Jumat, 21 Juni 2013

HRD Seharusnya Menjembatani

Ada seorang janda yang bekerja keras untuk menghidupi 3 anaknya yang masih sekolah. Sebut saja namanya Ibu Lani. Suaminya meninggal 3 bulan lalu. Sang suami adalah seorang driver yang bekerja di sebuah pabrik. Setelah meninggal, hak-haknya sebagai karyawan belum dibayarkan, jamsostek dan pesangon tidak diberikan.

Ibu Lani berinisiatif telpon ke perusahaan bekas suaminya bekerja untuk bertanya soal hak jamsostek dan pesangon. Namun hasilnya dilempar-lempar dan tidak ada yang bertanggungjawab. Perusahaan bilang jamsostek belum dibayarkan karena tidak ada uang akibat dari klien mereka belum membayar ke perusahaan.

Ibu Lani sebenarnya sudah mengurus jamsostek suaminya sendiri, namun pihak Jamsostek mengatakan kalau pembayaran belum bisa dilakukan karena perusahaan tempat suaminya bekerja belum membayar iuran sejak Januari 2013.

Karena kebutuhan yang semakin mendesak, gaji sebagai administrasi keuangan tidak cukup untuk menghidupi 3 anak sementara hutang cicilan suaminya juga harus dibayar. Maka dia memberanikan diri mendatangi perusahaan suaminya untuk menagih dan mendapat keadilan. Apalagi sudah tiga bulan perusahaan belum juga membayarkan hak almarhum suaminya.

Sampai di lokasi, ia bertemu dengan Manager HRD (sebut saja Sonya). Dengan nada ketus dan marah-marah, ia bilang bahwa perusahaan tidak punya uang. Ibu 3 anak ini disuruh menunggu.
Ibu Lani kembali memohon untuk disegerakan atau minimal pihak kantor menalangi dulu karena cicilan hutang mendiang suaminya juga harus dibayar. Tapi ditolak oleh manager HRD ini. Dengan tegas ia mengatakan bahwa sebenarnya urusan Jamsostek bukan otoritasnya melainkan atasannya (dia menyebut nama seseorang). Padahal sebelumnya, seseorang yang disebut namanya oleh Ibu Sonya sudah mengirim SMS ke Ibu Lani bahwa urusan jamsostek ini pun bukan otoritasnya. Lalu, tanggung jawab siapa?


Pertemuan berakhir tanpa kejelasan, pencarian keadilan ibu Lani blm selesai. Pihak perusahaan berkelit pada ketiadaan uang karena tertundanya pembayaran oleh klien mereka. Sementara kebutuhan dan cicilan ibu Lani tidak bisa kompromi, anak-anaknya harus sekolah. Gajinya yang kecil tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari...

***
Ada dua hal yang bisa kita petik dari kejadian di atas. Pertama, fungsi seorang Manajer HRD. Dengan jabatan yang kita miliki, kita bisa melakukan dua hal: memudahkan atau menyusahkan urusan orang. Dalam pemahaman saya, Manajer HRD seharusnya dapat membantu karyawan yang membutuhkan bantuan. Yang tidak habis pikir, bukankah setiap bulan, gaji karyawan sudah dipotong untuk Jamsostek? Jika perusahaan tidak mendapat uang dari klien, itu adalah masalah perusahaan dengan klien, jangan dibebankan pada keluarga karyawan yang sudah meninggal. 

Kasus perusahaan yang belum bisa membayarkan Jamsostek pernah terjadi dengan salah seorang kawan saya. Bedanya, atasan langsung tempat ia bekerja, mau bersusah payah mengurusnya. Minimal, kalaupun tidak bisa langsung mengurusnya ke Jamsostek, perusahaan bisa menalangi terlebih dulu. Jadi, sebenarnya, ini masalah ada kemauan atau tidak. Semoga bukan karena dia driver lantas diabaikan hak-haknya. 

Kedua, untuk para suami. Jika di tempat kerja Anda ada Jamsostek, dana pensiun atau hak-hak lain yang bisa diterima keluarga, beri tahu isteri sehingga mereka paham apa hak-hak yang bisa ia dapatkan. 

Untuk sahabat-sahabatku yang bekerja di divisi HRD, keuangan atau divisi yang mengurusi karyawan, percayalah, jika kita memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusan kita juga. Just be nice to other employees. 


Minggu, 12 Mei 2013

"Nggak Penting IPK Tinggi Kalau ..."

