Sabtu, 04 Mei 2013

Bukan Karena Murah, Lantas Tak Dihargai, Kan?

Meski rumah tinggal kami bukan di perumahan keren, tapi Alhamdulillah, dekat dengan sekolah Islam yang menurut kami bagus dan Lembaga Tahfidz Qur'an (LTQ). Buat kami sekeluarga, ini adalah rizqi yang luar biasa. Kami sangat dimudahkan agar anak-anak bisa membaca Qur'an dengan baik dan menghafalnya.

Di LTQ ini, kami memasukkan Wafa dan Taman Hati di kelas tahfidz Qur'an. Alhamdulillah, Taman sekarang sudah hampir menyelesaikan hafalan juz 30  dan Wafa sudah mulai masuk hafalan juz 28. Ibunya? Plis, jangan tanya, ya :(

Meski mengajarkan ilmu yang manfaatnya sangat besar, LTQ Iqro ini hanya mematok biaya SPP yang sangat murah: hanya Rp 25.000 per bulan. Ya, hanya Rp 25.000. Ini untuk kelas anak-anak. Untuk dewasa memang lebih mahal tapi masih sangat terjangkau. Seminggu, masuk tiga kali yang boleh dipilih waktunya sesuai dengan kesibukan murid.

Nah, karena banyak ekskul, dan Wafa mengeluh capek, akhirnya sudah satu semeter ini, Wafa cuti. Selain, karena di sekolah, juga diajarkan tahfidz Qur'an. Sedangkan Taman Hati masih lanjut LTQ.

Cuma, sejak Wafa cuti LTQ, dan beberapa tetangga yang biasa berangkat sama-sama pindah rumah, Taman mulai malas masuk LTQ. Selama ini sih, Taman (dan dulu Wafa juga begitu), boleh tidak mengaji dengan beberapa kondisi: (1) sakit atau capek (2) ada tugas untuk besok atau mau ulangan (3) hujan. Di luar alasan itu, biasanya saya minta anak-anak untuk mengaji, paling tidak seminggu dua kali.

Hingga kira-kira beberapa minggu lalu, Taman benar-benar susah sekali diminta mengaji. Alasannya, "X (tetangga dekat rumah yang biasa berangkat sama-sama) juga nggak ngaji, Bun. Aku mau main aja, ya"

Melihat kondisi ini, saya coba ngobrol sama Taman. Saya coba gali apakah ada yang kurang nyaman di tempat les sehingga dia jadi kurang semangat LTQ. Jawabnya ya itu tadi. Temannya ada yang nggak LTQ dan mengajak main. Hehehe. Saya coba tawarkan untuk berhenti saja (dari pada keseringan nggak masuk) tapi dia menolak.  Nah, bingung, kan? Akhirnya saya bilang begini sama Taman:

"Ade, tau nggak apa yang bikin bu guru seneng?"
"Hmm, apa ya? hehehe ... " (eeeh ni anak malah nyengir lagi :D)
"Bu guru seneng kalo murid-muridnya semangat dateng ngaji, Dek"
"Tapi X ajah sama uminya nggak apa-apa nggak LTQ. Soalnya katanya bayarnya murah" (beeeuh ni anak)
"Ade, bayar murah bukan berarti kita jadi males-malesan. Coba Ade bayangin. Minggu kemaren waktu ujan, ternyata bu guru tetep dateng, kan? Ade nggak kasian bu guru udah capek-capek dateng, trus muridnya sedikit? Sedih nggak kira-kira bu guru? Kan kita udah sepakat, Ade boleh nggak LTQ kalo ... (saya sebutin lagi perjanjian yang pernah saya dan Taman sepakati)"

Taman diam. (hayo mau debat Nun apalagi :D)

Akhirnya, dia janji mau semangat LTQ lagi kecuali jika ketiga hal tadi terjadi.
Alhamdulillah, sekarang, sudah lumayan semangat lagi. Cuma tetep aja sih, masih harus diingetin, apalagi kalau sudah asyik main sama teman-temannya. Hehehe ...

