Senin, 21 Januari 2013

Dapat Air Bersih, Sudah Cukup untuk Buat Kita Bersyukur :)


Matahari masih menunjukkan sinar gagahnya ketika saya, teman-teman dari Forum Lingkar Pena Bekasi (Sudi, Vira, Haden, Pendi, Adi, Ilham, Ina), Sanggar Anak Matahari (Andi, Nadiah, dan beberapa teman sanggar yang lain), Mas Eko dan Mas Sahid, bersiap menuju Babelan, Bekasi. Siang itu, Minggu, 20 Januari 2013, kami akan menengok korban banjir untuk membagikan 200 paket nasi bungkus, makananan kering, susu, dan pakaian layak pakai (terima kasih untuk para donatur yang sudah menitipkan sebagian rejekinya kepada kami).  Tak hanya makanan dan pakaian, RS Zainuttaqwa juga membantu menyediakan ambulance beserta seorang dokter, dua perawat, dan obat-obatan. Alhamdulillah. Terima kasih banyak untuk RS Zainuttaqwa. Semoga semakin berkah.

Saya tidak hapal jalan apa saja yang kami lewati. Maklum, gagap Bekasi hehe. Yang jelas, kami melewati sawah, sungai, dan ah iya, ada satu tempat yang saya ingat: Pasar Babelan! Dari situ, kami masih harus terus berkendara menuju sumur minyak Pertamina. Desa Hurip Jaya, Babelan—tempat kami akan mengadakan bakti sosial ini- terletak tak jauh dari sana.

Tapi, biarpun letaknya dekat dengan sumur minyak , saya masih melihat rumah-rumah tak layak huni karena masih beralas tanah! Iya, tanah! Jadi bisa dibayangkan kalau banjir dan airnya masuk ke dalam rumah!

Menurut warga, saat hujan lebat beberapa hari lalu, daerah ini terendam banjir setinggi kurang lebih satu meter. Meskipun pada saat kami datang, banjir sudah mulai surut tapi masih menggenangi rumah warga setinggi kurang lebih 20 Cm. Makanya, penyakit yang hampir diderita warga di sana adalah kutu air dari yang tingkatnya sedang sampai parah! Ya iyalah, gimana kakinya mau kering, lah wong airnya masuk ke dalam rumah dan mereka harus tinggal di sana! Bahkan ada seorang ibu yang badannya dipenuhi bintil-bintil seperti cacar.

“Ya mau gimana lagi! Nggak ada air bersih ya saya mandinya pake air banjir,” katanya.  

Mandi dengan air banjir ini juga bukan dialami ibu itu saja, lho. Warga di desa ini terpaksa mandi dengan air banjir karena kesulitan air bersih. Sementara untuk makan dan minum, mereka harus membeli air bersih di tempat lain yang tidak terkena banjir. Selain penyakit kulit, warga di desa ini juga mengeluhkan penyakit lain, seperti mata gatal, demam, flu, pusing, diare dan ulu hati sakit.   

Kami pun segera membuka posko pelayanan kesehatan selama kurang lebih satu setengah sejam. Ada sekitar tujuh puluh warga  (terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak) yang kami layani. Ada juga beberapa ibu yang belum sempat ditangani karena kami kehabisan salep kulit. Maaf ya, Bu L

Memang, agak sulit penyakit sulit ini bisa sembuh kalau air bersih belum bisa mereka peroleh dan air masih menggenangi rumah mereka.






Selain Desa Hurip Jaya, daerah-daerah lain yang terkena banjir juga banyak yang belum memperoleh air bersih, lho. Setidaknya, itu yang saya lihat sendiri, ketika sehari sebelumnya, Sabtu, 19 Januari 2013, saya dan suami melihat kondisi di Perumahan Pondok Gede Permai. Jumat lalu, sungai yang terletak di belakang perumahan ini meluap dan tanggulnya jebol. Alhasil, perumahan ini terendam banjir hingga kurang lebih 3 meter!

