal Little India yang kami maksud berada di belakang KL Sentral (Little India Brickfields).

Oh, rupanya, dulu Little India memang di Jalan Masjid India, lalu dipindah. Selengkapnya, bisa dibaca di sini: http://www.kuala-lumpur.ws/attractions/brickfields.htm#.




Selain tempat wisata dengan bangunan unik, nah, kalau suka dengan alam, bisa mengunjungi Lake Garden. Lahannya luas sekali dan ada aneka taman di dalamnya. Bahkan rumah mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Abdul Razak, juga ada di kompleks wisata ini.

j.      Lake Garden, Kuala Lumpur
 Posisinya ada di belakang Masjid Negara. Untuk masuk ke sana, kita harus  berjalan kaki beberapa KM karena tidak dilewati GoKL, hanya bus Hop-on-Hop-Off dan taksi. Di area Lake Garden atau Taman Tasik Perdana ini, kita dapat mengunjungi:
-          Planetarium (ada tiket masuk)
-          Bird Park (tiket masuk sekitar 42 RM untuk dewasa)
-          Butterfly Park (tiket masuk sekitar 18 RM untuk dewasa)
-          Orchid Garden
-          Tugu Negara
-          Rumah Tun Abdul Razak Memorial
-          Dan beberapa taman lain yang cantik

Hanya saja, saking luasnya area ini, cukup melelahkan kalau harus berjalan kaki karena dari satu taman ke taman lain jaraknya cukup jauh.


   



k.       KL Forest Eco Park

Kalau mau naik jembatan gantung beberapa tingkat dan melihat hutan mini di tengah kota, sila main ke KL Forest Eco Park. Tidak ada tiket masuk.  

 l.      Batu Caves

Dari KL Sentral kita harus naik commuter dan lanjut lagi menuju Batu Caves. Perjalanan sekitar 30-40 menit karena harus melewati beberapa stasiun.

Di sini ada beberapa gua dan untuk masuk ke dalamnya, sebagian besar bayar. Ada sih yang gratis, dan untuk melihatnya kita harus menaiki sekitar 300 anak tangga. Seru, kan! 



Oleh-oleh

Kalau kita ke Pasar Seni (Central Market) sebetulnya banyak barang-barang kerajinan yang ada di Indonesia, khususnya Jogja dan daerah lain. Paling untuk oleh-oleh, kita bisa membelikan cokelat, kaos, gantungan kunci atau miniatur landmark Kuala Lumpur.  

Untuk cokelat, bisa dibeli di Choc Boutique yang ada di Pasar Seni dan Jalan Alor. Cuma kalau saya bandingkan, harganya sedikit lebih mahal. Saya dapat harga yang lebih murah di dalam Central Market. Cuma seingat saya, tidak ada nama kiosnya. Selain itu, bisa juga dibeli di Supermarket Mydin.
Untuk kaos, gantungan kunci dan sejenisnya, bisa dibeli di Pasar Seni atau China Town. Sebaiknya cek harga dulu di beberapa toko supaya tahu harga pasaran karena harga di beberapa toko berbeda-beda. Tidak sedikit penjual yang menawarkan harga tinggi sekali. Kalau di Pasar Seni, boleh lho untuk menawar harga.  

Tempat Belanja

Di Kuala Lumpur, ada beberapa mal mewah; dua diantaranya Pavilion di Bukit Bintang dan Suria KLCC. Hampir sama dengan Grand Indonesia atau mal setingkat itu di Jakarta.

Sedangkan pusat belanja baju yang lebih murah ada di Kenanga. Saking penasaran karena menurut banyak orang harga di sana sangat murah, saya memaksakan diri untuk melihat ke sana. Untuk sampai ke sana agak ribet, ya. Dari Bukit Bintang kita harus naik Commuter ke Stasiun Hang Tuah. Lalu jalan kaki menuju Kenaga Wholesale City.

Cuma buat kita yang sering main ke Tanah Abang atau Thamrin City, barang-brangnya masih lebih bagus di TA atau Thamcit sih. Jadi mending beli di Jakarta aja deh :D Kalau cuma mau beli oleh-oleh khas KL, cukup ke Chinatown atau Pasar Seni.  