Soal kurangnya antusiasme belajar kalau pelatihannya murah juga rasanya bukan dilakukan anak-anak, ya. Kita yang dewasa juga suka begitu. Termasuk saya. Kadang, kalau ikut pelatihan murah, pasti ada perasaan "Ah, santai aja. Murah ini, ..." Padahal, untuk yang mengajar, tentu bukan soal uangnya tapi antusiasme kita dalam mengikuti pelatihan yang diberikan.

Semoga kita lebih bisa menghargai setiap ilmu dan pengetahun yang diberikan oleh siapapun dan di mana pun, meskipun dengan harga yang murah.

Kamis, 11 April 2013

Selamat Hari Bawa Bekal Nasional


Bekal: Bentuk Sayang Bunda Bekerja
Aprilina Prastari

Sebagai ibu bekerja, saya akui, waktu saya di rumah menjadi sangat berkurang. Apalagi ketika saya masih bekerja di advertising agency yang sarat dengan lembur. Saat itu saya berpikir, saya harus memiliki sesuatu agar anak-anak tetap mengingat “keberadaan” saya. Saya ingin anak-anak mengingat masa kecilnya dengan manis tentang saya.
Akhirnya, sejak cuti melahirkan berakhir dan anak-anak masih harus saya mandikan, saya berjanji pada diri sendiri, selarut apapun saya pulang, esok paginya, harus saya yang memandikan mereka. Bukan pengasuh! Meski, saya akui, ada juga saat-saat saya tidak bisa memandikan mereka dan harus dibantu pengasuh.
Ketika anak-anak mulai TK, saya pun mulai menambah tugas: membuatkan bekal sekolah untuk mereka. Memang tidak setiap hari mereka membawa bekal kue yang saya buat. Ada saatnya mereka saya bawakan roti atau biskuit dalam kemasan. Namun dalam seminggu, pasti ada saat-saat saya (dibantu oleh ART) membuat bekal berupa kue yang dibuat sendiri. 
Dengan kemampuan memasak yang segitu-gitunya (:D), jujur saya pernah merasa khwatir. Nanti kalau nggak enak, gimana? Kalau nggak dimakan gimana? Dan saat-saat pulang kerja, pertanyaan pertama ke pengasuh adalah: "bekalnya dimakan nggak?" Hehehe. 
Untungnya anak-anak pengertian. Kalau tanpa perlu saya tanya, mereka bilang, "Bun, kuenya enak!" Itu tandanya kuenya benar-benar enak. Tapi kalau, mereka bilang, "Hmm lumayan," Nah, itu berarti minggu depan harus belajar lagi :D
Alhamdulillah, kebiasaan membawa bekal sendiri dari rumah masih terus berjalan sampai sekarang. Saya memang tidak membiasakan anak-anak jajan. Hanya tiap Jumat anak-anak saya izinkan untuk jajan di kantin  supaya tidak bosan. Tentu dengan bekal pengetahuan apa jajanan yang sehat dan tidak. 
Mungkin yang saya lakukan tidak seberapa. Tapi saya berharap, semoga kelak, ketika mereka dewasa, mereka memiliki kenangan tentang saya dan bekal sekolah mereka ...  

*** 

Sharing Resep: 

Dear Bunda, ini salah satu resep yang biasa saya buat untuk bekal sekolah anak-anak. Resepnya saya contek dari buku “Ide Masak”, Resep Kue Favorit All About Keju, terbitan GPU:

Kroket Keju Makaroni
Bahan:
4 sdm mentega (tawar)
Bawang bombai cinang
4 sdm tepung terigu
350 ml susu cair
50 gr keju, parut halus
50 gram makaroni, rebus hingga matang tapi jangan telalu lembek
½ sdt garam
½ merica bubuk
¼ sdt pala bubuk
100 gram keju mozzarella, potong kecil
Pelapis:
50 gram tepung serbaguna
1 butir telur ayam
100 gram tepung roti kasar
Cara membuat:
1.       Panaskan mentega. Tumis bawang bombai. Tambahkan tepung. Aduk cepat hingga rata. Kecilkan api. Tuang susu sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga tercampur rata.
2.       Tambahkan keju, makaroni, garam, merica, pala. Aduk rata. Masak hingga semua matang. Angkat biarkan hingga dingin. Ambil 2 sdm makaroni, isi dengan 1 potong keju. Bentuk lonjong. Lakukan hingga semua adonan habis.
3.       Guling ke dalam tepung terigu hingga tersalut rata. Celupkan ke dalam telur. Gulingkan ke dalam tepung roti hingga rata.
4.       Goreng dalam minyak banyak dan panas. Angkat. Tiriskan.

Selamat membuat bekal, para Bunda ... J

Sabtu, 16 Maret 2013

Kejar Target Boleh, Tapi ...

Sebuah catatan untuk para agen ...


Saya memahami kondisi teman-teman yang bekerja di dunia marketing: dikejar target. Entah itu jadi agen asuransi, agen properti, member sebuah MLM, dan profesi sejenis. Tentu, sebagai teman, saya salut dengan kegigihan mereka dalam mencari nasabah atau anggota baru. Namun, jangan sampai, target yang harus dicapai justru mengorbankan pertemanan.

Beberapa waktu lalu, seorang kawan yang sudah lama tidak menghubungi tiba-tiba mengirim SMS.
Apriiiil ... gue kangen nih. Apa kabar? Ketemuan doong
Haaaii ... Gue baik. Lo gimana? Iyaa, gue juga kangen nih. Yuk yuk ketemuan. 

Kami pun berbalas SMS dan sesuai hari dan jam yang sudah disepakati, kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah kami duduk, tanpa basa-basi, teman saya langsung menyampaikan maksud pertemuan kami itu.

Pril, gue sekarang jadi agen asuransi nih. Ni, udah gue buatin hitung-hitungannya buat elo. 

Jujur, seketika wajah ceria saya sedikit berubah. Sebelum berangkat, bahkan saat kami menentukan waktu bertemu, saya sangat senang karena akan bertemu dengan teman lama yang dulu cukup akrab. Saya begitu bahagia ketika dia SMS dan itu menandakan ia masih mengingat saya. Bukankah itu kebahagiaan dari sebuah pertemanan? Tetap diingat, dirindukan, meski sudah tak lama bertemu? Atau, saya yang terlalu melankolis?

Sebetulnya, saya tidak alergi agen asuransi atau MLM yang ingin menawarkan produknya. Banyak agen asuransi yang menghubungi dan saya akan menolak dengan sopan. Saya paham itu adalah pekerjaan mereka! Tapi, yang tidak saya sukai adalah ketika seseorang mengatasnamakan kangen hanya untuk jualan. Buat saya, itu kebohongan dan menganggap teman hanya sekadar target! Apalagi, dulu kami berteman cukup dekat.

Bukankah lebih baik, dia bercerita terus terang bahwa saat ini dia seorang agen asuransi dan berniat untuk menawarkan produknya untuk saya? Bukankah sebagai teman kita akan saling menghargai kebutuhan masing-masing?

Untuk teman-temanku, para agen asuransi, properti, MLM, atau profesi sejenis,
Kejujuran dan keterbukaan adalah hal penting dalam menjaga sebuah hubungan. Andaikan teman saya jujur, saya pasti akan menerimanya dengan antusias dan terbuka. Bahkan mungkin, jika memang membutuhkan, saya akan mengambil produk yang ia tawarkan. Tapi karena saya sudah tak enak hati, saya justru mendengarkannya setengah hati. Sudah pasti, saya tidak mengambilnya.