Saat kami ke sana, Alhamdulillah banjir sudah surut tapi meyisakan lumpur setinggi 10-20 Cm. Di sini pun, tidak ada air bersih dan listrik mati. Saya sempat ngobrol dengan salah satu warga yang sedang membersihkan tokonya.

"Udah kayak tsunami pokoknya. Nggak ada yang sempet nyelamatin barang. Barang-barang di toko saya aja rusak semua," katanya sambil senyum. Masih sempat senyum, lho. Hebat, ya. Dan ada satu lagi kata-kata Bapak ini yang bikin saya salut.

"Yah, kita nggak bisa melawan kehendak Allah. Dijalani aja. InsyaAllah nanti diganti lagi sama yang lebih bagus sama Allah."

Subhanallah. Padahal, kalau saya lihat tokonya yang rusak dan barang dagangan yang sudah tidak bisa dijual lagi (Bapak ini berjualan baju-baju muslim), mungkin kerugiannya mencapai puluhan juta! Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik ya, Pak.




 Pulang dari Pondok Gede Permai, kami sengaja tidak membersihkan kaki yang penuh lumpur. Buat oleh-oleh untuk diceritakan ke anak-anak kami, Wafa dan Taman Hati, bahwa tak jauh dari tempat tinggal mereka, ada orang-orang yang kesulitan air bersih.

Bersyukurlah, kita masih bisa menikmati air bersih :)

Selasa, 15 Januari 2013

"Jalan-Jalan ke Prancis" by Wafa Auliya

Alhamdulillah, buku pertama yang Wafa tulis sendiri sudah terbit, November lalu. Diterbitkan oleh Tiga Ananda. Doakan Wafa tetap semangat menulis yaaa :)

Princess Aliya dan Gua Misterius



Hasil pelatihan di Kelas Ajaib!
Terima kasih Kang Benny yang sudah berbagi ilmu. Juga untuk Mbak Ichen, Mbak Iffa dan Dika. What a great team!

Sinopsis

Princess Aliya terjebak ke dalam Gua Jebakan Gua! Untuk keluar dari gua itu, Princess Aliya harus menemukan 20 kunci yang ada pada 20 princess dari 20 negeri. Untunglah, dalam gua itu, Princess Aliya menemukan buku Kumpulan 20 Kisah Princess dan membacanya. Semua kisah itu harus dia ceritakan kembali setiap kali menemui princess pemegang kunci. 
Berhasilkah Princess Aliya keluar dari gua? Yuk, ikuti perjalanan Princess Aliya dan simak cerita kedua puluh princess yang menarik dan bermanfaat :)

Senin, 14 Januari 2013

"Ketika Adik Cemburu" di Rubrik Buah Hati, Republika


Alhamdulillah, tulisan saya "Ketika Adik Cemburu" dimuat di Rubrik Buah Hati, Republika hari ini.
Cerita ini tentang puteri kedua saya, Taman Hati, yang cemburu pada kakaknya, Wafa. Ia merasa, kakaknya lebih hebat karena sering menang lomba. Dari kecemburuannya, kami belajar untuk berhati-hati dalam meluapkan perasaan ketika Wafa meraih prestasi tertentu. Kami juga menjelaskan pada Taman bahwa anak yang hebat bukan dari banyaknya piala yang ia peroleh. Taman Hati sudah menjadi anak yang hebat karena sudah menyenangkan hati Ayah dan Bunda :)

Senin, 07 Januari 2013

Ketika nilai puteriku jelek ....

Saya percaya, tiap anak memiliki kelebihannya masing-masing. Begitu juga untuk pelajaran di sekolah. Sebagai orang tua, kita tidak bisa menuntut anak menguasai semua bidang pelajaran. Biasanya ada satu-dua pelajaran yang kurang diminati anak.