Sebuah Catatan untuk Teman-teman Mahasiswa
Aprilina Prastari


Banyak yang bilang, saya termasuk orang yang senang belajar. Lulus D3 Broadcasting Universitas Gadjah Mada, saya bekerja sebagai wartawan dan penyiar di radio Ramako (sekarang namanya Lite FM). Meskipun sudah bekerja, tapi keinginan untuk melanjutkan S1, tetap ada. Saya merasa, tidak ada yang sia-sia dengan belajar, mencari ilmu, karena semua akan bermanfaat untuk kita. Pendapat itu masih saya pegang sampai sekarang. Terbukti, meski sudah memiliki dua anak dan salah satunya akan beranjak remaja, saya masih tetap semangat melanjutkan S2 (tapi jangan tanya tesis saya sudah sampai mana ya ... :D)

Namun, setelah bertahun-tahun bekerja di dunia komunikasi, saya menyadari satu kesalahan (tentu dari sekian banyak kesalahan yang saya lakukan) ketika saya kuliah di UGM dulu. Saya terlalu fokus belajar!

Lho, kok, fokus belajar memang salah?

Nggak, sih.

Alhamdulillah, saat saya lulus, saya termasuk lulusan terbaik untuk jurusan Broadcasting pada saat itu. Buat saya, itu membahagiakan. Namun, saya juga merasa gemas karena hanya ikut unit kegiatan mahasiswa BPPM (Badan Penerbitan Pers Mahasiswa) UGM. Itu pun nggak terlalu aktif. Pernah sih mengajar di Kopma UGM, tapi menurut saya, itu kurang banyak!

Menurut saya, mahasiswa itu harus aktif berkegiatan, banyak cari teman, bergaul. Networking! Itu yang penting. Makanya, saya sering bilang sama mahasiswa saya, kuliah itu jangan cuma mengandalkan IPK. Kalau buat saya, IPK cukup 3,00 tapi banyak kegiatan, aktif di komunitas-komunitas, dan bermanfaat buat orang lain.

Apalagi kalau masih muda dan bisa punya usaha sendiri. Duuuuh, keren banget! Jujur saya ngiri sama temen-temen yang masih muda dan sudah berbisnis atau berkarya dan menghasilkan uang. Keren!

Nah, untuk teman-teman yang masih mahasiswa (khususnya mahasiswa D3 atau S1), jangan cuma mengejar IPK tinggi, ya. Gunakan social media untuk berkenalan dengan orang-orang hebat dan melakukan hal-hal bermanfaat. Ketika lulus, kondisi yang bisa membuat teman-teman bertahan adalah keterampilan, kreativitas, dan jaringan.

Selamat belajar, berkarya dan berjaringan :)




Minggu, 05 Mei 2013

Toilet Duduk, Lebih Tepat untuk Tempat Umum

Beberapa menit lalu saya membaca berita ini:


Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih jika kereta api memerhatikan kebersihan toilet perempuan. Namun, saya melihat toilet-toilet di tempat umum, apalagi di kereta api, sebaiknya menggunakan toilet jongkok. 

Alasan pertama, pengguna kereta api pasti sangat banyak dan beragam. Di mal-mal bagus seperti Kota Kasablankan atau Sency yang kebersihannya selalu dicek saja, kita masih merasa khawatir dan kerap membersihkan penutup dudukan toiletnya dengan cairan khusus. 

Alasan kedua, seberapa sering petugas membersihkan toilet ini. Dengan melihat banyaknya penumpang atau pengunjung (kalau di mal atau tempat umum lain), petugas kebersihan tidak banyak, dan bilik kamar mandinya juga sedikit, apa mungkin akan sering dibersihkan? Awalnya sih memang terlihat bersih, tapi coba kalau sudah berjalan beberapa bulan.  Bahkan di beberapa tempat, seringkali saya melihat penutup dudukan toilet dipenuhi dengan tapak sepatu yang sudah pasti sangat kotor. 

Menanggapi pernyataan Pak DI, menurut saya, alasan digunakan toilet duduk karena perempuan yang memakai celana jeans supaya tidak kesulitan, rasanya kurang tepat, ya. Meskipun memang, toilet duduk memudahkan orang tua untuk buang air. 

Nah, kalau begitu, bagaimana kalau toiletnya dibuat dua; untuk orang tua dibuatkan toilet duduk dan satu lagi toilet jongkok. Hehehe ...