Makanan di Kuala Lumpur


Buat kita yang muslim, sebagian besar makanan di sana halal. Namun kurang variatif, lebih banyak kare dan sejenisnya. Ada sih makanan rumahan seperti di Indonesia. Saya sempat menemuinya di dekat stasiun Kuala Lumpur. Kalau soal kuliner, Indonesia juara! 

Selasa, 03 Mei 2016

Kurangi Kejahatan Seksual, Tugas Kita Semua

Kejahatan Seksual pada Anak, Tugas Kita Semua

Dari berita yang saya baca, pelaku pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Ananda Yuyun di Bengkulu, mengaku sering menonton adegan pornografi. Hal ini makin menguatkan data yang dikumpulkan dari Yayasan Kita dan Buah Hati bahwa pelaku kejahatan seksual dipengaruhi oleh, salah satunya pornografi.

Ada beberapa ciri anak kecanduan pornografi; sulit berkonsentrasi dan melakukan aktivitasnya karena otak depannya rusak, mudah marah, senang menyendiri, mudah berkata kotor/jorok, sering berkeringat, sering buang air kecil (sumber: materi ToT SEMAI-YKBH).

Tugas kita semua untuk membantu mengurangi kejahatan seksual pada anak.

Sebagai orangtua, kalau kita pada akhirnya memberikan anak akses menggunakan gadget, seberapa sering mengecek apa yang anak lihat, berupaya untuk diproteksi, games apa yang mereka mainkan, dan sebagainya.

Seberapa dekat dengan anak? Seberapa sering kita berdiskusi dan berkomunikasi dengan mereka? Seberapa sering kita memeluk dan membelai mereka?

Apakah kita sudah mengajarkan pendidikan seksualitas, menyiapkan masa puber mereka?
PKK, Posyandu, Ustadzah, akrabi orangtua dengan ilmu pengasuhan anak, terutama untuk mereka yang tinggal di daerah, yang mungkin kekurangan akses untuk membaca atau belajar.
Sekolah, peka terhadap kondisi murid. Kalau ada murid yang tiba-tiba jadi pendiam, dekati.  

Dari pihak RT/RW, sudahkah mengamati warnet yang ada di lingkungannya? Apakah mereka membolehkan anak-anak mengakses situs dan games yang mengandung pornografi?
Media, cek lagi aneka sinetron dan produk-produk hiburan lainnya yang banyak sekali yang tidak mendidik!  

Dan pihak-pihak lainnya, terutama kementerian terkait.

Semoga Allah Swt melindungi anak-anak kita semua.


Senin, 18 April 2016

Jangan Asal Resign! - Persiapan Bekerja dari Rumah

Tak sedikit ibu bekerja yang kerap diliputi rasa gundah. Di satu sisi, merasa masih perlu memberi kontribusi bagi keuangan keluarga, namun di sisi lain, khawatir dengan perkembangan buah hatinya karena merasa sedikit waktu di rumah. Apalagi jika anak dalam kondisi sakit, pada usia yang membutuhkan banyak perhatian dari orangtua, khususnya ibu. Kepusingan bertambah ketika  ART atau pengasuh harus pulang kampung.

Pernah berada di dalam posisi itu?

Saat kondisi itu terjadi, mungkin para ibu bekerja berpikir, gimana ya tetap bisa berkontribusi untuk keuangan keluarga tapi masih memiliki waktu lebih banyak untuk anak-anak?

Mungkin nggak sih? Bagaimana memulainya?

Buku “Jangan Asal Resign (untuk Ibu Bekerja)” diharapkan bisa memberi jawaban atas kegundahan tersebut. Buku ini memaparkan perencanaan yang perlu dilakukan seorang ibu untuk bekerja dari rumah; baik sebagai self-employed maupun business owner, karena keduanya memerlukan perencanaan yang berbeda. Begitu juga tantangan yang akan dihadapi dan solusinya. 


Diperkaya dengan wawancara dengan business coach Lyra Puspa dan Valentino Dinsi juga beberapa narasumber ibu yang sebelumnya bekerja kantoran lalu resign, kemudian sukses menjadi freelancer atau membuka usaha. 