Ini juga dialami puteri saya, Wafa. Sejak masuk SD, Wafa sangat bagus di pelajaran Bahasa tapi harus "kerja keras" untuk memahami Matematika. Terlebih ketika sudah Kelas IV dan materi yang diajarkan semakin meningkat, saya harus memberikan waktu dan perhatian ekstra saat ulangan matematika.

Pernah, untuk pertama kalinya, Wafa mendapat nilai matematika jelek. Jauh di bawah nilai rata-rata. Alhamdulillah, Wafa jujur dan tetap memberikan nilai ulangan itu ke saya. Saya hanya bilang ke Wafa, "Yang penting Kakak berusaha. Belajar maksimal dan sungguh-sungguh. Kalau sudah belajar sungguh dan hasilnya nggak bagus, ya sudah. Belajar lagi. Sebaliknya, kalau Kakak belum berusaha tapi udah nyerah, merasa nggak bisa, itu yang nggak bagus."

Syukurlah, Wafa tidak menyerah. Dia berusaha mengikuti arahan guru matematikanya dan mencoba belajar lagi. Saya akui juga, peran guru sangat besar dalam memotivasi anak. Saya lihat di hasil ulangan Wafa ada kalimat: "Semangat Wafa!" dan saya sampaikan apresiasi tersebut langsung ke gurunya.

Alhamdulillah, setelah mengikuti remedial, nilainya meningkat jauh. Begitu juga saat pengambilan rapor semester 1 lalu, nilai matematikanya bagus.


My dear Wafa,

Percayalah, kita boleh saja kurang pintar di suatu bidang. Tapi dengan sungguh-sungguh dan ketekunan, kita pasti bisa berhasil.







Jumat, 04 Januari 2013

Gado-gado Femina - Kualat


Hai, 

April 2012, saya pernah mengikuti lomba menulis untuk rubrik "Gado-Gado" di Majalah Femina. Alhamdulillah, tulisan saya tersebut masuk tiga besar. Tadinya saya pikir akan dimuat tapi ternyata nggak hihihi. Tapi hadiah kerennya sudah bikin saya seneng banget, kok. Nah, buat temen2 yang namanya ada di cerita ini, makasih banyak yaaa. 

Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat kami, Almh. Mira. We miss you but know you're happy with the baby ... :) 



Lomba Menulis “Gado-Gado” Majalah Femina

“Kualat”
Aprilina Prastari


Jangan sampai, gara-gara SMS, suasana yang seharusnya mengharukan berubah jadi menggelikan.
           
            Sekadar saran saja. Kalau Anda memiliki beberapa teman dengan nama depan atau panggilan yang sama, jangan lupa untuk mencatat di phonebook handphone: nama lengkap, tempat kerja atau apapun yang bisa mengingatkan Anda pada dia. Jangan sampai, gara-gara SMS, suasana yang seharusnya mengharukan berubah jadi menggelikan.
Malam itu, saya dikejutkan berita, salah seorang mantan rekan kerja yang meninggal dunia karena kanker. Padahal setahun lalu, kami bertemu dan dia terlihat sehat. Bahkan beberapa bulan lalu, kami masih sempat telpon-telponan untuk sebuah pekerjaan. Yang lebih memilukan, dia masih muda, usianya lima tahun di bawah saya dan ia tengah mengandung anak pertamanya. Duh, sedih sekali mendengarnya.
            Dalam keadaan masih syok, saya lalu mengabarkan teman-teman yang pernah sekantor dengan almarhumah. Sebagian lewat bbm, sebagian lagi SMS. Segera saya ketik SMS duka dan mulai mencari nama teman-teman di phonebook.
            Tak berapa lama kemudian, sebuah SMS masuk. Dari Dedi. Hanya nama “Dedi” tanpa penjelasan lain. Entah kenapa, saat membaca nama Dedi di layar telepon, pikiran saya langsung teringat pada Dedi, account executive (AE) paling muda di kantor tempat kami bekerja dulu. Kami pun berbalas SMS.  
            Pril, udah tau kalo Mira meninggal?
            Iya, udah, Ded. Gue sedih banget. Padahal beberapa bulan lalu masih telpon-telponan.
            Iya, sedih banget, ya. Kapan sih dimakaminnya? Lo mau ngelayat?
            InsyaAllah dimakamin besok siang. Gue mungkin ngelayat besok pagi sebelum ngantor. Btw, kok Lo kenal Mira. Kenal di mana?
            Untuk beberapa saat SMS saya tidak dibalas. Lima belas menit kemudian, barulah Dedi membalasnya.
            Laaah, gimana sih. Masa baru berapa tahun nggak ketemu, lo lupa.
            Saya diam. Dedi yang ada di pikiran saya saat itu masih sama. Saya justru malah sibuk menduga-duga, di mana kira-kira Dedi bertemu dengan almarhumah Mira. Mungkinkah mereka pernah sekantor atau … ah, iya, mereka kan sama-sama AE. Bisa saja mereka bertemu di sebuah seminar. Tapi … akhirnya saya menyerah dan menjawab SMS:  
            Ini Dedi mana ya?
            Apriiill .. Masa lupa siiih … Ini gue, Dedi Uban!
            MasyaAllah! Pak Dedi? Maaaf …