Teman tentu boleh dijadikan prospek nasabah, tapi di dalamnya ada rasa yang harus dijaga. Jangan sampai, mengejar target, kehangatan sebuah pertemanan akan hilang.

Selamat berjuang mengejar target dengan cara yang elegan.



Rabu, 13 Maret 2013

"Ketika Adik Cemburu"


Tulisan ini pernah dimuat di rubrik "Buah Hati" Republika, Selasa, 15 Januari 2013.
Semoga bermanfaat :)

Ketika Adik Cemburu
Aprilina Prastari

        “Ih, tulisan Kakak jelek!” kata Taman Hati, puteri kami yang kedua, setelah membaca cerita pendek yang ditulis kakaknya, Wafa Auliya. Wafa memang senang menulis. Beberapa kali ia memenangkan lomba menulis dan beberapa karyanya diterbikan dalam bentuk buku.
       Awalnya, saya menganggap itu hanya keisengan Taman Hati. Mereka memang suka saling bercanda dan meledek tapi masih dalam batas-batas wajar. Namun sepertinya saya salah. Ungkapan itu bukan sekadar lelucon tapi tanda ia sedang cemburu. Itu bisa saya rasakan ketika di lain waktu, ia mengungkapkannya dalam bahasa yang berbeda.
      Saat itu, saya khusyuk memantau pengumuman lomba menulis untuk anak. Kurang lebih sebulan sebelum pengumuman itu, Wafa mengirim karyanya untuk diikutsertakan. Ketika melihat nama Wafa masuk dalam dua puluh karya terbaik dan akan dibukukan, spontan saya melonjak gembira. Segera saya kabarkan pada suami dan Wafa yang kebetulan ada di ruang tengah. Kami pun mengucap syukur dan begitu senang. Meski tidak menjadi juara pertama, tapi masuk sebagai salah satu karya terbaik, sudah cukup membanggakan kami. Kami semua senang dan gembira hingga kami lupa, di pojok tempat tidur, Taman Hati hanya diam memerhatikan kami.
      Saya lalu memberi isyarat pada suami agar diam dan tidak menunjukkan kegembiraan berlebihan. Saya dekati dia dan meledaklah tangisnya.
      “Aku enggak hebat kaya Kakak. Kakak sering ikut lomba. Piala Kakak banyak. Pialaku cuma satu,” ia menangis terisak dalam pelukan saya.
      Saya terdiam. Sungguh, saya merasa bersalah.  Bagaimana mungkin saya lupa kalau lomba menulis itu juga diikuti oleh Taman Hati. Mengapa saya hanya fokus mencari nama Wafa dan begitu yakin kalau nama Taman Hati tidak memiliki kesempatan untuk tampil di deretan nama pemenang. Betapa saya tidak adil padanya!
    Memang, sejauh ini saya belum melihat Taman Hati memiliki ketertarikan yang serius pada dunia kepenulisan. Mungkin saya yang belum dapat melihatnya atau memang bukan di bidang itu, kelebihan yang dimilikinya. Di sisi lain, Taman Hati berbeda dengan Wafa yang senang mengikuti banyak kegiatan dan tertantang untuk mengerjakan sesuatu yang baru.
       Taman Hati masih menangis ketika saya memeluknya erat.
       “Ade tau enggak apa yang bikin Ayah dan Bunda bangga sama Ade?” tanya saya akhirnya.
       Ia menggeleng. Air matanya masih menetes tapi tangisnya sudah mereda.
      “Sejak masih di perut Bunda, Ade makannya pinter. Ade juga lucu, selalu bikin Ayah-Bunda ketawa, dan baik sama temen. Makanya temennya Ade banyak, kan?” ucap saya dengan suara tercekat.  
       Ia mengangguk pelan.
    Sungguh, bukan hal yang mudah memiliki dua anak dengan kondisi yang dapat menimbulkan kecemburuan di satu pihak; kakak berprestasi dan adik biasa saja. Tentu kami berusaha semaksimal mungkin menggali potensi puteri kedua kami meski tidak akan memaksakannya untuk selalu tampil menonjol jika memang ia tak nyaman. Namun, sikap cemburunya mengajarkan kami untuk berhati-hati agar tidak terlalu menampakkan kesenangan yang berlebihan ketika Wafa memenangkan lomba tertentu dan menanamkan pada diri Taman Hati bahwa anak yang hebat bukan karena sering memenangkan lomba dan mendapat banyak piala, tapi anak yang selalu berusaha menyenangkan hati orang tuanya, rendah hati, ramah pada siapa saja, seperti yang selama ini ia lakukan.
    “Bunda minta maaf ya, kalo Ade merasa Bunda nggak adil sama Ade. Nanti kalo ada lomba lagi, Ade ikut, ya.”
      Taman mengangguk.
      “Emang Ade mau ikut lomba apa sih?” pancing saya.
      “Lomba mewarnai, menggambar, masak, ... pokoknya semua,” katanya dengan suara terbata-bata.
     Saya tersenyum dan mengangguk. Semoga saya dan suami bisa menggali kehebatan yang sudah Allah titipkan dalam dirinya ....              
               