Tertarik untuk membacanya? Buku terbitan Grasindo ini bisa dibeli di toko buku Gramedia di sleuruh Indonesia dan beberapa toko buku online. 

Terima kasih. Selamat membaca :)

Kamis, 07 April 2016

LGBT Ditinjau dari Aspek Neuropsikologi

(Ditulis berdasarkan paparan pemateri Dr. Ihsan Gumilar, pada ToT “Selamatkan Generasi Emas Indonesia”, 30 Maret 2016 di Kampus UNJ, kerjasama Rumah Parenting Yayasan Kita dan Buah Hati dan Pusat Studi Wanita UNJ)

Menurut ilmu neuroplasticity, otak dapat terus berkembang, fungsi dan struktur dapat berubah sesuai dengan perilaku dan pengalaman yang pemiliknya lakukan. Susunan saraf akan mengenali apa kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pemiliknya. Bahkan dapat otak dapat merespon dan menyiapkan sesuatu yang dipikirkan atau diniatkan oleh pemiliknya.  

Ketika ada seorang laki-laki yang berprilaku seperti seorang perempuan dan didukung oleh lingkungan sekitarnya, otak akan menangkap sinyal tersebut. Konsep dirinya pun dapat berubah dan bukan tidak mungkin lambat laun ia akan merasa bahwa dirinya adalah perempuan. Terlebih jika ia banyak bergaul dengan pelaku homoseksual dan transgender.

Faktor-faktor  yang membentuk seseorang menjadi homoseksual memang ada yang disadari dan tidak. Bisa jadi karena pola pengasuhan yang kurang tepat atau pernah menjadi korban dari kejahatan seksual.

Catatan Penulis:

Dari paparan di atas, penting bagi orangtua untuk memerhatikan anak-anaknya. Mengenalkan anak akan jenis kelaminnya dan aktivitas-aktivitas penunjang. Saya teringat dengan seorang anak laki-laki (saat itu usianya masih SD). Ia senang bermain masak-masakan dengan teman-teman perempuan.

Oleh teman-temannya yang laki-laki, ia kerap dipanggil bencong.
“Ih, bencong! Mainannya masak-masakan!”

Meskipun saya bukan ibunya, namun ada kekhawatiran jika ucapan dari teman-temannya dapat mengubah konsep dirinya.
Saat itu saya panggil teman-teman yang mengatainya dan mengajak mereka bicara karena bisa jadi mereka tidak menyadari dampak dari apa yang mereka ucapkan.


Mulai dari diri kita sendiri, ayo kita selamatkan generasi emas Indonesia! 

Rabu, 06 April 2016

Benarkah Perilaku Homoseksual Bukan Sebuah Penyakit Gangguan Mental?

ToT SEMAI #1

(Ditulis berdasarkan paparan Dr. Ihsan Gumilar, pakar neuropsikologi dalam Training of Trainers SEMAI, di kampus UNJ, 30 Maret 2016)

Untuk menentukan apakah gejala-gejala yang dirasakan oleh seseorang dapat dikategorikan sebagai sebuah penyakit gangguan mental, psikolog maupun psikiater umumnya akan mengacu pada buku pegangan yang dinamakan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), yang dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (APA).

Di dalam DSM-5, perilaku homosesual tidak tercantum di dalam buku tersebut. Namun, melihat perjalanan buku pegangan tersebut, ada hal penting yang perlu dicermati.
Sebagai sebuah buku pegangan, maka setiap perubahan (revisi) yang dilakukan mulai dari DSM-1 hingga DSM-5, sudah sepatutnya melalui penelitian yang memenuhi syarat.

Di dalam DSM-1 dan DSM-2, homoseksual sebenarnya ada di dalam kategori penyakit gangguan mental. Namun saat itu, sekitar tahun 1970-an di Amerika Serikat, gerakan feminisme yang semakin meningkat juga disertai dengan tuntutan dari aktivis LGBT yang meminta persamaan hak. Mereka menginginkan agar ‘homoseksual’ dicabut dari DSM. Akhirnya, dibentuklah sebuah komite untuk menentukan apakah homoseksual termasuk penyakit mental atau bukan.