            Wah, malunya! Ternyata SMS itu bukan dari Dedi yang saya kira. Saya memang memiliki dua teman bernama Dedi. Dua-duanya sama-sama orang Sunda dan bekerja di advertising agency. Bedanya, Dedi yang satu masih muda, sedangkan yang satu lagi, yang sekantor dengan saya dan almarhumah adalah Dedi yang sudah tua. Berhubung Pak Dedi ini sudah beruban, makanya,kami sekantor sering memanggilnya dengan Pak Dedi Uban. Pak Dedi memang lebih senang memakai kata gue dan elo dengan teman-teman sekerjanya, meskipun kami berbeda usia sangat jauh.  
            Dulu, waktu masih sekantor, kami memang akrab karena saya copywriter dan Pak Dedi adalah art director, jadi sebelum membuat iklan, kami (saya, Pak Dedi dan almarhumah Mira) sering brainstorming. Makanya, saya enggak enak banget. Apalagi sesudah itu, Pak Dedi, SMS lagi:
            Kualat Lo, Pril. Lupa sama babeh sendiri …

            Saya cuma bisa nyengir. Semoga almarhumah Mira juga ikut tersenyum di alam sana.


Minggu, 16 September 2012

Happy Working Mom: Kiat-Kiat Praktis Merawat & Mengasuh Anak untuk Ibu Bekerja




Happy Working Mom
Kiat-Kiat Praktis Merawat & Mengasuh Anak untuk Ibu Bekerja


Saya percaya setiap ibu bekerja memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memutuskan untuk bekerja. Dari teman-teman sesama ibu bekerja, alasan yang paling banyak muncul adalah membantu suami mencari nafkah atau untuk tabungan pendidikan anak-anak nanti. Apa pun alasannya, menjadi ibu bekerja memang tidak mudah. Saat tumpukan pekerjaan di kantor menanti, saat itulah mungkin ada saja masalah yang terjadi di rumah; asisten pulang kampung,anak sakit atau masalah lain yang sangat mungkin mengganggu konsentrasi ibu dalam bekerja.

Buku ini saya tulis untuk berbagi pengalaman agar sahabat-sahabat saya yang memutuskan menjadi ibu bekerja atau sudah menjadi ibu bekerja bisa menikmati hari-hari menjadi ibu bekerja dan tetap berkarya namun bisa membagi waktu dengan baik untuk anak-anak tercinta di rumah.

Di akhir buku ini, saya juga mengajak suami saya untuk berbagi peran dengan istri yg bekerja. Jika dibalik sukses seorang suami karena ada dukungan istri, begitu juga sebaliknya. Peran dan dukungan suami sangat dibutuhkan agar semuanya berjalan dengan harmonis.