      Pondok Gede, 22 Desember 2012
      Untuk kedua puteriku yang luar biasa ...



Ini lhoo yang namanya Taman Hati :)


Senin, 21 Januari 2013

Dapat Air Bersih, Sudah Cukup untuk Buat Kita Bersyukur :)


Matahari masih menunjukkan sinar gagahnya ketika saya, teman-teman dari Forum Lingkar Pena Bekasi (Sudi, Vira, Haden, Pendi, Adi, Ilham, Ina), Sanggar Anak Matahari (Andi, Nadiah, dan beberapa teman sanggar yang lain), Mas Eko dan Mas Sahid, bersiap menuju Babelan, Bekasi. Siang itu, Minggu, 20 Januari 2013, kami akan menengok korban banjir untuk membagikan 200 paket nasi bungkus, makananan kering, susu, dan pakaian layak pakai (terima kasih untuk para donatur yang sudah menitipkan sebagian rejekinya kepada kami).  Tak hanya makanan dan pakaian, RS Zainuttaqwa juga membantu menyediakan ambulance beserta seorang dokter, dua perawat, dan obat-obatan. Alhamdulillah. Terima kasih banyak untuk RS Zainuttaqwa. Semoga semakin berkah.

Saya tidak hapal jalan apa saja yang kami lewati. Maklum, gagap Bekasi hehe. Yang jelas, kami melewati sawah, sungai, dan ah iya, ada satu tempat yang saya ingat: Pasar Babelan! Dari situ, kami masih harus terus berkendara menuju sumur minyak Pertamina. Desa Hurip Jaya, Babelan—tempat kami akan mengadakan bakti sosial ini- terletak tak jauh dari sana.

Tapi, biarpun letaknya dekat dengan sumur minyak , saya masih melihat rumah-rumah tak layak huni karena masih beralas tanah! Iya, tanah! Jadi bisa dibayangkan kalau banjir dan airnya masuk ke dalam rumah!

Menurut warga, saat hujan lebat beberapa hari lalu, daerah ini terendam banjir setinggi kurang lebih satu meter. Meskipun pada saat kami datang, banjir sudah mulai surut tapi masih menggenangi rumah warga setinggi kurang lebih 20 Cm. Makanya, penyakit yang hampir diderita warga di sana adalah kutu air dari yang tingkatnya sedang sampai parah! Ya iyalah, gimana kakinya mau kering, lah wong airnya masuk ke dalam rumah dan mereka harus tinggal di sana! Bahkan ada seorang ibu yang badannya dipenuhi bintil-bintil seperti cacar.

“Ya mau gimana lagi! Nggak ada air bersih ya saya mandinya pake air banjir,” katanya.  