Tanpa sebuah penelitian, hanya berdasarkan voting, perubahan besar terjadi di dalam DSM-2 cetakan keenam. Agar tidak terlalu menggegerkan, perlahan-lahan, dari mulai DSM-2 hingga sekarang, beberapa perubahan dilakukan terkait dengan penyakit homoseksual:
DSM-2 Revised (1973) : Homoseksual dianggap sebagai sexual orientation disturbance (ada gangguan).
DSM-3 (1980) : Ego-dystonic homosexuality; kalau penderita merasa tidak nyaman baru dapat dikategorikan sebagai penyakit. Ini yang banyak dipakai oleh psikolog.
DSM-3 Revised (1987) : sexual disorder not otherwise specified; dikategorikan sebagai penyakit yang tidak dikenal (unknown disease)
DSM-4 (1994) : kata homoseksual sebagai penyakit gangguan mental dihilangkan dari buku DSM tersebut.


Selain itu, meskipun pelaku homoseksual tidak menunjukkan gejala penyakit mental pada umumnya, seperti tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari, untuk mempertimbangkan apakah itu digolongkan penyakit atau bukan harus melihat di mana kultur penyakit itu berada. Aspek kultur termasuk agama perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, jika di Indonesia semua agama telah melarang homoseksual dan transgender, pelaku LGBT perlu disembuhkan. 

Senin, 16 November 2015

Mengajarkan Anak Mendongeng

Ayah-Bunda, saat ini banyak ya, lomba-lomba yang berkaitan dengan bercerita, baik dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Kedua puteri saya pun ikut. Menurut saya, lomba bercerita atau mendongeng dapat mengasah kemampuan public speaking mereka, lho. Nah, untuk Ayah-Bunda mau mengajarkan putera/i-nya ikut lomba ini, izinkan saya berbagi apa yang biasa saya lakukan kepada mereka. Tentu, saya bukanlah pendongeng profesional, jadi cara-cara ini masih harus banyak dikembangkan lagi.

Melatih artikulasi

Salah satu aspek penting dalam bercerita/mendongeng adalah artikulasi. Untuk mengasahnya, kita dapat membiasakan membacakan cerita untuk anak dengan pengucapan yang benar. Dengan mendengarkan pengucapan yang benar, diharapkan anak juga termotivasi untuk membacanya dengan benar.

Cara berikutnya, berlatih membaca keras. Ketika dulu saya menjadi penyiar radio, kami dibiasakan untuk membaca keras. Berbicara dengan lepas dan mengucapkan huruf-huruf vocal (a,I,u,e,o) dengan mulut terbuka  sehingga huruf-huruf tersebut dapat terdengar dengan sangat jelas.

Dulu, puteri saya cenderung cadel “s”. Ketika ada kata dengan huruf “s”, ia akan mengucapkannya seperti huruf “tsa”. Untuk menguranginya, saya sering memintanya untuk mengucapkan kata-kata yang memiliki banyak huruf “s”, seperti, susu Sasa . Jika ia mengucapkannya masih belum jelas (masih terdengar seperti mengucap “tsa), saya akan memintanya mengulang kata-kata tersebut dengan huruf yang jelas.

Intonasi

Ketika membaca keras, ajarkan anak untuk membaca tanda baca dan menyesuaikan dengan nadanya.

Membedakan Suara

Ketika menceritakan sebuah cerita, akan ada beberapa suara yang perlu dibedakan; narrator dan beberapa tokoh. Nah, untuk suara tokoh, biasakan untuk membedakannya. Kalau tokohnya adalah nenek belajarlah untuk menjadi seorang nenek. Tidak hanya suaranya tapi juga gayanya. Atau, jika tokohnya adalah binatang, coba amati seperti apa sih binatang yang sedang kita perankan. Misal, monyet yang jahil. Selain menyisipkan suara ‘uu .. aa.. uu.. aa’, tingkah laku monyet yang senang garuk-garuk kepala dan ketiak, perhatikan juga mimik wajah. Coba deh lihat di cermin, apakah wajah kita sudah terlihat jahil?   