Tulisan ini juga sekaligus mengapresiasi para pembersih toilet, pengelola mal atau tempat-tempat umum yang sudah berbaik hati menjaga kebersihan toilet. Dan tolong, untuk sahabat-sahabatku para wanita, jika kita merasa toilet itu kurang bersih, jangan menaikkan sepatu ke atas dudukan toilet. Jangan pentingkan kebersihan diri kita sendiri lalu mengorbankan kebersihan orang lain. Setuju? :)



Sabtu, 04 Mei 2013

Masih SMP Kok Nyetir?

Bukan sekali-dua kali saya lihat anak SMP, nyetir motor, ngebut, nggak pakai helm. Dan, saya yakin, belum punya SIM. Buat saya yang emak-emak ini, melihat pemandangan seperti ini, bikin ngilu. Bermacam pertanyaan timbul di kepala saya:

Ibunya tau nggak ya kalo anaknya nyetir motor sendiri?
Kalo belum tau, kasian banget. Tapi kalo tau, kenapa ya ibunya kasih izin? Kalo cuma di dalam perumahan sih nggak apa-apa deh. Nah ini, di jalan raya!
Atau jangan-jangan, kalo nggak dibolehin, anaknya ngambek!

Kalau sudah begitu, saya langsung membayangkan anak-anak kami saat  remaja nanti. Kalau Wafa dan Taman Hati remaja, apa memaksa kami untuk dibolehin naik motor, nggak, ya?

Memang, salah satu penyebab konflik antara anak remaja dan orang tua, salah satunya ya karena motor atau kendaraan. Hal ini pun pernah saya tulis di buku saya, "Please deh, Mom- Solusi Konflik Anak Remaja dan Orang Tua". Di satu sisi, sang ibu belum bisa mengizinkan anaknya nyetir motor sendiri (karena belum punya SIM, takut kebut-kebutan di jalan, khawatir kecelakaan) sementara dari sisi anak, mereka merasa ibunya terlalu parno, mengekang kebebasan, dan sebagainya. Komunikasi dari hati ke hati dan tarik ulur, diharapkan bisa menjadi solusi mengurangi ketegangan diantara dua pihak.

Jujur, sebagai ibu dengan seorang puteri yang sebentar lagi insya Allah beranjak remaja, ada kondisi-kondisi yang sudah saya dan suami bicarakan ke Wafa sejak sekarang. Salah satunya soal naik motor. Pertanyaan seperti "kalau aku SMP, boleh nggak naik motor" pernah Wafa lontarkan melihat beberapa tetangga yang SMP ada yang naik motor kalau sekolah atau les.

Kami juga sering cerita apa yang kami lihat tentang remaja yang ugal-ugalan di jalan. Seperti yang pernah saya saksikan beberapa malam yang lalu. Ada TIGA gadis remaja berboncengan, tidak pakai helm, dan pengemudinya menyetir sambil ... telpon! Luar biasa, kan? Saya sempat menegurnya. Saya mengimbangi motornya dan bilang "Dek, jangan sambil telpon. Bahaya." Dan jawaban remaja itu, sangat luar biasa. "Trus, masalah buat lo?"

Astaghfirulloh. Cuma bisa geleng-geleng dan kembali pertanyaan-pertanyaan di atas tadi muncul di kepala saya.

Adik-adikku sayang, ....

Percaya deh, pasti ada alasan kenapa orang tua meminta kita untuk  nyetir motor dan mobil sendiri setelah kita kuliah atau sesudah punya SIM. Menurut saya, usia remaja itu masih mudah terpancing emosi. Ada motor atau mobilnya nyalip, nggak terima, terus balas salip lagi. Atau, pengin buru-buru sehingga ngebut.

Masalahnya, kalau  ugal-ugalan di jalan, kamu bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain. Dan kalau kamu sudah membahayakan orang lain, trauma itu akan sulit sembuhnya. Dan, bukan nggak mungkin kamu bisa menghilangkan nyawa orang lain karena kecerobohanmu. Kalau sudah begitu, yang ada hanya penyesalan ...

Bukan Karena Murah, Lantas Tak Dihargai, Kan?

Meski rumah tinggal kami bukan di perumahan keren, tapi Alhamdulillah, dekat dengan sekolah Islam yang menurut kami bagus dan Lembaga Tahfidz Qur'an (LTQ). Buat kami sekeluarga, ini adalah rizqi yang luar biasa. Kami sangat dimudahkan agar anak-anak bisa membaca Qur'an dengan baik dan menghafalnya.