Salam,
 
Pondok Gede
 
Aprilina Prastari

Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter



Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter

Oleh Aprilina Prastari

Kapan sih terakhir kali kamu membaca buku tentang periklanan? Well, bisa dibayangkan pasti deh buku yang dibaca kebanyakan teori.

Berbeda dengan buku-buku ttg dunia periklanan lainnya, buku Seru (Nggak)nya Jadi Copywriter menyajikan suka duka manusia kreatif bernama Copywriter dengan bahasa yang sangat personal dan santai. 

Membaca buku ini kita tidak hanya menjadi tahu apa saja tugas seorang Copywriter tapi juga memahami kegalauan yang sering dihadapi seorang Copywriter.

Wah, Copywriter bisa galau juga? Eits, jangan dikira tugas Copywriter cuma menulis naskah iklan, hangout di café bareng orang-orang beken dan terima gaji besar. Justru selain nuansa kerja yg ajaib jg banyak hal tak terduga disana. Mulai dari adu kekuatan dengan Art Director (AD) sampai menghadapi Creative Director yang nyebelin.

Buku ini membuka pandangan baru pada pembaca akan permasalahan yang dihadapi seorang Copywriter dan turut memberikan solusinya. Buku ini bisa menjadi buku penyelamat para Copywriter muda supaya tahan banting menghadapi kerasnya dunia periklanan.

Buku ini dijamin berisi dan berimbang dengan hadirnya tulisan dari tokoh-tokoh dunia periklanan Indonesia dan kisah-kisah dari para Creative Director (CD),Art Director (AD), Account Executive (AE) dan juga Media.

Dengan membaca buku ini diharapkan pembaca memiliki gambaran mengenai seluk-beluk industri periklanan. Khususnya mahasiswa periklanan atau siapa pun, akan sangat membantu bagi mereka yg memang ingin terjun ke dunia periklanan, khususnya sebagai copywriter.

***

“Aprilina meretas profesi copywriter dengan kupasan yang anggun dan mengulasnya dari berbagai sudut dengan gaya penyajian yang bernas. Hasil akhirnya: sebuah iklan yang sangat jujur tentang profesi copywriter.”


Joko Santoso HP, Mantan Creative Director Leo Burnett Kreasindo &; Backerspielvogel Bates


“Buku ini bergaya etno, memotret copywriter lengkap dengan latar belakang lingkungan kehidupannya. Sosok copywriter tergambar begitu utuh. Suka, duka, obsesi, ekspektasi, tuntutan, bahkan suasana kerja pun tergambar dengan kompak.”


Djito Kasilo, Strategic Planning Consultant


“Buku ini akan sangat membantu para kawula muda untuk lebih mengenal seluk-beluk dunia periklanan–khususnya tim kreatif–serta layak menjadi referensi bagi para mahasiswa dan akademisi bidang Periklanan dan Ilmu Komunikasi.”


Fredy B. L. Tobing, Dekan FISIP UPN “Veteran” Jakarta


Hal yang Wajib dilakukan untuk Pengasuh dan ART Baru

Beberapa kali penculikan anak oleh pengasuh atau ART terjadi. Sebagai ibu, saya bisa memahami kerisauan para bunda bekerja yang harus meninggalkan buah hatinya bersama pengasuh atau ART. Apalagi kalau mereka baru bekerja.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengantisipasi hal itu agar tidak terjadi?

    Pertama, mintalah KTP atau tanda pengenal diri yang lain. Kalau Anda mengambil dari yayasan, seharusnya mereka bisa memperlihatkan KTP atau ijazah karena minimal pengasuh dari yayasan harus lulusan SMP.  Kalau mereka diambil dari penyalur, memang tidak semua pengasuh atau ART memiliki KTP atau ijazah. ART yang saat ini bekerja dengan saya pun demikian. Kalau ini yang terjadi, hubungi orang tuanya. Ini untuk mengecek apakah pengasuh atau ART benar-benar menggunakan nama asli. Kalau ART atau pengasuh tidak mau memberikan nomor telepon orang tuanya, Anda harus berhati-hati. O ya, untuk menghindari ia ‘menggunakan’ orang lain sebagai orang tuanya, mintalah nomor orang tuanya secara tiba-tiba dan langsung hubungi saat itu juga.