Mandi dengan air banjir ini juga bukan dialami ibu itu saja, lho. Warga di desa ini terpaksa mandi dengan air banjir karena kesulitan air bersih. Sementara untuk makan dan minum, mereka harus membeli air bersih di tempat lain yang tidak terkena banjir. Selain penyakit kulit, warga di desa ini juga mengeluhkan penyakit lain, seperti mata gatal, demam, flu, pusing, diare dan ulu hati sakit.   

Kami pun segera membuka posko pelayanan kesehatan selama kurang lebih satu setengah sejam. Ada sekitar tujuh puluh warga  (terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak) yang kami layani. Ada juga beberapa ibu yang belum sempat ditangani karena kami kehabisan salep kulit. Maaf ya, Bu L

Memang, agak sulit penyakit sulit ini bisa sembuh kalau air bersih belum bisa mereka peroleh dan air masih menggenangi rumah mereka.






Selain Desa Hurip Jaya, daerah-daerah lain yang terkena banjir juga banyak yang belum memperoleh air bersih, lho. Setidaknya, itu yang saya lihat sendiri, ketika sehari sebelumnya, Sabtu, 19 Januari 2013, saya dan suami melihat kondisi di Perumahan Pondok Gede Permai. Jumat lalu, sungai yang terletak di belakang perumahan ini meluap dan tanggulnya jebol. Alhasil, perumahan ini terendam banjir hingga kurang lebih 3 meter!

Saat kami ke sana, Alhamdulillah banjir sudah surut tapi meyisakan lumpur setinggi 10-20 Cm. Di sini pun, tidak ada air bersih dan listrik mati. Saya sempat ngobrol dengan salah satu warga yang sedang membersihkan tokonya.

"Udah kayak tsunami pokoknya. Nggak ada yang sempet nyelamatin barang. Barang-barang di toko saya aja rusak semua," katanya sambil senyum. Masih sempat senyum, lho. Hebat, ya. Dan ada satu lagi kata-kata Bapak ini yang bikin saya salut.

"Yah, kita nggak bisa melawan kehendak Allah. Dijalani aja. InsyaAllah nanti diganti lagi sama yang lebih bagus sama Allah."

Subhanallah. Padahal, kalau saya lihat tokonya yang rusak dan barang dagangan yang sudah tidak bisa dijual lagi (Bapak ini berjualan baju-baju muslim), mungkin kerugiannya mencapai puluhan juta! Semoga Allah mengganti dengan yang lebih baik ya, Pak.




 Pulang dari Pondok Gede Permai, kami sengaja tidak membersihkan kaki yang penuh lumpur. Buat oleh-oleh untuk diceritakan ke anak-anak kami, Wafa dan Taman Hati, bahwa tak jauh dari tempat tinggal mereka, ada orang-orang yang kesulitan air bersih.

Bersyukurlah, kita masih bisa menikmati air bersih :)

Selasa, 15 Januari 2013

"Jalan-Jalan ke Prancis" by Wafa Auliya

Alhamdulillah, buku pertama yang Wafa tulis sendiri sudah terbit, November lalu. Diterbitkan oleh Tiga Ananda. Doakan Wafa tetap semangat menulis yaaa :)

Princess Aliya dan Gua Misterius



Hasil pelatihan di Kelas Ajaib!
Terima kasih Kang Benny yang sudah berbagi ilmu. Juga untuk Mbak Ichen, Mbak Iffa dan Dika. What a great team!