Di LTQ ini, kami memasukkan Wafa dan Taman Hati di kelas tahfidz Qur'an. Alhamdulillah, Taman sekarang sudah hampir menyelesaikan hafalan juz 30  dan Wafa sudah mulai masuk hafalan juz 28. Ibunya? Plis, jangan tanya, ya :(

Meski mengajarkan ilmu yang manfaatnya sangat besar, LTQ Iqro ini hanya mematok biaya SPP yang sangat murah: hanya Rp 25.000 per bulan. Ya, hanya Rp 25.000. Ini untuk kelas anak-anak. Untuk dewasa memang lebih mahal tapi masih sangat terjangkau. Seminggu, masuk tiga kali yang boleh dipilih waktunya sesuai dengan kesibukan murid.

Nah, karena banyak ekskul, dan Wafa mengeluh capek, akhirnya sudah satu semeter ini, Wafa cuti. Selain, karena di sekolah, juga diajarkan tahfidz Qur'an. Sedangkan Taman Hati masih lanjut LTQ.

Cuma, sejak Wafa cuti LTQ, dan beberapa tetangga yang biasa berangkat sama-sama pindah rumah, Taman mulai malas masuk LTQ. Selama ini sih, Taman (dan dulu Wafa juga begitu), boleh tidak mengaji dengan beberapa kondisi: (1) sakit atau capek (2) ada tugas untuk besok atau mau ulangan (3) hujan. Di luar alasan itu, biasanya saya minta anak-anak untuk mengaji, paling tidak seminggu dua kali.

Hingga kira-kira beberapa minggu lalu, Taman benar-benar susah sekali diminta mengaji. Alasannya, "X (tetangga dekat rumah yang biasa berangkat sama-sama) juga nggak ngaji, Bun. Aku mau main aja, ya"

Melihat kondisi ini, saya coba ngobrol sama Taman. Saya coba gali apakah ada yang kurang nyaman di tempat les sehingga dia jadi kurang semangat LTQ. Jawabnya ya itu tadi. Temannya ada yang nggak LTQ dan mengajak main. Hehehe. Saya coba tawarkan untuk berhenti saja (dari pada keseringan nggak masuk) tapi dia menolak.  Nah, bingung, kan? Akhirnya saya bilang begini sama Taman:

"Ade, tau nggak apa yang bikin bu guru seneng?"
"Hmm, apa ya? hehehe ... " (eeeh ni anak malah nyengir lagi :D)
"Bu guru seneng kalo murid-muridnya semangat dateng ngaji, Dek"
"Tapi X ajah sama uminya nggak apa-apa nggak LTQ. Soalnya katanya bayarnya murah" (beeeuh ni anak)
"Ade, bayar murah bukan berarti kita jadi males-malesan. Coba Ade bayangin. Minggu kemaren waktu ujan, ternyata bu guru tetep dateng, kan? Ade nggak kasian bu guru udah capek-capek dateng, trus muridnya sedikit? Sedih nggak kira-kira bu guru? Kan kita udah sepakat, Ade boleh nggak LTQ kalo ... (saya sebutin lagi perjanjian yang pernah saya dan Taman sepakati)"

Taman diam. (hayo mau debat Nun apalagi :D)

Akhirnya, dia janji mau semangat LTQ lagi kecuali jika ketiga hal tadi terjadi.
Alhamdulillah, sekarang, sudah lumayan semangat lagi. Cuma tetep aja sih, masih harus diingetin, apalagi kalau sudah asyik main sama teman-temannya. Hehehe ...

Soal kurangnya antusiasme belajar kalau pelatihannya murah juga rasanya bukan dilakukan anak-anak, ya. Kita yang dewasa juga suka begitu. Termasuk saya. Kadang, kalau ikut pelatihan murah, pasti ada perasaan "Ah, santai aja. Murah ini, ..." Padahal, untuk yang mengajar, tentu bukan soal uangnya tapi antusiasme kita dalam mengikuti pelatihan yang diberikan.

Semoga kita lebih bisa menghargai setiap ilmu dan pengetahun yang diberikan oleh siapapun dan di mana pun, meskipun dengan harga yang murah.