    Kedua, foto pengasuh atau ART. Supaya tidak merasa dicurigai, kita bisa meminta dia berfoto dengan anak kita saat sedang main, misalnya. Ini untuk mengantisipasi kalau terjadi apa-apa, kita memiliki fotonya.

    Ketiga, kenalkan pengasuh atau ART baru kepada tetangga, guru, dan satpam sekolah anak kita.

    Keempat, jika Anda meninggalkan anak benar-benar hanya dengan pengasuh atau ART tanpa ada keluarga yang mengawasi, mintalah bantuan tetangga terdekat untuk membantu mengawasi.

    Kelima, jangan mengambil ART dari jalan. Ada lho, tetangga ibu saya yang mengambil ART yang entah dari mana tiba-tiba datang dan ingin kerja. Berhubung tetangga ibu saya sangat butuh, orang ini dipekerjakan. Beberapa hari kemudian, kabur membawa perhiasan. Jadi, meskipun sangat butuh, jangan ambil resiko ini, ya. Kalau harus mengambil dari yayasan atau penyalur, carilah yang direkomendasikan teman atau tetangga.

    Keenam, dengarkan kata hati. Saat pertama kali bertemu, wawancara, Anda bisa merasakan apakah calon ART atau pengasuh ini memang tepat. Itu yang biasanya saya lakukan saat merekrut pengasuh atau ART. Selain mewawancarai, saya juga menggunakan perasaan. Cara dia bersikap dan berbicara juga menjadi salah satu catatan tersendiri apakah dia layak untuk mengasuh harta kita yang paling berharga.

    Terakhir, sama-sama berdoa, semoga Alloh SWT melindungi anak-anak kita. Amin. 

Merekrut Pengasuh dari Yayasan

Merekrut Pengasuh dari Yayasan 
 
(Tulisan ini diambil dari buku saya “Berdamai dengan Asisten di Rumah”, diterbitkan Elex Media Komputindo, 2009)


    Ada kawan yang bertanya, lebih bagus ambil dari yayasan atau penyalur, ya? Sebetulnya, tidak ada jaminan kalau mengambil dari yayasan lebih bagus dan sebaliknya. Kalau saya, lebih suka titip ke tetangga yang punya kenalan di kampung dan kenal baik dengan calon ART tersebut. Nanti, biar saya sendiri yang mengajari. Walaupun, ada juga pengasuh yang saya ambil dari yayasan dan bagus.
    Memang, dengan beberapa pertimbangan, ada sebagian ibu yang lebih nyaman mengambil pengasuh atau ART dari yayasan. Yang perlu dipahami, yayasan yang bagus belum tentu menjamin babysitter yang mereka siapkan juga bagus dan berkualitas. Ibu tetap memerlukan tes tersendiri agar yakin kalau pengasuh tersebut memang bisa bekerja sesuai dengan yang Ibu harapkan. 
 
Berikut ini adalah beberapa kelebihan dan kekurangan mengambil di yayasan. 
 
Kelebihan:
-  Pengasuh sudah disediakan (dengan catatan, kalau sedang ada). Ada yayasan yang memberlakukan system kontrak setahun; artinya selama setahun Ibu boleh mengganti pengasuh tanpa batasan waktu namun untuk perpanjangan kontrak, di tahun berikutnya, Ibu diwajibkan untuk membayar lagi.
-  Jika terjadi masalah, yayasan bisa diminta pertanggungjawaban. Yayasan yang bagus biasanya sudah mempunyai jaringan dengan orang-orang yang membawa pengasuh tersebut sehingga kenal dengan keluarganya dan memilki pengasuh cadangan. Tanyakan kepada mereka siapa sponsor yang membawa calon pengasuh tersebut.
- Yayasan yang baik juga sudah memiliki pengasuh yang terampil dan berpengalaman sesuai dengan yang dibutuhkan.
- Jika sudah kenal dengan pemilik yayasan, biasanya dia sudah tahu bagaimana karakter kita dan pengasuh seperti apa yang cocok untuk kita.