Sinopsis

Princess Aliya terjebak ke dalam Gua Jebakan Gua! Untuk keluar dari gua itu, Princess Aliya harus menemukan 20 kunci yang ada pada 20 princess dari 20 negeri. Untunglah, dalam gua itu, Princess Aliya menemukan buku Kumpulan 20 Kisah Princess dan membacanya. Semua kisah itu harus dia ceritakan kembali setiap kali menemui princess pemegang kunci. 
Berhasilkah Princess Aliya keluar dari gua? Yuk, ikuti perjalanan Princess Aliya dan simak cerita kedua puluh princess yang menarik dan bermanfaat :)

Senin, 14 Januari 2013

"Ketika Adik Cemburu" di Rubrik Buah Hati, Republika


Alhamdulillah, tulisan saya "Ketika Adik Cemburu" dimuat di Rubrik Buah Hati, Republika hari ini.
Cerita ini tentang puteri kedua saya, Taman Hati, yang cemburu pada kakaknya, Wafa. Ia merasa, kakaknya lebih hebat karena sering menang lomba. Dari kecemburuannya, kami belajar untuk berhati-hati dalam meluapkan perasaan ketika Wafa meraih prestasi tertentu. Kami juga menjelaskan pada Taman bahwa anak yang hebat bukan dari banyaknya piala yang ia peroleh. Taman Hati sudah menjadi anak yang hebat karena sudah menyenangkan hati Ayah dan Bunda :)

Senin, 07 Januari 2013

Ketika nilai puteriku jelek ....

Saya percaya, tiap anak memiliki kelebihannya masing-masing. Begitu juga untuk pelajaran di sekolah. Sebagai orang tua, kita tidak bisa menuntut anak menguasai semua bidang pelajaran. Biasanya ada satu-dua pelajaran yang kurang diminati anak.

Ini juga dialami puteri saya, Wafa. Sejak masuk SD, Wafa sangat bagus di pelajaran Bahasa tapi harus "kerja keras" untuk memahami Matematika. Terlebih ketika sudah Kelas IV dan materi yang diajarkan semakin meningkat, saya harus memberikan waktu dan perhatian ekstra saat ulangan matematika.

Pernah, untuk pertama kalinya, Wafa mendapat nilai matematika jelek. Jauh di bawah nilai rata-rata. Alhamdulillah, Wafa jujur dan tetap memberikan nilai ulangan itu ke saya. Saya hanya bilang ke Wafa, "Yang penting Kakak berusaha. Belajar maksimal dan sungguh-sungguh. Kalau sudah belajar sungguh dan hasilnya nggak bagus, ya sudah. Belajar lagi. Sebaliknya, kalau Kakak belum berusaha tapi udah nyerah, merasa nggak bisa, itu yang nggak bagus."

Syukurlah, Wafa tidak menyerah. Dia berusaha mengikuti arahan guru matematikanya dan mencoba belajar lagi. Saya akui juga, peran guru sangat besar dalam memotivasi anak. Saya lihat di hasil ulangan Wafa ada kalimat: "Semangat Wafa!" dan saya sampaikan apresiasi tersebut langsung ke gurunya.

Alhamdulillah, setelah mengikuti remedial, nilainya meningkat jauh. Begitu juga saat pengambilan rapor semester 1 lalu, nilai matematikanya bagus.


My dear Wafa,

Percayalah, kita boleh saja kurang pintar di suatu bidang. Tapi dengan sungguh-sungguh dan ketekunan, kita pasti bisa berhasil.







Jumat, 04 Januari 2013

Gado-gado Femina - Kualat


Hai, 

April 2012, saya pernah mengikuti lomba menulis untuk rubrik "Gado-Gado" di Majalah Femina. Alhamdulillah, tulisan saya tersebut masuk tiga besar. Tadinya saya pikir akan dimuat tapi ternyata nggak hihihi. Tapi hadiah kerennya sudah bikin saya seneng banget, kok. Nah, buat temen2 yang namanya ada di cerita ini, makasih banyak yaaa. 

Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat kami, Almh. Mira. We miss you but know you're happy with the baby ... :) 



Lomba Menulis “Gado-Gado” Majalah Femina

“Kualat”
Aprilina Prastari


Jangan sampai, gara-gara SMS, suasana yang seharusnya mengharukan berubah jadi menggelikan.
           