Kamis, 11 April 2013

Selamat Hari Bawa Bekal Nasional


Bekal: Bentuk Sayang Bunda Bekerja
Aprilina Prastari

Sebagai ibu bekerja, saya akui, waktu saya di rumah menjadi sangat berkurang. Apalagi ketika saya masih bekerja di advertising agency yang sarat dengan lembur. Saat itu saya berpikir, saya harus memiliki sesuatu agar anak-anak tetap mengingat “keberadaan” saya. Saya ingin anak-anak mengingat masa kecilnya dengan manis tentang saya.
Akhirnya, sejak cuti melahirkan berakhir dan anak-anak masih harus saya mandikan, saya berjanji pada diri sendiri, selarut apapun saya pulang, esok paginya, harus saya yang memandikan mereka. Bukan pengasuh! Meski, saya akui, ada juga saat-saat saya tidak bisa memandikan mereka dan harus dibantu pengasuh.
Ketika anak-anak mulai TK, saya pun mulai menambah tugas: membuatkan bekal sekolah untuk mereka. Memang tidak setiap hari mereka membawa bekal kue yang saya buat. Ada saatnya mereka saya bawakan roti atau biskuit dalam kemasan. Namun dalam seminggu, pasti ada saat-saat saya (dibantu oleh ART) membuat bekal berupa kue yang dibuat sendiri. 
Dengan kemampuan memasak yang segitu-gitunya (:D), jujur saya pernah merasa khwatir. Nanti kalau nggak enak, gimana? Kalau nggak dimakan gimana? Dan saat-saat pulang kerja, pertanyaan pertama ke pengasuh adalah: "bekalnya dimakan nggak?" Hehehe. 
Untungnya anak-anak pengertian. Kalau tanpa perlu saya tanya, mereka bilang, "Bun, kuenya enak!" Itu tandanya kuenya benar-benar enak. Tapi kalau, mereka bilang, "Hmm lumayan," Nah, itu berarti minggu depan harus belajar lagi :D
Alhamdulillah, kebiasaan membawa bekal sendiri dari rumah masih terus berjalan sampai sekarang. Saya memang tidak membiasakan anak-anak jajan. Hanya tiap Jumat anak-anak saya izinkan untuk jajan di kantin  supaya tidak bosan. Tentu dengan bekal pengetahuan apa jajanan yang sehat dan tidak. 
Mungkin yang saya lakukan tidak seberapa. Tapi saya berharap, semoga kelak, ketika mereka dewasa, mereka memiliki kenangan tentang saya dan bekal sekolah mereka ...  

*** 

Sharing Resep: 

Dear Bunda, ini salah satu resep yang biasa saya buat untuk bekal sekolah anak-anak. Resepnya saya contek dari buku “Ide Masak”, Resep Kue Favorit All About Keju, terbitan GPU:

Kroket Keju Makaroni
Bahan:
4 sdm mentega (tawar)
Bawang bombai cinang
4 sdm tepung terigu
350 ml susu cair
50 gr keju, parut halus
50 gram makaroni, rebus hingga matang tapi jangan telalu lembek
½ sdt garam
½ merica bubuk
¼ sdt pala bubuk
100 gram keju mozzarella, potong kecil
Pelapis:
50 gram tepung serbaguna
1 butir telur ayam
100 gram tepung roti kasar
Cara membuat:
1.       Panaskan mentega. Tumis bawang bombai. Tambahkan tepung. Aduk cepat hingga rata. Kecilkan api. Tuang susu sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga tercampur rata.
2.       Tambahkan keju, makaroni, garam, merica, pala. Aduk rata. Masak hingga semua matang. Angkat biarkan hingga dingin. Ambil 2 sdm makaroni, isi dengan 1 potong keju. Bentuk lonjong. Lakukan hingga semua adonan habis.
3.       Guling ke dalam tepung terigu hingga tersalut rata. Celupkan ke dalam telur. Gulingkan ke dalam tepung roti hingga rata.
4.       Goreng dalam minyak banyak dan panas. Angkat. Tiriskan.

Selamat membuat bekal, para Bunda ... J

Sabtu, 16 Maret 2013

Kejar Target Boleh, Tapi ...

Sebuah catatan untuk para agen ...


Saya memahami kondisi teman-teman yang bekerja di dunia marketing: dikejar target. Entah itu jadi agen asuransi, agen properti, member sebuah MLM, dan profesi sejenis. Tentu, sebagai teman, saya salut dengan kegigihan mereka dalam mencari nasabah atau anggota baru. Namun, jangan sampai, target yang harus dicapai justru mengorbankan pertemanan.

Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang sudah lama tidak menghubungi tiba-tiba mengirim SMS.
Apriiiil ... gue kangen nih. Apa kabar? Ketemuan doong
Haaaii ... Gue baik. Lo gimana? Iyaa, gue juga kangen nih. Yuk yuk ketemuan. 

Kami pun berbalas SMS dan sesuai hari dan jam yang sudah disepakati, kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah kami duduk, tanpa basa-basi, teman saya langsung menyampaikan maksud pertemuan kami itu.

Pril, gue sekarang jadi agen asuransi nih. Ni, udah gue buatin hitung-hitungannya buat elo. 

Jujur, seketika wajah ceria saya sedikit berubah. Sebelum berangkat, bahkan saat kami menentukan waktu bertemu, saya sangat senang karena akan bertemu dengan teman lama yang dulu cukup akrab. Saya begitu bahagia ketika dia SMS dan itu menandakan ia masih mengingat saya. Bukankah itu kebahagiaan dari sebuah pertemanan? Tetap diingat, dirindukan, meski sudah tak lama bertemu? Atau, saya yang terlalu melankolis?

Sebetulnya, saya tidak alergi agen asuransi atau MLM yang ingin menawarkan produknya. Banyak agen asuransi yang menghubungi dan saya akan menolak dengan sopan. Saya paham itu adalah pekerjaan mereka! Tapi, yang tidak saya sukai adalah ketika seseorang mengatasnamakan kangen hanya untuk jualan. Buat saya, itu kebohongan dan menganggap teman hanya sekadar target! Apalagi, dulu kami berteman cukup dekat.

Bukankah lebih baik, dia bercerita terus terang bahwa saat ini dia seorang agen asuransi dan berniat untuk menawarkan produknya untuk saya? Bukankah sebagai teman kita akan saling menghargai kebutuhan masing-masing?

Untuk teman-temanku, para agen asuransi, properti, MLM, atau profesi sejenis,
Kejujuran dan keterbukaan adalah hal penting dalam menjaga sebuah hubungan. Andaikan teman saya jujur, saya pasti akan menerimanya dengan antusias dan terbuka. Bahkan mungkin, jika memang membutuhkan, saya akan mengambil produk yang ia tawarkan. Tapi karena saya sudah tak enak hati, saya justru mendengarkannya setengah hati. Sudah pasti, saya tidak mengambilnya.

Teman tentu boleh dijadikan prospek nasabah, tapi di dalamnya ada rasa yang harus dijaga. Jangan sampai, mengejar target, kehangatan sebuah pertemanan akan hilang.

Selamat berjuang mengejar target dengan cara yang elegan.



Rabu, 13 Maret 2013

"Ketika Adik Cemburu"


Tulisan ini pernah dimuat di rubrik "Buah Hati" Republika, Selasa, 15 Januari 2013.
Semoga bermanfaat :)