Alat Peraga

Kak Heru, seorang pendongeng nasional, kasih tips bagaimana memaksimalkan alat peraga untuk bercerita/mendongeng.
“Kalau mau pakai alat peraga, jangan tanggung-tanggung. Buat yang besar dan gunakan secara maksimal. Alat peraga juga jangan sampai merepotkan ketika mendongeng,” katanya ketika menjadi juri lomba mendongeng di Grand Indonesia, Oktober 2015 lalu.
Yang perlu diperhatikan jika kita membuat cerita sendiri, kata Kak Heru, tokoh tidak perlu banyak. Cukup 2-3 tokoh, yang penting dapat dibawakan dengan berbeda dan maksimal.

Dan yang pasti, harus sering-sering berlatih, ya. (apr)

  

Sabtu, 14 November 2015

Dampak Kecanduan Pornografi Pada Anak dan Cara Mencegahnya

(Disarikan dari materi diskusi parenting “Cegah Pornografi, Selamatkan Generasi Emas Indonesia” oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, di Rumah Parenting YKBH, 5 November 2015)

Generasi BLAST (Bored, Lonely, Angry, Stress, Tired) merupakan sasaran bagi kaum perusak. Mereka sangat mudah bersentuhan dengan pornografi, pacaran, narkoba, miras, merokok, masturbasi, LGBT dan seks bebas.

Menurut data dari berita online yang dihimpun oleh Yayasan Kita dan Buah Hati, selama 2014, setidaknya ada 909 kasus yang berkaitan dengan pornografi, 340 kasus diantaranya adalah kasus perkosaan. Ironisnya, gambaran usia pelaku berada di usia produktif; 11-20 tahun!

Untuk menguatkan data tersebut, pada 2014, YKBH pernah melakukan penelitian dengan responden siswa SD kelas 4-6 sebanyak 2.227 anak. Hasilnya, 92% anak pernah mengakses pornografi baik lewat internet maupun tayangan TV dan games. Mereka melihatnya di rumah sebanyak 52%, sisanya di warnet dan rumah teman.

Apa yang Terjadi Jika Anak Kecanduan Pornografi?

Salah satu bagian dari otak kita bernama Prefrontal Cortex (PFC). Bagian ini berfungsi untuk berkonsentrasi, mengendalikan diri, merencanakan sebagai pusat masa depan. Begitu pentingnya PFC namun ia mudah mengalami kerusakan, salah satunya karena NAPZA dan Narkolema (Narkotika lewat mata).

Memang, pada awal anak mengakses pornografi, timbul perasaan jijik, namun sesudahnya, khususnya bagi anak-anak BLAST, mereka akan tertarik dan timbul perasaan senang. Otak lalu akan menyimpan bahawa kegiatan ini membuat senang dan ketika kita membutuhkan rasa senang, otak akan menyuruh untuk mengonsumsinya lagi.

Bagi anak yang kecanduan pornografi, mudah melakukan kegiatan perilaku seks tidak sehat, seperti masturbasi, oral seks, hubungan sejenis, gonta-ganti pasangan dan memperkosa.

Ketika PFC rusak karena anak kecanduan pornografi, inilah yang terjadi:
  • Menurunnya fungsi otak karena terjadi penyempitan korteks
  • Sulit untuk berkonstrasi, memahami benar dan salah, membuat keputusan, mengendalikan diri untuk menunda kepuasan.   

Apa yang dapat kita lakukan sebagai orangtua?
  1. Perkuat iman kepada Allah Swt.
  2. Tingkatkan komunikasi antara orangtua dan anak. Biarkan anak untuk berpikir, memilih dan beri ruang bagi anak untuk membuat keputusan.
  3. Hidup sehat dengan olahrafa
  4. Gunakan gadget/internet dengan bijak.
Terkait dengan games, orangtua perlu mengenal games yang sering dimainkan anak dan lihatlah keamannya. Di media sosial, ajarkan anak untuk tidak memasang foto pribadi, mencantumkan alamat dan no telpon, menulis status tentang suasana hati yang negatif.