            Sekadar saran saja. Kalau Anda memiliki beberapa teman dengan nama depan atau panggilan yang sama, jangan lupa untuk mencatat di phonebook handphone: nama lengkap, tempat kerja atau apapun yang bisa mengingatkan Anda pada dia. Jangan sampai, gara-gara SMS, suasana yang seharusnya mengharukan berubah jadi menggelikan.
Malam itu, saya dikejutkan berita, salah seorang mantan rekan kerja yang meninggal dunia karena kanker. Padahal setahun lalu, kami bertemu dan dia terlihat sehat. Bahkan beberapa bulan lalu, kami masih sempat telpon-telponan untuk sebuah pekerjaan. Yang lebih memilukan, dia masih muda, usianya lima tahun di bawah saya dan ia tengah mengandung anak pertamanya. Duh, sedih sekali mendengarnya.
            Dalam keadaan masih syok, saya lalu mengabarkan teman-teman yang pernah sekantor dengan almarhumah. Sebagian lewat bbm, sebagian lagi SMS. Segera saya ketik SMS duka dan mulai mencari nama teman-teman di phonebook.
            Tak berapa lama kemudian, sebuah SMS masuk. Dari Dedi. Hanya nama “Dedi” tanpa penjelasan lain. Entah kenapa, saat membaca nama Dedi di layar telepon, pikiran saya langsung teringat pada Dedi, account executive (AE) paling muda di kantor tempat kami bekerja dulu. Kami pun berbalas SMS.  
            Pril, udah tau kalo Mira meninggal?
            Iya, udah, Ded. Gue sedih banget. Padahal beberapa bulan lalu masih telpon-telponan.
            Iya, sedih banget, ya. Kapan sih dimakaminnya? Lo mau ngelayat?
            InsyaAllah dimakamin besok siang. Gue mungkin ngelayat besok pagi sebelum ngantor. Btw, kok Lo kenal Mira. Kenal di mana?
            Untuk beberapa saat SMS saya tidak dibalas. Lima belas menit kemudian, barulah Dedi membalasnya.
            Laaah, gimana sih. Masa baru berapa tahun nggak ketemu, lo lupa.
            Saya diam. Dedi yang ada di pikiran saya saat itu masih sama. Saya justru malah sibuk menduga-duga, di mana kira-kira Dedi bertemu dengan almarhumah Mira. Mungkinkah mereka pernah sekantor atau … ah, iya, mereka kan sama-sama AE. Bisa saja mereka bertemu di sebuah seminar. Tapi … akhirnya saya menyerah dan menjawab SMS:  
            Ini Dedi mana ya?
            Apriiill .. Masa lupa siiih … Ini gue, Dedi Uban!
            MasyaAllah! Pak Dedi? Maaaf …

            Wah, malunya! Ternyata SMS itu bukan dari Dedi yang saya kira. Saya memang memiliki dua teman bernama Dedi. Dua-duanya sama-sama orang Sunda dan bekerja di advertising agency. Bedanya, Dedi yang satu masih muda, sedangkan yang satu lagi, yang sekantor dengan saya dan almarhumah adalah Dedi yang sudah tua. Berhubung Pak Dedi ini sudah beruban, makanya,kami sekantor sering memanggilnya dengan Pak Dedi Uban. Pak Dedi memang lebih senang memakai kata gue dan elo dengan teman-teman sekerjanya, meskipun kami berbeda usia sangat jauh.  
            Dulu, waktu masih sekantor, kami memang akrab karena saya copywriter dan Pak Dedi adalah art director, jadi sebelum membuat iklan, kami (saya, Pak Dedi dan almarhumah Mira) sering brainstorming. Makanya, saya enggak enak banget. Apalagi sesudah itu, Pak Dedi, SMS lagi:
            Kualat Lo, Pril. Lupa sama babeh sendiri …

            Saya cuma bisa nyengir. Semoga almarhumah Mira juga ikut tersenyum di alam sana.