Ketika Adik Cemburu
Aprilina Prastari

        “Ih, tulisan Kakak jelek!” kata Taman Hati, puteri kami yang kedua, setelah membaca cerita pendek yang ditulis kakaknya, Wafa Auliya. Wafa memang senang menulis. Beberapa kali ia memenangkan lomba menulis dan beberapa karyanya diterbikan dalam bentuk buku.
       Awalnya, saya menganggap itu hanya keisengan Taman Hati. Mereka memang suka saling bercanda dan meledek tapi masih dalam batas-batas wajar. Namun sepertinya saya salah. Ungkapan itu bukan sekadar lelucon tapi tanda ia sedang cemburu. Itu bisa saya rasakan ketika di lain waktu, ia mengungkapkannya dalam bahasa yang berbeda.
      Saat itu, saya khusyuk memantau pengumuman lomba menulis untuk anak. Kurang lebih sebulan sebelum pengumuman itu, Wafa mengirim karyanya untuk diikutsertakan. Ketika melihat nama Wafa masuk dalam dua puluh karya terbaik dan akan dibukukan, spontan saya melonjak gembira. Segera saya kabarkan pada suami dan Wafa yang kebetulan ada di ruang tengah. Kami pun mengucap syukur dan begitu senang. Meski tidak menjadi juara pertama, tapi masuk sebagai salah satu karya terbaik, sudah cukup membanggakan kami. Kami semua senang dan gembira hingga kami lupa, di pojok tempat tidur, Taman Hati hanya diam memerhatikan kami.
      Saya lalu memberi isyarat pada suami agar diam dan tidak menunjukkan kegembiraan berlebihan. Saya dekati dia dan meledaklah tangisnya.
      “Aku enggak hebat kaya Kakak. Kakak sering ikut lomba. Piala Kakak banyak. Pialaku cuma satu,” ia menangis terisak dalam pelukan saya.
      Saya terdiam. Sungguh, saya merasa bersalah.  Bagaimana mungkin saya lupa kalau lomba menulis itu juga diikuti oleh Taman Hati. Mengapa saya hanya fokus mencari nama Wafa dan begitu yakin kalau nama Taman Hati tidak memiliki kesempatan untuk tampil di deretan nama pemenang. Betapa saya tidak adil padanya!
    Memang, sejauh ini saya belum melihat Taman Hati memiliki ketertarikan yang serius pada dunia kepenulisan. Mungkin saya yang belum dapat melihatnya atau memang bukan di bidang itu, kelebihan yang dimilikinya. Di sisi lain, Taman Hati berbeda dengan Wafa yang senang mengikuti banyak kegiatan dan tertantang untuk mengerjakan sesuatu yang baru.
       Taman Hati masih menangis ketika saya memeluknya erat.
       “Ade tau enggak apa yang bikin Ayah dan Bunda bangga sama Ade?” tanya saya akhirnya.
       Ia menggeleng. Air matanya masih menetes tapi tangisnya sudah mereda.
      “Sejak masih di perut Bunda, Ade makannya pinter. Ade juga lucu, selalu bikin Ayah-Bunda ketawa, dan baik sama temen. Makanya temennya Ade banyak, kan?” ucap saya dengan suara tercekat.  
       Ia mengangguk pelan.
    Sungguh, bukan hal yang mudah memiliki dua anak dengan kondisi yang dapat menimbulkan kecemburuan di satu pihak; kakak berprestasi dan adik biasa saja. Tentu kami berusaha semaksimal mungkin menggali potensi puteri kedua kami meski tidak akan memaksakannya untuk selalu tampil menonjol jika memang ia tak nyaman. Namun, sikap cemburunya mengajarkan kami untuk berhati-hati agar tidak terlalu menampakkan kesenangan yang berlebihan ketika Wafa memenangkan lomba tertentu dan menanamkan pada diri Taman Hati bahwa anak yang hebat bukan karena sering memenangkan lomba dan mendapat banyak piala, tapi anak yang selalu berusaha menyenangkan hati orang tuanya, rendah hati, ramah pada siapa saja, seperti yang selama ini ia lakukan.
    “Bunda minta maaf ya, kalo Ade merasa Bunda nggak adil sama Ade. Nanti kalo ada lomba lagi, Ade ikut, ya.”
      Taman mengangguk.
      “Emang Ade mau ikut lomba apa sih?” pancing saya.
      “Lomba mewarnai, menggambar, masak, ... pokoknya semua,” katanya dengan suara terbata-bata.
     Saya tersenyum dan mengangguk. Semoga saya dan suami bisa menggali kehebatan yang sudah Allah titipkan dalam dirinya ....              
               
      Pondok Gede, 22 Desember 2012
      Untuk kedua puteriku yang luar biasa ...



Ini lhoo yang namanya Taman Hati :)


Senin, 21 Januari 2013

Dapat Air Bersih, Sudah Cukup untuk Buat Kita Bersyukur :)


Matahari masih menunjukkan sinar gagahnya ketika saya, teman-teman dari Forum Lingkar Pena Bekasi (Sudi, Vira, Haden, Pendi, Adi, Ilham, Ina), Sanggar Anak Matahari (Andi, Nadiah, dan beberapa teman sanggar yang lain), Mas Eko dan Mas Sahid, bersiap menuju Babelan, Bekasi. Siang itu, Minggu, 20 Januari 2013, kami akan menengok korban banjir untuk membagikan 200 paket nasi bungkus, makananan kering, susu, dan pakaian layak pakai (terima kasih untuk para donatur yang sudah menitipkan sebagian rejekinya kepada kami).  Tak hanya makanan dan pakaian, RS Zainuttaqwa juga membantu menyediakan ambulance beserta seorang dokter, dua perawat, dan obat-obatan. Alhamdulillah. Terima kasih banyak untuk RS Zainuttaqwa. Semoga semakin berkah.