Kekurangan:
-    Biaya administrasi mahal dan jika bertemu dengan yayasan yang nakal, hal ini bisa menjadi permainan. Pengasuh diminta untuk bertahan hingga masa garansi habis, selepas itu pengasuh diminta keluar supaya majikan membayar lagi untuk pengambilan berikutnya.
-   Setiap bulan pengasuh diminta untuk membayar biaya administrasi bulanan ke yayasan sehingga membuat gajinya menjadi tinggi dan yang dirugikan tentu majikan karena biaya administrasi tidak berpengaruh untuk majikan.
-    Belum tentu gaji yang tinggi sesuai dengan kemampuan pengasuh.
-    Yayasan tidak bisa menjanjikan sepenuhnya akan memberi pengasuh pengganti.
-  Yayasan lebih banyak memerhatikan kepentingan pengasuh daripada majikan. Untuk itu bacalah perjanjian dengan teliti. Terutama soal jika Ibu tidak cocok dengan pengasuh sementara mereka belum memiliki penggantinya. 
 

Seputar Wawancara Calon Pengasuh atau Asisten
 
Sebelum memperkerjakan calon asisten atau pengasuh, luangkan waktu untuk bertanya pada mereka. Beberapa hal yang bisa Ibu tanyakan pada calon pengasuh atau asisten sebagai bahan pertimbangan:  

 
•    Alasan bekerja; apakah karena membantu orang tua di kampung, atau jangan-jangan baru saja putus sama pacar … Mereka mungkin tidak akan sejujur itu pada kita tapi setidaknya bisa memberi kita sedikit gambaran. Kalau orang yang bekerja karena pelarian biasanya tidak akan betah dan fokus bekerja. 
•    Kemampuan diri; kalau untuk asisten rumah tangga, pertanyaan umum biasanya bisa masak apa saja, mengurus rumah dan lain-lain. Kalau untuk pengasuh anak, rasanya daftar kemampuan dirinya harus lebih panjang. Terutama soal pengetahuan mereka tentang anak-anak. Sesuaikan dengan usia dan kondisi anak kita. Utarakan saja karakter anak kita seperti apa dan bagaimana calon asisten bisa mengatasinya. Misalnya kita punya anak susah makan. Kira-kira apa yang ia akan lakukan untuk membujuknya.
•    Kemampuan bekerjasama; bekerjasama tidak hanya dengan teman sekerja di rumah, tetapi  kerjasama dengan kondisi kita. Jika Ibu dan bapak sama-sama bekerja dan sepenuhnya mengandalkan urusan rumah dan anak kepada asisten, kita perlu mengetahui sejauh mana mereka bisa sejalan dengan ritme kerja kita. Kita bisa menanyakan; apakah sanggup jika mau mengundurkan diri bekerja harus sebulan sebelumnya, apakah keberatan jika pulang kampung saat lebaran tidak lama-lama, dan sebagainya.
•    Kepribadian. Setidaknya kita bisa melihat bagaimana calon asisten dari penampilan, sopankah bajunya, cara bicaranya, kebersihannya.
•    Pengalaman dengan majikan yang lama. Apa saja yang ia kerjakan di sana, mengapa ia keluar, bagaimana hubungan mereka sekarang.
•    Kehidupan keluarganya; orang tua, kakak, adik, mungkin juga pacar.

Semoga Bunda mendapat pengasuh atau ART yang bagus, ya.