Saya tidak hapal jalan apa saja yang kami lewati. Maklum, gagap Bekasi hehe. Yang jelas, kami melewati sawah, sungai, dan ah iya, ada satu tempat yang saya ingat: Pasar Babelan! Dari situ, kami masih harus terus berkendara menuju sumur minyak Pertamina. Desa Hurip Jaya, Babelan—tempat kami akan mengadakan bakti sosial ini- terletak tak jauh dari sana.

Tapi, biarpun letaknya dekat dengan sumur minyak , saya masih melihat rumah-rumah tak layak huni karena masih beralas tanah! Iya, tanah! Jadi bisa dibayangkan kalau banjir dan airnya masuk ke dalam rumah!

Menurut warga, saat hujan lebat beberapa hari lalu, daerah ini terendam banjir setinggi kurang lebih satu meter. Meskipun pada saat kami datang, banjir sudah mulai surut tapi masih menggenangi rumah warga setinggi kurang lebih 20 Cm. Makanya, penyakit yang hampir diderita warga di sana adalah kutu air dari yang tingkatnya sedang sampai parah! Ya iyalah, gimana kakinya mau kering, lah wong airnya masuk ke dalam rumah dan mereka harus tinggal di sana! Bahkan ada seorang ibu yang badannya dipenuhi bintil-bintil seperti cacar.

“Ya mau gimana lagi! Nggak ada air bersih ya saya mandinya pake air banjir,” katanya.  

Mandi dengan air banjir ini juga bukan dialami ibu itu saja, lho. Warga di desa ini terpaksa mandi dengan air banjir karena kesulitan air bersih. Sementara untuk makan dan minum, mereka harus membeli air bersih di tempat lain yang tidak terkena banjir. Selain penyakit kulit, warga di desa ini juga mengeluhkan penyakit lain, seperti mata gatal, demam, flu, pusing, diare dan ulu hati sakit.   

Kami pun segera membuka posko pelayanan kesehatan selama kurang lebih satu setengah sejam. Ada sekitar tujuh puluh warga  (terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak) yang kami layani. Ada juga beberapa ibu yang belum sempat ditangani karena kami kehabisan salep kulit. Maaf ya, Bu L

Memang, agak sulit penyakit sulit ini bisa sembuh kalau air bersih belum bisa mereka peroleh dan air masih menggenangi rumah mereka.






Selain Desa Hurip Jaya, daerah-daerah lain yang terkena banjir juga banyak yang belum memperoleh air bersih, lho. Setidaknya, itu yang saya lihat sendiri, ketika sehari sebelumnya, Sabtu, 19 Januari 2013, saya dan suami melihat kondisi di Perumahan Pondok Gede Permai. Jumat lalu, sungai yang terletak di belakang perumahan ini meluap dan tanggulnya jebol. Alhasil, perumahan ini terendam banjir hingga kurang lebih 3 meter!

Saat kami ke sana, Alhamdulillah banjir sudah surut tapi meyisakan lumpur setinggi 10-20 Cm. Di sini pun, tidak ada air bersih dan listrik mati. Saya sempat ngobrol dengan salah satu warga yang sedang membersihkan tokonya.

"Udah kayak tsunami pokoknya. Nggak ada yang sempet nyelamatin barang. Barang-barang di toko saya aja rusak semua," katanya sambil senyum. Masih sempat senyum, lho. Hebat, ya. Dan ada satu lagi kata-kata Bapak ini yang bikin saya salut.

"Yah, kita nggak bisa melawan kehendak Allah. Dijalani aja. InsyaAllah nanti diganti lagi sama yang lebih bagus sama Allah."

Subhanallah. Padahal, kalau saya lihat tokonya yang rusak dan barang dagangan yang sudah tidak bisa dijual lagi (Bapak ini berjualan baju-baju muslim), mungkin kerugiannya mencapai puluhan juta! Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik ya, Pak.




 Pulang dari Pondok Gede Permai, kami sengaja tidak membersihkan kaki yang penuh lumpur. Buat oleh-oleh untuk diceritakan ke anak-anak kami, Wafa dan Taman Hati, bahwa tak jauh dari tempat tinggal mereka, ada orang-orang yang kesulitan air bersih.

Bersyukurlah, kita masih bisa menikmati air bersih :)

Selasa, 15 Januari 2013

"Jalan-Jalan ke Prancis" by Wafa Auliya

Alhamdulillah, buku pertama yang Wafa tulis sendiri sudah terbit, November lalu. Diterbitkan oleh Tiga Ananda. Doakan Wafa tetap semangat menulis yaaa :)